Belajar dari Kegigihan Mendalami Ilmu

Ilmu dalam kehidupan manusia, adalah kebutuhan vital, melebihi kebutuhan kita kepada makan dan minum. Imam Ahmad berkata, Kebutuhan manusia kepada ilmu lebih banyak dari kebutuhan mereka kepada makanan dan minuman. Makanan hanya dibutuhkan 3kali setiap hari. Ilmu dibutuhkan di setiap nafas yang dikeluarkan. Pemahaman tersebut menjadikan seseorang merasa senantisa butuh ilmu.

Di dalam Al Quran, Alloh telah menceritakan kesungguhan mencari ilmu itu dari seorang manusia pilihanNya. “Dan ingatlah, ketika Musa berkata kepada muridnya: Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan, atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun.” (QS. Al Kahf:60).

Tentang hal tersebut, Ibnu Qoyyim menjelaskan, “Sesungguhnya, ia (Musa) merantau menuju seorang lelaki alim untuk belajar darinya dan mendapat tambahan ilmu atas ilmunya. Ia sangat bersemangat menjumpai lelaki alim ini untuk belajar darinya. Tatkala menjumpainya, ia berperilaku sebagaimana layaknya seorang murid kepada gurunya, meminta ijin untuk mengikutinya ke mana saja asal ia diijinkan belajar.”

Musa berkata, “Bolehkah aku mengikutimu, supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (Qs. Al-Kahfi:66).

Kalau kita bandingkan kedudukan dua manusia ini, Musa adalah s3orang nabi dan Rosul, Taurat diturunkan kepadanya, digelari kalimullah, dan salah seorang dari Ulul Azmi. Khidir dapatlah disebut sebagai seorang hambaNya yang diberiNya rahmat dan ilmu. Namun demikian, Musa dengan semangatnya mencari ilmu. Dia tidak berlaku sombong kepada Khidir, melainkan patuh dan rendah hati.

Para pencari ilmu bahkan menegaskan, kegigihan mereka mencari ilmu hanya bisa dibatasi oleh kematian. Husein bin Manshur Al Jashash berkata, “Aku bertanya kepada Ahmad bin Hambal, sampai kapan seorang menulis hadits?”. Ia menjawab, “sampai mati.”

Ibnu Mubarak, ulama tabi’in yang dikenal kaya karena bisnisnya, ternyata sangat haus terhadap ilmu. Dalam hal bisnis, ia menjelajah negara-negara Arab, disamping juga bertujuan mencari hadits.

Semangat mereka dikuatkan oleh ulama lain, Abdullah bin Basyar ath-Thalaqani. Ia mengatakan, “Aku berharap saat kematianku tiba, tinta ada di tanganku. Aku tidak ingin ilmu dan tinta berpisah dariku.”

Motivasi itu tidak hanya mereka tekankan kepada diri mereka sendiri, tetapi kepada setiap manusia, khususnya kepada setiap Muslim. Ketika Hasan Al-Basri didatangi lelaki yang bertanya tentang seorang tua berusia 80 tahun, apakah masih pantas bagi orang itu menuntut ilmu? Hasan menjawabnya dengan sangat diplomatis, “Jika ia masih menganggap kehidupan itu baik.”

Kemauan keras mereka untuk menghias diri dengan ilmu pengetahuan, tentu mengharuskan diri, rela mengesampingkan banyak hal. Bersenang-senang di usia muda, menikmati kelezatan-kelezatan syahwat nafsu, atau istirahat yang cukup.

Ibnu Qayyim mengungkapkan,” ILMU TIDAK DIDAPAT KECUALI DENGAN MENINGGALKAN KELEZATAN-KELEZATAN DAN MELEPAS ISTIRAHAT.”

Ilmu adalah produk hati dan kesibukannya. Maka, siapa yang tidak meluangkan waktu untuk memproduksinya atau sibuk dengannya, tidak akan mendapatkannya. SIAPA YANG TIDAK MENJADIKAN KELEZATAN DAN SYAHWAT MENCARI ILMUDI ATAS KELEXATAN FISIK DAN SYAHWAT NAFSUNYA, TIDAK AKAN MENCAPAI DETAJAD ILMU, SELAMANYA.

Dan meninggalkan kelezatan fisik dan syahwat nafsu, tentu saja tidak mudah. Ya, kecuali karena mereka mau, dan mau itu mereka iringi dengan kemantapan meraih ilmu sebanyak-banyaknya.

Jika kita ingin tahu betapa tingginya semangat mereka, mari kita simak kisah salah seorang sahabat, Muadz bin Jabal RA. Mari kita lihat, berapa usianya pada saat ia masuk Islam dan berapa usianya saat meninggal, s3rta kedudukannya dalam ilmu pengetahuan.

