Maceeeettt [Menulis]

download (4)
Maceeeett.

Lelaah..

Kenapa kalau macet itu membuat lelah baik fisik maupun psikis ya?

Ini bukan tentang macet saat mudik lebaran, tetapi macet dalam hal menulis. Tersendat-sendat jalannya. Ada sesuatu yang ingin dituliskan tetapi susah untuk mengungkapkannya. Dalam bahasa lisan dikatakan gagap, susah berbicara dan susah menyampaikannya. Memang bahasa tulisan itu tak mudah, butuh latihan. Apalagi dalam menuliskan karya ilmiah. Ah, mengapa belum bisa selancar seperti menulis di blog ini.

Solusi macet saat mudik tinggal menepi, istirahat dulu, makan. Tetapi kalau bener-bener terjebak macet. Tak bisa maju, mundur atau keluar dari jalur kemacetan, itu yang bikin lelah psikis… Fyuuuhhhh, seperti macetnya tulisanku yang berada di jalur yang masih asing. First time lewat jalur itu, jadinya belum tahu dan mengantisipasi apa saja kemungkinan yang terjadi selama perjalanan menulis. Masih newbie, awam banget.

Kok berani menulis di luar track biasanya? Itulah diaaaa…Terkadang kita penasaran dengan jalur baru yang belum pernah dilalui sama sekali. Sekedar ganti suasana atau menambah wawasan niatnya. Buts how it ca be, so unpredictable, so complicated?

Well, Ga usah menyalahkan yang sudah terjadi, tinggal bagaimana meneruskannya karena sudah separuh perjalanan. Masa harus memulai dari nol kilometer.. waooow ga mungkin kan..

Kalau sudah berani pilih jalur baru, siap dengan resikonya juga dong mestinya. Misalnya dengan panduang waze atau google map agar ada sedikit panduan informasi peta perjalanan, walaupun dalam praktiknya terkadang waze pun ngaco dan ngawur nunjukin jalannya hahahhaa pengalaman kesasar ngikuti waze… Its oke… But pada akhirnya hikmahnya adalah jadi mengetahui jalur baru yang sebelumnya memang belum pernah diketahui. Walau perjuangannya sedikit menegangkan karena melewati jalanan yang gelap, sepi dan sedikit seramm, terasa sendiriaaaaan…. Namun taraaaaaa, ketika berhasil melewatinya, itu menjadi pengalaman berkesan sepanjang usiaaaa… #lebayyyy… but so true, really… Its like first love.. Jiaaah. And maybe the last… kalau ga pernah berani nyoba jalur baru lagi… hahahaha alias kapokkk… Atau justru semakin bersemangat untuk mencoba hal-hal baru??? =P

Well, back to the topic tentang macet menulis. Okey? Cari tahu kenapa macet. Susah mengungkapkan pikiran ke dalam tulisan? Latihan donk… Pertambah kosakata dengan membaca tulisan ilmiah yang berkaitan dengan tema yang kita tulis. Agar ada input yang banyak. Bagiamana bisa keluar out put tulisan, kalau malas baca. Sukanya baca novel, cerpen? Giliran baca jurnal, buku yang agak berat ngantuk dan tidur, atau justru lari ke nonton film atau lari ke medsos fesbuk, twitter, ngeblog. DUh…. itu memang godaan indah kawan selama berusaha istiqomah dalam jalan kesunyian. Katanya menulis itu meniti jalan kesunyian. Tak setiap orang sanggup dan bisa melaluinya. Karena godaaannya banyak banget, entah jalan-jalan, mengobrol atau aktivitas yang lainnya yang dirasa lebih menarik dan dilakukan dengan enjoyyy. Sedangkan menulis bial terasa sebagai beban akan semakin memperparah kemacetan. So… menempuh jalan kesunyian itu hanya dapat dilakukan dengan niat yang lurus, ikhlas, sehingga menikmati membaca buku, mengetik kata demi kata, memperbanyak perbendaharaan kata dsb. Itu tidak bisa dilakukan beramai-ramai kawan. Kalau dilakukan beramai-ramai namanya mengobrol.. =). Bisa sih belajar bersama teman, sekedar diskusi, sharing ide, gagasan, minta masukan dsb. Namun proses membaca dan menulis adalah jalur yang sunyi…  Seperti pertapa.. meditasi yang asyik memfokuskan pikirannya agar bisa memperoleh kedamaian batin. Demikian juga dengan membaca, menulis sebagai aktivitas pikiran. Kalau tidak fokus dan konsentrasi maka berapa lama anda membuka laptop, memegang buku atau jurnal tak ada artinya jika tidak ada satu pemahaman pun yang diperoleh.. Melamun donk?   atau mengembara pikiran ke mana-mana. Kangen, kesel, benci, seneng, weeew selagi belum bisa fokus, ya sama saja bohong.

