Ini Ceritaku Mana Ceritamu? (Pangkal Pinang Part1)

Pangkal Pinang? Tak sengaja kakiku menapak di kota yang terletak di Pulau Bangka tadi siang dengan sriwijaya air Soekarno Hatta-Dipati Amir. Pegal-pegal terasa setelah cukup lama menunggu di bandara Soekarno Hatta karena delay.
Seperti biasa, mengunjungi tempat baru adalah suatu hal menarik, menggelitik.
Apalagi bila bepergian sendiri, menyiapkan segala sesuatunya sendiri mulai dari hunting tiket pesawat,
nyari penginapan, bikin planning selama berkunjung etc. Mungkin hal ini biasa bagi orang yang biasa bepergian, namun bagiku? Ehm awalnya siy tidak biasa, tetapi karena tuntutan pekerjaan maka lama-lama harus dibiasakan.
“Alah bisa karena biasa”. Itu pepatah yang cukup memotivasiku. Seiring jam terbang maka insya Allah akan menikmati setiap perjalanan dan tugas lapangan yang dihadapi. Kalau wartawan hunting berita di lapangan, maka tugas peneliti adalah survey dan mengumpulkan data di lapangan sesuai dengan tema penelitian yang diambil. Apa aku bisa ya? Lagi-lagi kujawab, biar saja proses itu mengalir, mengalir dan mengalir. Manusia sekedar wayang, biar sang dalang yang berkuasa memutuskan. Selagi masih single siy it’s oke, pergi berapa minggu tidak ada beban yang berarti. Entah nanti kalau sudah berkeluarga, sudah beda pastinya. Semoga suamiku, anakku, keluargaku nantinya memahami kondisiku. Semoga pemerintah juga memikirkan nasib peneliti yang sering meninggalkan keluarga karena bertugas. Itu bukan hal yang mudah.Situasi di lapangan dengan beban kerja otak dan otot tak jarang menimbulkan stressor tersendiri. Beberapa peneliti yang senior dalam arti sudah cukup berusia kambuh sakitnya, bahkan ada yang ketika tugas luar kota jatuh sakit dan rawat inap di Rumah Sakit, jauh dari keluarganya. Pihak keluarga ada yang menyusul dan setelah agak membaik akan dipindah ke Rumah Sakit yang dekat dengan tempat tinggalnya. Ya begitulah, suka duka seorang peneliti. Bekerja mandiri di lapangan. Kondisi fisik, psikis harus fit dan dijaga agar dapat menjalankan tugas dengan baik. Belum lagi tuntutan progress report di lapangan, kelengkapan administrasi, hingga deadline laporan. Ah, dinikmati saja kalau memang sudah tugas.

Tak pernah terpikirkan sama sekali untuk berprofesi sebagai peneliti. Dalam cita-citaku dulu inginnya bekerja tidak hanya duduk di depan komputer saja. Bergelut dengan rutinitas kantor itu akan menjenuhkan. Berbeda halnya bila berjumpa dengan berbagai macam orang dengan karakternya masing-masing itu merupakan hal yang menarik, dinamis. Jalan-jalan ke tempat baru juga hal yang menarik bagiku, jadi peneliti adalah profesi yang pas untuk mewadahi itu semua. Tak salah kan ya? Cuma ya itu dari kapasitas intelektual, kepekaan, intuisi dan daya analisa sepertinya belum ‘mumpuni’. Mencari dan mengumpulkan data di lapangan bukan perkara mudah. Butuh kejelian, mirip-mirip wartawan ya kerja peneliti itu. Tak salah juga dulu pernah nyasar bergabung di Pers Mahasiswa Manunggal Undip. Berguna sekali ternyata, harusnya dulu lebih serius belajar hunting berita dan mewawancarai orang. Sekarang baru deh terasa, belum punya skill yang berarti. Kemampuan menulis sistematis juga perlu dipelajari dilatih dan dikembangkan. Ini tentunya berkaitan dengan bagaimana menyusun suatu logika berpikir. Jiaahhh! Belum lagi bila ingin menghasilkan karya yang baik sebaiknya membiasakan diri dengan bacaan-bacaan yang bergizi, mengikuti perkembangan aktual berita, peka dan tertarik dengan fenomena-fenomena sosial kemasyarakatan. Duh, masih jauh dari itu semua. Malas membaca, malas mengikuti berita, kurang peka dengan fenomena sekitar dan seabgrek lagi hal yang sebaiknya mulai dipangkas sedikit demi sedikit. Terkadang terpikir untuk menjadi ibu rumah tangga murni saja-lah. Cukup melayani suami, mengurus anak-anak di rumah, punya banyak waktu luang bagi keluarga, sepertinya menyenangkan sekali ya. Sayangnya, saya tercipta bukan untuk begitu. Dalangnya sudah ketok palu, saya mengikuti saja. Toh tak mungkin sang dalang mencipta manusia tanpa kebijaksanaan.

Hawa tercipta di dunia untuk menemani sang adam. Begitu pula dirimu tercipta tuk temani aku. Begitu ungkap Ahmad Dhani dalam lagunya. So everythings will be all right. Sandal aja ada pasangannya, apalagi manusia? Termasuk diriku. Lho kok malah jadi curhat begini yak? =)
Satu hal yang kutangkap, terkadang kita tidak tahu mengapa harus berputar-putar dengan suatu kondisi, dihadapkan pada suatu keadaan yang menurut kita tidak enak, tidak menyenangkan. Kita baru menyadarinya eh ternyata di kemudian hari itu berguna bagi masa depan kita. Tak mungkin kita dapat mencapai tangga yang ke 10 tanpa melewati tangga ke 1-9 bukan? Demikian juga dengan alur dalam hidup kita. Kadang unpredictable, alurnya tak jelas, penuh dengan benang kusut yang sulit kita urai hingga ketika kita mampu temukan benang merahnya. “Oh ternyata inilah maksud baek Tuhan padaku. Tak mungkin aku bisa menjalani yang sekarang tanpa proses-proses sebelumnya.” Alloh akan menyiapakan diri kita sebelum memberikan sesuatu pada kita. Berprasangka baeklah padaNya. Termasuk ketika saya nyasar berkunjung ke Kota Pangkal Pinang selama 3 hari 2 malam ini. Apa maksudNya ya kira-kira? Sekedar jalan-jalan melepas lelah, membiarkanku untuk berpikir jernih? survey tempat honeymoon? atau apa? =D Wawlohualam bishowab. Yang pasti saya suka jalan-jalan begini, melihat alun-alun, taman sari, besok jalan-jalan di sekitar kota. Apalagi kali ini tanpa membuat progress report dan laporan tertulis, owhhh indahnya =)

Wisma Timah, room 101
Jalan Merdeka 88 Pangkal Pinang
Bangka Belitung

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s