Mungkin, inilah yang dimaksud sebagai suatu pengalaman religious

Alhamdulillah,ga menyangka bisa ikut memeriahkan hut kemerdekaan RI ke 70 dan juara 1 bulutangkis ganda putri tingkat RW. Mungkin bagi sebagian orang terdengar biasa. Tapi bagi saya yang sedari taman kanak-kanak ga pernah ikut tanding olahraga terasa istimewa. Maklum dari kecil, sejak SD biasanya jadi wakil sekolah untuk puisi, lomba paduan suara, nembang jawa, itupun ga pernah juara. Yang agak lumayan ya lomba matematika pernah rangking 2 sekabupaten, siswa teladan SD tingkat kecamatan. Sewaktu SMP, juara mengarang tingkat kabupaten dan runner up siswa teladan. SMU kebanyakan bermain, dan berhubung sekolahku adalah SMU terfavorit peringkat 1 sekabupaten malah jadi ga pernah mewakili sekolah. Ya iyalah, di kalangan internal sekolah aja dah banyak yang jago-jago dan sudah biasa mewakili kabupaten. Intinya sih, saya ga ada riwayat ikut tanding olah raga. Kalau toh bisa bulu tangkis, tenis meja itu hanya sekedar bisa mukul. Sekedar bisa untuk olahraga dan menjaga kesehatan, sekedar buat iseng-iseng saja. Jadi kalau hari ini menang di final badminton tingkat RW yang saya rasa adalah syukur. Dia ingin saya merasakan kasih sayangNya. Ingin membuat saya bisa huznudzon dan percaya bahwa semua hal yang terjadi dalam hidup atas kuasaNya. Walau mungkin bagi saya suatu hal yang aneh, unpredictable, “ga gue banget” dan semacamnya,tapi ya kalau memang itu
kehendakNya ya akan terjadi, lengkap dengan sebab akibat yang melingkupinya. Lagi-lagi saya merasa, saya bukan siapa-siapa di hadapanNya. Ketika saya mulai ada benih-benih kesombongan maka Dia akan menegur saya dengan indah. Begitupun ketika saya merasa lelah, hampir menyerah, Dia akan menunjuki saya cara dan jalan agar sadar bahwa masih ada kesempatan untuk berbenah dan mengejar ketinggalan. Dia membangkitkan kembali semangat di saat-saat saya sudah hampir menyerah dan pasrah. Seakan Dia berkata langsung pada saya, “Ayoooo jangan menyerah, berusahalah, lanjutkan perjalanan, karena ada Aku yang senantiasa mengawasi, mengatur hidupmu. Kau tidak bisa mendikte-Ku dengan maumu. Kau hanya bisa menjalani peran, tugas dan amanah sesuai kehendak-Ku…
Terkadang perjalanan terasa berat dengan liku hidup yang so unpredictable. Manusia pada akhirnya hanya bisa berusaha untuk menerima dan ikhlas menjalani apapun kehendakNya.

Satu hal yang saya sadari, i am nothing… begitu kecil, lemah di hadapan KuasaNya yang Maha hebat. Jikalau saya menang, punya suatu prestasi atau apapun itu, itu semata-mata kuasaNya, bukan karena kemampuan saya. Tugas manusia hanyalah mencoba, berusaha dengan ikhlas, doa dan tawakal. Hasil akhir semata-mata kuasaNya. Ya, kuasaNya.
Maka, tak sepatutnya kita menyerah di tengah jalan. Teruslah melangkah, coba baca rambu-rambu sepanjang jalan,sambil terus evaluasi diri, jika ada langkah yang kurang tepat, perilaku dan akhlak yang belum baik, di situlah dibenahi dan diperbaiki. Butuh kerendahan hati yang dalam untuk bisa mengosongkan gelas, tawadhu’ dengan sesama manusia, apalagi dengan Tuhan…
Ah, saya memang harus mengakui kalau tawadhu itu tak mudah… Ya, membawa diri dengan gelas kosongm agar ketika berhadapan dengan orang lain, gelas saya bisa terisi.. karena orang lain pasti punya sesuatu untuk dibagikan ke saya, entah pengalaman, ilmu, nasehat, apapun itu..

Alhamdulillah, terima kasih untuk tafakkurMu ini.., semoga
bisa menjadikan saya lebih baik lagi ke depannya. Aamuin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s