[Tesis] Tips agar Konsentrasi Menulis

Kota Apel adalah destinasi yang tak terencana untuk saya kunjungi. Berawal dari acara kantor yang sudah diagendakan di minggu ke dua bulan Mei dan tidak dapat ditunda. Di sisi lain, kesibukan dua orang Kepala seksi di kantor tidak memungkinkan untuk bisa mengikuti acara di Malang. Yang satu sibuk penelitian, yang satunya sedang sakit dan butuh istirahat minimal sebulan, maka dikeluarkanlah pemain cadangan dan keluar nama saya. Hahaha, saya sendiri heran kenapa waktu itu saya menjawab dengan santai, “bagaimana kebijakan pimpinan saja saya ngikut. Kalau ditugaskan ya saya siap, kalau ternyata ditugaskan di kota lain di event berikutnya ya saya juga tidak masalah. Bagaimana baiknya saja.”

Baru setelah itu sadar.. ow ow.. tidak ada kepala seksi yang berangkat, ini pasukan semua yang mengawal sang jenderal. Mati aku… waduh.. kenapa langsung kuiyakan saja tanpa kupikirkan ya… Ah.. sudah terlanjur. Harusnya kasubbag Tu saja yang berangkat. Duh, telanjur, akhirnya terserah deh surat tugasnya keluar nama siapa saja yang bertugas, dan benar yang keluar nama-nama staf semua. Dari tata usaha ditambah satu orang bagian keuangan. Wew.. Baru kali ini tim berangkat tanpa kepala seksi untuk mengawal sang jenderal. Deg-degan banget sebenarnya.

Ternyata di hari H berangkat, kantor sedang disibukkan dengan analisis jabatan, sehingga otomatis kasubbag TU juga sedang sibuk menghandle itu semua. Jadinya bismillah saja antar pasukan saling mendukung dan melengkapi dalam satu tim. Eng.. ing.. eng… alhamdulillah acara lancar berkah… skip saja cerita yang bagian formalitas. Ini blog yang isinya ringan-ringan saja.. ūüėÄ

Hari pertama, sampai Malang sudah mendekati maghrib karena pesawat delay satu setengah jam. Berangkat dari kantor setelah dhuhur karena pagi masih mengikuti acara informasi jabatan dari Kasubbag Ortala. Untung sudah sholat dhuhur jamak ashar di Jakarta. Delay membuat kami kelaparan karena di bandara Halim cuma makan mie rame-rame. Sampai Malang Pak Kepala pengen soto Lombok. Dua mobil penjemput mengantar kami ke lokasi. Ternyata mobil satu habis bensin dan mengisi dulu di SPBU, jalanan dekat Brawijaya macet.. Duh.. kelaparan sangat kami.. Mobil satunya yang bersama Pak Kepala sudah sampai duluan dan teman yang semobil sudah bisa ikut makan, kami cuma dipamerin foto makanan saja.. duh tega bener… kelaperan… ¬†Mana kami belum konfirmasi penginapan untuk teman-teman. Baru Pak Kepala yang sudah fix tempat menginapnya. Walhasil setelah makan, satu mobil antar pak Kepala ke santika. Kami masih muter beberapa hotel untuk mencrai yang sesuai dengan budget dan yang tidak penuh.. Hahahaha.. penuh semua dua tempat kami datangi: Ibis, Kalpataru. Salah satu teman pengen menginap di Batu. Namun, berhubung tempat penginapan yang dimaksud tidak menjawab telp, dan panitia penjemput menyarankan agar menginap di Kota Malangnya saja agar tidak jauh dari lokasi acara esok paginya, akhirnya setelah-muter-muter kembali lagi ke santika dan satu hotel dengan Pak Kepala.. Begitulah, hikmahnya jangan hanya berfokus pada hasil tetapi fokuslah pada proses. walau sudah muter-muter eh.. ternyata jodoh nginepnya sama tempatnya dengan pak kepala, di santika hotel, walau saya dan teman-teman terpaksa dengan triple bed karena full booked. Yaa gimana lagi sudah malam, dan sudah capek, sedang acaranya besok pagi belum prepare dan checking tempat dan sebagainya. Untungnya panitia berbaik hati mendatangi kami ke hotel dan koordinasi teknis acara. Jam 22.00 an selesai koordinasi, mandi air hangat, tidur zzzzzzz… Teman yang lain ada yang masih menyiapkan spj dan administrasi kegiatan.

