Virus Apakah Ini???

Begitu berat untuk menulis..
Tak tahu apa yang mesti ditulis..
Aku malas untuk menulis..
Tapi hatiku ingin menulis..

Prie GS berkata “MENULISLAH DENGAN HATI”. Ya, ungkapan yang selalu melekat dalam ingatanku ketika mengikuti pelatihan menulis setahun lalu. Tulislah dengan segenap jiwa dan hatimu, agar hasilnyapun bisa sampai ke hati pembaca. Tidak kering, tidak hampa, tidak membosankan.

Menulis, banyak sekali manfaatnya. Salah satunya melatih otak kita untuk berpikir, merangkai kata dan kalimat. Di sisi lain dengan menulis juga mengasah kecerdasan emosi kita. Ketika menulis, sisi emosional penulis terlibat dalam proses penulisan. Tentu saja akan berbeda tulisan dengan ide yang sama ditulis dengan kondisi hati yang berbeda. Tak akan sama hasilnya.

Menulis merupakan upaya merecall memory di otak. Bila lama tidak menulis, walaupun ide sudah ketemu tetapi akan susah sekali ketika menuangkannya ke dalam tulisan. Otak terasa kaku dalam bekerja, pun hasil tulisan tersendat-sendat, tidak bisa mengalir dengan lancar. Saya sendiri merasakannya. Lama sekali saya tidak menulis, ketika memulai kembali terasa berat. Mau menulis apa ya? Kok susah sekali. Inginnya menulis tentang A, lho kok keluarnya malah B. Ingin mengeluarkan uneg-uneg ini kok malah jadi tentang itu. Rasanya antara otak dan hati jadi kurang selaras, kalau lama tidak menulis. Ehm.. ada sesuatu yang hilang.. Yang susah untuk didapatkan kembali. SEperti kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup. SEsuatu yang biasanya mewarnai hari-hari, mendadak hilang, pergi.. SEdih sekali bukan?

Bagaimana menemukan kembali makna dan arti pentingnya menulis.. itulah yang kuinginkan. Menulis sebagai suatu kebutuhan yang mengasyikkan, bukan keterpaksaan. Menulis seperti seorang yang sedang jatuh cinta. Ingin terus menulis, menulis dan menulis. Mempersembahkan karya yang terbaik, sesempurna mungkin, walau kusadar tak akan pernah ada yang sempurna. Tapi aku ingin jatuh cinta lagi, lagi, lagi dan lagi dengan dunia tulis-menulis.

Sudah lama aku “putus” dengan dunia tulis menulis. Bagaimana aku memulainya ya? Jatuh cinta lagi, itu bukan perkara yang mudah bukan? Tak mampu kuatur, kusetting, kurencanakan kapan dimana dan bagaimana prosesnya. Hah… repot malah jadinya.

Patah hati dengan dunia tulis menulis, iya pernah. Saat dunia tulis menulis menjadi sebuah beban berat yang harus dijalani. Laporan database ke lapangan, tugas majalah smart di kantor. Fiuhhhh… bener-bener kurasakan sebagai beban yang menghimpit, menyesakkan, menyebalkan, dan ingin sekali kuhindari ketika itu. Dengan berkedok dan alasan sibuk, banyak pekerjaan kantor lain yang mendesak untuk segera diselesaikan. Jadinya segala aktivitas yang berbau tulis-menulis,membutuhkan konsentrasi pikiran seakan tak mungkin dikerjakan di kantor. Jadi PR alias take home. Ya, wajar sajalah, dikantor dengan dalih mengurusi kepegawaian. Hmmm, kalau saya cermati sendiri, saya tidak perform akhir-akhir ini di kantor. Tidak suka, setengah-setengah mengurusi dan melayani pegawai. Apalagi hitung-menghitung presensi pegawai, mengecek pegawai yang terlambat, tidak ikut apel dsb. Malas, bosan, entahlah saya sedang terkena sindrom apa. Saya tahu, saya sedang terkena virus penurunan kinerja. Bodohnya, sudah tahu tetapi susah untuk merubahnya. Anti virus seperti apa ya, yang pas untuk saya?

Di sisi lain, menulispun terbengkelai. Dalam arti pekerjaan yang berkaitan dengan laporan, membuat tulisan, anotasi buku begitu masuk tas, dibawa pulang sudah tidak tersentuh. Malas sekali untuk mengerjakannya begitu sampai di rumah. Maka FB-pun menjadi pelarian yang manis.. Meng-update status, memberi komentar pada status orang lain, becanda. Ah.. begitu mudah tergoda untuk melakukan hal-hal ringan yang terkadang melenakan waktu dan pikiran. Jadi tidak fokus dengan apa yang seharusnya dan semestinya dilakukan.. Dan lagi-lagi, saya belum menemukan anti virus yang pas. MUNGKIN VIRUSNYA GAWAT, sudah menjalar ke otak, hati dan jiwa saya, sehingga lama-lama saya bisa gila….

