SENI MARAH (Pengalaman Hunting Buku )

Hunting buku, jurnal, artikel, untuk referensi tesis adalah suatu hal yang biasa sebenarnya. Tapi bisa menjadi istimewa ketika ada moment marah-marah di dalamnya.. Lucu sebenarnya kalau ingat kejadian kemarin siang.. Bagaimana bisa saya semarah itu.. “memang, untuk mencapai suatu maksud kadang diuji dengan kesungguhan, salah satunya marah-marah agar orang lain mengerti” wkwkwkw 🙂

Alkisah pada Selasa 9 Desember 2014 kemarin saya ke perpustakaan Jateng yang di sebelah Taman Budaya Raden Saleh. Niat saya ke Semarang  menemui adek saya yang sedang pulang dari Bangka, sekaligus ketemu ibu saya yang jg ikut menyambut kedatangan anak bungsunya yg merantau di Pulau yang biasa digunakan untuk mengasingkan para tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia. Yah, adek saya diterima di Bangka. alhamdulillah di saat lapangan kerja tidak mudah di peroleh. Di sisi lain kasihan juga, karena seperti “diasingkan” dari sanak keluarga yang ada di Jawa. Saya biasa mencandainya dengan “lha para tokoh hebat aja di asingkan di Bangka. Ya, sapa tau kau kelak mengikuti jejak mereka. Kau berarti seorang tokoh yang hebat”. Iya, hebat bagi keluarga kecil kami. Tidak ada kerabat dekat di sana… Jadi diasingkan oleh Alloh SWT candaku, wkwkwkwk..

Selasa kemarin, setelah saya mengantar adik saya ke bandara achmad yani saya bergegas ke perpustakaan daerah.. Hmm setelah lebih dari 5 tahun tidak mengunjunginya ada banyak perubahan. Ruang lobby yang nyaman karena ada tempat duduknya, resepsionis yang cantik, masuk ke perpus dengan entry data via komputer dahulu (dulu sekedar menulis di buku tamu.

Langsung saja saya beranjak ke lantai dua.. Buku-buku yang banyak di rak, harum ruangan perpustakaan, dan suasana yang nyaman membuat saya betah. Beberapa buku populer saya ambil untuk sekedar dibaca-baca fast reading. Saya juga mendapatkan buku-buku dengan tema yang sesuai dengan tesis saya. Tak terasa jam sudah menunjukkan angka 13. Saya pun bergegas ke meja peminjaman, ingin menitipkan buku karena saya bukan anggota perpustakaan Jateng lagi. keanggotaan saya hangus begitu lulus dari psikologi Undip.

saya ke bagian peminjaman buku, ‘bolehkan pinjam buku sebentar dengan meninggalkan KTM atau kartu pegawai saya? Saya ingin copy di luar sebentar”

Tidak boleh mbak.. kalau fotocopy di sini saja, itupun tidak boleh semuanya, melanggar.. bla-bla-bla..

saya jelaskan waktu saya mepet, besok saya sudah ke Jakarta bla-bla-bla..

Dengan berbagai alasan saya tidak diperkenankan.. Nadanya mengesalkan.

Saya kesal..’ Bu.. di Buku, cover dalam memang ada tulisan  di larang mengutip sebagian atau seluruh isi buku.. tanpa seijin.. akan di denda… dst.. Kalau masalah itu, fotocopy sebagian pun juga dilarang, kata saya.

Ibu itu bilang, mbak kalau ada teman yang punya kartu bisa pinjam kartunya di bawa pulang bisa.

Lha saya kesal.. saya ke situ sendirian.. Itu juga mampir mencari referensi memanfaatkan waktu, sambil ketemu keluarga.

Saya jawab, tidak tahu apakah ada teman saya yang masih menjadi anggota di perpus ini..

kalau boleh, dicopy semua ya saya copy aja di sini..

ga bisa mbak, aturan di sini begitu..

saya kesal dan diam..

Coba mb ke bagian pendaftaran tanya ke sana, lanjut ibu itu..

