Agama dalam Perspektif Psikologi

Agama merupakan hal menarik dibicarakan sepanjang sejarah manusia. Hal ini terbukti dengan banyaknya kajian yang mencoba terus menjawab pertanyaan seputar keagamaan dan perilaku pemeluk agama. Di sisi lain, perkembangan zaman, dinamika sosial dengan segala macam problema masyarakat membutuhkan suatu tuntunan, jawaban sebagai solusi. Agama diharapkan mampu sebagai solusi ampuh bagi permasalahan yang timbul, baik dalam lingkup pribadi, keluarga, masyarakat, negara maupun dunia. Tak jarang agama ditafsirkan beragam oleh pemeluknya. Hingga timbul suatu kontroversi keagamaan.

Beberapa contoh fenomena sosial seputar agama dan perilaku pemeluk agama yang menarik untuk dikaji:
1. Malcom Little adalah bekas napi Amerika dengan kasus perampokan. Di penjara dia berkenalan dengan muslim kulit hitam dan belajar Islam. Akhirnya dia menjadi mubaligh Islam kulit hitam yang mengajar tentang pemisahan rasial. Namanya kemudian berubah menjadi Malcom X. Dia pergi ke Mekah, di sana mengalami pengalaman religius berupa perasaan yang amat menyatu dengan muslim kulit putih. Hal itu semakin mendorongnya untuk menyuarakan persamaan ras bagi seluruh pemeluk agama Islam.

2. Lia Eden atau Lia Aminuddin, penggagas agama Salamullah mengaku sebagai Imam Mahdi yang akan membawa keamanan dan keadilan dunia. Lia mengaku sebagai penyampai wahyu Tuhan dan mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan. Pada Disember 1997, Majlis Ulama Indonesia (MUI) telah mengutuk kumpulan Salamullah ini karena terseleweng dari ajaran Islam yang benar. Kumpulan ini membalas balik dengan mengeluarkan “Undang-undang Jibril” (Gabriel’s edict) yang mengutuk MUI karena berlaku tidak adil, merasa telah menghakimi mereka dengan sewenang hati.

3. Pada bulan Februari 2009, di Jombang, seorang bocah bernama Muhammad Ponari (10) yang mendapatkan batu ajaib seusai disambar petir menjadi fenomena yang mencengangkan. Ponari menjelma menjadi juru sembuh. Puluhan ribu orang berjejal di rumahnya di Kecamatan Megaluh, Jombang, Jawa Timur. Mereka berdatangan dari berbagai kota di Jawa Timur, bahkan hingga Jawa Tengah. Banyak orang berharap batu ajaib di tangan Ponari bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Dalam pandangan Islam, hal tersebut menodai ajaran agama, dikatakan Musyrik (menyekutukan Tuhan), yaitu menggiring opini publik untuk percaya bahwa batu itulah yang menyembuhkan penyakit, bukan Tuhan.

Pertanyaan Psikologi tentang Agama
Beberapa pertanyaan yang perlu dikemukakan :
1. Apa itu agama?
2. Bagaimana ilmuwan psikologi mendekati permasalahan analisa dan konsep agama dari sudut pandang psikologi?
3. Apa saja teori dan metode yang dipakai dalam mempelajarinya?
4. Apa saja konflik – konflik yang muncul dalam agama?
5. Bagaimana perkembangan agama dari usia anak-anak sampai usia tua?
6. Bagaimana perubahan agama dan konversi bisa dipahami?
7. Apa konsekuensi kehidupan beragama?
8. Kenapa ada sebagian pemeluk agama yang terkesan fanatik sedangkan yang lain tidak?
9. Apakah ada kepribadian tertentu yang cenderung memeluk suatu agama tertentu?
10. dsb

Apa itu Agama???
Melton, dalam ensiklopedia di Amerika mencatat ada 1730 primary religious bodies yang diartikan sebagai sebuah gereja, golongan agama, sekte atau cara memuja. Beberapa ilmuwan psikologi mencoba menjawab pertanyaan “apa itu agama secara esensial?”

