Teori Pierre Bourdiu secara Lebih Rinci

SEKILAS BIOGRAFI  PIERRE FELIX BOURDIEU

  • Pierre Felix Bourdieu adalah salah seorang pemikir Prancis paling terkemuka yang dikenal sebagai sosiolog dan antropolog. Pada masa akhir hidupnya dikenal sebagai jawara pergerakan antiglobalisasi. Karyanya me-miliki bahasan yang luas tentang etnografi dan seni, sastra, pendidikan, bahasa, serta kultural dan televisi. Felix Bourdieu lahir pada tanggal 1 Agustus 1930 di Desa Denguin, distrik Pyreness-Antlantiques, Barat Daya Prancis putra seorang pegawai pos desa. Dia menjalani pendidikan SMA-nya (Lycee) di Pau sebagai siswa yang cemerlang dan terkenal di sekolahnya sebagai bintang rugby.
  • Bourdieu kemudi-an pindah ke Lycee louis-le-Grand di Paris. Dari sinilah dia bisa diterima masuk Ecole Normale Superieure dan belajar filsafat kepada Louis Althusser.
  • Bourdieu tertarik pada pemikiran Marleau-Ponty, Husserl dan telah membaca karya Heiddegger Being and Time dan tulisan Karl Marx muda untuk kepenting-an akademisnya.
  • Tesisnya pada tahun 1953 merupakan terjemahan dan ulasan Animadversiones karya Leibniz.
  • Pada tahun 1955 Bourdieu mengajar Lycee (SMA) di Moulins, kemudian bergabung dengan ketentaraan dan dikirim ke Aljazair selama dua tahun.
  • Pada tahun 1958 dia menjabat sebagai pengajar di Universitas Aljazair. Di sinilah Bourdieu belajar bercocok tanam tradisional dan budaya Berber. Dia juga memperhatikan benturan antara masyarakat Aljazair dengan kolonialisme Prancis dengan mengkonstruksi asal-usul struktur ekonomi dan sosial khusunya masyarakat Kabyle suku Berber dan menghasilkan sebuah buku pertamanya yang berjudul Sociologie de I’Algerie atau The Algarians (1958).
  • Jauh sebelum Mei-Juni 1968 Bourdieu telah menfokuskan perhatiannya pada lembaga mahasiswa untuk keperluan penelitian yang mem-perluas bidang pengajaran dan profesori-at.
  • Pada tahun 1960, Bourdieu kembali ke Paris sebagai antropolog autodidak dan mengajar di Universitas Paris dan Universitas Lille pada tahun 1952-1964.Di perguruan tinggi itu, Bourdieu mendirikan pusat Sosiologi Pendidikan dan Budaya.
  • Pada tahun 1968 menjadi Direktur Centre de Sociologie Europeenne dan mempelopori riset kolektif tentang permasalahan pelestarian sistem kuasa dengan menggunakan transmisi dari budaya dominan.
  • Tahun 1981 Bourdieu memegang jabatan di bidang sociologi di Colllege de France.
  • Tahun 1993 men-dapatkan anugerah penghargaan “Medail-le d’or du Centre National de la Recherche Scientifique” (CNRS).
  • Dari tahun 1962-1983 dia berumah tangga dengan Marie-Claire Brizard.
  • Pada tahun 1975 Bourdieu melun-curkan jurnal Actes de la Recherche en Sciences Sociales untuk meruntuhkan me-kanisme sehingga produksi budaya dapat menyokong struktur dominan masyara-kat.
  • Tulisannya semakin mengalami pem-balikan radikal pada tahun 1990-an. Pada pertengahan tahun 1990-an Bourdieu bergabung dengan sejumlah aktivitas di luar lingkaran akademis.
  • Pada tahun 1993 dia melancarkan tudingan besar-besaran ihwal konsekuensi manusiawi atas tatanan nonliberal yang dihabiskan oleh sosialisme Prancis, “La Misere du Monde” yang menandai perubahan pendiriannya.
  • Pada tahun 1995 dia memegang peranan utama dalam mengerahkan dukungan intelektual melawan pemerintahan Juppe. Setelah itu ia kembali menjadi juru bicara yang tidak mengenal lelah dan mengorganisir oposisi politik terhadap kembalinya rezim PS dari Joepin. Bourdieu juga mendukung gerakan para pekerja rel kereta api, menjadi juru bicara tuna-wisma, serta menjadi pembicara tamu di berbagai siaran televisi.
  • Pada tahun 1996 sebagai pendiri perusahaan penerbitan Liber/Raisons d Agir.
  • Pada tahun 1998 menerbitkan artikel di surat kabar Le Monde yang membandingkan tentang “Strong Dis-course” dari Neo-Liberalisme dengan posisi diskursus psikiatri di Asilum. Bourdieu juga memobilisasi advokasi kiri, advokasi gerakan Eropa dan melancarkan serangan gencar ihwal korupsi di media Prancis dan Konformisme cendekiawan Prancis.
  • Tulisan On the Television yang diterbitkan pada tahun 1996 disusun dari dua kuliah merupakan buku best seller yang mengejutkan di Prancis. Bourdieu menganggap televisi sebagai bahaya serius bagi seluruh area kultural yang beragam. Televisi mendegradasi jurnalis-me, karena televisi harus berupaya untuk menjadi inofensif.

TOKOH – TOKOH YANG MEMPENGARUHI PEMIKIRAN BOURDIEU

Teori Bourdieu dibangun di atas teori-teori Lucwig Wittgenstein, Husserl, Georgees Canguilhem, Karl Marx, Gaston Bashelard, Max Weber, Emile Durkheim, dan Norbert Elias.

Pengaruh yang paling jelas dari Bourdieu adalah dari Blaise Pascal, sehingga dia memberi judul bukunya Pascalian Meditations. Karya Bourdieu dipengaruhi oleh antropologi dan sosiologi tradisional yang ia sintesiskan ke dalam teorinya sendiri.Dari Max Weber, ia memperoleh kesadaran tentang pentingnya dominasi dan sistem simbolik dalam kehidupan sosial, serta gagasan tatanan sosial yang akhirnya akan ditransformasikan ke dalam teori ranah-ranah (fields).

Dari Karl Marx, ia memperoleh pemahaman tentang masyarakat sebagai penjumlahan hubungan-hubungan sosial yang eksis dalam dunia sosial adalah hubungan-hubungan yang bukan hanya terdiri atas interaksi antara agen-agen atau ikatan intersubyektif antara individu-individu, namun juga hubungan-hubungan obyektif yang eksis secara independen dari kesadaran dan kehendak individual. Hubungan itu berlandaskan pada bentuk dan kondisi-kondisi produksi ekonomi, dan kebutuhan untuk secara dialektis mengembangkan teori sosial dari praktik sosial.

