Reuni Desember

Reuni.
Reuni itu suatu hal yang menyenangkan untuk dilakukan. Bertemu dengan teman lama dengan kondisi yang berbeda dengan saat terakhir kita berpisah dengannya. Sharing pengalaman kehidupan masing-masing, saling belajar agar bisa lebih mensyukuri kondisi kita saat ini.

Allah memberikan kondisi yang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan hambaNya. Dengan bertemu teman lama, bisa saling berkaca. Ah, teman saya si A lebih dewasa setelah punya si kecil. Melihatnya menggendong bayi, nyuapin.. becanda dengan bayinya.. sedikit surprise. Lha pertemuan terakhir dengannya, masih suka jalan bersama, bermain bersama. Ketika melihatnya sebagai seorang “mama” jadi ikut merasa bahagia. Temu kangen di Plaza Semanggi Jakarta,siang hari kemarin jadi moment istimewa karena ada si kecil.

Berbeda lagi dengan si B, yang baru saja menikah. “Menikah itu tidak mudah. Tetapi suatu bentuk ibadah yang membuktikan bahwa kita adalah bagian dari umat Nabi Muhammad.” begitu katanya. Pernikahan itu penyatuan dua keluarga dengan latar belakang, kondisi dan budaya yang tidak sama. Butuh kebesaran hati untuk menerima perbedaan dan kekurangan orang lain. Perbedaan karakter dengan pasangan butuh kesabaran. Lha suamiku tidak suka ke Mall, sedangkan aku suka ke Mall. Di ajak nonton Harry Potter mana mau. Nonton di rumah aja ya dek. Huh sebel, ” ceritanya padaku. Aku senyum lebar.. mendengarnya.

“Tak usah hal yang besar, lha masalah merk detergent aja juga ribet. Biasa pakai a**a**, eh dia komentar, R*ns* aja dek, yang lebih murah. Aku dikatakan boros.” Tertawaku kian lebar mendengarnya.

“Ho ho ho.. Ya baguslah. Kalau pasangan hidup, kata kebanyakan orang sih yang saling melengkapi. Ibarat botol dengan tutupnya. Kalau sama-sama tidak ada yang jadi tutup ya nanti air di dalamnya bisa kotor kemasukan debu, ” aku menanggapi masih dengan tertawa.

“Keluarganya juga berbeda dengan keluargaku. Di keluargaku biasa sibuk dengan pekerjaan. Walau wanita biasa bekerja. Lha di keluarganya melihat wanita pergi pagi, pulang malam kelihatan aneh. Biasa ada kumpul keluarga juga, masih rikuh,” ungkapnya.

” Butuh proses. Nanti juga lama-lama terbiasa. Justru seni-nya di situ”, aku menyemangati temanku yang satu itu. Padahal aku sendiri belum tahu, akan dapat jodoh yang seperti apa, latar belakangnya bagaimana. Spesifikasi diriku yang apa adanya begini cocoknya dikasih Allah pasangan yang bagaimana ya? Hmmm, tak berani membayangkan yang muluk-muluk. Cukuplah yang satu visi, menerimaku dan keluargaku dengan tulus, siap menjadi imam yang bertanggung jawab dunia akherat. Kukira kriteriaku itu tak berat ya.. Kok belum ketemu juga. Hi hi hi malah jadi curhat.

Reuni di Solo berbeda lagi ceritanya..

Ketika aku menghadiri “ngunduh mantu” temanku di Hotel Dana, surprise juga dengan jalan cerita hidupnya. Kukira ia menikah dengan seseorang yang menjadi pacarnya selama beberapa tahun. Karena mereka sudah berhubungan cukup lama. Secara rasional, tingkat keseriusan hubungan sudah matang untuk memasuki jenjang pernikahan. Eh ternyata dengan sosok yang sama sekali baru. Padahal terakhir kali cuma mendengar kabar putus. Tahu- tahu dapat kabar menikah. Jadi belajar bahwa pacaran itu ikatan yang lemah, tidak menjamin dia akan menjadi pasangan kita. Jadi biarlah kupakai cara lain untuk mendapatkan pasangan hidup. Kenalan, berteman, kalau cocok ya sekalian perkenalan keluarga kedua belah pihak. Kalau oke.. ya lanjut, tak oke ya berteman saja..

Reuni di Solo kututup dengan mengunjungi salah seorang teman di daerah Totosari. Dia wanita karier dengan seorang bayi 2 bulan. Pergi pagi, pulang sore. Wah.. mesti sabar. “Pulang kerja walau lelah tidak bisa langsung istirahat tetapi masih harus mengurus anak. Namun demikian, mesti dihadapi dengan senang hati. Apalagi suami kerja di luar kota, pulang dua minggu sekali. Moga beberapa bulan ke depan bisa ikut suami, menunggu bayi usia 6 bulan, kasihan juga bila masih kecil di bawa jauh.

Begitulah kehidupan. Selalu berdinamika. Semoga perubahan yang terjadi pada kita menuju perbaikan dan kebaikan. Semata-mata meraih ridhoNya. Amiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s