Love will Find Away

Berbicara tentang cinta tak akan pernah ada habisnya. Ah, jadi teringat perbicanganku dengan dua orang teman.. Biasa, diskusi di sela-sela kerja he he he. . Maklum, masih single jadi biasa digodain eh dikomporin biar segera menikah. Walah sudah jadi makanan sehari-hari di tengah hiruk-pikuk kerjaan kantor. Kalau ada kesempatan sedikit, mereka (teman-teman kerja yang sudah menikah) sudah hampir dipastikan akan membicarakan tentang itu. Jadi hiburan tersendiri. Ya gapapalah, siapa tau jadi doa n segera terkabul. amiin

Kadang kesel juga, tapi ya gimana lagi.. Apalagi diruanganku. Ya aku sendiri yang jomblowati. So… tak ada pembela, adanya pengacara. Emang lagi sidang apa sih? he he he ..

Hal yang menarik dari obrolan santai tapi bisa serius ini adalah aku jadi tahu persepsi dan pendapat orang lain. Kadang dengan diskusi dengan orang yang sudah berpengalaman juga bisa timbul insight baru. Entah dari pengalaman mereka atau pendapat mereka.

Benarkah jodoh sudah ditentukan Tuhan?
Yup.. sudah ditentukan, tetapi bisa diusahakan menurutku. Kalau orang baik, insya Alloh akan mendapatkan orang baik. Pezina akan mendapat pezina juga. Sekufulah.. Tak mungkin orang yang baik akan diberikan yang tidak baik..

Pengalaman salah seorang teman begini. Dia saat itu dia sudah ingin menikah. Bingung juga memilih mana yang tepat untuknya. Ia pun berikhtiar dengan si A. Orangnya baik, sholihah, pendidikan juga setara. Entah mengapa susah sekali untuk mendapatkan kesepakatan. Tiba-tiba malah dekat dengan si B. Jadi bingung. Ia pun istikharoh, meminta petunjuk pada Allah yang Maha Tahu apa yang terbaik bagi hambanya, manfaat dan mudharatnya bagi hambaNya di masa yang akan datang.

“Boleh jadi kita menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kita. Dan boleh jadi kita tidak menyukai sesuatu padahal itu baik buat kita.”

Panca indera manusia terlampau kecil untuk mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan. Akal dan hati manusia pun tak selamanya jernih untuk bisa memahami apa yang terbaik baginya.

Keterbatasan manusia itulah yang seharusnya membuat kita sadar bahwa kita butuh meminta petunjukNya. Agar dipilihkan yang terbaik. Proses ini juga tidak mudah. Perlu adanya tazkiyatun-nafs (penyucian jiwa). Karena jiwa manusia yang kotor akan sulit untuk menangkap pertanda dariNya. Di dukung juga dengan meluruskan niat, agar sebelum istikharoh (meminta petunjuknya) bisa seoptimal mungkin menetralkan hati.

Ras suka, simpati pada sesorang bisa saja timbul. Tetapi apakah dia yang terbaik untuk kita??? Janganlah terlampau dini menyimpulkan. Itu sudah suatu bentuk kesombongan kita, walaupun mungkin tanpa kita sadari. Apalagi belum apa-apa, kita sudah merasa dialah jodoh kita. Seakan-akan kita mendahului apa yang belum ditakdirkan untuk kita. Bisa kecewa kalau ternyata ia bukanlah jodoh kita. ST (Sok Tahu)..

Dalam berdoa juga tidak boleh mendikte Tuhan. “Ya Allah, jika dia terbaik untuk saya maka mudahkanlah, dekatkanlah. Tetapi kalau bukan, jodohkanlah.” weleh -weleh , berhubung sudah ada rasa suka, terus begitu doanya.