Dari Emile Durkheim, Bourdieu mewarisi semacam pendekatan deterministik.Walau demikian Bourdieu menyimpang dari analisis Durkheim, yang menekankan peran peran agen sosial dalam memainkan tatanan-tatanan simbolik melalui perwujudan struktur-struktur sosial. Bourdieu lebih jauh menekankan bahwa reproduksi struktur-struktur sosial tidak beroperasi menurut logika fungsionalis.

Melalui Marcel Mauss dan Claude-Levi-Strauss, ia mewarisi gaya strukturalis yang menekankan kecenderungan struktur-struktur sosial untuk mereproduksi dirinya sendiri.

Maurice Marleau Ponty, merupakan tokoh lain yang mempengaruhi Bourdieu tentang fenomenologi.

Elmund Husserl memainkan peranan esensial dalam merumuskan fokus Bourdieu pada tubuh, tindakan dan disposisi praktis, yang memperoleh manifestasi utamanya pada teori habitus Bourdieu.

Karya Bourdieu dibangun di atas usaha untuk mentransformasikan serangkaian oposisi-oposisi yang mewarnai ilmu-ilmu sosial, seperti: subyektivisme-obyektivisme, mikro-makro, kebebasan-determinisme, nature-hystory, doxa-episteme, material-simbolis, kesadaran-ketidaksadaran, oleh struktur, ekonomi, dan budaya. Secara khusus ia melakukan hal ini melalui inovasi-inovasi konseptual, konsep-konsep habitus, modal, dan ranah disusun dengan niat untuk menghapus oposisi-oposisi semacam itu.

Jadi terdapat jejak pengaruh teori lain dalam karya-karya Bourdieu, khususnya Weber dan teoritisi lain Perancis terkemuka Emile Durkheim. Akan tetapi, Bourdieu menolak dicap sebagai Marx-ian, Weberian, Durkheimian dan lainnya. Dia menganggap label semacam itu bersifat membatasi, terlalu menyerderhanakan, dan berbenturan dengan karya-karyanya. Bourdieu mengembangkan ide-idenya dalam dialog kritis yang dimulai sejak dia masih mahasiswa dan berlanjut sampai akhir hayatnya.
”Segala sesuatu yang telah saya lakukan dalam sosiologi dan antropologi telah saya kerjakan dengan menentang apa-apa yang telah diajarkan kepada saya” (Bourdieu dan Wacuant, 1992:204).

Bourdieu mendifinisikan salah satu tujuan dasarnya dalam reaksi terhadap akses strukturalisme: ”Niat saya adalah mengembalikan kehidupan nyata aktor yang telah dilenyapkan di tangan Levi-Strauss dan strukturalis lainnya … yang menganggapnya sebagai epifenomena struktur” (Jenskins,1992:17-18). Dengan kata lain Bourdieu ingin mengintegrasi-kan setidaknya sebagian dari eksistensialisme Sartre dengan strukturalisme Levi-Strauss.

Karya-karya Bourdieu
Bourdieu telah membaca karya-karya pemikir besar. Karenanya tampak di-pengaruhi oleh hasil pemikiran besar dan beragam. Dia juga menggabungkan SosioLogi, Antropologi, dan Ilmu Filsafat. Dia menulis karya klasik dalam setiap bidang keilmuan.

  • Tulisan Bourdieu tentang budaya selera dalam Distinction (1984),
  • Laporan cermat tentang gender dan kuasa dalam Masculin Domination (1998).
  • Buku yang paling terkenal dengan judul lengkap Distinction: A Social Critique of the Judge-ment of Taste (1984). Di dalam buku ter-sebut Bourdieu memperkenalkan istilah trajektori ketika membicarakan posisi orang-orang kaya baru (OKB) dan orang-orang yang kehilangan kelas.
  • Di bidang Sosiologi, Bourdieu dikenal sebagai pakar Sosiologi Pendidikan yang mengkaji berbagai struktur kuasa di dalam pengajaran. Dia menggambarkan, sekolah sebenarnya mereproduksi pembagian kultural masyarakat dengan berbagai cara yang kasat mata ataupun tidak, di samping netralitasnya yang tidak nampak. Sekolah di dalam pemikiran Bourdieu merupakan penggunaan kekerasan simbolik untuk melegitimasi tatanan sosial yang berlaku. Jika tatanan sosial berada di luar kendali maka akan terjadi kekerasan di dalam masyarakat kita.
  • Dalam teorinya Bourdieu menyatakan bahwa tindakan sosial merupakan struktur tindakan itu sendiri dan keduanya dapat saling dipertukarkan. Negosiasi di dalam budaya berasal dari kesadaran habitus, dan pada tingkatan individu, habitus juga berarti sistem perilaku dan disposisi yang relatif permanen dan berpindah dari satu objek ke objek lainnya secara simultan dalam mengintegrasikan antara seluruh pengalaman sebelumnya.

Teori Agen dan Struktur
Teori Pierre Bourdieu digerakkan oleh keinginan untuk mengatasi apa yang disebutkan sebagai oposisi palsu antara objektivisme dengan subjektivisme, atau hal yang disebutnya sebagai, “oposisi absurd antara individu dengan masyara-kat” (Bourdieu, 1993; Ritzer, 2008—terj. Yudi Santoso: 2010:577).

Bourdieu menempatkan Durkheim dan studinya tentang fakta sosial dan strukturalisme Saussure, Levi-Strauss, dan Marxis struktural dalam kelompok objektivis. Perspektif-perspektif ini dikritik Bourdieu karena hanya memusatkan perhatian pada struktur objektif dan mengabaikan proses konstruksi sosial yang digunakan untuk memersepsi, memikirkan dan mengons-truksi struktur-struktur ini dan selanjutnya mulai bertindak atas dasar tersebut. Objektivis mengabaikan agensi atau agen.

Dalam konteks ini, Bourdieu lebih memilih pandangan yang bersifat strukturalis tanpa kehilangan perhatiannya terhadap agen. Ia memusatkan perhatiannya pada hubungan dialektis antara struktur objektif dengan fenomena subjektif. Sekaligus bermaksud untuk membawa kembali aktor di dunia nyata yang telah sirna di tangan Levi-Strauss dan strukturalis lain, khususnya Althusser (Jenkis, 1992: 18; Ritzer dan Goodman, 2010:557).

Untuk mengatasi dilema subjektivis-objektivis, Bourdieu memusatkan perhatiannya pada praktik yang dilihatnya sebagai akibat dari hubungan dialektis antara struktur dan agensi. Praktik tidak ditentukan secara objektif dan bukan pula merupakan produk dari kehendak bebas. Melakukan refleksi atas minatnya pada dialektika antara struktur dengan cara orang mengkonstruksi realitas sosial. Bourdieu memberi label kepada orientasinya dengan konsep struktural konstruktivis, konstruktivisme strukturalis, atau strukturalisme genetis, yang didefinisikan sebagai (Ritzer dan Goodman, 2010 : 578-9.):

Analisis atas struktural objektif yang berada pada arena berbeda, tidak dapat dipisahkan dari analisis genesis, dalam individu biologis, dari struktur mental yang pada batas-batas tertentu merupakan produk dari perpaduan struktur sosial; yang juga tidak dapat dipisahkan dari analisis struktur sosial ini: ruang sosial, dan kelompok yang menguasainya, adalah produk dari perjuangan historis (yang di dalamnya agen berpartisipasi menurut posisi mereka dalam ruang sosial dan menurut struktur mental yang mereka gunakan untuk memahami ruang ini).

