Aku Ingin Seperti Rajawali

Setiap perubahan butuh kedewasaan. Perubahan tak selalu menyenangkan. Perubahan terkadang menimbulkan luka, air mata. Perubahan itu bukan suatu yang mudah dan perlu penyiapan diri baik secara emosi, kognisi maupun perilaku. Perubahan juga membutuhkan suatu sudut pandang yang berbeda agar mampu menyikapinya dengan bijak. Agar kita mampu melihatnya dari sudut yang baik, positif, membuat kita bersemangat untuk tumbuh dan mengikuti liku prosesnya yang menyakitkan. Ya seperti kisah tentang rajawali. Aku ingin bermental baja seperti rajawali. Pantas saja bila ujian bermental baja itu bukan suatu hal yang sederhana, singkat dan bisa mengalir begitu saja. Tidak, tidak mungkin bisa melaluinya tanpa rasa sakit, luka, kecewa, jatuh bangun dan proses penempaan-penempaan yang lainnya.. Ya, aku pernah merasa terluka, kecewa, marah, kesal. Tetapi mengeluh bukan solusi malah memperumit masalah. Wajar emosi mendominasi karena wanita biasanya begitu, emotioned focus copying ketika menghadapi suatu stressor. Berbeda dengan pria yang masih dominan rasionya walaupun bisa juga pria menangis ketika terluka atau kecewa.

Aku ingin seperti rajawali, yang bermental baja. Tidak takut menghadapi badai.Rajawali justru menantikan datangnya badai. 

Dia akan mengembangkan sayapnya, memperhatikan dengan pandangan visinya, kapan badai datang. Sebab dia akan menghadapinya dan menggunakan badai itu untuk melambung tinggi. Burung rajawali tidak mengepak-ngepakkan sayapnya, tetapi dia mengembangkan sayapnya. 

Apakah aku bisa seperti itu? Mengembangkan sayap bukan mengepak-ngepakkan sayap??? sekilas mirip tapi kesan yang kutangkap berbeda. Ketika mengembangkan sayap berarti dia mengalami proses pertumbuhan diri, GROWING. Ya.. dia siap berproses menjadi lebih baik dengan sgala suka duka resiko di depan. Bukan mengepak-ngepakkan sayap. Kesan mengepak-kepakkan sayap itu menurut saya lebih pada STAGNASI, bahkan bisa jadi mengalami kemunduran ketika kepakan sayapnya mulai melelahkan, bahkan ada rasa pesimisme, mengeluh di dalamnya ketika mencoba terbang lebih tinggi dan menentang badai. Bisa kah aku melaluinya tanpa mengeluh? Bukankah Allah memberi amanah, beban tidak diluar batas kesanggupan hambaNya? Dengan amanah itu menjadikan kita terpepet untuk berjuang keluar dari kesulitan, membuat kita mau tidak mau dipaksa keadaan untuk mencari solusinya. Walau solusinya terkadang mengharuskan kita menekan ego. Itu bukan hal yang mudah dan menyenangkan. Ego itu alami dimiliki oleh setiap manusia. Penempaan membuat ego, kesombongan diri menjadi terusir dengan sendirinya. Berganti dengan rasa rendah hati, merasa diri bukan siapa-siapa tanpaNya, tak kan mampu melewati proses tanpa kuasaNya. Ya, penempaan hidup membuat diri dipaksa untuk semakin mendekat padaNYa.. karena hanya Dia solusi dari setiap permasalahan yang hadir. Manusia sekedar berusaha, berdoa, tawakal. Pun ketika menghadapi kesulitan dan ada yang datang menolong kita, siapa yang menghadirkan pertolongan itu? pasti Dia.. ya kasih sayangnya hadir lewat munculnya solusi dari setiap jalan buntu. tiba-tiba tercerahkan untuk melompat, berbelok arah, memutar atau sejenak berdiam diri.. dan lagi-lagi proses itu bukan terjadi begitu saja tetapi Dia yang menggerakkan kita untuk melakukannya, menuntun langkah-langkah kaki kita. Ketika terseok-seok, ketika jatuh, terluka pun ketika kita berusaha bangkit dan mencoba kembali meneruskan langkah.. Ada Dia yang senantiasa terjaga, tak pernah mengantuk, Maha Kuasa, teliti dan cermat dalam memberi kumpulan beban di atas pundak kita lengkap dengan sejumlah alternatif solusi di dalamnya. Tergntung kita memilihnya apakah jalan yang di ridhoiNya atau tidak. Apakah menyerah dan putus asa atau terus berjalan walau pelan dan menyakitkan prosesnya..

Aku ingin seperti rajawali. 

Burung rajawali tidak seperti ayam atau anak ayam. Ayam atau anak ayam penciumannya tajam, mereka tahu saat akan datang badai. Mereka ribut berkotek-kotek, menciap-ciap, bingung lari kesana kemari, sambil mengepak-ngepakkan sayapnya mencari tempat persembunyian untuk berlindung terhadap badai. Apabila badai datang mereka bisa menjadi korban, sebab mereka lemah, tak berdaya, dia menjadi victim badai. Lain dengan burung rajawali, dia tidak menjadi victim, tetapi menjadi victor, pemenang, terbang mengatasi badai. 

