Tak Ada yang Namanya Kebetulan

TIDAK ADA YANG NAMANYA KEBETULAN. KEBETULAN ADALAH BAHASA MANUSIA SAJA. TERMASUK PERTEMUAN SAYA DENGAN ANDA DI KERETA INI. SUNGGUH, TAK MUNGKIN TANPA CAMPUR TANGANNYA (NASEHAT pAK cIPTO, teman seperjalanan kereta Semarang- Pasar Turi Surabaya, 25 September 2011)

Bismillah..

Selalu ada cerita dan hikmah di setiap perjalanan yang kulakukan. Entah mengapa,setiap kota yang kusinggahi meninggalkan kesan, hikmah dan pembelajaran yang berbeda. Pahit manis yang berbeda. Namun, semua berujung pada rasa syukur padaNya yang tiada terkira.

Pengalaman pertama terjun ke lapangan ku yaitu Kota Surabaya Februari 2011 kemarin. Bertugas mengumpulkan database kitab karya ulama di Jatim. Alhamdulilah, kebetulan mobil dinas Kepala Pekapontren Kanwil Kemenag Jatim bisa kupinjam selama 4 hari. Ck3.. suatu kebetulan yang indah bukan? cuma mengganti uang bensin, bisa muter2 ke Pondok-pondok pesantren, mengambil data yang diperlukan. Bisa ke Porong Sidoarjo juga.. Malu juga waktu itu, kemanjaanku kumat. Pertama kali ke lapangan tu… kok merasa sepi, sendiri, kaya orang ilang. Menyusuri kota sendirian, alone. Mana tidak ada sanak saudara lagi. Mencari data? Mau naik apa? nginep di mana? bagaimana mencari datanya? bagaimana menghadapi situasi baru, tempat baru, orang-orang yang sama sekali belum dikenal sebelumnya.. Ow.. ow.. ow… suatu pekerjaan yang bisa stres bila hanya dipikirkan, tetapi bila dijalani sambil berdoa dan tawakal padaNya, Insya Allah akan slalu ada jalan indah dariNya.

Waktu itu, saya merasa stres, di hotel, bingung mesti bagaimana dan langkah apa untuk bisa menyelesaikan pekerjaan saya saat itu. Hmmm manjapun kumat, ditemani informan, tapi tidak tepat waktu kalau janjian. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak. Walau tinggal di hotel dengan fasilitas yang baik. Waktu itu saya menginap di hotel utami, deket bandara Juanda. Dengan pertimbangan, hotel utami dekat bandara dan letaknya persis di sebelah Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur, tempat saya meminta stempel perjalanan. Saya merasa sedih, bingung, merasa sendiri dalam menyelesaikan tugas. Untung informan saya baik, menghibur saya, menyemangati saya yang mendadak kangen rumah. huehehe. Malu juga ya kalau ingat itu semua. Walau sekarang, ya masih ada bau-bau kangen rumah ketika tugas dinas luar kota. Setidaknya sudah lebih tegar n siap dibanding pengalaman pertama di lapangan, SENDIRIAN.

sETElah pulang dari pengalaman pertama saya di lapangan dan mendapat berbagai cerita teman-teman yang juga ke lapangan barulah saya sadar kalau saya beruntung sekali dibanding teman saya yang lain. Masing-masing di lapangan dengan kendala dan kesulitan sendiri-sendiri. Saya dimudahkan, kok masih saja kurang bersyukur. betapa dzalim dan tidak sadar dirinya saya sebagai hamba Tuhan. Yaaa, saya merasa bersyukur setelah menyadari bahwa tidak ada yang namanya KEBETULAN. kebetulan mobil dinas tidak dipakai karena pada minggu saya dinas ke SBY Februari 2011 itu sedang proses sertijab dari Peka pontren lama ke pekapontren baru. Otomatis belum ada kepastian siapa pemakai mobil dinas dan hari serah terima jabatan itu yaitu ketika saya telah memakai mobil dinas 4 hari. Subhanalloh,, kondisi yang bukan kebetulan bukan? itu semua rencanaNya untuk membantu saya dalam mengumpulkan data. So, mengapa saya masih mengeluh? hmmm malu saya.. Itu kesan yang saya ambil dari pengalaman pertama saya di lapangan. Dengan segala daya upaya yang saya mampu, stres, tekanan, kemanjaan.. ah.. malu bila diceritakan di sini saya mengambil hikmah bahwa dibalik suatu kesulitan akan ada kemudahan. Jadi hindarilah mengeluh.. masih banyak orang di luar yang kondisinya lebih buruk. Walau pengalaman pertama itu penuh dengan nuansa bingung, canggung, dung-dung.. ah biarlah.. bukankah kita butuh tangga proses untuk menuju tangga di atasnya? nikmati saja stres, bingung.. jadikan sebagai hal yang mentrigger kita untuk belajar dan lebih baik lagi.