Agama sebagai Rekoneksi
Secara etimologi, agama berasal dari kata latin Legare, yang berarti mengikat atau menghubungkan. Dalam bahasa Inggris ditulis Ligament yang berarti koneksi. Agama menunjukkan proses mengikat/menghubungkan kembali. Sayangnya, tidak jelas dari kata legare tersebut, apakah apakah seseorang dihubungkan kembali kepada Tuhan, alam, pikiran, tekanan kosmis, sesama individu ataukah komunitasnya.

Menurut Wulf, kata agama mengacu pada suatu kekuatan yang besar pada perasaan-perasaan orang/tindakan dalam merespon kekuatan tersebut.
Namun secara umum, agama mengisyaratkan adanya kebutuhan dalam diri semua orang untuk memperbaiki diri. Tinjauan secara etimologis ini, membawa kita pada pendapat bahwa agama itu melibatkan usaha manusia untuk merasakan keseluruhan dan kelengkapan, atau pada apa yang telah menjadi komitmennya.

Agama Personal dan Sosial
Kenneth Pergament mengatakan bahwa agama itu bisa dijumpai dalam setiap dimensi kehidupan sosial dan personal. Kita bisa berbicara tentang agama sebagai cara berperasaan, cara berpikir, cara bertindak maupun sebagai cara berhubungan. Artinya, agama bisa dipahami baik melalui analisa pada tingkat personal maupun sosial.

Pada tingkat personal, agama menunjukkan bagaimana ia dilaksanakan dalam kehidupan individual, yang memuat pernyataan tentang kesadaran, kode tingkah laku, bagaimana agama bisa membuat orang merasa bersalah atau bebas maupun kebenaran apa yang dipercayainya.

William James mengatakan bahwa agama berhubungan dengan inner disposisi dari seseorang yang meliputi kesadaran, ganjaran, ketidakberdayaan dan ketidaksempurnaan. Pertanyaan kuncinya adalah apa yang kamu percayai secara personal dan bagaimana fungsi agama bagi kehidupan anda? Bagaimana pengaruhnya untuk kita dan untuk apa agama itu? Bagaimana pula dampak agama terhadap sikap kita tentang isu-isu sosial, kesehatan fisik dan mental, kesejahteraan dan kemampuan kita dalam menghadapi krisis?

Dalam tataran sosial dan kemasyarakatan, agama menunjukkan pada suatu kelompok yang oleh Melton disebut primary religious bodies atau dengan kata lain agama adalah sebagai institusi atau lembaga sosial. Institusi sosial ini seperti: gereja Kristen, gereja Kaum Yahudi, sekte-sekte independen, bersama dengan kepercayaan kolektif dan praktek keagamaan mereka. Penekanannya adalah pada bagaimana agama berinteraksi dengan bagian lain dalam masyarakat dan bagaimana kelompok melaksanakan organisasi agama.
Perbedaan pandangan agama dalam pandangan personal, sosial dan keorganisasian di atas adalah karena isi kepercayaan dan proses psikologis yang berfungsi mencapai atau merubah mereka tidak sama baik secara individu maupun kelompok.

Fungsi Agama
Definisi agama secara fungsional adalah apapun yang bermanfaat bagi individu maupun sosial.

Emile Durkheim memandang agama sebagai lembaga sosial positif yang membantu mengarahkan manusia bersama-sama menstabilkan masyarakat. Fungsi agama ini berisi unsur-unsur sosial dan moral dan memungkinkan manusia untuk mengatasi perasaan keterasingannya.

Pada tingkat analisa personal, Melton Yniger memandang agama bagi kehidupan individu berhubungan dengan kematian yang tidak dapat dielakkan, makna kehidupan, keabsolutan vs relativitas moral dan tuntutan untuk mengatasi kesunyian yang muncul.