Apakah aku bisa seperti itu? Diam dalam setiap proses yang dilalui tanpa mengeluh? mencari-cari dan melemparkan kesulitan pada hal/orang lain? Bingung? lari dari masalah? berlindung di balik kelemahan? atau pun serangkaian sifat dan karakter yang melemahkan lainnya????  Itulah sifat-sifat yang perlu dipangkas ketika ingin menjadi seorang pemenang… sakit… tak mudah merubah kebiasaan. Wajar sekali bila manusia mengeluh, bukankah di Al Quran disebutkan manusia itu suka mengeluh???? Bisakah kita menempa diri agar tidak mengedepankan keluh? Air mata boleh saja keluar, tetapi airmata yang menguatkan, membuat jernih hati dan pikiran, air mata yang mengarah pada ketundukan dan kehinaan diri di hadapanNYa. Bahwa masalah ini begitu hebat, tetapi kita punya Dia yang Maha Hebat. Kenapa mesti mengeluh???

Aku ingin menjadi  seperti rajawali. Ia menyediakan waktu untuk memperbaharui diri. Saat sadar bahwa kekuatan sayapnya mulai berkurang, dia sabar. Dia berdiam diri ; dia tidak terbang. Dia mencari tempat yang tinggi di atas bukit batu.

Ya, ada kalanya kita lelah, futur, tak berdaya, fisik maupun psikis. Energi seakan terkuras habis. Itulah saatnya kita refleksi diri, merenung, evaluasi diri dan menentukan langkah pembaharuan diri.. 

Aku ingin seperti rajawali.

Ketika burung rajawali mencapai umur 40 tahun, maka untuk dapat hidup lebih panjang 30 tahun lagi, dia harus melewati transformasi tubuh yang sangat menyakitkan. Dan pada saat inilah seekor rajawali harus menentukan pilihan untuk melewati transformasi yang menyakitkan itu atau melewati sisa hidup yang tidak menyakitkan namun singkat menuju kematian.

Dilematis bukan? sama-sama bukan hal yang menyenangkan. Namun, aku juga akan memilih sperti rajawali. Lebih baik melewati transformasi menyakitkan  agar mampu melanjutkan hidup..

Pada umur 40 tahun paruh rajawali sudah sangat bengkok dan panjang hingga mencapai lehernya sehingga ia akan kesulitan memakan. Dan cakar-cakarnya juga sudah tidak tajam. Selain itu bulu pada sayapnya sudah sangat tebal sehingga ia sulit untuk dapat terbang tinggi.

Bila seekor rajawali memutuskan untuk melewati transformasi tubuh yang menyakitkan tersebut, maka ia harus terbang mencari pegunungan yang tinggi kemudian membangun sarang di puncak gunung tersebut. Kemudian dia akan mematuk-matuk paruhnya pada bebatuan di gunung sehingga paruhnya lepas. Setelah beberapa lama paruh baru nya akan muncul, dan dengan menggunakan paruhnya yang baru itu ia akan mencabut kukunya satu persatu-satu dan menunggu hingga tumbuh kuku baru yang lebih tajam. Dan ketika kuku-kuku itu telah tumbuh ia akan mencabut bulu sayap nya hingga rontok semua dan menunggu bulu-bulu baru tumbuh pada sayapnya. Dan ketika semua itu sudah dilewati rajawali itu dapat terbang kembali dan menjalani kehidupan normalnya. Begitulah transformasi menyakitkan yang harus dilewati oleh seekor rajawali selama kurang lebih setengah tahun.

Saya membaca cerita tentang transformasi rajawali itu dan menerapkannya pada manusia memang menyakitkan. Ya, menyakitkan dan tak mudah untuk menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk yang ada dan melekat di diri kita dan menggantinya dengan kebiasaan yang baik.. Butuh perubahan paradigma di hati, jiwa dan raga. Butuh pencerahan dan tuntunanNya agar kuat melewati setiap detail teknisnya. Merubah kebiasaan terlambat saya susah sekali bagi orang Indonesia misalnya, apalagi kebiasaan-kebiasan buruk lainnya.. Butuh komitmen, konsistensi dan ketangguhan. Ya biar ketika terjatuh segera bangkit dan kembali berjalan, karena waktu tidak panjang.. Ada deadline, ada kadaluarsa. Setiap hal ada moment, ada masanya. Ketika sudah lewat maka sulit untuk bisa mendapatkan kesempatan persis sama. Karena itu teruslah menempa diri agar ketika pilihan sulit itu datang, kita siap untuk melaluinya. Kita bisa memilih dengan kejernihan setiap dilematis yang hadir. Tiada lain Allah SWT ingin melihat kita menjadi pribadi baru yang lebih baik, lebih bijak, rendah hati, lebih indah dari sebelumnya. Percayalah,,, Itu kehendakNya atas setiap badai yang menerpa diri kita. Tergantung bagaimana kita menyikapinya, apakah mau menjadi lebih indah, stagnan atau justru mengalami kemunduran? Insya Alloh ketika kita mendekat padaNya akan siap untuk melalui transformasi diri menjadi pribadi yang lebih indah. 

SEUNTAI closing yang menyentuh hati saya, 

” Sering kali kita mengalami masa – masa yang sukar (badai) dalam hidup, tetapi semua itu baik untuk kehidupan kita supaya kita menjadi manusia yang tidak mudah menyerah dan kita dapat keluar sebagai pemenang dalam setiap persoalan hidup yang kita alami “

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s