Pengalaman ke lapangan ke dua dan sendirian adalah ke Kota Kupang Nusa Tenggara Timur, Mei 2011. Lagi-lagi tak ada yang namanya kebetulan. Banyak kemudahan-kemudahan dibalik kesulitan dan tekanan tugas yang harus saya selesaikan. Bayangkan, saya belum pernah ke NTT, belum pernah berinteraksi dengan pendeta. Eh, tugas saya membuat profil aliran-aliran gereja. Ck3… Ilmu tentang Islam, agama yang saya anut saja masih belum ada apa-apanya. eh ini diminta menyelesaikan tugas di bidang yang sama sekali saya tidak tahu.. Toh akhirnya bisa juga. Semua bukan karena saya hebat, bukan semata KEBETULAN tetapi karena atas ijinNya, bantuaNNya. Tidak ada kesombongan bagi setiap kegiatan lapangan. karena sungguh, kesombongan hanya menuai kesulitan.

Keika saya ke Kota Kupang, bayangan saya sudah yang tidak-tidak. Saat itu saya dapat tempat tugas yang jauh. Padahal teman-teman saya yang sudah berpengalaman malah memeilih kota yang dekat Semarang. Beberapa menyarankan saya agar tukar dengan bapak-bapak agar saya dapat tempat Yogya saja yang dekat, atau Purworejo saja yang notabene kota Kelahiran dan kota saya dibesarkan. Tetapi selaku junior saya tidak bisa menolak danmengiyakan saja. Biarkan mereka memilih. Ada yang dengan pertimbangan punya anak kecil, jadi biar memudahkan menghandle. Ada yang dengan pertimbangan lama tidak bersilaturahim ke orang tuanya, jadi bisa sekalian mampir silaturahim etc. Ya sudah, saya ke Kupang. Pertimbangannya masih jomblo. Ya saya tersenyum saja, bismillah dalam hati.

Benar saja ketika saya memudahkan orang lain, Allah tidak tinggal diam. Dia akan memberi kemudahan kepada saya. Dengan berbagai jalan, dengan segala Kuasanya, saya percaya itu. Kupang ternyata kota yang begitu ramah menyambut kedatangan saya. Kemudahan-kemudahan saya dapatkan. Walau saya juga mesti menjaga makan saya karena disana sebagian besar pemeluk agama Nasrani sehingga dikhawatirkan banyak makanan daging yang tidak halal saya konsumsi. Namun tidak mengurangi kesan RAMAH yang tidak saya dapatkan sama sekali dari Kota Surabaya. Pendeta-pendeta yang saya kunjungi wellcome. Menyenangkan, dan sungguh diluar dugaan saya. Sementara teman saya ada yang susah mendapatkan data karena birokrasi gereja yang susah ditembus. Hmm.. Kupang dengan Mbak Mery, teman dekat Pak Paiman (sekantor) dengan saya begitu ramah. Lewat Pak Paimanlah saya kenal dengan Mbak Mery (humas Kanwil NTT) sehingga saya merasa ada teman di tempat asing. Jalan-jalan makan jagung bakar di tepi pantai Teddy’s Bear, Ke Gong Perdamaian di malam hari. Hal yang kecil tetapi sungguh berarti. Pak kleden (humas kanwil Kemenag NTT) yang begitu perhatian, menanyakan kabar saya setiap hari. Hmm, entahlah mengapa Allah begitu baik dengan saya, membuat saya malu untuk mengeluh lagi.. Keramahan yang sama sekali tidak saya dapatkan ketika mengunjungi Surabaya.