Esok paginya, untuk mengantisipasi ketinggalan pesawat, saya melakukan web chek -in online tiket pak kepala, karena kalau melihat jadwal acara selesai dhuhur dan tiket pesawat jam 14:30, benar-benar waktunya mepet. ¬†Apalagi dari lokasi kegiatan ke bandara sekitar 1 jam-an. ¬†Dan benar sekali, acara selesai jam 13.00 an. setelah foto bersama, sholat langsung pak kepala ngacir… Duh, drivernya ketiduran lagi, belum siap mengantar pak kepala. Akhirnya ngojek wk wk wk takut kena macet dan biar lebih cepat sampai bandaranya. Hahaha jadi pak kepala ternyata ada ga enaknya juga ya, serasa diburu waktu dan jadwal yang padat. Kalau orang lain bilang ,”wah seneng ya sering pergi ke sana ke mari, naik pesawat.” Biasa rumput tetangga terlihat hijau. Tetapi bagi saya “tak mudah untuk membuat rumput ¬†nampak hijau, prosesnya itu pasti sudah melewati berbagai ujian dan tempaan hidup.” Lebay mungkin yaaa, tetapi kalau sudah mengamati sendiri proses dan kerja kerasnya hingga menjadi dirinya yang sekarang, mungkin kita akan bertanya pada diri sendiri sebarapa sanggup dan konsisten untuk menempa diri? Try to be better and better? Seberapa disiplin untuk fokus ¬†belajar dan mengembangkan diri pada bidang/jalur ¬†yang kita pilih? Apalagi kalau melihat Pak kepala bekerja dari satu kegiatan ke kegiatan lain, dari satu kota ke kota lain, tidak hanya dalam negeri. Bisa dipastikan hampir sebulan ada perjalanan ke luar negerinya. Bagaimana membagi waktunya, mengatur energinya, mengatur fokus pikirannya agar tidak mudah lelah/capek/ tak punya tenaga, melainkan tetap berenergi dan seakan tidak ada habisnya. Sejujurnya, saya pribadi masih susah untuk berpindah fokus pikiran dari satu kegiatan ke kegiatan lain. Kadang kegiatannya sudah berbeda tetapi pikirannya masih memikirkan yang lain alias tidak fokus. Keep on the track.¬†That’s the important point i get. Saya seringkali masih keluar dari track. Kadang di rapat masih kepikiran tesis, urusan rumah, atau kepikiran kamuuuu ups… Di saat ingin fokus menulis tesis kepikiran kerjaan kantor, urusan rumah etc.. Membagi-bagi pikiran dan energi ternyata butuh latihan dan energi spiritual. Ya, bagaimana bisa memperoleh keberkahan waktu agar semua urusan kita dimudahkan olehNya. Bisa berada dalam jalur yang pas, keep on the track. Kadang ingin menulis tesis seakan tidak punya tenaga, dan tak tahu mau menulis apa, speechless gitu… akhirnya belajar bahasa Arab dulu, sekedar menambah kosakata atau baca-baca ulang materi yang pernah didapat ;(.

Because of desperate dan susah fokus menulis, saya beli buku Seni Mengukir Kata karya Prof Mulyadi Kartanegara. Dan sampai sekarang belum selesai saya baca. Tetapi ada point penting yang saya dapatkan yaitu: ketrampilan menulis adalah seni. Ada dua hambatan penting dalam menulis yaitu hambatan teknis dan hambatan psikologis. Dan hambatan yang saya alami salah satunya adalah dalam hal konsentrasi. Menurut Mulyadi kartanegara, konsentrasi diperlukan agar pikiran bisa memusatkan perhatiannya pada pekerjaan menulis di manapun kita berada. 

Konsentrasi membuat kita tidak akan terganggu oleh hal-hal lain yang biasanya sangat memikat minat kita, (dan karena itu membuyarkan perhatian kita) sehingga tidak mampu menulis dengan efektif. Contohnya saya, sudah sering banget buka laptop, kalau  buka fesbuk, blog, email, twitter lancar jaya. Namun, begitu buka word dan mulai mengetik untuk tesis otomatis seperti sapi ompong, plonga-plongo. Hahahaha.. Apalagi sudah lama tak tersentuh tuh tesis digantungin aja mirip jemuran. Andai dia manusia sudah sakit hati banget kali yaaa digantungin ga jelas gitu, di php-in.. Duh, saya juga sebenarnya ga enak hati banget sudah mem-php in tulisan saya hingga belum jelas ending storynya mau seperti apa :D.

Memang godaan terbesar adalah konsentrasi. Teman saya saja banyak yang kalah melawan nikmatnya godaan lain: entah pekerjaan yang cukup menyita waktu dan fokus pikiran, kesibukan lain yang lebih menarik minat (teman saya ada yang sedang turn on dalam property syariah), hingga urusan keluarga yang tidak bisa ditinggalkan dsb. Penyakit menulis tugas akhir kuliah memang banyak yang kronis dan parah, sampai yang kena penyakit kadang tidak sadarkan diri. Sadar-sadar kalau sudah waktunya bayar SPP atau sudah kena deadline lulus. Duh.. saya berharap bisa segera menyelesaikan dan mengatasi penyakit saya yang satu ini: KONSENTRASI!

