Cuti Tesis

 

Hingga pergantian tahun 2017, saya masih datar-datar aja belum semangat menyiapkan resolusi yang ingin dicapai apa di tahun ini. Hmm seakan mengalir saja tanpa ada target yang greget. Padahal ya sudah mentok, ditarget ga ditarget ya sudah seharusnya lulus tahun ini (hadeeeeh, ini adalah resolusi tahun-tahun sebelumnya yang belum tercapai, capek dech). Tapi bagaimana lagi.. memang belum kesampaian, ya terpaksa harus dilanjutkan sampai selesai (emang masih mau nambah tahun depan yak? wk3)

The problem is… masalahnya adalah? ini sudah akhir Januari dan masih juga belum mengetik satupun huruf untuk melanjutkan bab 4 tesis saya.. (Ga lucu, ga usah tertawa). Sedih malah, hiks3.

Saya ambil cuti 3 bulan. Wah lama sekali? Mau ngapain aja? kaya orang hamil aja,  biasanya begitu kalau ada yang mendengar saya ambil cuti 3 bulan. Rese banget sih. Hmmm wajar sih, kalau mendengar 3 bulan memang rasanya lamaaaaaa bangeeeeed. Padahal kalau digunakan untuk menyelesaiakn tesis rasanya sebentaaaaar bangeeed. Begitulah, waktu relatif. Terasa lama bagi yang menunggu, dan terasa begitu cepat bagi yang sedang jatuh cinta…

Sudah mau lahir belum tesisnya? kan udah hampir sebulan terlewati. Progressnya apa? duh sedih kalau ditanya progressnya apa.. Progressnya adalah sudah ikut latihan nyetir, besok sabtu tinggal safety driving. Lumayanlah walau belum bisa parkir lurus dan mundur, belum berani di jalan sempit, masih nervous kalau macet etc.. dan belum ditarget dapat SIM A karena masih harus memperlancar dulu. Setidaknya waktu tidak terbuang percuma kan? Dhafa sudah sunat (apa hubungannya dengan tesis ya). Ehm itu satu tugas dan amanah yang sudah tertunaikan dan menimbulkan 1 kelegaan tersendiri. Progress ketiga adalah sedang ambil kursus Arab Qowaid walau masih banyak yang belum ngerti dan paham karena kalau disuruh baca Arab gundul juga masih belum tentu bener baca a, i, u nya. Setidaknya ada tambahan ilmu tentang rumus-rumus perubahan dhomir  (tanda baca di huruf Arab) walaupun dalam prakteknya masih sangat belepotan. Its oke lah, daripada buta sama sekali..

Kalau PR yang belum terselesaikan masih baaanyak… yah… setidaknya ada beberapa hal yang ingin saya capai tahun ini. Namun keinginan terbesar adalah lulus S2.. Dan waktu cuti saya tersisa 2 bulan.. Semoga dimudahkan dan dilancarkan untuk menyelesaikan.

Jadi ingat pesen salah satu pimpinan di kantor, jangan sampai ambil cuti tesis tapi malah “sia-sia”. Pergunakan waktu yang ada sebaik-baiknya. Optimalkan untuk nulis tesis.. Pekerjaan kantor bisa sambil tetap dikerjakan, tp jangan sampai melenakan dan melalaikan dari tesis.

Rasanya, cuti tesis ini adalah kepercayaan yang menyesakkan dada saya saat ini. Membuat makan saya terasa tak enak, tidur pun tak nyenyak. Buka laptop pun terasa bingung mau menulis lagi dari mana (karena efek lama jeda nulis tesis). Sharing sama teman di kampus malah ditertawakan… Ada juga cuti tesis yaaa… wk3. Nyuruh saya istighfar sebanyak-banyaknya agar diberikan ilham untuk menulis…

Ketika saya share lagi dengan teman lain dan mengajaknya sambil ikut kursus bahasa Arab di samping menulis tesis di akhir Desember kemarin, teman saya menolak. katanya dia mau fokus tesis aja, biarkan bahasa Arab menyusul kemudian.. karena menurutnya tesis bener-benr harus fokus dan menyita tenaga dan pikiran.

Cuma, entah kenapa, saya memutuskan untuk sambil belajar bahasa Arab, dan akhirnya beginilah.. di akhir januari ini, belum satupun huruf saya tambahkan di bab 4 saya, kerjaan kantor juga belum saya sentuh lagi.. It’s oke.. Fine!! (marah, kecewa? ) Hahaha, yang pasti jangan sampai menyalahkan bahasa Arab sebagai kambing hitam untuk tidak menulis tesis ya.. itu salah..

Yang benar adalah Bekasi- Ciputat sudah lumayan menguras tenaga di jalan. Jadinya waktu saya banyak terbuang di jalan.. dan belajar bahasa Arab bagi saya butuh fokus dan ketelatenan, bukan sekedar sambilan menyelesaikan tesis. Jadinya tak bisa mengerjakan dua-duanya. Bener juga kata Sarah yang memutuskan fokus tesis dulu..

Masing-masing orang punya kapasitasnya sendiri-sendiri. Bagi orang lain mudah, bagi saya mungkin butuh usaha keras, pun sebaliknya dalam hal lain.

Namun demikian, tidak membuat saya kapok untuk belajar bahasa Arab lagi. selesai sesi Qowaid 1, saya break dulu. Bukan karena menyerah dengan bahasa Arab karena belum benar-benar menguasai, melainkan karena tesis sudah menanti di depan mata sekian lamanya.. dan tak bisa dan tak sanggup kumendua..

Apalagi saya ketemu ustadz yang mampu mengubah paradigma saya tentang bahasa Arab, yang tadinya serasa bahasa planet jadi lumayan membumi, walau belum paham-paham amat setidaknya ada lah yang bisa saya tangkap dari uraian materi yang beliau sampaikan. So, sebenarnya berat juga untuk mengakhiri. Namun untuk meneruskan juga tak bisa untuk saat ini.. Dilemaaaa… jiaahhh. Serasa patah hati putus dari pacar.. ceile… Iyalah, di saat lagi penasaran belajar bahasa Arab eh tiba-tiba diputus karena situasi dan kondisi, gimana ga patah hati..

Sama halnya juga, saya pasrah bila memang belum bisa dapat SIM A. Break dulu buat tesis… Tesis itu bukan segalanya. namun segalanya bisa kacau karena tesis…

Bismillah,laa haulaa walaa quwwata illaa billah.. Semoga dilancarkan, dimudahkan, diberi petunjuk untuk menyelesaikan tesis. Aamiin YRA.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s