Melalui definisi tersebut, Bourdieu berupaya menyatukan dimensi dualitas pelaku (agen) dan struktur. Oleh karena itu pendekatannya disebut strukturalisme genetik yakni analisis struktur-struktur objektif yang tidak dapat dipisahkan dari analisis asal usul struktur mental dalam individu-individu biologis yang sebagian merupakan produk penyatuan struktur-struktur sosial dan analisis asal usul struktur sosial itu sendiri.

Struktur objektif sebagai sesuatu yang terlepas dari kesadaran dan kehendak agen, yang mampu mengarahkan dan menghambat praktik atau representasi mereka.

Inti dari teori agen dan struktur Bourdieu terletak pada konsep habitus dan arena, dan hubungan dialektis antara keduanya (Swartz, 1997; Ritzer dan Goodman, 2010: 580).

Kalau habitus berada di dalam pikiran aktor—yang masih dalam alam kesadarannya, maka arena berada di luar pikiran aktor—yang mengkonstruksi pikiran aktor. Inti pandangan Boudieu yang dimaksudkan untuk menjembatani subjektivisme dan objektivisme (Ritzer dan Goodman, 2010:580) tersebut diuraikan lebih terperinci pada bagian berikut ini.

Habitus dan Arena (Habitus and Field)

Habitus adalah struktur mental atau kognitif yang dengannya orang berhubungan dengan dunia sosial. Orang dibekali dengan serangkaian skema terinternalisasi yang mereka gunakan untuk mempersepsi, memahami, mengapresiasi, dan mengevaluasi dunia sosial. Melalui skema ini, orang menghasilkan praktik mereka, mempersepsi dan mengevaluasinya.

Secara dialektif, habibus adalah “produk dari internalisasi struktur” dunia sosial. Habitus diperoleh sebagai akibat dari ditempatinya posisi di dunia sosial dalam waktu yang panjang (Ritzer dan Goodman, 2010:581).

Kleden (Kleden, 2005:361-375; Binawan, 2007:28-29.) menarik tujuh elemen penting tentang habitus ini yakni:

(1) produk sejarah, sebagai perangkat disposisi yang bertahan lama dan diperoleh melalui latihan berulang kali (inculcation);

(2) lahir dari kondisi sosial tertentu dan karena itu menjadi struktur yang sudah diberi bentuk terlebih dahulu oleh kondisi sosial di mana dia diproduksikan. Dengan kata lain, ia merupakan  struktur yang distrukturkan (structured -structures);

Catatan: Habitus sebagai gagasan, tidaklah diciptakan sendiri oleh Bourdieu, namun merupakan gagasan filosofis tradisional yang ia hidupkan kembali (Warquant, 1989; Ritzer dan Goodman, 2010:581. Dalam tradisi filsafat, habitus diartikan sebagai kebiasaan yang sering disebut dengan habitual yakni penampilan diri, yang menampak (appearance); tata pembawaan terkait dengan kondisi tipikal tubuh seperti: cara kita makan, berjalan, berbicara, dan bahkan dalam cara kita membuang ingus kita. Menurut Aristoteles, habitus diartikan sebagai katagori yang melengkapi subjek sebagai substansi. Tidak adanya kategori, tidak pula mengubah substansi. Katagori apakah yang melekat pada substansi dan tidak ter-pisahkan? Menurut Aristoteles adalah kualitas rasionalitas dan idealitas.

(3) disposisi yang terstruktur ini sekaligus berfungsi sebagai kerangka yang melahirkan dan memberi bentuk kepada persepsi, representasi, dan tindakan seseorang dan karena itu menjadi structuring structures (struktur yang menstrukturkan);

(4) sekalipun habitus lahir dalam kondisi sosial tertentu, dia bisa dialihkan ke kondisi sosial yang lain dan karena itu bersifat transposable;

(5) bersifat pra-sadar (preconcious) karena ia tidak merupakan hasil dari refleksi atau pertimbangan rasional. Dia lebih merupakan spontanitas yang tidak disadari dan tak dikehendaki dengan sengaja, tetapi juga bukanlah suatu gerakan mekanistis yang tanpa latar belakang sejarah sama sekali;

(6) bersifat teratur dan berpola, tetapi bukan merupakan ketundukan kepada peraturan-peraturan tertentu. Habitus tidak hanya merupakan a state of mind, tetapi juga a state of body dan bahkan menjadi the site of incorporated history;

(7) habitus dapat terarah kepada tujuan dan hasil tindakan tertentu, tetapi tanpa ada maksud secara sadar untuk mencapai hasil-hasil tersebut dan juga tanpa penguasaan kepandaian yang bersifat khusus untuk mencapainya.

1. Habitus merupakan produk sejarah. Habitus pada waktu tertentu telah diciptakan sepanjang perjalanan ”Habitus, produk sejarah, menghasilkan praktik individu dan kolektif, dan sejarah, sejalan dengan skema yang digambarkan oleh sejarah” (Bourdieu, 1977:82; Ritzer dan Goodman, 2010:581). Habitus yang termanifestasikan pada individu tertentu diperoleh dalam proses sejarah individu dan merupakan fungsi dari titik temu dalam sejarah sosial tempat ia terjadi. Habitus bersifat tahan lama sekaligus dapat dialihkan yaitu dapat digerakkan dari satu arena ke arena lainnya.
Sebagai contoh, sopir yang melajukan kendaraan di jalan raya pada posisi sebelah kiri. Menjalankan kendaraan pada posisi sebelah kiri, jelas-jelas telah menjadi sebuah “sistem atau perangkat disposisi yang bertahan lama dan diperoleh melalui latihan berulang kali”. Kita tidak tahu dengan pasti, kapan mulai terjadi. Tetapi jelas bahwa mula-mula kebiasaan tidak begitu saja terjadi. Selain itu, pembentukannya perilaku itu butuh upaya yang berkelanjutan dan dalam sebuah proses yang tidak pendek. Yang jelas, ia sudah bertahan sangat lama, sampai sekarang pun di sejumlah negara juga melakukan seperti itu termasuk di Indonesia.
2. Habitus merupakan struktur yang dibentuk dan membentuk.

Habitus menghasilkan dan dihasilkan oleh dunia sosial.Di satu sisi, habitus ”menstrukturkan struktur”; artinya, habitus adalah struktur yang menstrukturkan dunia sosial. Disisi lain, dia adalah ”struktur yang terstrukturkan”; artinya habitus adalah yang distrukturkan oleh dunia sosial.

Meskipun habitus adalah satu struktur terinternalisasi yang menghambat pikiran dan pilihan bertindak, ia tidak menentukannya. Tiadanya determinisme ini adalah salah satu hal utama yang membedakan posisi Bourdieu dari posisi strukturalis arus utama.

