Menerapkan ilmu Padi yuk!!!

Baru saja aku berkangen ria dengan teman kuliah lewat chatting.
Ternyata lama tidak bersua, membuat awal obrolan jadi tidak sehangat dulu, saat kami sering berdiskusi dan mencari tugas kuliah bersama-sama.

Rentang waktu dan kemajuan teknologi terkadang membuat yang dekat menjadi jauh dan yang jauh menjadi dekat. Aneh pula, bila orang yang selama ini dekat dengan kita karena lama tidak saling sapa di facebook, sms atau telepon jadi sedikit merenggang. Di sisi lain, orang yang baru kita kenal sepintas lalu, tapi karena sering bertegur sapa lewat blog, menulis di wall facebooknya, malah bisa terasa dekat.

Facebook di sisi lain memudahkan tali silaturahmi dengan kawan-kawan lama kita, memudahkan mendapatkan berbagai informasi, dari yang sifatnya isu internasional, global bahkan yang privasi, kehidupan sehari-hari orang yang bersangkutan.

Saat di dunia nyata mungkin kita mengenal seseorang yang kalem, pendiam. Eh, setelah menjadi temannya di facebook kita jadi tahu kalau ternyata dia lucu, unik, dsb. Facebook membuat kita lebih mengenal karakter pribadi, kesukaan, kelebihan/potensi dari teman-teman kita. Walaupun tidak secara keseluruhan, setidaknya ada gambaran bagaimana kehidupannya, pergaulan sosialnya, pemikirannya (lewat notes) maupun sisi lain dari teman- teman kita. Jadi tak selamanya facebook itu negatif.

Yang menjadi kurang menyenangkan bagi saya adalah saat jumlah teman semakin bertambah maka intensitas kedekatan cenderung berkurang. Kita tidak bisa membagi dan memberikan tanggapan perhatian kita secara merata pada semuanya. Tetap saja kita memiliki teman yang bisa saling sering bertegur sapa. Tetapi ada juga yang sekedar approve sebagai teman dan sudah tidak ada lagi interaksi yang lebih jauh lagi.

Dalam jejaring sosial juga seperti komunitas di masyarakat, kantor, lingkungan kuliah, kerja maupun komunitas lainnya. Terlihat dan terasa adanya in group dan out group. Ketika ada seseorang yang pasang status di wall, kalau diperhatikan orang itu-itu saja yang menanggapi. Ada yang mungkin tertarik menanggapi tetapi merasa kurang dekat dengan orang tersebut, jadi urung untuk nimbrung.

Di sisi lain, seiring bergantinya situasi, kondisi akibat dinamika hidup, bisa juga membuat teman dekat di jaman SD menjadi tak dekat lagi. Bukan karena sombong atau bagaimana, tetapi ketika ketemu langsung seakan ada bait-bait yang terputus dan tidak mudah untuk menyambungnya agar tetap menjadi lagu yang indah. Saat ngobrol topik jadul (jaman dulu) saat bersama-sama akan nyambung dan enak banget. Tetapi saat obrolan itu mendekati dan berubah ke arah sekarang, saat perubahan terjadi pada diri masing-masing (entah perubahan status sosial, gelar, jabatan, pendidikan maupun embel-embel lain), kedekatan itu kembali berjarak.

Ah, kita memang harus pandai-pandai menempatkan diri. Bagaimana kita tetap bisa dekat dengan teman-teman, akrab, walau berbagai dinamika hidup dan perubahan mewarnai kita.

Tetap mencoba mengamalkan ilmu padi. Semakin berisi semakin merunduk. Walau kita telah memperoleh kesempatan untuk menimba ilmu tak berarti membuat kita menjadi sombong dan tak mau akrab dengan teman -teman kita dengan berbagai latar belakang dan kondisi yang belum tentu seberuntung kita.

Kita perlu menyadari di atas langit masih ada langit.. Kita bukan yang terhebat, jadi tak perlu sombong. KIta juga bukan yang paling bodoh, jadi tak perlu minder.

Gapailah bintang yang tinggi di langit, tetapi rendahkan hati sedalam mutiara di dasar laut.
Semoga bisa =)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s