Konsentrasi yang baik bisa menghasilkan tindakan yang dalam pandangan orang banyak cukup menakjubkan. Mulyadi menguatkan pendapatnya dengan mengatakan,¬†Ibn Sina mampu mendiktekan karyanya di atas unta kepada murid-muridnya dalam perjalanan ke medan peperangan.¬†Masya Alloh… sampai dalam kondisi perangpun masih sanggup untuk menulis… Lha saya yang tidak dalam kondisi perang seharusnya bisa menulis juga ya.. maluuuu.. Prof. Mulyadi sendiri mampu menulis ditempat seramai Pizza Hut, tanpa meras terganggu oleh hiruk-pikuk pengunjung lain, bahkan oleh teriakan anak-anaknya sendiri.

Hmmm berkaca dari hal tersebut, saya jadi teringat teman-teman di kantor yang penghafal al-Qur’an dan kerjaan hariannya mengecek draft Al-Qur’an yang akan dicetak. Betapa mereka sudah latihan konsentrasi hampir tiap hari, entah di mobil, di bus, di kendaraan sambil membawa mushaf Al-Qur’an yang dikoreksi. Kalau tidak konsentrasi akan susah sekali untuk mengecek Al-qur’an dengan teliti; baik dari sisi rasm, huruf, harokat/tanda baca dan memastikan tidak ada satupun yang terlewat. Apalagi kadang suasana tidak mendukung, terlalu ramai atau gaduh, namun tetap bisa sambil mengoreksi. Saluut saya.

Dalam hal konsentrasi ini, Prof Mulyadi menyampaikan kiat  utamanya;  dengan menghindarkan hal-hal yang dapat membuyarkan perhatian kita pada pekerjaan  dengan menyisihkan pikiran dari segala perhatian pada yang lain-lain agar tidak terpecah. Menurut beliau, wajar bila orang yang sedang dirudung duka, atau orang yang sedang dikejar dosa akan sulit sekali untuk bisa menulis dengan baik karena sulitnya konsentrasi. Disinilah menurutnya bisa dimengerti betapa dosa bisa berpengaruh sangat negatif terhadap proses belajar, terutama menulis karena perasaan berdosa akan sangat menyita perhatian dan menyerap energi sehingga tidak lagi tersisa energi untuk kegiatan lain.

Orang yang dapat menulis dengan baik dan efektif dalam pandangan Prof Mulyadi adalah orang yang telah mengosongkan dirinya dari segala hal yang lain, kecuali tulisannya dan jiwanya telah mencapai ketenangan tertentu. Dari sinilah bisa dipahami mengapa orang-orang yang tidak terlalu disibukkan oleh hal-hal keduniawian, seperti Al-Farabi dapat menulis ratusan karya filosofis yang besar dan serius, karena memang ia dapat diselamatkan oleh banyak sekali godaan, yang biasanya dialami oleh orang-orang pada umumnya.

Lebih lanjut, Prof Mulyadi menganjurkan penulis mengembangkan pola hidup kontemplatif dan lebih dekat lagi kepada Tuhan, daripada terjun dalam kancah candradimuka dunia yang senantiasa bergejolak sepanjang waktu.  Konsentrasi juga dapat dibangun dengan motivasi yang benar, baik, dan miliki aspirasi yang tinggi. Konsentrasi ditopang dengan adanya kesadaran bahwa waktu kita terbatas, tidak tahu umur kita sampai berapa lama lagi sehingga tidak sepatutnya bersantai-santai.

Daya jiwa non fisik  berupa motivasi, stamina dan konsentrasi akan mampu mendorong penulis untuk terus menulis walau dalam kondisi terburuk sekalipun. Lebih lanjut, ketiga unsur tersebut merupakan kunci sukses bagi siapapun yang ingin menjadikan menulis sebagai profesinya.

Akhir kata, Kota Apel menjadi salah satu latar historis yang memacu saya untuk belajar membagi waktu, pikiran dan konsentrasi. Bagaimana kesibukan sehari-hari tidak membuat kita terlena dan keluar dari track. Belajar keep on the track. Belajar dan terus belajar dari sekitar, orang-orang yang kita temui langsung, maupun lewat tulisannya. karena lewat tulisan kita bisa melampui berbagai zaman. jadikan tulisan sebagai salah satu ladang pahala yang terus mengalir, walaupun usia kita terbatas, tetapi dengan ilmu yang dibagi maka kita akan mampu melampaui usia biologis kita. Itulah semangat/spirit yang dibagi dan ditularkan oleh Prof mulyadi Kartanegara. Salah satu dosen pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang ¬†belum sempat saya bertatap muka langsung dengan beliau, karena ketika saya mengambil salah satu mata kuliah yang diampu beliau, ternyata beliau pindah mengajar di Brunei Darussalam. Akhirnya saya baru bisa chat massenger di fesbuk dengan beliau. Namun demikian, tidak menghalangi saya untuk terus belajar dengan membaca buku karya beliau. Salah satunya SENI MENGUKIR KATA. Salah satu buku penting bagi seseorang yang ingin menulis karya ilmiah; baik makalah, paper, tesis maupun disertasi. Apalagi bahasa buku tersebut mengalir dan enak dipahami, serasa membaca cerpen atau novel. I very like it!. Please, read it! You’ll enjoy it.. ^ – ^

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s