Membangun Sikap Ilmiah [Nasehat Bagi Penuntut Ilmu]

Nabi Muhammad Saw bersabda Intasduqillaha Yasdukka. Barangsiapa jujur pada Allah, maka Allah akan wujudkan cita-citanya.

Membangun sikap ilmiah sebenarnya apa? Ini berkaitan dengan bagaimana kita menjadikan ilmu dan fakih(kepahaman) sebagai karakter diri kita. Bukankah tujuan mencari ilmu bukan sekedar meraih gelar atau ijazah? Walau gelar dan ijazah juga suatu yang menjadi kebutuhan dalam tertib administrasi. Fakih berasal dari fakiha yafqahu, yang berarti memahami. Dengan ilmu Allah akan memberikan pemahaman yang benar. Fakih bisa juga berasal dari fakiha yafquhu yang berarti menjadikan pemahaman menjadi suatu karakter, kebiasaan yang menyatu dengan kebiasaan dirinya. Dia menjadi tahu cara merespon suatu kesalahan, bangkit dan bagaimana memperbaikinya. 

Seberapa penting membangun sikap ilmiah sebenarnya? Penting sekali menurut saya. Idealnya ketika mencari ilmu menjadikan lebih paham dengan nilai-nilai, baik benarnya sesuatu, menjadikan kita tidak hanya sekedar paham teori tetapi juga menanamkannya dalam diri menjadi karakter yang mewarnai diri kita. Semakin berilmu semakin merunduk. Semakin berilmu menjadi semakin baik, hablumminallah, hablumminannas, dan hablumminal alam semakin meningkat,  menjadi pribadi yang semakin bertakwa. Yah idealnya begitu, menjadikan kita berperilaku lebih santun, semakin berakhlak. Muara dari ilmu adalah mengubah karakter manusia menjadi semakin baik. Wajar jika Allah meninggikan derajad orang yang berilmu. Ilmu tidak sekedar retorika namun sesuatu yang diterapkan dan ditanamkan dalam kepribadian. Tidak lain agar ilmu membawa keberkahan dalam hidup. 

Untuk berilmu seseorang mesti bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya. Ilmu tidak didapatkan dengan gratis, apalagi bila tidak fokus untuk meraihnya. Punya buku tidak otomatis berilmu. Kuliah atau sekolah tidak lantas menjadikan pintar. Membangun sikap ilmiah, bukan perkara yang mudah. Ada ego yang harus ditaklukkan. Ada baper yang harus dipangkas. Ada adab yang perlu dipraktikkan sebelum mencari ilmu. Bil adabi tahamal ilma. Hanya dengan adab, kita akan memahami ilmu. 

Abdullah bin Mubarak mengatakan awalul ilmi niyah. Awal dari ilmu adalah niat. Niat menjadi hal yang penting. Dalam hadis Arbain posisi niat menempati urutan pertama. Setiap amalan tergantung dengan niat. Demikian juga dalam mencari ilmu, apa niat kita? Jujurlah dengan Allah, maka Dia akan mengabulkan apa yang kita cita-citakan. Sudahkah ikhlas hanya untuk meraih ridhaNya? Bukan untuk mencari pujian manusia dan khawatir atas celaan manusia. Ikhlas dalam menuntut ilmu memang tidak mudah. Perlu proses, pelan-pelan dan wajar ketika di tengah perjalanan yang demikian berliku dalam mencari ilmu terkadang ada rasa jenuh, bosan, kesal bahkan terkadang baper. Ada kekhawatiran, ketakutan, kecemasan tidak mampu menghasilkan karya yang baik atau yang diidealkan misalnya. Otak menjadi buntu dan seakan ide tidak mau keluar. Tidak hanya karena kurang fokus, namun kurangnya keikhlasan sehingga mudah down jika perjalanan menuntut ilmu penuh tantangan, dan ujian yang unpredictable. Mudah lemah jika kenyataan tidak sesuai dengan apa yang direncanakan dan diharapkan. Di sinilah pentingnya kembali meluruskan niat. Luruskan niat mencari ilmu untuk menghilangkan kebodohan dan meraih ridhaNya. 

Jika ilmu itu cahaya, maka cahaya tidak mungkin menembus kaca yang kotor. Demikian pula ilmu, perlu kejernihan hati untuk menangkapnya. Sudahkah hati kita bersih sehingga mudah dalam memahami apa yang kita pelajari? Kepahaman juga tidak langsung kita peroleh, butuh doa dan menjauhkan diri dari segala yang dilarang Allah.  Jauh dari penyakit hati, jauh dari kekhawatiran, kecemasan, kesedihan dan kemarahan. Ilmu akan datang pada jiwa yang tenang karena ilmu adalah aktivitas akal, hati dan jiwa. Hanya Allah yang mampu memberikan taufik dan karuniaNya sehingga ilmu mudah kita serap. 

Imam Ahmad mengatakan aslul ilmi khosyatullah. Inti dari ilmu adalah rasa takut kepada Allah Swt.  ini juga hal yang tak kalah penting dalam membangun sikap ilmiah dari seorang penuntut ilmu. Manusia bukan siapa-siap dan tidak bisa apa-apa tanpaNya. Semakin berilmu semakin takut kepada Allah. Betapa lemahnya manusia sehingga ketika tertimpa keburukan tidak ada yang bisa menghilangkannya kecuali Allah. Bahwa jikalau ada kesuksesan atau kepahaman terhadap suatu ilmu semata-mata itu karena rahmat dan karuniaNya. Jikalau belum berhasil, Allah Maha Tahu kapan waktu yang tepat untuk kesuksesannya. 

