Beratnya Tawadhu dan Ikhlas

Tawadhu’ merupakan ketundukan kepada kebenaran dan menerimanya dari siapapun datangnya baik ketika suka atau dalam keadaan marah. Dengan kata lain, janganlah kita memandang diri kita berada di atas semua orang atau menganggap semua orang membutuhkan diri kita.

Lawan dari tawadhu adalah takabur (sombong).

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan menganggap remeh orang lain.” (Shahih, HR. Muslim no. 91 dari hadits Abdullah bin Mas’udz)

Ibnul Qayyim dalam kitab Madarijus Salikin (2/333) berkata: “Barangsiapa yang angkuh untuk tunduk kepada kebenaran walaupun datang dari anak kecil atau orang yang dimarahinya atau yang dimusuhinya maka kesombongan orang tersebut hanyalah kesombongan kepada Allah karena Allah adalah Al-Haq, ucapannya haq, agamanya haq. Al-Haq datangnya dari Allah dan kepada-Nya akan kembali. Barangsiapa menyombongkan diri untuk menerima kebenaran berarti dia menolak segala yang datang dari Allah dan menyombongkan diri di hadapan-Nya.”

Sekilas membaca definisi tentang tawadhu dan takabur membuat diri ini jadi merenung. Bisa jadi, masih banyak terselip dalam diri ini kesombongan, menganggap remeh orang lain sehingga berat sekali untuk menyelesaikan tesis. Barangkali masih ada keengganan untuk tawadhu dan menerima nasihat dan saran dari para dosen, pembimbing. Bisa jadi pula diri ini merasa sombong merasa mampu menyelesaikan tesis dalam sekejap.

Padahal, tesis bukanlah suatu karya yang dapat diselesaikan dalam semalam. Bukan suatu karya yang bisa diselesaikan sendiri. Perlu banyak peran, masukan, doa, nasehat, saran dari para dosen baik pembimbing, dosen-dosen penguji, dukungan keluarga dekat, doa orang tua, dukungan teman, sahabat, rekan kerja, atasan kantor dsb. Dan yang pasti juga butuh banyak berdoa kepada yang maha Kuasa atas segala sesuatu.

Barangkali diri ini masih enggan, malas untuk mengerjakan, bertanya kalau ada kesulitan, belajar kalau banyak yang belum diketahui, dan berusaha mengatur diri agar tidak mudah menyerah dengan berbagai situasi dan kondisi sehingga tesis menjadi prioritas yang kesekian.

Barangkali, selain kurang tawadhu juga masih kurang azzam, niat dan tekad yang kuat sehingga tidak mudah menyerah dengan rutinitas sehari-hari dan melupakan agenda menulis tesis.. Dan entah berapa banyak lagi alasan yang membuat tesis sebagai prioritas yang terabaikan. Berat untuk mengerjakan dan berat untuk fokus.

Barangkali diri ini masih belum ikhlas untuk mengerjakan tesis sehingga begitu berat untuk menulis dan menjalani berbagai prosesi sidang, bimbingan, revisi dan hal-hal yang melingkupinya. Padahal akan banyak hikmah yang dipetik bila menjalaninya dengan sabar dan ikhlas.. =(((

Jadi teringat dengan suatu Kisah tiga orang yang terjebak dalam gua oleh batu, kemudian batu tersebut dibuka dengan sebab mereka berdoa, juga merendahkan diri mereka kepada Allah dengan amal shalih yang mereka kerjakan. hal yang dipetik dari kisah tersebut adalah Allah Menjaga Kita dengan Kita Merendahkan Diri.

Dan dalam Ash-Shahihain dari ‘‘Abdullah bin ‘Umar radhiallaahu ‘anhuma bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :“Ada tiga orang pada masa sebelum kalian. Ketika mereka tertimpa hujan, mereka berlindung di dalam sebuah gua. Tiba-tiba sebuah batu yang besar menutup pintu gua itu.

Maka seorang dari mereka berkata kepada yang lain, ‘Sungguh, demi Allah, wahai teman-temanku, tidak ada yang dapat menyelamatkan kalian kecuali kejujuran. Maka hendaklah setiap orang di antara kalian berdoa dengan apa yang dia ketahui bahwa dia telah jujur dalam hal itu.’

Salah seorang dari mereka berdoa, ‘Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku pernah mempunyai seorang pekerja. Dia kupekerjakan untuk mengurusi tanaman padi. Lalu dia pergi dan meninggalkannya. Kemudian aku mengurusi tanaman itu dan mengolahnya. Aku membelikan satu ekor sapi dari hasil tanaman itu. Kemudian pekerja itu mendatangiku untuk meminta upah. Maka aku menjawab, ‘Urusilah sapi itu dan ambillah.’ Ia berkata kepadaku, ‘Aku hanya mempunyai tanaman padi di sisimu.’ Aku berkata kepadanya, ‘Urusilah sapi itu, sesungguhnya sapi itu berasal dari tanaman itu.’ Kemudian dia membawanya. Jika Engkau tahu bahwa aku berbuat demikian karena takut kepada-Mu, maka bukalah batu itu dari kami.’ Maka batu itu bergeser.

Lalu yang lain berdoa, ‘Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku memiliki orang tua yang sudah lanjut usia. Aku biasa mendatangi keduanya setiap malam dengan membawakan susu kambing milikku. Suatu malam aku terlambat pulang, ketika aku datang, keduanya telah tertidur. Sedangkan istri dan anak-anakku merengek minta minum karena lapar. Dan aku tidak memberi minum kepada mereka sampai kedua orang tuaku minum. Aku tak ingin untuk membangunkan keduanya. Dan aku tidak ingin meninggalkan keduanya sehingga akibatnya keduanya menjadi lemah karena keduanya belum minum. Aku terus menunggu kedua orangtuaku sampai terbit fajar. Jika Engkau mengetahui bahwa aku berbuat seperti itu karena takut kepada-Mu, maka bukakan batu itu dari kami.’ Maka bergeserlah batu itu sampai mereka bisa melihat langit.

Yang lain berdoa, ‘Ya Allah …. Engkau mengetahui bahwa aku mempunyai saudara sepupu perempuan yang sangat aku cintai. Aku menggoda dia untuk menyerahkan dirinya. Tapi ia selalu menolak kecuali bila aku memberinya 100 dinar (+- 425 gr emas). Kemudian aku mencari uang itu sampai dapat. Lalu mendatanginya dengan membawa uang itu dan serahkan kepadanya. Lalu dia menyerahkan dirinya kepadaku. Ketika aku duduk di antara kedua kakinya, dia berkata, ‘Takutlah kamu kepada Allah, jangan kau pecahkan cincin kecuali dengan cara yang benar.’ (Cincin adalah kinayah dari kemaluan wanita tersebut) Maka aku bangun dan meninggalkan uang tersebut. Jika Engkau tahu bahwa aku berbuat demikian karena takut kepada-Mu maka bukakan batu itu dari kami.’ Maka Allah membuka batu itu, sehingga mereka bisa keluar.”

Semoga kita bisa mengambil pelajaran dan ibrah dari hadist yang diriwayatkan Al-Bukhari dan Muslim diatas sahabat.Kesempitan, musibah, dan bencana, Allah turunkan untuk suatu hikmah yang besar. Namun dengan itu manusia tidak suka dan ingin terlepas dari kesempitan hidup di dunia dan akhirat. Amal shalih yang disertai niat yang ikhlas bisa menjadi salah satu penyebab selamatnya seseorang dari kesempitan,kesusahan dan cobaan hidup ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s