Kiat Mengatasi Hambatan Menulis Proposal Penelitian

Menulis proposal penelitian tidak mudah ternyata. Saya mencermati diri saya, sudah dua bulan kok terasa belum ada kemajuan, ternyata baru saja saya temukan jawabannya di buku Research Design, Pendekatan Kualitatif Kuantitatif Mixed John W. Creswell dalam sub bab Strategi Menulis.

Masalah yang saya hadapi adalah saya lebih sering membicarakan gagasan bukan menuliskannya. Memang, tidak mudah menuliskan gagasan dalam suatu format ilmiah.
Seorang John W. Cresswell saja biasanya membeli satu buku baru tentang teknik menulis setiap kali mengerjakan proposal penelitian. Disisi lain dia juga mengumpulkan berbagai buku tentang teknik menulis yang baik tiap tahun. Termasuk ketika Creswell menulis buku tentang Research Design edisi ketiga, dia juga sedang membaca Reading Like a Writer-nya Francine Prose (Prose, 2006). Dengan membaca buku-buku seperti itu, Creswell terus teringat dengan prinsip-prinsip menulis yang baik yang harus diterapkan pada penelitiannya. Ternyata benar, menulis tidak bisa dilakukan tanpa membaca.
Beberapa gagasan Creswell yang bisa saya bagikan sebagai kiat untuk menulis proposal:
1.Menulis seperti berpikir
Salah satu tanda penulis yang kurang berpengalaman adalah lebih suka mendiskusikan penelitian yang diajukan ketimbang menuliskan tentangnya. Ini termasuk hal yang saya hadapi sekarang. Beberapa langkah untuk mengatasinya:
a.Di awal proses penelitian, cobalah untuk benar-benar menulis gagasan-gagasan kita dan bukan membicarakannya. Para ahli memandang proses menulis layaknya berpikir (Bailey, 1984). Zinsser (1983) membahas pentingnya mengekspresikan kata-kata (gagasan) di kepala ke atas kertas. Ingatlah, pembimbing akan member respon yang lebih baik ketika membaca gagasan-gagasan di atas kertas daripada ketika mendengar dan mendiskusikan topik penelitian dengan mahasiswa atau rekannya.
b.Hasil akhir akan nampak ke permukaan ketika penulis berusaha menuliskan gagasannya di atas kertas. Di satu sisi dengan dituangkan dalam kertas akan mampu diklarifikasi gagasan-gagasan di dalamnya. Maka tulislah terlebih dahulu tanpa terbebani dengan idealisme tulisan harus begini, begitu. Setelah ditulis akan mendapat arahan dari pembimbing. Ikuti proses dan alur dengan sabar karena memang latihan dengan praktek menulis langsung itulah yang penting dibandingkan membayangkan ide di dalam pikiran saja. Ide tanpa dituliskan percuma.
c.Sebelum merancang proposal, buatlah draft ringkas sebanyak satu hingga dua halaman tentang proyek yang akan kita lakukan dan biarkan pembimbing member arahan. Penting juga untuk membuat draft topik-topik yang berbeda sebanyak satu-dua halaman untuk melihat topik mana yang disukai pembimbing atau yang paling pas untuk bidang yang kita geluti sekarang.
d. Lebih baik menulis beberapa draft proposal ketimbang memoles draft pertama. Setidaknya cara ini akan membuat gagasan-gagasan kita tercurahkan. Peter Elbow (Elbow, 1973) merekomendasikan seseorang melewati proses literatif, yaitu mulai dari menulis, mereview, lalu menulis kembali. Kata Elbow, jika anda mempunyai satu jam untuk membuat tulisan, lebih baik menulis 4 draft (masing-masing 15 menit) daripada menulis satu draft (yang dihabiskan selama satu jam). Pemolesan akan dilakukan berikutnya karena membuat proses jadi lamban.
e.Jangan mengedit proposal pada tahap-tahap awal. Franklin (1986) menyebutkan ada 3 model tahap membuat proposal awal: pertama buatlah sebuah outline; ini bisa berupa kalimat, kata-kata atau peta visual. Kedua; tulislah satu draft utuh, lengkap dengan gagasan-gagasan pokoknya, lalu nyatakan gagasan tersebut dalam paragraf-paragraf.Baru tahap ketiga; editlah tulisan anda dengan baik.

2.Kebiasaan menulis
Cobalah disiplin membiasakan diri menulis proposal secara regular dan terus-menerus. Tulislah beberapa paragraf setiap hari secara continue, setidaknya melibatkan pikiran kita dalam proses berpikir setiap harinya dengan mengumpulkan informasi, meriview beberapa hal yang sudah ditulis dalam proposal.
Proses menulis itu secara perlahan-lahan dan penulis harus merasa mudah ketika menulis.
Layaknya pembalap, penulis juga harus menghangatkan pikiran dan jari-jari terlebih dahulu sebelum benar-benar menulis.
Pemanasan yang bisa dilakukan misalnya: menulis surat kepada seorang teman, brainstorming di depan computer, membaca tulisan-tulisan di depan computer, merenungkan sebuah syair, itu mampu membuat tugas menulis menjadi lebih mudah.
John Steinbeck (1969:42) melakukan pemanasan dengan membuat suatu surat kepada editor sekaligus teman dekatnya, Pascal Covici di sebuah notebook. Ini dideskripsikan detail dalam Journal of a Novel: The East of Eden Letters.
3.Keterbacaan Tulisan
Keterbacaan tulisan berkaitan dengan bagaimana menyajikan tulisan yang rapi dengan cara menunjukkan hubungan antar gagasan dan menggunakan kata transisional. Selain itu penting menggunakan istilah yang konsisten dan terus membangun koherensi dalam proposal penelitian.
Tarshis (1982) merekomendasikan agar penulis membuat tahapan pemikiran untuk membimbing pembaca dengan 4 gaya:
a.Umbrella Thoughts (gagasan-gagasan umum/ inti disilangkan satu sama lain)
b.Big Thoughts (gagasan-gagasan tertentu yang ada di ranah umbrella thought untuk memperkuat, mengklarifikasi atau menjelaskan umbrella thought)
c.Little Thoughts (gagasan-gagasan untuk memperkuat big thought)
d.Attention or Interest Thoughts (gagasan yang bertujuan mengorganisir pemikiran-pemikiran lain dan menjaga perhatian pembaca agar ada dalam satu jalur pemikiran/konsep tulisan).
Para peneliti/penulis umumnya berputar-putar di umbrella thought dan attention thought. Akibatnya proposal dipenuhi dengan gagasan umbrella yang banyak namun tidak didukung oleh isi detail untuk memperjelas gagasan-gagasan tersebut. Attention thought diperlukan untuk memandu pembaca memahami peralihan dari satu gagasan umum ke gagasan umum selanjutnya.

Untuk menambah keterbacaan naskah dengan menerapkan koherensi (gagasan – gagasan kita terikat bersama dan mengalir secara logis dari satu kalimat ke kalimat yang lain dan dari satu paragraph ke paragraph lain). Koherensi ini didukung oleh konsistensi nama variabel dalam judul, tujuan penelitian, rumusan masalah dan tinjauan pustaka.

Latihan hook and eye-nya Wilkinson (1991) tampaknya dapat diterapkan untuk menghubungkan gagasan-gagasan dari satu kalimat ke kalimat yang lain dan dari satu paragraph ke paragraph yang lain. Tujuan latihan ini adalah untuk menghubungkan gagasan-gagasan di setiap kalimat dan paragraph.

Room 1-7 RDC 02:45 WIB
(saat berusaha menulis kembali proposal tesis yang terhenti)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s