Sikap ilmiah yang juga perlu dibangun bagi penuntut ilmu yaitu tahali bi hislil ilmi, berhias dengan sifat-sifat dan adab-adab ilmu agar ilmu mampu mengubah pola hidupnya menjadi lebih baik. Sikap, perkataan, perbuatan, dan seluruh panca indera menjadi berubah lebih baik dalam menyikapi setiap peristiwa. Ia menjadi pribadi yang berwibawa, tawadhu, tenang/tidak grusa-grusu, dan senantiasa merasakan kebersamaan dengan Allah. 

Pentingnya kesabaran bagi penuntut ilmu dalam mempelajari ilmu sehingga butuh keistiqomahan dan ketekunan dalam belajar. Ilmu dipelajari pelan-pelan. Jangan mempelajari ilmu sekaligus di waktu yang sama tanpa konsep. Orang yang mengambil ilmu sekaligus akan hilang dalam waktu sekejap. Inilah mengapa SKS (Sistem Kebut Semalam) bukan metode yang bagus untuk belajar. Ingat sebentar kemudian akan lupa. Ilmu tidak akan menempel. Barang siapa yang terburu-buru mendapatkan sesuatu sebelum waktunya, ia tidak akan mendapatkannya. Namun bukan berarti pula menunda-nunda dalam belajar dan tidak disiplin sehingga terpaksa melakukan SKS karena tenggat waktu yang sudah mepet. Sedapat mungkin itu dihindari, kecuali memang di luar kuasa manusia. 

Seorang penuntut ilmu wajib memiliki cita-cita yang tinggi, ulul himmah sekaligus berani mengeluarkan segenap kemampuannya agar menjadi yang terbaik (master class) di bidangnya. Hal ini tentu saja tidak mudah. Kebanyakan manusia ingin sukses namun tidak setiap orang berani melalui liku-liku perjalanan menuju sukses. 

Sukses seperti gunung es. Ada banyak yang tidak nampak di dalamnya. Keberanian untuk gagal dibalik kesuksesan, latihan dan kerja keras, hingga sejuta bacaan dibalik karya yang berkualitas. Tidak setiap orang sanggup dan bisa untuk itu. Untuk menjadi master class membutuhkan pola hidup yang berbeda dari kebanyakan orang pada umumnya, misalnya rela bangun lebih pagi, disiplin, ketekunan, kerja keras, berani mencoba, tidak pantang menyerah ketika belum berhasil dan penuh tantangan, dsb. 

Hal lain yang tidak kalah penting yaitu senantiasa belajar dari sejarah orang-orang yang telah sukses sebelumnya. Pelajari biografi tokoh teladan, sejarah para ulama, Nabi-Nabi agar bisa menjadikannya sebagai pelajaran yang berharga dalam menuntut ilmu. Salah satunya pelajaran kesabaran Nabi Musa ketika berguru dengan Khidir.

Kullu ya’malu ‘an sakinatihi. Setiap orang berkarya menurut bidang dan takdirnya masing-masing. Di sinilah iman kita diuji. Mengapa kita berada di suatu tempat, dengan situasi dan kondisi yang seperti sekarang. Bukankah kita berada di sana karena suatu maksud, bukan secara kebetulan. Apa yang Allah inginkan ketika menempatkan kita di sana? Peran apa yang bisa kita kontribusikan dan optimalkan? Walau terkadang kita sendiri masih meraba-raba dan bertanya, apa maksudMu dengan semua ini. Hidup tidak sebecanda ini bukan? Its not logic. Saya sendiri kadang merasa seperti baru bangun dari ketidak sadaran yang cukup panjang. Kemarin-kemarin entah mengapa saya dalam posisi unconsciusness, yang kalau dipikir lagi menjadi bertanya kok bisa ya? dan jawaban saya entah. Entah mengapa saya memilih ini dan tidak memilih itu, seakan itu berjalan mengalir begitu saja. Padahal itu berjalan atas  kuasa dan kehendakNya. Saya seperti baru bangun dari tidur, masih terasa linglung untuk memahami takdir dan kuasaNya yang diluar nalar saya. Apa saya bisa berkontribusi dengan baik? Di sisi lain Allah tidak membebani melebihi kemampuan hambaNya, right?

So, kalau nasehat Bu Ucu, seorang trainer magnet rejeki; Bercita-citalah, dan pantaskan diri untuk meraihnya. Pastikan penghalang atau tameng dari  hal-hal yang menjauhkan cita-cita diminimalisir. Perbaiki akhlak, jaga tutur kata dan mintalah pada Allah untuk mewujudkan apa yang kita cita-citakan. Aktifkan dunia kuantum dengan berpikir, berhuznudzon  pada Allah atas setiap peristiwa sehari-hari yang kita lalui, so magnet rejeki/ilmu akan menghampiri. Saya identikkan magnet rejeki di sini  dengan magnet ilmu. 

Well, itu sekilas yang dapat saya sarikan dari berbagai sharing pembelajaran yang saya temui. Salah satunya, saya terinspirasi dari kajian Ustadz Nurul Dzikri yang mengkaji kitab tadzkirotus sami’ wal mutakalim fi adabil alim wal mutaalim. Semoga bermanfaat. Sejatinya nasehat ini adalah untuk diri penulis sendiri. Sebagai pengingat dan penyemangat. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s