Ya, gila karena belum juga menemukan anti virus yang pas. Penyakit yang kronis dan mendesak untuk segera disembuhkan. Penurunan kinerja, kemalasan, kecuekkan, kemarahan, hingga kadang saya sendiri merasa aneh dengan diri saya sendiri. Kok bisa begini ya??? Tak terasa sedikit demi sedikit mulai berubah.. berubah.. berubah… hingga tanpa disadari sudah banyak berubah.. Parahnya bukan perubahan ke arah kebaikan, tetapi perubahan ke arah kemunduran performancy.. Menakjubkan sekali bukan virus yang menyerangku? Pelan, tak terlihat, tak terasa nyata eh.. tiba-tiba sudah menjalar ke segenap otak, jiwa dan raga saya..

Virus apakah yang menyerang saya sebenarnya???
Sebagai seorang yang beriman, saya menyadari alert dari sang jiwa ketika keimanan mulai turun. Pelan-pelan hingga tak terasa sudah turun begitu banyak. TUbuh jadi tidak nyaman, hati dan jiwa-pun tidak tenang. Bekerja jadi malas-malasan, Ibadah berat. Puasa juga tidak segiat sebelumnya. Sholat tidak di awal waktu, tilawah Al Quran terasa berat. Ah.. syetan begitu cerdik menggoda saya, mencari sisi lemah saya hingga terjerat dalam virus yang melenakan, membuat saya semakin jauh saja dariNya. Walau di akhir ramadhan sempat merasakan kedekatan denganNya ketika itikaf di masjid.

Benar-benar berbeda sekali, ketika keimanan dalam kondisi bagus, dibandingkan keimanan dalam kondisi lemah. Dalam kondisi yang dekat denganNya, maka segala aktivitas hidup terasa ringan, wajah cerah ceria, hati tenang walaupun banyak beban dan tugas yang harus segera diselesaikan. Di sisi lain ketika keimanan turun, maka hati mudah sekali mengeluh, beban jadi terasa semakin berat, mudah terbawa marah, sedih, pesimis bahkan kadang merasa kesal dengan TUhan. Tidak sabar dengan ujian kehidupan. Lagi-lagi virus apa yang menyerang saya ini?

Hmmm… apa yang menyebabkan iman seseorang turun? virus apa?
Orientasi hidup, ya.. ketika dunia telah menjadi tujuan dibandingkan akherat, ketika harapan dan impian digantungkan pada manusia bukan lagi pada tUhan. Ketika uang, harta, tahta, wanita/pria menjadi hal yang dikedepankan dibandingkan meraih ridhoNya. Sungguh, tanpa disadari dunia begitu melenakan. Kemudahan -kemudahan yang didapatkan menjadikan hati menjadi kotor, tidak lagi peka dengan kebaikan dan perbaikan. Begitu berat hati dan jiwa ini untuk menghamba padaMu, bukan lagi menghamba pada dunia.

SEmoga.. saya bisa segera menemukan anti virusnya. Merubah orientasi hidup semata-mata untukNya. Saya yakin dan percaya dengan meraih ridhoNya, maka duniapun akan mengikuti kita. Rejeki, harta, tahta, jodoh, semua diatur olehNya. Gantungkan semua harapan, cita-cita dan cinta padaNya, ya padaNya semata. Dia Maha cemburu pada kita, ketika kita lebih mencintai dunia dibandingkan cinta terhadapNya. Maka Dia akan menegur kita dengan berbagai cara sebagai bukti kecintaanNya pada kita. Masihkah ragu, sombong, merasa diri bisa tanpaNya?
SUNGGUH MANUSIA BUKAN APA-APA, BUKAN SIAPA-SIAPA TAK MAMPU APA-APA TANPANYA.. YA, SEMUA TERJADI, BISA KITA RAIH DENGAN IZINNYA. MAKA GANTUNGKANLAH DIRI KITA, HAMBAKANLAH JIWA RAGA KITA, MEMOHONLAH PADANYA SEMATA. HANYA DIA YANG TAHU YANG TERBAIK UNTUK KITA, JANGAN MERASA DIRI MAMPU, BISA, TAHU YANG TERBAIK.. SEKALI LAGI.. MANUSIA TIDAK PUNYA KUASA APA-APA DIBANDINGKAN KUASANYA..
MAKA, MASIHKAN KITA SOMBONG UNTUK PASRAH DAN MENYERAHKAN DIRI SEPENUHNYA PADANYA?

2 pemikiran pada “Virus Apakah Ini???

  1. iya, betulll… cuma antivirusnya itu lho… butuh perjuangan untuk bisa action mengusir virus-virus jahat.. pergilah.. hush.. hush.. hush… Makasih kunjungannya. saya kunjungi balik.. =)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s