Teman saya yang bingung antara A atau B, dalam prosesnya senantiasa diiringi istikharoh. “Ya Allah pilihkanlah yang terbaik menurutMu untukku. Jika si x itu memang terbaik untukku maka mudahkanlah, rahmatillah dan berkahillah. Tetapi bila si x bukan yang terbaik untukku maka jauhkanlah, hilangkanlah dia dari ruang hati dan pikiranku. Engkaulah yang Maha Mengetahui yang Ghoib, baik buruknya suatu urusan bagiku. amiin

Dan ternyata benar, temanku itu merasa bahwa si A itu bukanlah jodohnya. “Tandanya gimana Pak?” begitu tanyaku. Ya.. selalu saja ada kesulitan ketika akan berproses serius. Eh malah ketemu B, tak berapa lama kemudian bisa segera berproses dengan mudah.

Oh begitu ya. Padahal waktu itu suka yang mana sebenarnya?

“Ya.. awalnya saya mengejar si A. Tetapi saya kemudian menyadari hikmahnya belakangan. Mungkin kalau saya jadi dengan si A, cinta saya bisa berlebihan. Apa-apa saya turuti. Padahal segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Termasuk cinta. Makanya Allah tidak memberikan dia untuk saya. Mungkin juga, saya tidak bisa menjadi imam yang baik buat dia.”

Jadi saya percaya mbak, jodoh itu di tangan Tuhan.Kita hanya bisa ikhtiar, memperbaiki diri agar mendapatkan seseorang yang juga senantiasa memperbaiki diri. Dia Maha tahu siapa yang pas dan tepat untuk mendampingi kita.

Dan yang tidak kalah penting percayalah, cinta itu akan menemukan jalannya. Jika kita cinta padaNya, maka insya Allah kita pun akan dipertemukan dengan seseorang yang juga mencintaiNya. Dan jalan untuk bertemu, berjodoh itu akan selalu ada. Entah bagaimana caranya. Itu akan diatur olehNya. Demikian juga bila ternyata dia bukan jodoh kita, sekeras apapun kita mengejar, tak akan mungkin bisa kita dapatkan..

Love will find a way..
Teruslah memperbaiki diri. Semoga Allah memberkahi apa yang kita usahakan. Termasuk ikhtiar kita untuk mendapatkan pasangan terbaik menurut versiNya..

Iklan

2 pemikiran pada “Love will Find Away

  1. Ha ha…, mungkin jika saya boleh guyon, soalnya saya juga sering memiliki obrolan yang sama dengan teman-teman lain.

    Cinta akan menemukan jalannya sendiri, dan itu konon hukumnya pasti. Hanya saja… (dia menambahkan), pasti menemukan jalan bahagia, atau jalan buntu. Kalau yang ditemukan jalan buntu…, ada baiknya kita mundur dan mengalah.

    Hmm…, apa-apa dituruti…, saya rasa itu benar juga. Kalau bilangnya “apa sih yang nggak buatmu…, habis itu ditampar sambil dibilangin gombal 😀

    Padahal, jika kita percaya dan memahami orang yang kita cintai, dan sebaliknya ia juga memahami kita. Maka apa pun yang dia minta pasti untuk kebaikan bersama, setiap permintaan dari masing-masing pasangan adalah untuk kebahagiaan bersama.

    Jadi kalau masih takut nanti “apa-apa dituruti..” maka kita perlu bertanya, sungguhkah ini cinta yang memberikan pemahaman dan pengertian mendalam pada masing-masing pasangannya 🙂

  2. Jalan buntu? bagi saya itu pertanda kalau dia bukan yang terbaik buat kita. betul.. betul. betul.. Cari jalan lain yang bahagia saja.

    He3.. digombalin? ehm pernah ga ya? Kalau merasa diberi harapan mungkin pernah. Atau sebenarnya dia tak bermaksud memberi harapan tapi terasa memberi harapan. Gimana itu Bli Cahya?

    Yup, cinta harusnya saling mengerti, semua dalam rangka bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik bagi diri kita maupun dirinya =)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s