Habitus sekedar ”menyarankan” apa yang seharusnya dipikirkan orang dan apa yang seharusnya mereka pilih untuk dilakukan.Contoh, melajukan (menyopir) kendaraan di jalan raya di sebelah kiri memastikan keberadaan struktur yang distrukturkan. Orang menjadi nyaman dengan struktur yang telah tertata seperti ini. Kenyamanan itu menjamin hilangnya rasa kekhawatiran akan perilaku sopir lain dari arah berlawanan yang juga melajukan kendaraan dari arah sebelah kiri mereka. Struktur ini telah tertata sebelum misalnya kira belum bisa menyopir kendaraan, tetapi saat itu kenda-raan yang membawa kita disopiri oleh orang lain yang juga melajukan kendaraan di sebelah kiri. Jadi ia lahir dari kondisi sosial tertentu dan karena itu menjadi struktur yang sudah diberi bentuk terlebih dahulu oleh kondisi sosial dimana dia diproduksikan.

3.Struktur yang menstrukturkan.

Karena sudah menjadi kebiasaan, melajukan kendaraan di sebelah kiri, bagi para aktor, menjadi sebuah disposisi yang terstruktur. Ia telah menjadi kesadaran dan sikap yang “tertanam” dalam diri.

Pada gilirannya kebiasaan itu “berfungsi sebagai kerangka yang melahirkan dan memberi bentuk kepada persepsi, presentasi dan tindakan seseorang”. Karena telah ditumbuh kembangkan maka tindakan-tindakan lain yang berkaitan dengan berjalan (melajukan kendaraan) di jalan (raya), akan dikerangkai oleh, atau disesuaikan dengan kebiasaan berjalan di lajur sebelah kiri ini. Konstruksi mobil dibuatnya setir (kemudi) di sebelah kanan yang juga dilakukan pemasangan rambu-rambu lalu lintas di sebelah kanan, agar dapat mudah dilihat oleh sopir yang posisi kemudinya di sebelah kanan kendaraan. Tegasnya, kebiasaan berjalan di lajur sebelah kiri menjadi penentu dari tindakan-tindakan selanjutnya. Bahkan tanpa sepenuhnya disadari, bila kita mampu membeli suatu barang di toko, misalnya minuman atau mampir di Pom Bensin, khususnya bila belum ditentukan sebelumnya, pilihan pertama adalah toko yang ada di sebelah kiri dari jalan yang kita lalui. Pilihan ini adalah berkaitan dengan kepraktisan, juga erat hubungannya dengan persepsi. Dapat pula diartikan, disebabkan kita berjalan di lajur sebelah kiri sudah menjadi persepsi, berjalan dalam mimpi waku tidur pun pasti di sebelah kiri. Struktur berjalan di lajur sebelah kiri itu yang menstrukturkan (structuring structures) mimpi kita untuk juga berjalan di lajur sebelah kiri.

4. Sekalipun habitus lahir dalam kondisi sosial tertentu, dia bisa dialihkan ke kondisi sosial yang lain dan karena itu bersifat transposable.

Maksudnya, meskipun kebiasaan berjalan di lajur sebelah kiri lahir dalam konteks makin ramainya jalan raya dan makin cepatnya kendaraan berjalan, kebiasaan ini tidak mempunyai kaitan langsung dan niscaya. Artinya, bisa saja lahir kebiasaan sosial lain. Dengan kata lain, kebiasaan sosial yang dibentuk itu menjadi cara penyelesaian dari suatu masalah yang muncul dari suatu konteks sosial yang baru. Sebagai cara, tidak bisa disimpulkan secara serta-merta. Bahwa di negara lain, kebiasaan yang lahir adalah berjalan di lajur sebelah kanan, menunjukkan hal ini. Disebabkan oleh tidak ada kaitan yang niscaya, maka kebisaan ini pun bisa dibuat atau dilakukan dalam konteks sosial yang berbeda. Tidak ada alasan esensial yang menghalangi bila kebiasaan berjalan di lajur sebelah kiri ini diterapkan di tengah hutan misalnya.

5. Bersifat pra-sadar (pre-concious) karena ia tidak merupakan hasil dari refleksi atau pertimbangan rasional. Maksudnya habitus “merupakan spontanitas yang tidak disadari dan tak dikehendaki dengan sengaja. Tetapi juga bu-kanlah suatu gerakan mekanistis yang tanpa latar belakang sejarah sama sekali”.

Tampak jelas dalam contoh kebiasaan berjalan di lajur sebelah kiri. Kalau kita melakukannya, jelas kita tidak akan ber-fikir lagi. Ketika memasuki jalan raya, kita tidak perlu lagi memilih apakah mau berjalan di lajur sebelah kiri atau kanan. Kita lakukan itu dengan spontan. Bahwa kebiasaan itu bukan sekedar gerakan mekanistis, melainkan sebuah kebiasaan yang mempunyai latar belakang sejarah dan latar belakang sosial, jelas dari bagian dua diatas yakni struktur yang distrukturkan (structured structures).
Latar belakang sejarah juga sangat jelas dari kebiasaan berjalan di lajur sebelah kiri ini yakni adanya kesengajaan dalam proses awal pembentukannya. Kesengajaan ini berkaitan dengan tujuan—yang lebih lanjut dipaparkan pada bagian ke tujuh. Kesengajaan (yang bertujuan) inilah yang membedakannya dari sekedar gerakan mekanistis, yang pada umumnya terjadi tanpa tujuan, yakni sekedar melepas dorongan dari dalam. Tujuan yang jelas dari kebiasaan berjalan di lajur sebelah kiri adalah untuk menciptakan tertib sosial, agar tidak terjadi kecelakaan misalnya bertabrakan dengan pengendara di depan kita, yang mereka juga berjalan di lajur sebelah kiri ke arah kita. Mengapa? karena mereka memiliki kesadaran bahkan di bawah kesadaran yang sama.

Dengan demikian habitus bekerja di bawah alas kesadaran. Habitus bekerja ”di bawah level kesadaran dan bahasa, di luar jangkauan pengawasan dan kontrol introspektif kehendak” (Ritzer dan Goodman, 2010:449). Kendati tidak sadar akan habitus dan cara kerjanya, habitus mewujudkan dirinya di sebagian besar aktifitas praktis kita, dalam contoh tadi, kebiasaan berjalan di lajur sebelah kiri jalan raya. Seperti juga: cara kita makan, berjalan, berbicara, dan bahkan dalam cara kita membuang ingus kita.

Habitus beroperasi sebagai struktur, namun orang tidak sekedar merespon secara mekanis terhadapnya atau terhadap struktur eksternal yang beroperasi padanya. Sebagai paradigma atau pendekatan, Bourdieu, dalam hal ini, menghindari kutub ekstrem kebaruan yang tak dapat diperkirakan dan determinisme total (Kleden, 2005: 361-375; Binawan, 2007:28-29). Habitus lebih merupakan spontanitas yang tidak disadari dan tak dikehendaki dengan sengaja, tetapi juga bukanlah suatu gerakan mekanistis yang tanpa latar belakang sejarah sama sekali.

