MENTAL BLOCKING MENYUSUN TESIS

Menyusun tesis? Mata kuliah dengan sks terberat menurut saya. Ya bukan sekedar menulis makalah dan mempresentasikan di depan dosen pengampu mata kuliah dan teman-teman sekelas, melainkan melewati lebih 5 kali tahapan sidang kalau di kampus saya (sidang proposal, sidang wip 1, wip 2, wip 3, sidang komprehenshif, sidang pendahuluan dan sidang promosi..  Wew.. mana setiap sidang tim pengujinya bisa berasal dari beragam latar belakang keilmuwan.. Jadi ya kita semestinya mampu menyampaikan ide kita secara ilmiah dan mendapat berbagai masukan dari berbagai disiplin ilmu.. ehm.. Ibarat air galon akan mengalami banyak proses penyaringan, filtrasi, miksasi atau apalah saya kurang paham proses-proses seperti itu. Harapannya air minum yang didapat jernih, sehat kadar keasamannya rendah sehingga bagus untuk dikonsumsi tubuh. Ya semacam air oksidasi, eh kalau di Mekah air zam-zam tp versi bikinan sendiri dengan menyuling air limbah.. Begitu kali gambaran saya… Rumit, njlimet,  ga usah dibayangin… ehm dijalani saja kata teman saya biar tidak pusing. 

Menyusun tesis? ah lagi-lagi penyakitku kambuh. Dulu ketika menyusun skripsi sempat jeda hampir satu tahun.. Ini juga sudah hampir satu tahun stagnan dari target yang sudah saya rencanakan.. hahahaha.. Malu pada diri sendiri. Terlalu fleksibel ya begini.. Ups.. kurang fokus, tekad dan konsistensi.. Itu penyakit kronis yang menjangkiti saya.. Efek sampingnya timbul mental blocking ketika mau mulai menulis lagi. Ga TAU mau nulis apa walau laptop sudah lama dinyalakan bahkan sampai ketiduran berbantal buku dan ditonton laptop.. :D… Penyakit lain, sukanya mengumpulkan bahan, membaca mulu tetapi rasanya berat. tak kuasa untuk mulai menulis.. Parahnya untuk menulis blog semacam ini rasanya lancar-lancar saja.. tak ada yang memberatkan… ck3.. bener-bener keterlaluan.. tapi lagi-lagi obatnya itu ga mudah.. butuh kesadaran diri, melawan diri sendiri.. ah lagi-lagi tak ada apotik yang jual obat yang saya butuhkan itu.. =)

Penyakit lainnya, phobia sidang… Hiks.. merasa diri belum memiliki banyak ilmu. belum siap mulu… menulis direvisi mulu akhirnya belum jua selesai. rasanya selalu ada yang kurang, belum dipahami etc.. Padahal belum dikonsultasikan dengan dosen. Eh, gimana mau dikonsultasikan, lha selesai ditulis aja belum.. Sidangnya itu …. uhhhhh…banyak amat prosesnya.. Mana dari berbagai bidang ilmu… berbagai aliran pemikiran Islam juga.. Islam tradisional, konservatif, fundamentalis, hingga sekuleris… Perdebatan akademik??? fyuuuuuhhhhhhh rasanya ga berani maju perang yang seperti ini… menakutkan… Padahal kata temen-temen saya, “maju saja… ga bakalan mati”… Begitu tips yang mereka berikan untuk saling menyemangati bila melihat ada teman yang stagnan.. Ga ada karya yang sempurna. yah paling-paling dikritik, dikasih masukan.. udah’ ga ada yang mati gara-gara sidang… Ck3.. bisa-bisanya sampai begitu ya… saya jawab aja, ah walau ga bener-bener mati tapi saya ga mau mati kutu… ga bisa jawab. Setidaknya walau ngawur masih sedikit nyambung-nyambung secara ilmiah lah… 

Duh.. jadi ingat maraknya debat capres cawapres.. Jokowi-Jk VS Prabowo- Hatta.. tak mudah berbicara di depan umum. Ada yang mampu menyampaikan ide dengan baik, sistematis, menjawab dengan santun tanpa menjatuhkan. tetapi ada pula yang berbicara ngawur, asal njeplak.. kurang percaya diri.. Ah saya jadi merenung.. saya juga belum tentu bisa berbicara di depan umum dengan baik, jadi panasnya suhu politik di ruang maya, socmed, tivi membicarakan debat capres.. di satu sisi menguatkan saya pilihan untuk mencoblos 9 juli nanti. Di sisi lain prihatin juga dengan diri saya sendiri, jangan sampai kalau berbicara di depan umum.. ehm dalam hal ini sidang prosesi penyusunan tesis saya asal njeplak, kurang menguasai materi, kurang pede etc… Cawapres capres aja membaca buku yang tebal-tebal walaupun saya yakin mereka sudah berpengalaman dan latar belakang pendidikannya juga bagus.. Semuanya butuh persiapan, terus belajar… Mereka rendah hati walau sudah berpengalaman masih terus belajar.. Malu lah saya jika saya masih jua berat untuk berproses..

Ibarat tesis itu masakan… hmmm benar-benar sesuatu deh… Memasak dengan teliti. Bahan-bahan dipersiapkan dengan baik, tidak asal-asalan.. Bila ada bahan yang kurang sesuai maka diganti dengan yang lebih baik.. Misalnya masak opor ayam.. Pilihlah ayam kampung… kalau dicampur tahu, ya enaknya tahu goreng.. eh kadang selera beda sih.. ada yg lebih suka dicampur tahu sutera… terus siapkan bumbu-bumbu dengan jumlah yang cukup. digoreng, disangrai agar bumbunya menusuk hidung, merasuk baik aroma maupun rasanya.. persiapan santan kental, encer… kemudian masaklah dengan api besar ketika santan encer dan api kecil ketika santan kental, sambil diaduk biar santan tidak pecah.. Masaklah dengan sepenuh hati, kasih bumbu cinta, biar rasanya mantep. Konon, masakan yang asal masak dengan yang dimasak sepenuh hati hasilnya juga beda…. 

Yah selamat memasak tesis… belajar.. belajar.. belajar.. membaca.. menulis.. membaca.. menulis.. membaca.. menulis.. doakan saya sukses ya.. 🙂

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s