DEADLOCK MENJELANG DEADLINE

KETIKA SEORANG PENULIS DEADLOCK MENJELANG DEADLINE

Menyunting itu seperti mengetam pokok kayu: menghaluskan yang kasar, memotong yang tidak perlu.

Tapi untuk mengetam tetap dibutuhkan pokok kayu itu bukan? Yang banyak terjadi kayu itu kropos sehingga ketika diketam, remuk di sana sini.

Yang saya maksud, tulisan (pokok kayu itu) tak terdiri atas data-data yang solid. Ketika tiap paragraf rapuh, editing sebenarnya proses yang sia-sia.

Karenanya tulisan boleh saja kasar & tak rapi, tapi data dan argumentasi harus solid dan meyakinkan.

Ada lagi penyakit lain: penulis kebanyak data dari lapangan lalu ketika menulis ia gelagapan tertimbun informasi. Ia bingung mau nulis apa. Semua informasi dianggap penting. Sang penulis biasanya frustasi lalu menulis jadi pkerjaan yang menjemukan. Penulis itu melupakan satu hal: angle. Dengan angle ia sebetulnya sedang memilih, sisi apa dari peristiwa yang ingin ia kemukakan. Dengan angle yang tajam, seorang penulis harus tega menyingkirkan informasi yang menarik tapi tak relevan.

Saya kerap menganalogikan penulis non fiksi sebagai pematung yang menggunakan tanah liat sebagai bahan. Ketika turun lapangan, ia sesungguhnya tengah kumpulkan tanah liat. Berhari-hari reporting, ia kembali ke kantor dengan sekarung tanah liat.

Pematung yang baik tak akan memijat sekarung tanah liat agar jadi patung. Ia menjumput sedikit demi sedikit dan tempelkannya pada kerangka. Tanah liat yang dipijat-pijat tak akan menjadi patung yang indah. Proses itu cuma menciptakan onggokan yang tak jelas bentuknya.

Patung yang dibentuk di atas sebuah kerangka, akan menawan meski meninggalkan sisa tanah liat yang tak terpaka. Sisa tanah liat bisa diabaikan atau disimpan untuk dipakai lain kali. Menulis, seperti mematung, memang proses yang tak habis-habis.

By: Arif Zulkifi Tempo dalam kultweetnya.

Biarkan saya komentar tentang kultweet yang saya rangkum menjadi tulisan di atas. Rasanya kultweet tersebut sangat penting dan berguna bagi saya. Saya sampai tersenyum sendiri membaca tentang proses editing tersebut. Jadi teringat progress report tesis saya. hihihi, lagi kurang bersemangat dalam mengumpulkan data-data lapangan. Namun, begitu membaca kultweet mas Arif Zulkifli tersebut saya menemukan beberapa yang perlu diperbaiki dalam langkah saya ini.

Kultweet yang kelihatannya simple, namun isinya berat. Analogi yang digunakan membuat mudah dipahami. Bagaimana mengumpulkan data dan menuliskannya, serta penyakit-penyakit yang menjangkiti dalam proses tersebut. Persis dengan yang sedang saya lakukan.

Penyakit tesis saya terdiagnosa dengan membaca kultweet tersebut.  Bahasanya sederhana tapi kena sasaran. Kadang saya baca buku tips menulis tesis, disertasi, langkah-langkahnya njilmet saya pahami. Belum lagi bahasanya belum tentu enak dipahami. Walau masing-masing juga punya kelemahan dan kelebihan, setidaknya kultweet di atas menonjok kesadaran saya akan khilaf dan dosa-dosa pengumpulan data tesis saya 😉

Okey, sekarang saya sedang tahap reporting. Sebelumnya sudah ada kerangka dari dosen pembimbing. Ikuti saja, dengan mengumpulkan data yang diperlukan. walau ada godaan untuk berubah angle, ketika menemukan data yang menarik. atau bahkan mengumpulkan tanah liat yang kelihatannya menarik walau mungkin nanti belum tentu digunakan. Bener-bener menggoda untuk dikumpulkan, walau nanti belum tentu digunakan.. Duh, sedih juga ya, kalau mesti ada data yang dibuang, ga dipakai. Penyakit saya salah satunya adalah fokus melebar. Ingin melihat dalam kerangka global. Kerangka acuan belum dibuat sudah tertarik angle ini, angle itu. Kualitatif memang fleksibel, jika ada sesuatu yang baru ya tak mengapa diperhatikan. Namun, bukan berarti jadi kemana-mana kan? Jadi ga fokus, jenuh, mana kemarin-kemarin juga sibuk dinas luar dengan kegiatan kantor juga. Reportase yang kurang terjadwal, tesis yang pengerjaannya menjadi sambilan, bukan yang utama. Jadinya yaaa Desember terlewat sudah. Tinggal dua bulan lagi. Mampukah mengejar 3 kali sidang? wawlohu alam. Awal tahun belum banyak kegiatan. Semoga bisa mengejar.

Duh, prinsip pareto mesti kembali dilakukan.  dua puluh persen mengerjakan pekerjaan yang penting adalah utama dibandingkan mengerjakan 80 persen pekerjaan remeh-temeh. Artinya lebih baik melakukan hanya 20% tapi hal yang utama, dibandingkan 80% hal lain-lain, kurang urgen dsb. FOKUS, FOKUS, KOMITMEN, DISIPLIN, KONSISTEN. Itu kuncinya.. =(

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s