So, perbanyak perbendaaharaan kata dengan membaca agar lebih mudah mengungkapkan pikiran dalam tulisan. Kalau ibaratnya susah ngomong ya belajar ngomong di depan kaca, latihan presentasi… Kalau di sinetron sih latihan mengungkapkan cinta ke kekasih di depan kaca, walaupun praktiknya yang keluar bisa saja di luar dari yang dihafalkan dan dilatih di depan cermin… hahahahha.. Persis seperti saya yang berusaha sistematis menulis, Sudah saya siapkan kerangka tulisan, dan seringkali hasil tulisannya tidak sesuai dengan kerangka tulisan. Entah karena kurang menguasai apa yang akan di tulis atau ada ide baru yang timbul. Terlalu kaku pada kerangka tulisan kadang membuat buntu! Its work for me… Terlalu fleksibel jadi terkesan ga sistematis juga. Well, inilah problematika penulis amatiran. Ga jelas apa yang mau ditulis, kurang to the point, begitu kritik salah satu penguji. Penguji lain mengkritik, tolong sederhanakan bahasa anda! Jlebbb… Sudah bisa menulis itu saja sudah bagus Pak (dalam hati jawabnya). Di Luar sih mengangguk-angguk saja… hahaha..

Mencermati beberapa buku ilmiah, ada yang mengalir dan enak sekali di baca, seperti tulisan Hilman Latief tentang filantropi Islam. Saya suka gaya bahasanya. Serasa bahasa novel, walaupun yang disajikan karya ilmiah. But, seem hardest thing for me to do like that =(… Tulisan saya masih kaku, kurang mengalir… bahkan seringkali macet dan buntu… So sad sad situation, right? But kebanyakan tesis dan disertasi kok rasanya bahasanya kaku ya. Atau hanya perasaan saya saja, bahwa tulisan ilmiah itu cenderung kaku, walaupun tidak semuanya demikian. Mungkin ini hanya pendapat saya pribadi. Bagaimana menyampaikan karya ilmiah dengan bahasa yang ringan, sederhana, dan mengalir ternyata tak mudah, alasannya menurut saya, karena text book yang kita baca pun bahasanya seringkali kaku. So… jadi ketularan dech (Emang penyakit menular yachhh =D).. Itu yang terjadi pada saya begitu… Kalau bahasa buku yang saya baca kaku, ketika mengutipnya jadi ketularan kaku. Apakah berarti saya yang belum bisa menangkap maksud si penulis buku  atau bagaimana ya.. Terkadang memang tidak bisa menyampaikannya dalam bahasa sederhana, walaupun kita dah berusaha membuatnya sederhana. Ada semacam keterbatasan kata-kata. Kalau dua orang yang saling jatuh cinta terkadang tanpa diungkapkanpun sudah saling tau  dan saling memahami maksud. Maaf, hal ini tak berlaku untuk bahasa tulisan. Bagaimana bisa paham kalau tidak diungkapkan dalam bentuk tulisan. So…. perbanyak membaca… Enak banget sarannya yah… menjalaninya yang tidak enakkkk =(

Yang kadang tidak saya mengerti juga. “Anda memparafrase tulisan orang lain”. Diiih, giliran mencoba menjelaskan dengan bahasa sendiri dibilang begitu…. SO? What do u really want from me??? (keluar sungut)… Jiah.. ini hanya drama seorang yang sedang maceeet menulis, jadinya lebayyyyy… Tapi pernah sih, dibilang begitu di satu sesi ujian lisan.. Nasib penulis amatiran yang sedang latihan menulis, serba salah dan serba galauuuuu.. Untung pembimbing gue ngertiin, yang penting draftnya dulu jadiiii . Jlebbbb!!

Okey, memperbanyak membaca  tulisan yang bergizi!!!

Dr. Krashen mengungkapkan seseorang yang banyak membaca maka akan mendapatkan banyak manfaaat, diantaranya:

  1. menjadi pembaca andal
  2. memperoleh banyak kosa kata
  3. mengembangkan kemampuan memahami dan mengembangkan susunan kalimat majemuk
  4. mengembangkan gaya penulisan yang bagus
  5. menjadi pengeja yang hebat

Yup, kalau melihat ke5 poin di atas sih sebenarnya memacu kita untuk banyak membaca.. Asal tidak kambuh penyakit moody =(.. Agar tidak mudah habis baterai semangat kita, sehari membaca sedikit, menulis sedikit saja sudah disyukuri dan diapresiasi. Asal mau bergerak maka kita hari ini selangkah lebih dekat ke tujuan dibanding kemarin, gitu kata seorang teman. Agar tetap semangat, walau perjalanan masih panjang.

Jangan mengeluh panjangnya perjalanan karena akan melelahkan psikis, tapi teruslah melangkah walau pelan, karena akan semakin mendekatkan kita pada tujuan. Lihat apa yang sudah kita lalui, terlalu sayang untuk sekedar dikeluhkan dan berhenti sampai di sini. TERUSLAH BERJALAN WALAU PELAN, INSYA ALLOH AKAN SAMPAI PADA TUJUAN. Abaikan teman-teman yang mengeluhkan beratnya perjalanan padahal sama sekali belum memulai. Biarkan saja, bukankah masing-masing jiwa akan mendapatkan apa yang ia usahakan? Allah SWT tidak tidur, dan mencatat setiap ikhtiar kita, walau terkadang masih diselimuti awan gelappp… Kalau ada yang melemahkan dengan menanyakan hasil? Yaaa Alloh Maha Adil, setidaknya tahu sejauh apa kita berusaha dan tidak menyerah dan putus asa walaupun hasil masih jauh dari apa yang kita harapkan.. download (4)

*3 Juli 2017 @ TMII

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s