Kembangkan Potensimu (Salah Paham Rajawali)

Nasehat REktor UIN Malang:

Saya mendapatkan kisah tentang burung rajawali berikut ini sudah lama, tetapi selalu saya ingat. Kisah itu adalah sebagai berikut. Seorang petani di desa, kebetulan mendapatkan sebutir telor rajawali dari hutan. Maka dibawalah pulang telor itu dan kemudian ditelakkan bersama-sama telor ayam peliaraannya yang sedang mengeram.

Telor rajawali tersebut menetas bersama-sama telor lainnya. Induk ayam juga memeliharanya sebagaimana anak-anaknya sendiri. Anak rajawali sejak kecil diajak untuk mencari makan, dan sehari-hari dilindunginya. Induk ayam tidak pernah membedakan antara anaknya sendiri dengan anak rajawali itu.

Demikian pula burung rajawali tersebut juga tidak mengerti bahwa dirinya seekor rajawali. Ia mengira bahwa dirinya sama dengan anak ayam lainnya. Sekalipun ukuran tubuhnya lebih besar, sayap dan bulunya lebih panjang, tidak digunakan untuk terbang. Burung rajawali mengira bahwa dirinya adalah ayam, sekalipun memiliki sayap dan bulu panjang dan kuat. Sehari-hari, burung rajawali tersebut bersama ayam lainnya berjalan ke sana-kemari mencari cacing dan jenis makanan lainnya.

Dalam cerita itu, ——-suatu saat, setelah burung rajawali menjadi besar, melihat di udara ada burung berukuran besar yang melayang-layang, sedemikian gagah dan indah. Atas perasaan kagumnya, burung rajawali yang tumbuh bersama ayam-ayam tersebut bertanya kepada induknya, siapa sebenarnya yang melayang-layang di langit itu. Dijawab bahwa, ia itu adalah burung rajawali, yang memiliki kemampuan terbang luar biasa. Jawaban itu diterima olehnya, dengan menyadari bahwa dirinya memang berbeda dengan makhluk langit itu dan merasa tidak akan mampu melakukan hal seperti itu.

Burung rajawali tersebut tidak sadar bahwa dirinya sebenarnya adalah juga seekor rajawali yang juga mampu terbang sebagaimana burung besar yang ia lihatnya sendiri itu. Ia mengira bahwa dirinya adalah ayam, oleh karena seumur-umur berkumpul dengan ayam itu. Selain itu, ia tidak melihat kemampuannya sendiri, dan sayangnya juga tidak pernah mencoba menggunakan sayapnya untuk terbang sebagaimana rajawali pada umumnya. Rajawali tersebut terbelenggu oleh sejarah hidupnya, oleh karena menetas bersama-sama telor ayam.

Cerita sederhana, dan hanya cocok didengarkan oleh siswa taman kanak-kanak atau SD tersebut selalu saya ingat hingga sekarang. Dari cerita ini, saya selalu membayangkan, jangan-jangan banyak orang atau bahkan mahasiswa yang sebenarnya memiliki kemampuan hebat dan luar biasa. Akan tetapi yang bersangkutan tidak menyadarinya bahwasanya mereka adalah memiliki potensi luar biasa atau sangat hebat.

Seorang mahasiswa oleh karena melihat kakak-kakak kelasnya, yang hanya membaca beberapa buku saja berhasil lulus, lalu diwisuda, maka mereka juga melakukan hal yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh kakak-kakak kelasnya itu. Padahal sebenarnya mereka memiliki kemampuan meneliti, mengkaji, dan melakukan percobaan-percobaan hingga menghasilkan karya-karya ilmiah yang hebat. Namun sayangnya, mereka tidak tahu bahwa dirinya hebat.

Kebanyakan mahasiswa hanya membaca buku-buku dan mengahafalkannya. Padahal semestinya, setelah membaca buku-buku, mereka harus meneliti dan menuliskannya dalam sebuah karya ilmiah. Melalui penelitian dan atau eksperimen yang dilakukan, mereka menemukan hal-hal baru yang hebat. Sayangnya, sebagaimana kisah burung rajawali tersebut di muka, tidak semua mahasiswa mau mencoba meneliti dan berusaha menemukan hal baru yang sebenarnya ditunggu-tunggu oleh banyak orang.

Dari cerita tentang kehidupan burung rajawali tersebut, saya juga khawatir, bahwa jangan-jangan banyak dosen dan juga mahasiswa mengira bahwa dirinya tidak memiliki potensi dan atau kemampuan hebat. Artinya jangan-jangan banyak di antara mereka salah paham, tidak saja terhadap orang lain atau lingkungannya, tetapi juga terhadap dirinya sendiri. Mereka tidak mengerti bahwa pada dirinya terdapat potensi yang luar biasa untuk dikembangkan.

Akibat salah paham tersebut, potensi yang sedemikian hebat dimiliki oleh dosen dan juga mahasiswa menjadi hilang pecuma begitu saja, karena tidak pernah dikembangkan. Akhirnya, nasipnya sama dengan kisah burung rajawali dimaksud. Burung tersebut sampai tua dan bahkan mati, tidak pernah terbang, karena mengira dirinya tidak bisa terbang sebagaimana induk ayam yang dulu mengeraminya. Tapi, semoga mereka tidak begitulah keadaannya. Wallahu a’lam.

http://rektor.uin-malang.ac.id/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s