Juga perjalanan ke Surabaya hari ini. Sungguh, bukan suatu kebetulan ketika saya duduk bersebelahan dengan Pak Cipto yang lahir di Kota Purwokerto. Banyak nasehat yang saya dapatkan, saya-pun menanggapi sebisa dan semampu saya. Bagaimana dia sharing pengalaman selaku orang yang biasa melakukan perjalanan antar kota. Dia tidak menyebutkan dari mana dan untuk keperluan apa dia pergi antar kota. Tetapi beberapa hal yang bisa saya dapatkan darinya; ‘NGUWONGKE wong liyo” dan masuklah ke dalam kota, masyarakat yang kamu datangi sehingga bisa menjadi bagian dari mereka maka Insya Allah kita akan dimudahkan.

Saya pun mengajukan berbagai pertanyaan, bagaimana beratnya menjadi pimpinan dengan berbagai karakter anak buah, menyikapi iri hati teman, bagaimana pimpinan membuat kebijakan dan bagaimana trik agar bisa diterima oleh bawahan. Entah mengapa pertanyaan-pertanyaan saya itu dijawab dengan santai olehnya, dengan penuh perasaan, bahkan saya tahu dia meneteskan air mata. Dia berusaha menyembunyikan dari saya, dan mencoba tegar. “Saya sedang mengalami masa-masa sulit mb.. bla.. bla.. bla.. akhirnya keluarlah uneg-unegnya. Saya tahu, dia mempunyai masalah, intinya seperti apa, tetapi konteks pekerjaan dan siapa sebenarnya dirinya saya belum punya jam terbang untuk bisa menyimpulkan dengan tepat. Di sisi lain ketika dia menanyakan identitas saya, saya paham kalau dia menebak dengan tepat latar belakang saya, bisa mengetahui saya dengan lebih baik hanya dengan berbagai pertanyaan. BEGITULAH JAM TERBANG DI LAPANGAN PERLU DI ASAH. Dia sudah menggali saya dengan begitu dalam dan bisa benar-benar mengerti saya dengan obrolan yang kesannya basa-basi saja, tak terasa kalau diwawancarai. Sementara, saya berupaya mencari tahu tentang dirinya begitu sulit. Ketika saya menanyakan secara lugas, dia hanya tersenyum. Ck3.. mana mau dan bisa keluar dengan pertanyaan lugas, “Pak anda bekerja di mana? di kantor apa? Jurusan apa? kuliah di mana? GUBRAKKKK…. MENYEBALKAN SEKALI BUKAN. DIA DENGAN MUDAHKNYA MENGETAHUI TENTANG SAYA, PROFESI SAYA.. kuliah saya dimana???? ck3…

Semoga suatu saat saya bisa kembali menjumpai dia dalam forum resmi dan tahu siapa sebenarnya dia. Berguru kembali dengan sosok low profile itu.. Dan mungkin akan menertawakan kepolosan saya dalam menginterview dan mencari tahu siapa dia. “Kuliah di mana???” ha ha ha ha…

Tidak ada yang kebetulan, semoga kita bertemu kembali di suatu kebetulan yang lain, dalam forum yang lebih baik lagi tentunya. Amin..

SURABAYA, 25 SEPTEMBER 2011
faveHOTEL
MEXBUILDING-SURABAYA
room 636

NB: Memang saya masih perlu banyak belajar agar tidak bertanya dengan pertanyaan yang lugu, polos.. hi hi hi.. lebih elegant, halus taoi bisa menggali dan menyentuh makna terdalam. Begitulah.. INTERVIEW BUTUH JAM TERBANG. DAN ALHAMDULILLAH KEBETULAN SAYA BELAJAR PRAKTEK LANGSUNG DENGAN PAK CIPTO HARI INI. . SEMOGA ADA KEBETULAN TAHAP BERIKUTNYA.AMIN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s