Mengelola Emosi

Kecerdasan Emosional (EQ) adalah kemampuan untuk mengetahui apa yang kita dan orang lain rasakan, termasuk cara tepat untuk menangani masalah (kemampuan mengidentifikasi, memahami, mempergunakan serta mengatur emosi di dalam kehidupan) 

‘In the corporate world, IQ gets you hired But EQ gets you promoted’’

Tak mudah dalam praktek kecerdasan emosional. Menurut saya, sabar dan syukur juga bagian dari kecerdasan emosional.

Bukankah tak mudah mengelola kondisi  emosi kita, saat situasi yang ada benar-benar tidak kita sukai. Misalnya kesemrawutan manajemen di dalam suatu sistim kerja. Kita adalah bagian dari sistim. ketika ingin berjalan baik, rapi, tetapi sistim yang ada semrawut, maka agenda pribadi pun bisa ikut kena imbasnya.

Kesemrawutan membuat hal-hal yang sebenarnya mudah menjadi tak mudah. Bukankah lebih mudah merapikan dan kerja dengan tertib dan terencana daripada amburadul. Di akhir waktu kelabakan mencari ini dan itu. Ketika tak ada maka dibuatlah sendiri. Benar-benar tak suka saya “mengarang” yang tidak pada tempatnya. Lha mengarang pada tempatnya saja tak mudah. Tak usah jauh-jauhlah, menulis berita, membuat tugas kuliah, menyusun tesis etc.Lebih baik belajar mengarang tentang itu dari pada membuat hal yang dikarang-karang. Itu melelahkan, baik nurani, fisik, maupun pikiran. Capek fisik bisa istirahat dan rehat sejenak dengan tidur. Namun kalau capek psikis duh, rasanya melebihi capek fisik. Obatnya pun tak mudah. Banyak mendengarkan Al-qur’an atau mendekatkan diri padaNya, dengan sholat, puasa, memperbanyak sedekah, memudahkan urusan orang lain, etc. Tapi itu tak mudah dilakukan bagi nurani yang mulai kotor. Seakan berat untuk berbuat kebaikan, pikiran juga tak jernih dan dunai bisa menjadi sempit. Lebayyy mungkin, tapi itu menurut versi saya. Entah versi orang lain.

Namun bagaimana bila kita berada di dalam sistim yang kurag teratur? kecerdasan emosi kita benar-benar di olah, karena hal-hal di luar diri kita bukanlah hal yang mudah untuk diperbaiki. Bahkan banyak yang menganjurkan agar introspeksi diri dulu. Barangkali justru diri kita turut berkontribusi dalam terjadinya kesemrawutan tersebut. Lagi-lagi karena perubahan itu tak bisa terjadi tanpa dimulai dari diri sendiri. Ya, dari diri sendiri dulu, dari yang kecil, dan saat ini juga. Kita tidak dapat mengatur sisi eksternal kita, namun lebih pada bagaimana kita mampu mengelola diri  kita sendiri  dalam menyikapi hal eksternal tersebut, dengan kecerdasan emosi. di sisi lain juga terus berbenah. Syukur-syukur bisa memberikan contoh yang baik. Ingatlah, tindakan itu lebih berbicara daripada sekedar kata-kata. kalau banyak bicara tanpa tindakan akan menjadi omong kosong yang tanpa isi, tak berbobot untuk membuat suatu perubahan.

Namun, apapun kondisi semrawut itu sadarilah mungkin adanya kita di situ punya maksud, bukan sekedar mampir atau suatu kebetulan saja. Entah memotivasi kita agar aware terhadap diri sendiri dan membuat kita belajar untuk lebih baik. Entah mengasah kita dalam hal lain. belajar untuk lebih cerdas emosional, etc. Yang pasti, jangan sampai ikut terhanyut dalam kondisi kesemrawutan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s