Don’t Give Up

images (5)Rintik hujan pagi ini mendendangkan lagu sumbang di hati. Padahal, biasanya aku suka hujan di pagi hari, karena menyegarkan bumi..

Entahlah, aku yang berusaha kuat padahal sebenarnya lemah, atau bagaimana..Katanya Tuhan tidak membebani manusia di luar batas kemampuannya, nyatanya aku merasa ini diluar kapasitasku.. Membuatku susah bernafas. Serasa semua tempat membawa beban-nya masing-masing. Tidak ada sedikit ruang untuk sekedar sejenak saja melepas penat.. Tak ada tempat yang bisa membuatku fokus menyelesaikan urusan satu-persatu. Tak sabarkah denganku, atau aku yang terlalu lamban?

Ketika aku di sini, ditanyakan urusan di tempat lain. Ketika di tempat lain, ditanyakan urusan di sini, begitu dan selalu begitu… Bagaimana bisa fokus? Buyar… selalu begitu.. dan semuanya berkelindan dan saling berkaitan satu sama lain. Menyebalkan bukan?

Aku sedang berusaha semampuku.. Aku cuma satu, otakku satu, tangan dua.. bagaimana bisa kelar semua urusan bersama-sama??? Mungkin aku sedang belajar bagaimana bisa tangguh.. menghadapi berbagai urusan secara bersama-sama, di himpit deadline secara bersama-sama pula..

Belum pernah dapat teka-teki menyulitkan seperti ini sebelumnya. Padahal aku sadar, setiap perjalanan hidup selalu menyisakan teka-teki. Lepas dari satu masalah, ganti masalah lain. Kadang suatu masalah belum selesai bahkan, eh sudah datang masalah baru lagi. karena hidup itu sendiri ujian dari masalah- masalah. Bagaimana kita merespon semua masalah yang hadir. Itu kuncinya.

dan yang paling menyebalkan, ada bagaimana bisa belajar tetap fokus dan semangat di sela-sela berbagai himpitan yang menyesakkan dada itu.. Some times i wanna give up, but my heart won’t let me..

Alloh selalu bersama kita, sepanjang kita yakin bersama kesulitan ada kemudahan.. akan ada jalan keluar dari setiap masalah. Setiap akhir sesuatu akan ada awal yang baru.. Setiap pahit akan ada manis, dan setiap luka akan ada obat untuk menyembuhkannya..

Menyalahkan orang lain itu jalan termudah, namun tidak menyelesaikan. Menyalahkan orang lain yang telah mengambil keputusan untuk kita juga tak selamanya benar adanya, karena salah siapa juga mau-maunya menuruti orang lain. Walaupun itu orang tua kita sendiri. Dengan alasan tak mau mendebat orang tua, takut durhaka. Padahal orang tua tak selamanya benar. Namun lagi-lagi, orang tua, orang yang berwenang, seperti pejabat yang berkuasa, punya hak prerogatif untuk mengatur dengan kuasanya. Kuasa pimpinan terhadap anak buah untuk menyuruh melakukan suatu pekerjaan. Kuasa orang tua terhadap anaknya agar berbakti padanya. Kuasa seorang dosen pembimbing terhadap mahasiswa bimbingannya, dsb. Walau sebenarnya bisa dikomunikasikan, asal bisa berjalan dua arah.

Terkadang sulit untuk merendahkan hati, legowo..

Legowo terhadap kebijaksanaan atasan, orang tua, pejabat yang berkuasa dsb..

Di sinilah pelajaran hidup yang susah didapatkan sekedar dari bangku kuliah.

Ibarat murid yang harus takzim terhadap perintah gurunya.. walau kadang tak seide, tak sependapat atau sepemikiran. Kita yang dituntut untuk menyesuaikan dalam hal teknis dan metode. Walau terkadang terkesan kaku dan kurang kompatibel dengan kita. Dan lagi-lagi hal itu tidaklah mudah untuk dijembatani.. aku punya keterbatasan dan orang lainpun demikian. Antar keterbatasan itulah butuh jembatan yang menghubungkan. Cuma, terkadang jembatan penghubungnya itu tak mudah dicari di mana letaknya? Semoga Dia menunjukkan di mana jembatan penghubung dan mampu mengikatkannya dalam ukhuwah persaudaraan yang erat. Aamiin YRA

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s