Jadikan Aku yang Kedua

Masih dalam suasana kantor, menunggu detik-detik pulang. Biasa… lagi bosan, makanya diskusi (padahal ngobrol n gambus ngalor ngidul ga jelas)

Entah dari mana bermula.. tiba-tiba temanku bertanya padaku?

Kapan nih?

bentar lagi lah, jawabku

Tanggal berapa pastinya? tanyanya senyam-senyum ga jelas

Lho, bentar lagi kan pulangnya.. emang apa-an siy? tanyaku bingung

Halah.. gitu aja sok pura-pura ga tahu..

Nikah maksudmu.. ehmm.. ga taulah. belum ada yang mau. Lha dirimu mau ga menerimaku? spontanitas kujawab begitu

Walahh.. telattt… Klo 10 tahun yang lalu kuterima. Kulihat tampangnya mendadak begitu serius.

Ha ha ha.. aneh juga tiba-tiba kok pembicaraannya jadi begini. Aku tertawa saja melihatnya.

“lha aku serius ki, mau ga menjadikanku yang ke dua?” ga tau kenapa tiba-tiba becandaku kumat.

“Ga lah mbak..” tiba-tiba wajahnya begitu serius.

“memang kenapa? ga berani? biasanya laki-laki itu pengen bisa poligami lho? dan jarang pula aku mau untuk dijadikan yang kedua, jadi itu kehormatan,’ jawabku masih dengan becanda.

‘Ah, menjalankan satu kapal dengan satu nahkoda saja susah mb. Apalagi dua kapal dengan satu nahkoda. Salah satu kapal pasti ada yang terkalahkan,” jawabnya serius.

“Tapi ada juga kok yang poligami sukses semua” jawabku.

“IYa, katakanlah ia orang kaya, istrinya di bagi-bagi harta sama rata. Itu bisa saja. Tetapi masalah hati, tak mungkin bisa sama rata. Pasti ada yang terkalahkan.

“hmmm begitu ya.. Benar juga siy. Nabi Muhammad juga ga bisa membagi hatinya sama rata untuk istri-istrinya. Ada istri yang lebih ia sayangi. Hingga terkadang menimbulkan cemburu istri yang lain. So? what’s the problem? tanyaku..
Entahlah kenapa saat itu aku ingin tahu pendapat laki-laki tentang poligami darinya. Apalagi saat kulihat keseriusan di wajahnya.

“Kasihan anaknya. begitu jawabnya. Bagaimana nanti kalau harus berbagai dengan keluarga lain, kasih sayangnya tentu akan berkurang.”

Mendadak aku diam. Kenapa jadi seserius ini ya? Padahal aku tadi menganggap ini hanyalah ngobrol santai. Lagian belum pernah ada cita-cita untuk menjadi yang kedua. Krikkk krikkk krikkk. kenapa dia so serius give this advice for me. kesan yang kutangkap begitu.

Dia berkata padaku. Mbak, aku sendiri mengalami menjadi anak tiri. Aku tadinya ga mau mengalah kalau ayahku menikah lagi. Tapi oleh guru ngajiku aku dinasehati. Ya udah aku yang ngalah.

TRus? tanyaku padanya

Ya, bayangkan.. tiba-tiba ada orang lain hadir dalam keluarga. Itu tidak mudah. Apalagi umur ibu tiriku terpaut beberapa bulan di atas umurku. Jadi bagaimana aku menganggapnya sebagai ibuku? malah seperti kakakku.

“hmmm.. begitu ya..
Dia ketika menikah membawa anak? tanyaku

“Masih gadis, jawabnya

Setelah menikah dengan ayahmu, punya putra/anak?

iya.. sekarang sudah smp yang paling besar.. aku menganggapnya sebagai adikku. tetapi rasanya tetap lain.

aku diam saja. tak tahu harus berkata apa..

semua saudara kandung dan saudara tiriku alhamdulillah bisa sekolah. Berkah mungkin ya.. Tetapi tetap saja yang namanya kasih sayang tidak bisa merata. ada yang dikalahkan. Terutama kasih sayang untuk anak-anak. Pertimbangkankah perasaan mereka. Karena aku sendiri pernah mengalaminya..”

Deggg, entahlah mengapa kata-katanya begitu menyentuh. Sebuah sudut pandang tentang poligami kudapatkan dari seorang anak dengan ibu tiri.. Ibu kandungnya meninggal karena sakit. Itu aja dia terluka. Bagaimana halnya bila poligami bukan karena alasan pasangan meninggal dunia?

BUkan berarti aku menolak poligami. Dalam Islam poligami diperbolehkan. Tetapi.. kesimpulan yang kudapatkan dari ngobrol santai tapi serius dengan temanku, bahwa poligami itu berat tanggung jawabnya. Berbuat adil itu tidak mudah? Terutama kasih sayang untuk anak-anak. Jadi.. pertimbangkanlah dengan sebaik-baiknya untuk mendua atau dijadikan yang kedua =)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s