Saya ke lantai 1..

Saya menuju ke ruang pendaftaran di lantai dasar. And the story was continued…….

petugas menjelaskan..

syarat mendaftar bisa dengan KTP/KTM atau tanda tangan atasan bila menjadi pegawai di suatu instansi..

Saya.. tidak punya ktp Jateng (KTP saya udah pindah ikut suami),

KTM saya UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (diluar wilayah Jateng).. wew lagi..

Harus seizin atasan saya (lha kerja saya masih di wilayah Semarang.. tapi Rabu sudah harus kembali ke Jakarta…

hmmmm petugas pendaftaran tidak dapat memberi solusi dan mempersilakan saya ke yang berwenang memutuskan yaitu Kasi..

Saya kembali ke lantai dua dengan kesal… birokrasi menyebalkan dalam hatiku berkata…

setelah mengungkapkan kekesalan dengan tukang fotocopy… dia mencoba menjelaskan ke pegawai perpus..

Bu.. Mbak ini ingin pinjam buku ga bisa, mau fotocopy ga bisa..

Dua orang berseragam batik pegawai perpus di situ kurang responsif, cuek.. bikin saya kesal..

Akhirnya saya putuskan ke ruang Kasi.. Sambil tersenyum ungkapan terima kasih ke tukang fotocopy yang menurut saya cukup manusiawi… ada empati..

masuk ke ruang kasi diikuti tatapan 3 orang ibu-ibu pegawai di ruang itu..

Ada perlu apa? salah seorang bertanya?

Saya ingin ketemu Ibu/Bapak kasi di sini..

Silakan duduk sahut ibu tersebut…

Ok.. saya melirik sofa. ingin duduk di situ karena saya tidak tahu diantara ketiga ibu itu siapa yang menjadi Kasi..

Salah seorang ibu menyilakan saya untuk duduk di depan mejanya..

“Sebelumnya saya minta maaf dan ingin merepotkan, saya membuka percakapan.”

Ya silakan..

Saya ingin pinjam buku tidak bisa, fotocopy semua tidak boleh.. KTP saya… KTM saya… saya besok sudah ke jakarta bla-bla bla…

“memang di sini tidak boleh fotocopy semua mb… kalau mb mau bikin surat pernyataan sedang menyusun tesis dan minta tanda tangan kepala instansi tempat kerja anda..

Iya kalau waktunya tidak mepet bu.. saya besok sudah tidak di Semarang… SUSAH AMAT BIROKRASI.. kata saya marah..

Saya ada KTM, kartu kantor, KTp.. bisa saya tinggal  mau yang mana kata saya.. Saya keluar fotocopy besok saya kembalikan..

Ibu Kasi itu terdiam sambil berpikir… masih aktif kartunya, lanjutnya.. Kadang ada yang pinjam tapi tidak dikembalikan tambahnya.

Kartu saya aktif semua itu.. KTM ini untuk masuk ke kampus, kalau tidak pakai KTM saya tidak bisa masuk ke kampus, ibu bisa ambil kalau mau kata saya..

Mbak masih tercatat di kantor yang di Semarang?

masih jawab saya. Silakan nanti bisa menghubungi kepala kantor saya kalau misalnya bukunya tidak saya kembalikan, lanjut saya..

Ok, kartu kantor saja, pilih ibu itu..

Makasih bu, lanjut saya sambil menyerahkan kartu. oh iya, besok saya mengembalikan langsung ke sini atau bagaimana? tanya saya/..

jam berapa mb, tanya Bu Kasi

Insya alloh sebelum dhuhur jawab saya..

Saya pun bergegas ke bawah menuju  parkir..

di pintu keluar gedung… bunyi tit.. tit.. tit…

spontan penjaga pintu.. resepsionis dan orang yang ada di situ menoleh ke saya yang ada di pintu..

waowwww bagus kata hati saya semakin kesal.. saya dikira nyuri buku…

saya bergegas ke meja resepsionis.. disebelahnya sudah ada security yang siap menginterogasi saya…

Mb..saya di awal ke sini sudah cerita ke mb.. ktp saya, ktm.. bla-bla bla.. saya sudah meninggalkan identitas di Bu Kasi lanjut saya

Security juga mendengarkan… keduanya tak berapa lama kemudian oh silakan.. silakan.. lanjut mereka..