6.Habitus bersifat teratur dan berpola, tetapi bukan merupakan ketundukan kepada peraturan-peraturan tertentu.

Saat kita berjalan di lajur sebelah kiri, kebanyakan dari kita, sudah tidak perlu lagi, melihat keberadaan petugas polisi atau tidak, kecuali di persimpangan jalan yang umumnya terpasang lampu jalan (traffic light) untuk melanggar lampu larangan masuk, saat berwarna merah. Tidak diperlukan lagi pemasangan rambu-rambu lalu lintas yang mengingatkan kita untuk berjalan di sebelah kiri—kecuali di jalan tol yang menunjukkan bahwa lajur kanan hanya untuk mendahului—sebab berjalan di sebelah kiri telah menjadi kebiasaan yang “bersifat teratur dan berpola, tetapi bukan merupakan ketundukan kepada peraturan-peraturan tertentu.” Tegasnya, berjalan di lajur sebelah kiri telah menjadi a state of body dan the site of incorporated history. Bukan hanya menjadi a state of mind. Habitus atau kebiasaan sosial adalah sebuah tindakan.

Ketundukan kepada peraturan tertentu tidak selalu berarti takut hukuman. Dapat juga berarti lebih “positif” dalam pengertian mengharapkan hadiah (reward), baik berupa hadiah material maupun yang bersifat emotif misalnya rasa nyaman, senang, atau bangga. Suatu tindakan, baru dapat disebut sebagai kebiasaan sosial bila aktor juga tidak lagi mengharapkan “hadiah”. Seorang sopir yang mengemudikan kendaraan di lajur sebelah kiri, bukan hanya tidak lagi me-lakukannya karena takut, melainkan juga tidak lagi mengharapkan pujian dari orang lain. Saat banyak orang beramai-ramai memberikan uang koin kepada orang miskin, bencana alam, atau untuk Prita, tindakan itu tidak bisa disebut sebagai kebiasaan sosial. Meskipun mungkin dilakukan dengan relatif spontan, yang dibaliknya terdapat motivasi kasihan, atau karena malu saat melihat orang lain telah melakukannya.

7.Habitus dapat terarah kepada tujuan dan hasil tindakan tertentu, tetapi tanpa ada maksud secara sadar untuk mencapai hasil-hasil tersebut dan juga tanpa penguasaan kepandaian yang bersifat khusus untuk mencapainya.

Tindakan spontan yang dilakukan oleh para sopir untuk melajukan kendaraan di lajur sebelah kiri mempunyai makna penting bagi ketertiban, keteraturan, dan kepastian hidup bersama di jalan raya. Para pengguna jalan raya—baik sopir maupun penumpangnya—tidak lagi perlu stres untuk menebak-nebak apakah sopir atau pengguna lain, khususnya yang berlawan-an arah akan berjalan di lajur sebelah kiri atau kanan.

Tujuan saat kebiasaan ini mula-mula dibentuk, dengan demikian sudah dilupakan, tidak lagi menjadi motivasi yang disadari. Itulah maksudnya saat dikatakan bahwa “habitus dapat terarah kepada tujuan dan hasil tindakan tertentu, tetapi tanpa ada maksud secara sadar untuk mencapai hasil-hasil tersebut”.

Begitu pula, saat kebiasaan itu dilakukan dengan “tanpa penguasaan kepandaian yang bersifat khusus untuk mencapai-nya.” Disebabkan oleh sifat sosial (bukan individual), banyak orang, atau bahkan hampir semua, dengan mudah melaku-kannya. Tidak perlu terdapat peraturan khusus untuk dapat berjalan di lajur sebelah kiri.

Tujuan yang sudah “merasuk” di dalamnya itu pulalah yang memberi sifat sosial. Sebab tujuan dimaksudkan untuk memenuhi kepentingan bersama. Keberadaan tujuan sosial ini sekaligus menegaskan bahwa habitus (kebiasaan sosial) seharusnya bersifat positif. Tujuan untuk kesejahteraan dan kenyamanan bersama itu pulalah yang membedakan kebiasaan sosial dalam arti habitus dengan kebiasaan sosial dalam rangka sopan santun.

Sebagai contoh, menyerahkan dan menerima sesuatu dengan tangan kanan. Kebiasaan yang sudah cukup umum dilakukan oleh kalangan masyarakat Indonesia ini dapatlah dikatakan sebagai kebiasaan sosial. Sebab berkaitan erat dengan nilai-nilai hormat kepada orang lain. Tangan kanan dipandang lebih terhormat dari pada tangan kiri. Karenanya, menyerahkan dan menerima dengan tangan kanan dipandang lebih santun. Hanya saja, meskipun berkaitan dengan nilai umum, tidak dilakukannya kebiasaan ini, tidak menimbulkan kerugian yang besar. Yang terjadi “hanyalah” sedikit terkoyaknya perasaan kesopanan dalam rangka hormat sosial. Disinilah letak perbedaan habitus dengan kebiasaan lain yang tidak menimbulkan kerugian yang besar bagi pelanggarnya.

RANAH (ARENA, FIELD, LINGKUNGAN)

Adapun ranah (field) lebih dipandang Bourdieu (Ritzer dan Goodman, 2010:582-590) secara relasional daripada secara struktural. Ranah adalah jaringan relasi antarposisi objektif di dalamnya (Bourdieu dan Waquant, 1992:97; Ritzer dan Goodman. 2010:582). Keberadaan relasi-relasi ini terpisah dari kesadaran dan kehendak individu.

Ranah merupakan:

(1) arena kekuatan sebagai upaya perjuangan untuk memperebutkan sumber daya atau modal dan juga untuk memperoleh akses tertentu yang dekat dengan hirarki kekuasaan;