Paul Tillich menambahkan bahwa agama itu melibatkan hubungan manusia dengan beberapa masalah pokok. Fungsi agama adalah sebagai suatu proses, bukan sebagai suatu doktrin. oleh sebab itu, agama bisa theis/atheis. Tuhan bisa dalam bentuk tongkat, batu, maupun sebuah ide.

Malony mengatakan bahwa “Religion can be God, Country, or Yale.”

Menurut Erich Fromm (dalam Yudha, 2004, hal 27) agama sebagai setiap sistem pemikiran dan tindakan yang dimiliki bersama oleh sekelompok orang yang memberikan kerangka pengarahan (hidup) dan obyek untuk dipuja kepada orang-orang yang menjadi anggota kelompok itu secara pribadi

Wulf (1991) mengatakan agama mengacu pada perasaan, tindakan seseorang untuk merespon adanya suatu kekuatan besar.

Secara keseluruhan, kita dapat mengatakan bahwa pendekatan fungsional berhubungan dengan Bagaimana sesuatu itu adalah dasar keagamaan, sedangkan pendekatan substansi mengindikasikan Apa dasar keagamaan itu.

Pendefinisian Agama dalam Penelitian Psikologi
Penelitian psikologi berupaya mencari pendekatan yang mampu menjembatani kedua aspek substansi dan fungsional, sehingga agama didefinisikan sebagai kesadaran akan kebergantungan kepada Tuhan.

Metode Memahami Agama
Sebelum melakukan penelitian tentang agama, lebih baik melakukan studi eksperimen, survei, observasi maupun interview sehingga dapat ditentukan metode terbaik untuk memahami tentang fenomena agama. Diperlukan teknik yang mengikat, bergantung pada prosedur yang spesifik dan perlakuan dari agama yang digunakan sebagai variabel.

Dalam kasus pemahaman psikologi agama, hal terbaik untuk memulai yaitu dengan psikography agama. Psikography agama adalah pendeskripsian kejadian secara terus terang dan objektif apa yang ada di dalam pikiran, perasaan dan tindakan manusia.

Menurut Glock & Stark (dalam Ancok & Suroso, 1994, hal 77) agama bida dipahami melalui dimensi-dimensi keberagamaan, yang terdiri atas beberapa hal, yaitu:

a. Aspek Keyakinan (Religious belief) merupakan penerimaan individu pada hal-hal dogmatis dalam agamanya.
b.Aspek Ritual/ Praktik (Religious Practice)menunjukkan seberapa jauh individu menjalankan kewajiban-kewajiban ritual yang telah ditetapkan agamanya.
c. Aspek Pengalaman (Religious Feeling)menunjukkan suatu pengalaman beragama yang berisikan perasaan-perasaan, persepsi-persepsi dan sensasi-sensasi yang dialami seseorang ketika berkomunikasi dengan Tuhan.
d.Aspek Pengetahuan (Religious Knowledge) mengacu pada seberapa jauh pengetahuan seseorang terhadap agamanya.
e.Aspek Konsekuensi (Religious Consequences) mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktik, pengalaman dan pengetahuan seseorang dari hari ke hari.

Dimensi ideologis dan intelektual adalah aspek kognitif keberagamaan. Dimensi eksperiensial merupakan aspek afektif keberagamaan. Dimensi ritualistik dan konsekuensial sebagai aspek behavioural keberagamaan.

Dari kelima aspek tersebut di atas, kita melihat bahwa agama sebagai variabel yang multidimensional. Terdiri atas berbagai aspek yang saling berkaitan satu sama lain. Misalnya: kita melihat seseorang yang rajin beribadah tetapi berperilaku buruk kepada tetangganya. Hal itu berarti ada aspek religiusitas yang perlu diperbaiki, dalam hal ini konsekuensi. Demikian pula sebaliknya, ada yang jarang beribadah tetapi bersikap baik dan ramah kepada tetangganya. Berarti yang perlu diperbaiki aspek ritual ibadah.

Semarang, 22 April 2010
dari berbagai sumber

2 pemikiran pada “Agama dalam Perspektif Psikologi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s