We don’t Meet People by Accident

Telah banyak episode dalam hidup yang terlewati.
Telah banyak cerita suka duka yang dilalui.
Telah banyak jalinan tercipta,
pertemanan, persahabatan, persaudaraan.
Alur cerita dalam hidup yang terus mengalir,
dengan berbagai bumbu di dalamnya.
Terkadang bumbunya pas hingga harmonisasi yang tercipta.
Terkadang bumbunya ke-asinan menyebabkan cengiran dan sedikit protes.
Terkadang terlalu pedas hingga tak jarang mengeluarkan air mata.
Terkadang malah salah bumbu hingga rasanya hancur berantakan atau bahkan tak ada rasa, ambigu, “sepo”.

Rasa yang ambigu inilah yang terkadang sulit mengubahnya agar lebih enak terasa.
Diberi bumbu apapun tetap saja aneh. Namun, tak jarang juga sih lebih enak daripada sebelumnya.
Tercipta resep baru yang belum pernah dicobanya mungkin. Ah, itu hanya keberuntungan yang sulit ditemui.
Lebih mudah memasak kembali dengan bahan-bahan yang baru daripada memperbaiki masakan yang sudah terlanjur ‘aneh’ tersebut. Sisi positifnya, dengan kesalahan sebelumnya dapat dijadikan pembelajaran untuk masakan berikutnya.

Demikian juga sebuah jalinan “a relationship” dalam kehidupan.
Mengalami pasang surut. Ada yang dulu bersahabat karena dinamika hidup menjadi berteman biasa, tak mau kenal, tak saling menyapa. Ada yang dulunya bermusuhan justru menjadi teman dekat, bersahabat. Dan berbagai macam alur jalinan hubungan lain yang terkadang sulit diurai dengan logika. Mengapa dulu begini sekarang begitu.
Tak perlu protes, tak perlu marah, tak perlu bersedih maupun pesimis.
Begitulah hidup, penuh dinamika yang kita sendiri tak tahu bagaimana alur cerita kita di masa depan.
Kita hanya mengetahui sebatas yang telah dilalui dan memetik hikmah di dalamnya.
We don’t meet people by accident.
They are meant to cross our path for a reason
.

Nasi yang terlanjur menjadi bubur.
Jangan berharap akan bisa diubah menjadi nasi.
Lebih baik diberi kecap, saos, taburan ayam, bawang goreng, daun seledri, kerupuk dan kuah.
Jadilah bubur ayam, suka atau tidak suka.
Itu lebih baik daripada meratapi nasi yang terlanjur menjadi bubur.

Kita tak akan pernah tahu, akan bertemu siapa di masa depan,
cerita detail yang bagaimana dengannya.
Tak ada jalinan pertemanan, persahabatan yang selamanya mulus.
Ada kerikil-kerikil yang mewarnainya.
Ditata saja kerikilnya dan diberi aspal biar jalannya menjadi mulus, seperti jalan tol.
Jalanan muluspun tak selamanya baik, dapat melenakan.
Kecelakaan di jalanan terkadang bukan karena jalannya yang tidak baik.
Banyak kecelakaan terjadi di jalan tol karena pengemudinya ngebut dan kurang waspada.
Ah bagaimanapun kondisi jalan, lebih penting kondisi hati pemakai jalannya.
Semoga tetap waspada, hati-hati dalam melangkah.

Masih dalam suasana syawal,
Mari sucikan hati
Dari debu-debu prasangka,
Dari debu kesombongan dan keangkuhan,
Hapuskan segala rasa yang memperkeruh hati
Maafkan segala salah yang sengaja ataupun tak sengaja melukai,
Ketulusan dan keikhlasan untuk bermaaf-maafan akan melapangkan hati, meringankan langkah kita ke depan.
Semoga kesuksesan, kelancaran, keberkahan Allah senantiasa bersama kita.
TAQABBALALLAHU MINNA WA MINKUM
SELAMAT IDUL FITRI 1433H
MOHON MAAF LAHIR BATHIN

(podjok kamar Poerdjo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s