(2) semacam hubungan yang terstruktur dan tanpa disadari mengatur posisi-posisi individu dan kelompok dalam tatanan masyarakat yang terbentuk secara spontan.
Sebagai contoh jalan raya sebagai ranah dalam tindakan para sopir saat melajukan kendaraanya. Terdapat berbagai ukuran dan model kendaraan yang melaju di jalan raya antara lain kendaraan pribadi dan kendaraan umum. Termasuk dalam kendaraan umum adalah angkutan perkotaan/pedesaan dan atau otobus (bus). Otobus sebagai contoh terdapat sejumlah perusahaan baik yang dikelolah oleh pemerintah seperti “Damri”, ataupun yang dikelola oleh perusahaan swasta seperti “Sumber Kencono” dan “Eka” di Jawa Timur. Di berbagai wilayah termasuk Provinsi Jawa Timur, terdapat jalur atau trayek yang terkenal basah yakni jalur yang menghubungkan kota-kota besar dalam provinsi maupun yang langsung menghubungkan antar provinsi. Trayek yang terkenal basah antara lain jurusan Surabaya-Solo-Jogja. Hanya perusahaan yang bermodal dan memiliki jaringan kuat yang dapat ‘membeli’ trayek jalur “basah” tersebut, antara lain group “Sumber Kencono” dan “Eka”.
Jalur Surabaya-Solo-Jogja merupakan ranah yang diperebutkan oleh para pengusaha otobus untuk ‘menguasai’ jalur tersebut. Pengusaha otobus “Sumber Kencono” dan “Eka” harus menyediakan puluhan armada/kendaraannya untuk di-berangkatkan secara periodik dari terminal “Purabaya” Bungurasih Sidoarjo menuju jalur basah tersebut dalam rentang waktu sekitar 15 menit-an dalam 24 jam sehari, tujuh hari dalam seminggu. Untuk menyediakan puluhan armada, peng-usaha otobus harus memiliki modal yang memadai, untuk itu mereka harus memiliki jaringan dengan perbankan. Dalam upaya untuk memperoleh ijin trayek, perusahaan otobus harus membangunan jaringan dengan pemerintah dalam hal ini DLLAJ (Dinas Lalu Lintas dan Anggkutan Jalan) serta kepolisian. Jadi jelaslah bahwa perusahaan otobus harus menguasai arena kekuatan sebagai “upaya perjuangan untuk memperebutkan sumber daya atau modal dan juga untuk memperoleh akses tertentu yang dekat dengan hirarki kekuasaan”. Melalui penguasaan arena itu maka pengusaha otobus dapat “eksis” dan “survive” tidak hanya melaksanakan kegiatan usahanya namun juga dapat “merajai” jalur Surabaya-Solo-Jogja sebagai arena yang diperebutkan.
Dalam konteks banyaknya kasus kecelakaan yang menimpa perusahaan otobus Sumber Kencono, disebabkan oleh human error para sopirnya ataupun kondisi fisik armada bus itu—juga berbagai hal, termasuk pada pertengahan bulan Juni 2011 yang kendaraanya terbakar hangus—akibatnya sejumlah masyarakat memplesetkan nama otobus itu sebagai “Sumber Bencana”.

Dalam kasus tersebut, pemerintah dalam hal ini Gubernur Jawa Timur bersikap tegas hendak mengevaluasi perusahaan otobus itu bahkan akan mencabut ijin trayeknya. Sikap yang berbeda dikemukakan oleh Kepala Kepolisian Daerah Provinsi Jawa Timur, yang menyatakan bahwa “Gubernur Jawa Timur hendaknya tidak terlalu tergesa dalam menetapkan kebijakan”.

Perseberangan argumen yang dikemukakan oleh dua petinggi di Jawa Timur itu menunjukkan kekuatan yang dimiliki oleh pengusaha otobus yang mampu menjalin hubungan sedemikian rupa, sehingga saat penting diperlukan terdapat perlindungan back up yang diperoleh dari para pejabat negara. Sehingga pengusaha otobus “dapat merebut sumber daya atau modal dan juga untuk memperoleh akses tertentu yang dekat dengan hirarki kekuasaan.” Pengusaha otobus dapat terus melaksanakan usaha bisnis transportasinya yang berhasil membebaskan diri dari “ancaman” dicabut izin trayeknya oleh Gubernur Provinsi Jawa Timur.

Ranah juga berupa hubungan yang terstruktur dan tanpa disadari mengatur posisi-posisi individu dan kelompok dalam tatanan masyarakat yang terbentuk secara spontan.

Contoh dalam kaitannya dengan pengguna jalan raya. “Yang besar yang berkuasa”, juga berlaku di ranah jalan raya. Ketika transportasi umum bus melaju di jalan raya, umumnya dengan kecepatan tinggi, kendaraan-kendaraan lainnya sama mengalah untuk “memberi kesempatan” kepada otobus itu untuk melaju di jalan yang mereka inginkan. Meskipun otobus—yang disopiri para petugasnya, tidak jarang juga melakukan pelanggaran—misalnya melanggar batas marka jalan yang diperbolehkan. “Terdapat hubungan terstruktur dan tanpa disadari yang mengatur posisi-posisi individu dan kelompok dalam tatanan masyarakat yang terbentuk secara spontan”. Minggirnya para pengendara lain dan memberi kesempatan jalan kepada otobus “raksasa” adalah contoh konkrit tentang ranah yang diteorikan Bourdieu.

KEKUATAN TEORI BOURDIEU

Kontribusi terbesar dari teori Bourdieu dalam menganalisis masyarakat adalah

(1) penggunaan konsep habitus yang dianggap berhasil mengatasi masalah dikotomi individu-masyarakat, agen-struktur sosial, kebebasan-diterminisme;

(2) Ia telah membongkar mekanismenya dan strategi dominasi. Dominasi tidak lagi diamati melulu dari akibat-akibat luar, tetapi juga akibat yang dibatinkan (habitus). Dengan menyingkap mekanisme tersebut kepada para pelaku sosial, maka Sosiologi memberi argumen yang dapat menggerakkan tindakan.

Keseragaman habitus dalam suatu kelompok menjadi dasar perbedaan gaya hidup dalam suatu masyarakat. Gaya hidup dipahami sebagai keseluruhan selera, kepercayaan dan praktik sistematis yang menjadi opini suatu kelas. Di dalamya termasuk opini politik, keyakinan filosofis, keyakinan moral, seni estetis, makanan, pakaian dan budaya (Bourdieu.1993).

Ranah (field) menurut Bourdieu lebih bersifat relasional daripada struktural. Field bukanlah interaksi atau ikatan lingkungan bukan pula intersubyektif antar individu. Penghuni posisi mungkin agen individual atau lembaga, dan penghuni posisi ini dikendalikan oleh struktur lingkungan. Dalam kehidupan sosial terdapat sejumlah lingkungan semi-otonom, misalnya: kesenian, keagamaan, ekonomi dan semuanya dengan logika khusus sendiri-sendiri dan semuanya membangkitkan keyakinan di kalangan aktor mengenai sesuatu yang dipertaruhkan dalam ranah (lingkungan).

Boudieu (Ritzer dan Goodman, 2007) menyatakan bahwa ada tiga langkah proses untuk menganalisis ranah, yaitu: 1. menggambarkan keutamaan ranah (lingkungan) kekuasaan (politik) untuk menemukan hubungan setiap lingkungan khusus dengan lingkungan politik;

2. menggambarkan struktur objektif hubungan antar berbagai posisi di dalam ranah tertentu;

3. analisis harus mencoba menentukan ciri-ciri kebiasaan agen yang menempati berbagai tipe posisi di dalam ranah.

Posisi agen ditentukan oleh jumlah dan bobot relatif dari modal yang mereka miliki. Bourdieu membahas empat macam modal yaitu:

1.modal ekonomi,

2. modal kultural (berbagai pengetahuan yang sah),

3. modal sosial (hubungan yang bernilai antara individu)

4. modal simbolik ; kehormatan dan prestise seseorang.

