Be A Climber (Meluruskan Tekad)

Hidup adalah persambungan kemauan, demikian yang menjadi falsafah hidup Izzudin bin Abdissalam, seorang ulama besar abad ke-6H. Ia juga seorang lelaki yang tegak berdiri melawan pasukan Mongol dan Salib. Kegigihannya untuk meluruskan sikap para penguasa dan menggerakkan semangat pasukan muslim patut diacungi jempol. Hingga akhirnya ia mendapat gelar penguasa para ulama.

Be a climber, demikian hal yang saya tangkap untuk diteladani dari sosok beliau. Jadilah manusia yang terus mengembangkan potensi diri, belajar, berlatih tanpa kenal henti. Jangan mudah menyerah, dan jangan cepat puas bila suatu potensi mulai tergali.

M3mbaca merupakan suatu tradisimbagi beliau, pun mendengarkan bacaan. Bila ia sibuk, ada orang kepercayaan beliau yang membacakan buku. Halaman demi halaman. Bila satu bab selesai, maka ia akan menambah sedikit bab baru berikutnya. Meski hanya beberapa baris kalimat.

Ketika ditanya, ia menjawab, “aku tak mau menjadi orang yang kemauannya berhenti di akhir suatu urusan”.

Bagi Izzudin, hal ini bukan semata membaca, melainkan simbol kemauan yang tak boleh berhenti. KITA HARUS MEMBACA PERJALANAN HIDUP INI. DENGAN KEMAUAN YANG TIDAK REDUPMDI PERSIMPANGAN PERISTIWA. Di akhir bab, dari halaman k3hidupan kita.

Tak ada salahnya lagi, kita melihat siapa diri kita. Tak ada jeleknya, kita membaca lagi apa yang kita mau. Meski sudah sejauh ini kita menuju. Meski sudah sampai di sini kita melaju.

Ada baiknya sesekali kita berkaca ulang. Menimbang kembali, apa sedari dulu yang kita mau. Apakah kini sudah terjadi??? Atau apakah yang kita mau di masa mendatang, bagaimana cara kita membuat nyata. Semuanya diawali dari seperti apa definisi kemauan kita.

Tak mudah mendefiniskan yang kita mau. Karenamhal itu dipengaruhi banyak faktor. Pengetahuan kita tentang apa yang kita mau, lingkungan sekitar kita, gangguan dan hambatan yang menghalangi kita,dan mentalitas kita sendiri dalam menghadapi itu semua. Semua itu mempengaruhi, bagaimana kita memilih untuk menjadi apa.

Mendefinisikan apa yang kita mau, artinya menjelaskan kepada diri kita, apa yang sesungguhnya ingin kita capai. Ini bisa sebuah profesi, atau prestasi di luar profesi. Pencapaian prestatif, atau bahkan suatu rutinitas harian. Bisa juga sebuah definisi paling dekat tentang siapa sesungguhnya kita. Apa yang kita bisa. Apa keahlian kita. Bahkan, apa sebutan utama tentang diri kita yang akan kitantuangkan dalam sejarah hidup kita.

Seringkali memang, definisi kita, tersimbolisasi dalam perjalanan akademis kita. Lalu apa profesi kita. Tapi itu bukan keniscayaan. Sebab mendefinisikan kemauan kita tak semata perjalanan linier hidup kita.
Maka kita banyak menyaksikan orang yang menghabiskan waktu bertahun-tahun dalam jenjang pendidikan tertentu, tetapi sesudah iyu ia menekuni profesi yang tdk berkaitan sama sekali dengan jalur akademisnya.

Bisa juga kita dapati, orang-orang yang di ujung lelahnya m3ndalami suatu ilmu dalam jangka yangnlama, ia justru beralih profesi di luar keilmuwannya.
Tentu, banyak pula yang serasi. Orang-orang yang mendapat karunia keselarasan : ilmunya adalah bidang pekerjaannya, pekerjaannya adalah bidang ilmunya. Dunia selalu menyediakan berbagai keadaan.

Apa yang kita mau tidak diukur dari jenisnya. Sebab setiap kita ditumbuhkan oleh Alloh dengan rasa sukan, tidak suka terhadap hal-hal yang b3rbeda-beda.
Diantara kita, ada yang memilih menjadi seorang guru sebagai pembuktian kemauannya, bergelar atau tidak, formal atau informal, yang tidak saja membagi ilmu, tetapi juga membimbing dengan cinta.
Ada yang suka bisnis, mencati rejeki untuk yang dinafkahi dan menghidupkan denyut nadi ekonomi orang lain.
pun ada yang suka seni, krativitas, penelitian dsb. Bersama itu pula ada orang-orang biasa yang m3lakukan hal-hal biasa, tapi berefek luar biasa. Mereka tau apa yang mereka mau. Mereka tau bagaimana berarti.

Kemauan itu yang mendorong kita, dari dasar diri. Memberi kita rasa ingin, yang terus-menerus ada. Tapi kemantapan yang kokoh pada akhirnya membuatnya mewujud dengan ijin Alloh. Kemantapan itulah yang memberi kita daya tahan, keseimbangan, dan mengiringi pasang surut sepanjang hati-hari kita membuktikan kemauan. Menghibur kita disaat lemah.

Ibnul Jauzi berkata, “Sesungguhnya kemauan itu kadang meredup di suatu waktu, disebabkan rasa lemah atau malas, atau bahkan tunduk pada bisikan syetan, nafsu atau sisi jiwa yang menyuruh pada keburukan.

Di sinilah, kemauan memerlukan nyala baru, pengingat, penghidup, seperti pertanyaan, Sebenarnya ridho siapa yang kau cari? Nikmat seperti apa yang engkau buru? Siksa seperti apa yang engkau takutkan?

Begitulah para salafusshalih dahulu mengajarkan kita bagaimana mereka menjadi orang-orang besar. Mereka punya mau. Dan mereka membuktikan apa yang mereka mau dengan kemantapan. Maka, para salafusshalih, kini memenuhi kisah-kisah peradaban Islam kita.

KEMAUAN ADALAH KEHORMATAN DIRI. Ubaidillah bin Zabyan berkata, “Aku punya seorang paman yang selalu menasehatiku, ‘Wahai Ubaidollah, berkemauanlah yang kuat, karena kemauan yang kuat itu setengah kehormatan diri.’

Para salafusshalih yang lain juga punya banyak prinsip yang serupa. Betapa penting kita menjaga kemauan diri yang baik. Diantara merrka berkata, “Kemauan kuatmu. Jagalah selalu. Karena kemauan adalah pengantar segala sesuatu.” Barang siapa kemauannya lurus, dan dia setia kepadanya, maka akan lurus pula segala perbuatannya setelah itu.

FAIDZA AZAMTA FA TAWAKKAL ALALLOH…

sumber: Ahmad Zairofi AM. TARBAWI.APRIL 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s