Fyuuuuuh….. lega..

Saya langsung mencari-cari fotocopy.. ke arah RS Roemani… Sebelum sampai RS Roemani di kiri jalan ada fotocopy..

Saya parkir dan minta fotocopy.. saya tunggu sekarang kata saya..

Mas fotocopy, “wah lama.. ditinggal saja… katanya sambil melihat buku yang saya bawa tebal.. 519 halaman ukuran agak besar.

Mas, saya ini sedang ditunggu di perpustakaan situ… Kalau tidak bisa segera jadi biar saya nyari fotocopy lain saja.. kata saya tegas.. Masa saya harus marah-marah lagi, tambah saya..

Ada mas ftocopy yang satunya lebih responsif.. Kalau diperkecil bagaimana bu?”

tidak apa-apa yang penting bisa saya baca, jawab saya..

Dia pun langsung mengerjakan apa yang saya inginkan…

Sambil menunggu saya cerita.. saya buru-burru… bla-bla..  bla…  saya sampai marah-marah dengan Kasi..

Masa saya harus marah-marah lagi sama kalian… tambah saya..

Tiga orang yang ada di fotocopy situ diam semua.. Dua orang masing-masing sibuk memfotocopy.. yang satunya (perempuan) hanya melihat… karena memang mesin fotocopy cuma dua..

SETENGAH JAM KEMUDIAN SELESAI..

CEPAT JUGA MAS, puji saya..

Dia hanya diam saja,  kedua temannya senyam-senyum ga jelas..

Bisa cepat juga walau tebal, tambah saya..

mereka masih tersenyum ga jelas menatap temannya yang dengan sukarela menawarkan memfotocopy kan saya..

Dijilid kata saya.. udah pake mika kuning aja, belakangnya kertas jawab saya… ketika dia menawarkan pilihan warna..

Saya kurang paham apa maksud senyum teman-temannya.. Sempat saya tangkap.. badannya tambah kecil tu..”

Dia hanya senyum.. Saya juga senyum dalam hati.. Masa harus ditunjukkin di depan mereka. ga keliahatan sangar donk..

Dalam hati saya, ah mungkin bagi mereka gajinya kan ditentukan oleh berapa hari masuk, bukan berapa banyak buku atau lembar fotocopy yang telah dikerjakan. kalau bisa dikerjakan besok, kenapa mesti sekarang..

Yah.. akhirnya selesai sudah fotocopy  buku saudara-saudara..

bergegas saya kembali ke TU perpustakaan.. Ingin mengembalikan buku dan mengambil kartu saya..

di pintu masuk kembali bunyi tiiit… tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit.. tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiit..

kembali menjadi perhatian dikira pencurian buku..

saya hanya menoleh ke security n resepsionis.. tersenyum..

di balas mengangguk… saya langsung ke atas..

jarum jam menunjukkan !5.30 WIB…

Fyuuuuh… Ibu Kasih masih ada di ruangan.. tapi ibu staf bawahannya yang dititipi kartu saya sudah pulang… ow.. ow o…

kecewa saya.. tp bersyukur dah fotocopy buku..

Esok paginya saya harus ke perpustakaan lagi… ah… jadi suatu cerita tersendiri…

Setidaknya menghargai proses mendapatkan buku

Jika sudah di tangan, buku harus benar-benar dibaca dan dipahami..

NB> Maaf saya masih suka fotocopy buku. mungkin dipandang melanggar hak cipta..

saya tidak bermaksud demikian. tapi dicari di toko buku juga belum tentu ada/ready stock. apalagi yang buku agak lama… maaf  saya masih suka memfotocoy buku untuk referensi saya…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s