Bourdieu melihat bahwa sistem pendidikan sangat besar perannya dalam mereproduksi dan melestarikan relasi kekuasaan dan hubungan kelas yang ada di masyarakat.

Dalam menekankan pentingnya habitus dan ranah, Bourdieu menolak untuk memisahkan antara metodologi individualis dan metodologi menyeluruh, dan menerima pendirian yang akhir-akhir ini disebut ”relasionisme metodologis”. Hubungan ini berperan dalam dua cara. Di satu pihak, ranah mengkondisikan habitus; di pihak lain, habitus menyusun ranah, sebagai sesuatu yang bermakna, yang mempunyai arti dan nilai.
Meskipun ranah dan habitus adalah penting bagi Bourdieu, tetapi hubungan dialektika antara keduanya jauh lebih penting; Ranah dan habitus saling menentukan satu sama lain, sebagaimana disebutkan (Ritzer dan Goodman, 2007):

Habitus yang mantap hanya terbentuk, berfungsi dan sah dalam sebuah lingkungan (ranah), dalam hubungannya dengan sebuah lingkungan. Habitus itu sendiri adalah ”lingkungan dari kekuatan yang ada”, sebuah situasi dinamis dimana kekuatan hanya terjelma dalam hubungan dengan kecenderungan tertentu.

Inilah yang menyebabkan mengapa habitus yang sama mendapat makna dan nilai berlawanan dalam lingkungan yang berlainan, dalam konfigurasi yang berbeda atau dalam sektor yang berlawanan dari lingkungan yang sama.
Dalam kaitan ini dapat dikaji dalam hal pola kebersihan atau cara orang membuang sampah antara orang Singapura yang memang sudah terbentuk dan dikondisikan tentang pentingnya menjaga kebersihan lingkungannya. Di Singapura tidak ada orang yang membuang sampah di sembarang tempat. Mereka sudah terbiasa membuang sampah di tempat yang telah disediakan. Ranah serta sistem yang telah berkembang sudah menyiapkan segala sesuatunya sehingga pola hidup bersih sudah menjadi hal yang wajar dan seharusnya dijaga oleh semua pihak. Di sini field sudah terbentuk dengan baik. Telah menjadi habitus untuk memilahkan antara sampah basah dan sampah kering. Dalam hal ini bisa terjadi di Singapura dan negara maju lain, karena field yang mendukung sudah terbentuk sepenuhnya. Berbeda dengan yang terlaksana di negara-negara yang sedang berkembang.

DISTINCTION

Orang mengejar kehormatan (distinction) dalam berbagai lingkungan kultural, misalnya minuman yang mereka minum (Coke atau Cola), mobil yang mereka kendarai (Jaguar atau Ford Escort), koran yang mereka baca (The New York Times atau USA Today) atau rumah peristirahatan yang mereka kunjungi (The French Rivera atau Disney World).

Hubungannya dengan kehormatan secara objektif terpahatkan dalam produk itu dan diartikan kembali setiap kali produk itu disediakan. Menurut Bourdieu, ranah (lingkungan) itu menawarkan peluang untuk mengejar kehormatan hampir tak habis-habisnya.
Barang-barang kultural tertentu menghasilkan keuntungan tinggi (misal sebuah mobil Jaguar), sedangkan yang lain tidak menghasilkan keuntungan tinggi atau bahkan menimbulkan ”kerugian” (Ritzer dan Goodman, 2007: 529).
Praktik Sosial: Gagasan Bourdieu
Hubungan relasional yakni struktur objektif dan representasi subjektif, agen dan pelaku, terjalin secara dialektik, saling mempengaruhi, tidak saling menafikan, tapi saling bertaut dalam sebuah social practice (praktik sosial), antara lain;

(1) modal ekonomi yang mencakup alat-alat produksi (mesin, tanah, dan buruh), materi (pendapatan dan benda-benda), dan uang;

(2) modal budaya (keseluruhan kualifikasi intelektual yang bisa diproduksi melalui pendidikan for-mal maupun warisan keluarga);

(3) modal sosial atau jaringan sosial;

(4) modal simbolik (segala bentuk prestise, status, otoritas dan legitimasi yang terakumulasi sebagai bentuk).
Praktik sosial merupakan integrasi antara habitus dikalikan modal dan di-tambahkan ranah.

Praktik sosial dapat dirumuskan sebagai beRikut: (Habitus x Modal) + Ranah = Praktik.

Modal merupakan sebuah konsentrasi kekuatan spesifik yang beroperasi dalam ranah. Setiap ranah menuntut individu untuk memiliki modal khusus agar dapat hidup secara proporsional dan bertahan di dalamnya.
Dalam ranah pertarungan sosial akan selalu terjadi. Mereka yang memiliki modal dan habitus yang sama dengan kebanyakan individu akan lebih mampu melakukan tindakan mempertahankan atau mengubah struktur dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki modal.
Lihat contoh kasus di Jawa Timur, perusahaan otobus “Sumber Kencono” yang diancam hendak dicabut ijin trayek-nya oleh Gubernur Jawa Timur, telah dimentahkan Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur yang mengemukakan terlalu tergesa-gesa pemberian ancaman tersebut. Ancaman pencabutan ijin trayek itu diluncurkan sehubungan dengan sering-nya perusahaan otobus ini terjadi kecelakaan yang menelan korban sampai puluhan jiwa dan jutaan rupiah harta benda.

Perkembangan Teori Agency-Struktur
1. Anthony Giddens
Konsep Hubungan Agen-Struktur : Hubungan agensi dan struktur adalah dualitas. Dualitas itu terjadi dalam praktik sosial yang berulang dan terpola dalam lintas ruang dan waktu. Agen memiliki kemampuan menciptakan perbedaan di dunia sosial. Lebih kuat lagi, agen tidak mungkin ada tanpa kekuasaan struktur dalam. Gagasan Giddens juga bersifat memberdayakan (enabling);
Kata Kunci: Strukturasi, Dualitas, Praktik sosial, kesadaran diskursif, kesadaran praktis, dan bawah sadar

2. Margareth Archer
Konsep hubungan agen-struktur: Struktur dan kebudayaan harus dipahami sebagai dua hal yang relatif otonom. Masalah pemisahan agency dan struktur hanya ada dalam konseptual. Kenyataannya dalam dunia nyata, struktur dan kebudayaan jelas terkait satu sama lain
Kata Kunci: Morfogenesis dan agency-kebudayaan

3. Pierre Bourdieu
Konsep Hubungan agen-struktur: Hubungan dialektis antara struktur objektif dengan fenomena subjektif. Terdapat upaya menyatukan dimensi dualitas pelaku dan struktur, oleh karena itu pendekatannya disebutnya Strukturalisme Genetik.
Kata Kunci: Habitus, Field/ Ranah. Modal, Praktik, dan Strukturalisme genetik

Kelemahan
Kritik kepada Bourdieu adalah pada pemahamannya tentang konsep habitus, karena memberi penjelasan lebih dari yang ditentukan atas aksi sosial dari “determinisme struktural yang tak ter-hindarkan” di jantung pendekatan kon-septualnya (Jenkins, 2002:79-83; Jackson, 2010:149).

