Marhaban Yaa Ramadhan

Ramadhan sebentar lagi datang. Ada rasa senang menyambut dan mempersiapkannya, walaupun ada juga nuansa sedih, coz ramadhan kali ini berbeda dengan sebelumnya. Mesti memperbanyak doa dan hajat yang akan disampaikan padaNya. Bukankah Allah tidak akan menguji hamba melewati kadar kesanggupan?

Ah, saya paling tidak bisa bersedih dan menuliskan yang sedih-sedih sebenarnya. Kesedihan biasanya saya tumpahkan dalam diam dan munajat padaNya. Di luar saya ingin terlihat biasa, ceria dan mencoba tegar dan tanpa air mata. Bukankah wajah yang cerah dan seuntai senyum adalah sedekah? walau sempat juga mata sembab pergi ke kantor dan ada yang bertanya, kenapa? saya cuma tersenyum saja. Tak perlu dijawab, karena apa yang ada di hadapan, perilaku, sikap dan tindakan seringkali adalah suatu jawaban. Dan tentang perasaan, terkadang tak akan terangkum dan terwakili oleh kata-kata. Biarkan saja ia mengalir sebagaimana adanya. Karena bagaimanapun, yang namanya perasaan susah untuk dijelaskan, diungkapkan. Mengutip Prof Mulyadi Kartanegara (jiahhh lagi hobby mengutip beliau nih), perasaan akan lebih baik dan lebih terwakili melalui puisi bukan narasi. So.. buatlah puisi jika ingin mengungkapkan suatu perasaan..

Menjelang ramadhan biasanya saya menyiapkan target yang ingin dicapai dalam hal ibadah, mengingat ramadhan adalah madrasah dan sarana yang utama untuk mengecharge ruhiyah selama setahun berikutnya. Di dalamnya penuh dengan rahmat, berkah dan ampunanNya. Sayang sekali bila tidak mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya, untuk menyambutnya. Saking mulianya bulan ramadhan, kita bergembira menyambutnya saja sudah berpahala.

Ramadhan, bulan yang mulia,  bulan dibuka-kannya pintu-pintu diterimanya doa dan hajat kita. Ada malam lailatul qadar dan malam ditetapkan kebaikan dan apa yang akan terjadi pada kita dalam tahun berikutnya. Bertaubat, berdoa dan mohonlah apa yang menjadi hajat kita dengan permohonan yang terbaik, amal terbaik, ikhtiar dan tawakal dengan kepasrahan padaNya.

Beberapa waktu yang lalu, teman saya mengatakan ah, seringkali keinginan, cita-cita kita terbentur dengan realita yang selalu berbeda.  Di mana Kuasa Tuhan sebenarnya? membuatnya seringkali porak-poranda dan tak tahu harus mempunyai hajat apa. Pasrah saja katanya. Benarkah sikapnya itu?

Seringkali manusia punya keinginan dan cita-cita menurut versinya sendiri. Boleh dipanjatkan, diikhtiarkan, walaupun dalam perjalanan ada kuasa prerogatifNya untuk merevisi, mengoreksi dan mungkin mengubah jalan takdir, dan jalan hidup seseorang. Manusia bisa apa kalau kuasa Tuhan sudah berbicara. Namun, bukan berarti pasrah begitu saja, ada ikhtiar, doa yang katanya mampu mengubah takdirNya, hingga tawakal apapun keputusan akhir yang diperoleh. Yang pasti Allah SWT yang paling Maha Tahu apa yang terbaik bagi kita. Seringkali keinginan manusia disertai dengan nafsu yang tidak baik efeknya. Jadinya kita boleh bercita-cita, namun proses perjalanan dan mewujudkannya dikembalikan lagi pada pendapatNya. Ikhlas dan ridho pada takdir dan keputusanNya adalah bagian dari keimanan seseorang.

Saya pribadi, dalam menjalani hidup seringkali juga terbentur pada realita yang tidak sesuai dengan harapan. Ada rasa sedih, kesal, dan ingin protes yang sesekali mewarnai perjalanan hidup di saat lelah dan capek menghampiri. Namun, ketika kembali merenung dan mengembalikan semuanya dalam kacamata iman, maka akan terasa lebih lapang dan tenang. Merasa sebagai manusia yang kecil, tak tahu mau meminta apa dan berhajat apa yang pantas dan baik untuk diri ini. Biarkan Tuhan saja yang mengatur, karena sudah terlampau lelah untuk menuliskan sederet target dan capaian yang ingin diwujudkan. Padahal menurut para motivator, tuliskan cita-cita anda dan berikan tenggat waktu untuk mencapainya. Biar otak bawah sadar anda bekerja untuk mewujudkannya. Cita-cita yang dituliskan akan lebih tervisualisasikan dan memudahkan kita untuk mengingat dan mencapainya. Entahlah.. lagi malas untuk melakukannya. Biarkan saya memanjatkan dalam doa saya saja, menjadi rahasia antara aku dan Dia..

Hahaha mirip orang lagi patah hati saja.. No, just because  only Him. Allah SWT is the best place to listen my problems, my aims in life and  give me solutions. Manusia sekedar tempat sharing cerita bukan yang memberi solusi. Kalau toh ada yang membantu dan peduli pada kita, itu karena ada Dia yang menggerakkan orang tersebut untuk menolong kita. I believe that. Ceritakan pada orang yang sekiranya mampu menolong kita, tidak pada setiap orang. Coz tidak setiap masalah baik untuk diceritakan.

Semoga dapat bertemu dengan  ramadhan tahun ini, menggapai rahmat, ampunanNya. Diringankan dan dimampukan dalam menjalankan ibadah wajib maupun ibadah-ibadah sunah. Lulus ramadhan menjadi pribadi yang lebih baik kualitas iman islam. Dan semoga dapat meraih malam lailatul qadar. Mampu men-charge ruhiyah sehingga menjadi manusia yang produktif dalam menyelesaikan amanah-amanah yang tertunda. Seakan menjadi rahib di malam hari dan singa di siang hari.  Keseimbangan dunia dan akhirat, mampu menunaikan tugas sebagai khalifah fil ardh, amanah dalam menunaikan berbagai peran yang sudah digariskanNya dengan  sebaik-baiknya. Dimampukan menjadi muslim yang ikut serta dalam perjuangan dan  berkontribusi menegakkan dienNya. Hingga meninggal dalam khusnul khatimah, selamat dunia akherat. aamiin.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s