Tatkala Rasulullah dari orang-orang Anshar pada perjanjian Aqabah yang kedua, yang berjumlah sekitar 72 orang, Muadz adalah salah seorang diantara mereka. Usianya kala itu 18 tahun. Dia datang dengan wajah berseri, tatapannya teduh, senyumnya menarik dan giginya putih berkilau. Sikapnya yang tenang membuat orang lain senang melihatnya, dan bicaranya yang santun membuat mereka terpesona.

Muadz termasuk golongan Anshar yang lebih dulu masuk Islam, dengan keimanan dan keyakinannya. Kelebihannya yang paling menonjol adalah semangatnya belajar Islam, sehingga ia menjadi sosok yang dikagumi dalam hukum. Keahliannya dalam fiqih dan ilmu pengetahuan ini menyebabkan dipuji oleh Rasulullah SAW, seperti dalam sabda beliau, “Umatku yang paling tahu dalam persoalan halal dan haram ialah Muadz bin Jabal.”

Imam Malik bin Anas rahimahullah berkata, Al Quran terkumpul di zaman Rasulullah pada diri empat orang, semua dari golongan anshar: Ubay bin Ka’ab, Muadz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid, salah seorang pamanku. Dan karena itu Rasulullah SAW memerintah mengambil Al Quran kepada empat orang, salah satunya adalah Muadz. Mereka itu adalah Muadz, Ibnu Mas’ud, Ubay, Salim dan Maula Abu Hudzaifah.

Kedudukan yang tinggi di bidang pengetahuan ini, serta penghormatan kaum muslimin kepadanya, baik selagi Rasulullah SAW masih hidup maupun setelah beliau wafat, dicapai Muadz s3waktu ia masih muda. Muadz meninggal di masa pemerintahan Umar dalam usia 33 tahun. Bahkan, menurut Imam Malik, Muadz meninggal pada usia 28 tahun, s3hingga proses belajarnya kurang lebih 10 tahun.

Dalam hal keberaniannya mengemukakan pendapat dan kecerdasan otaknya, hampir sama dengan Umar bin Khatab. Ketika Rasulullah hendak mengirim Muadz ke Yaman, lebih dulu ia ditanya, “Apa yang menjadi pedomanmu dalam mengadili sesuatu, hai Muadz?”

“Kitabullah”, jawab Muadz.
“Bagaimana jika tidak kamu jumpai dalam kitabullah?” Tanya Rasulullah pula.
“Saya putuskan dengan sunah rasul”,
“Jika tidak kamu temui dalam sunah Rasul?”
“Aku gunakan pikiranku untuk berijtihad, dan aku tidak akan berlaku sia-sia”.

Maka berseri-serilah wajah Rasulullah.
“Segala puji bagi Rasulullah yang telah memberi tafik kepada utusan Rasulullah s3bagai yang diridhai oleh Rasulullah,” sabda beliau.

Dan mungkin kemampuan untuk b3rijtihad dan keberanian menggunakan otak dan kecerdasan inilah yang menyebabkan Muadz berhasil mencapai kekayaan dalam ilmu fikih, melampaui sahabat dan saudara-saudaranya, hingga Rasulullah menyebutnya sebagai “orang yang paling tahu tantang halal dan haram”.

Suatu hari pada masa pemerintahan khalifah Umar, A’idzullah bin Abdillah masuk masjid bersama beberapa orang sahabat. Maka ia pun duduk pada suatu majlis yang dihadiri oleh 30 orang lebih. Masing-masing menyebutkan hadits yang diterima dari Rasulullah.

Pada majelis itu ada seorang anak muda yang tampan, yang jika pada mereka terdapat keraguan tentang suatu hadits, mereka tanyakan kepada anak muda itu, yang segera memberikan fatwanya. Dan ia tidak berbicara kecuali bila diminta. Dan tatkala majelis itu berakhir, aku dekati anak muda itu dan aku tanyakan namanya, ia menjawab, “Saya Muadz bin Jabal”.

Umar bin Khatab ra sendiri sering meminta pendapat dan pikirannya. Bahkan, dalam satu peristiwa di mana ia memanfaatkan pendapat dan keahliannya dalam hukum, Umar pernah berkata, ” Kalau bukan karena pendapat Muadz bin Jabal, akan celakalah Umar.

Setelah Muadz bin Jabal, di generasi-generasi berikutnya, selalu muncul orang-orang muda yang dikagumi karena IRINGI MAU DENGAN KEMANTAPAN ILMU. Imam Syafi’i rahimahullah, telah memberi fatwa sejak umur 15 tahun. Begitu pula Imam Ahmad dan banyak lagi yang lain, yang di usia muda mereka telah mendapat pengakuan dari masyarakat luas karena kemantapan dan kekokohan ilmu mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s