Habitus dalam praktik sebagai tindakan sosial merupakan suatu produk dari relasi antara habitus sebagai produk sejarah dan ranah yang juga merupakan produk sejarah. Tidak terhindarkan penggunaan strukturalis dalam pemikiran Bourdieu saat menjelaskan habitus sebagai struktur terdalam (deep structure) yang dijadikan referensi bagi tindakan perorangan dan masyarakat. Pelanggaran atasnya menjadikan kehidupan sosial terganggu, kurang nyaman dan bahkan tidak aman.
Contoh di dalam makalah ini adalah para pengemudi kendaraan saat melaju di lajur sebelah kiri jalan raya. Terdapat struktur dalam yang menjadi acuan bagi perilaku atau tindakan sosial para pengemudi. Pelanggaran pada lajur di sebelah kiri menyebabkan terjadinya rasa tidak aman dan tidak nyaman baik bagi pengendara itu sendiri maupun bagi pengendara lainnya, yang mengemudikan kendaraannya satu arah apalagi yang berlawanan arah.

Kritik juga diarahkan kepada konsep arena (field), yang disebutnya sebagai arena pertarungan yang dianggap telah mereduksi ‘dunia kehidupan’ (Haryat-moko, 2003:23; Mutahir, 2011:195). Konsep ini menjadikan relasi sosial hanya pada pertarungan untuk memperoleh posisi semata. Hubungan-hubungan sosial lainnya, seperti cinta kasih, kerja sama, solidaritas dan sebagainya terabaikan dalam konsep arena.

Terdapat bentuk hubungan lain dalam kehidupan sosial yang tidak hanya kepentingan posisi semata. Konsep tersebut dapat menyembunyikan perjuangan real di antara kelompok-kelompok. Padahal Bourdieu mengancangkan sebuah teori reproduksi sosial. Pada titik ini, Bourdieu dikritik karena dalam teorinya tidak memerhatikan perubahan sosial.
Teorinya terlalu menekankan pada mekanisme-mekanisme dan strategi reproduksi. Pemikiran Boerdieu tidak memberikan analisis yang relevan bagi perubahan sosial. Terdapat pemberontakan dalam model ini, namun, tragisnya, tidak ada revolusi (Jenkins. 2002:137). Kelemahan paling krusial dari teori Bourdiau adalah ketidakmampuannya mengatasi  subjektivitas. Terdapat aktor dinamis dalam teorinya, yakni seorang aktor yang mampu “tanpa sengaja menemukan im-provisasi secara teratur” (Jenkins, 1997: 97; Ritzer dan Goodman, 2010:580).

Daftar Pustaka
Binawan, Al. Andang L. (2007) “Habitus (?) Nyampah: Sebuah Refleksi,” dalam Basis, Nomor 05-06, Tahun ke 56, Mei-Juni.
Bourdieu, Pierre dan Loic JD. Wacuant (1992) “The Purpose of Reflexive Sociology (The Chicago Work-shop).” Dalam Piere Bourdieu dan L.J.D. Wacquant (ed.), An Invitation to Reflexive Sociology,. Chicago: University of Chicago Press.
Bourdieu, Pierre (1958) The Algarians (Diterjemahkan 1962, dari Socio-logie de l’Algerie), Boston: Beacon Press.
Bourdieu, Pierre (1977) Outline of a Theory of Practice, London: Cam-bridge University Press.
Bourdieu, Pierre (1984) Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste. Terjemahan dari La Distinct-ion: Critique Sociale du Jugement (1979), Cambridge: Harvard Uni-versity Press.
Bourdieu, Pierre (1993) The Field of Cultural Production: Essays on Art and Leissure, New York: Columbia University Press.
Bourdieu, Pierre (1998) (Terjemahan Stephanus Aswar Herwinarko, 2010). Dominasi Maskulin, Yogya-karta: Jalasutra.
Haryatmoko (2003) “Menyingkap Kepal-suan Budaya Penguasa: Landasan Teoritis Gerakan Sosial Menurut Bourdieu,” dalam Basis. Nomor.11-12 Th.ke-52, November-Desember.
Jackson, Peter (2010) “Piere Bourdieu” dalam Edkins dan Nick (Editor). Teori-teori Kritis: Menantang Pandangan Utama Studi Politik International, Yogyakarta: Pustaka Baca.
Jackson, Peter (2010) “Piere Bourdieu” dalam Edkins, Jenny dan Nick Vaughan Williams (Editor). (Ter-jemahan Teguh Wahyu Utomo). 2010. Teori-teori Kritis: Menantang Pandangan Utama Studi Politik In-ternasional, Yogyakarta: Pustaka Baca.
Jenkins, Richard (1992) (Terjemahan Nurhadi). 2004. Membaca Pikiran Pierre Bourdie, Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Jenkins, Richard (2002) Piere Bourdie, New York: Routledge.
Kleden, Ignas (2005) “Habitus: Iman da-lam Perspektif Cultural Product-ion” dalam RP Andrianus Sunarko, OFM, dkk. (eds.) Bangkit dan Bergeraklah: Dokumentasi Hasil Sidang Agung Gereja Katolik Indo-nesia 2005, Jakarta: Sekretariat SAGKI.
Mutahir, Arizal (2001) Intelektual Kolektif Piere Bourdieu: Sebuah Gerakan untuk Melawan Dominas, Yogya-karta: Kreasi Wacana.
Ritzer, George dan Goodman, Douglas J. (Terjemahan Nurhadi) (2010). Teori Sosiologi: Dari Teori Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Mutakhir Teori Sosial Postmoder, Yogyakarta: Kreasi Wacana.

Swartz, David (1997) Culture and Power: The Sociology of Piere Boudieu, Chicago: University of Chicago Press.

*Sumber: Mohammad Adib, “Agen dan Struktur dalam Pandangan Piere Bourdieu”. BioKultur, Vol.I/No.2/Juli- Desember 2112, hal. 91-110.

Artikel ini merupakan perbaikan dari makalah yang pernah dipresentasikan Mohammad Adib di Program S-3 Program Studi Ilmu-Ilmu Sosial Universitas Airlangga pada hari Rabu 25 Mei 2011. Penulis menyampaikan terima kasih kepada Prof. Dr. Hotman M. Siahaan atas komentar dan catatannya pada empat poin yakni : (1) perlunya penjabaran uraian lebih luas dari berbagai sumber yang dirujuk. Pengutipan hendaknya tidak dilakukan secara selintas; (2) substansi teori “habitus” hendaknya dijabarkan dengan tuntas dan lengkap; (3) konsep tentang modal sosial dan lain-lain hendaknya dijabarkan lebih detil; dan (4) pandangan kritis hendaknya bukan hanya bicara tentang kelemahan dan kekuatan, tetapi opini penulis yang juga agak dikemukakan secara kritis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s