Tak Ada yang Abadi

Seorang teman kantor tadi pagi selepas upacara KORPRI 17 Maret 2015  mengungkapkan padaku, “harusnya kau ga usah muncul lagi di sini?”

“Kenapa?” tanyaku sambil tersenyum.

“Rasanya aneh, setelah dua tahun pergi, terus kembali, seperti ada harapan untuk ngantor lagi di sini.”

“Duh.. rasanya aku pun berat untuk meninggalkan kantor ini, akan kehilangan teman-teman di sini,  tapi apaboleh buat memang sudah waktunya pergi” jawabku

Katanya lebih jauh, “terbiasa satu ruang, nyanyi-nyanyi, ngedumel, ngobrol, ngelakuin kerjaan bantu-membantu,” jadi  hmmm berat untuk meninggalkan semua itu..

Aku sendiri antara sedih, ya.. sudah pasti. Di sisi lain bersyukur, keberadaanku selama ini ada manfaatnya bagi orang lain.  Yang lebih menyedihkan adalah bila ‘ada dan tiadanya kita tak berarti bagi orang lain,’ Ga ada pengaruh, ga ada efek sama sekali.. Seperti tak dianggap… Itu akan lebih menyedihkan..

Konteks ruang dan waktu itu tak selamanya tetap,  akan berdinamika, seiring perubahan situasi dan kondisi. Toh, misalnya aku tetap di sini, juga tidak akan ajeg terus, di kepegawaian terus misalnya. Bisa jadi aku di ruang peneliti atau pindah ke bagian lain. Sisi melankolis ada, tapi realitas mengatakan, Semua berubah, yang tetap perubahan itu sendiri.

Dua tahun tidak ngantor di Semarang aja ada banyak yang berubah.

Ah, begitulah… kangen itu muncul..

Dulu, terbiasa keluar masuk rumah dinas ketemu Bu Kepala, koordinasi, ngobrol program dharma wanita, seputar masak-memasak, rencana jalan-jalan arisan, snack, hadiah lomba, buka puasa, rempong besuk yang sakit, yang melahirkan dsb.. Bahkan kadang terasa ‘anoyying ‘ serasa job desk kepegawaian saya terserobot oleh job desk sekretaris dharma wanita.. Tapi sisi positifnya, ada kedekatan keluarga besar Balai Litbang Agama Semarang, bukan hanya kenal dengan sesama teman kantor tapi juga para istri dan anak-anaknya. Suasana kekeluargaan tsb mendorong dinamisasi kantor. kantor yang serasa formalitas jadi lebih terasa ukhuwah, persaudaraan. Walau capek juga tapi senengnya banyaaaaak…

Seminggu yang lalu aku kembali ke kantor ini sudah beda… rumah dinas sebelah kantor sudah tidak bisa saya dengan mudahnya keluar masuk seperti dulu.. Ya wajarlah, penghuninya alias kepala kantor sudah berganti. Dan, bu Kepala alias istrinya kebetulan dinas di Yogya, jadi tradisi silaturahim ke rumah dinas jadi berubah.. Sekilas, ada rasa kangen, jelas itu… Tapi ya.. wajarlah, hidup… tak bisa stagnan.. Jikalau diri kita yang stagnan, ada ruang waktu yang senantiasa berubah, mau tak mau kita dipaksa berubah juga. Kalau kita tidak menaikkan kompetensi dan skill bisa jadi kita jadi tidak mampu menyesuaikan dengan perubahan lingkungan  dan sosial. Itulah mengapa perlu terus belajar, up grade diri..

Suasana kantor terasa lebih formal…  ehmm ada yang kurang sepertinya, sekedar  menyempatkan berkumpul arisan ibu-ibu sebulan sekali, bertemu, berbincang  kadang lomba tumpeng atau masakan ternyata mampu memecah kebekuan, menimbulkan kasih sayang.

Benarlah suatu ungkapan, ‘sekedar memberi hadiah kecil tak seberapa mampu mengeratkan hati, menumbuhkan kasih sayang”.  Tapi saya sadari, setiap perubahan itu baik adanya, membuat kita semakin belajar, belajar dan belajar. Ada satu sisi yang berkembang, ada sisi lain yang bisa jadi kurang. Masing-masing orang, kepala punya fokus perubahan dan tujuan yang ingin dicapai. Justru yang ada sekarang melengkapi kekurangan sebelumnya.

Dan yang lebih penting lagi, ‘sesuatu itu ada masanya’. Bila sudah lewat, maka akan berbeda. JADI OPTIMALKAN WAKTU YANG ADA SEBAIK-BAIKNYA. KARENA ESOK, NANTI TIDAK AKAN SAMA LAGI. ENTAH KESEMPATAN, SUMBERDAYA, DUKUNGAN SOSIAL MAUPUN TANTANGAN YANG ADA tidaklah sama. Waktu terus melaju dan  berputar, namun putarannya tidak akan membawa kita kembali ke masa lalu. BIjaklah menggunakan waktu.. Nasehat kepada diri sendiri. untuk tidak perlu menyesali yang telah terjadi dan tidak terlalu mengkhawatirkan masa depan.

Sunatullah itu berjalan…

Digilirkannya malam kepada siang, dan siang kepada malam…

Agar manusia merenung dan bijak..

Tak ada  yang abadi…

Kecuali Illahi Robbi..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s