Keep on Trying

Terus Berjuang dan berproses

Tetap Berjuang dan Berproses (Dwee-Marty)

Ada satu hal yang menarik, ketika seorang kenalan bercerita pada saya. Dia ingin mengurangi kebiasaan buruknya. Dengan santainya menceritakan kalau mempunyai “rasa” dengan seseorang, nota bene bukan istrinya. Bahkan dia mengatakan “lagi butuh vitamin” niy. Begitulah kalau dia sedang kangen dengan wanita pujaannya. Sms atau telpon-telponan dia lakukan. Lebih mesra dibandingkan ketika dia lakukan dengan istrinya. Saya saja bisa membedakan bagaimana ekspresi wajahnya, kemesraannya ketika dia menelpon ‘sang vitamin’. Anehnya lagi, ketika dia menelpon istrinya dia ga bisa selama dan semesra itu. Saya sampai mesem-mesem dan kadang sengaja batuk-batuk mengganggunya ketika dia sedang membutuhkan vitamin.

Entah bagaimana bermula saya belum tahu persisnya. Tetapi dia mulai takut, sewaktu-waktu istrinya akan mencium kelakuannya itu. Apalagi dia sudah sering jalan bareng dengan sang vitamin. Menginap di rumahnya vitamin. Gubrak! Saya saja ga menyangka sama sekali. Pasalnya, dia itu rajin puasa Senin-Kamis. Dia terkadang juga menyelipkan hadits atau ayat Al Qur’an di sela-sela ngobrol dengan saya. “Tapi ga sampai macam-macam lho Mb”, ucapnya pada saya. “iya, tetapi kondisi hati kita tak selamanya fit Pak, kontrol diri kita juga tak selalu baik. Bisa jadi saat itu, Anda bisa menahan diri. Tetapi belum tentu di masa yang akan datang”, protes saya. Dia hanya mesem-mesem. Begitulah orang sedang jatuh cinta. Saya sampai heran dibuatnya.

Latar belakang dia bisa sampai dekat si wanita itu berawal dari rasa kasihan. Dia korban KDRT suaminya. Seorang janda. Rasa tak enak untuk menolak ketika sang vitamin membutuhkan teman untuk curhat. Lama-lama menjadi suatu kebutuhan manis diantara keduanya. Bahkan si Bapak terlihat kurang bersemangat bila lama tidak menghubungi vitamin. Wah, entah itu bisa terjadi. Saya belum tahu gambaran si vitamin. Apakah lebih cantik dari istrinya atau tidak. Yang pasti dari keterangan si “oknum” maksud saya si Bapak, dia merasa nyambung dan asyik saja dengan si vitamin. Dia tak jarang curhat juga masalahnya pada si vitamin, bukan minta pertimbangan dari si istri. Terciptalah suatu romantisme simbiosis mutualisme. Huh, saya sendiri masih bingung untuk mencoba mencari jalan keluar. Dalam arti, solusi praktis untuknya. Konseling macam apa yang bisa membuatknya kembali ke jalan yang lurus. Teori itu mudah, tetapi ketika berhadapan dengan realita maka akan berbaur menjadi suatu proses yang tidak lagi mudah.

Tetapi ada satu hal yang saya salut dari dia. Dia melakukan puasa Senin –Kamis, salah satunya untuk membatasi dirinya agar lebih bisa terkendali. Ketika dia puasa saya lihat lebih kalem, lebih santun. “Saya kan sedang puasa Mb,’ Dia menjawab ketika saya senyum-senyum saja melihatnya berusaha membatasi hubungannya dengan ‘si vitamin”. Di lain waktu, saya mengingatkan dia “puasa lho Pak, ga boleh mesra-mesraan”. Saya malah kadang jadi risih sendiri. Saya juga tak mau ikut menanggung dosa tanpa berani mengingatkannya.

“ Saya kok merasa puasa saya ga berguna ya Mbak. Saya masih saja begini,” ucapnya lemas di suatu waktu. “Pak, puasa itu kan seperti membersihkan kotoran. Mungkin berat dan capek ketika merasa sudah melakukan yang terbaik, tetapi masih juga belum terlihat hasilnya. Tetapi setidaknya bapak sedang berusaha untuk membersihkan kotoran itu,” jawab saya.

“iya Mb, saya jadi bersemangat kembali. Terima kasih atas supportnya.” Katanya sambil tersenyum padaku.

“Tetapi capek juga Pak, Kalau sudah dibersihkan segera dikotori lagi. Akan lebih ringan bila menjaga jangan sampai kotor lagi, jadi membersihkannya tidak berat. Kaca kena debu sehari-hari saja juga butuh dibersihkan Pak. Apalagi bila sengaja dikenai lumpur, “ jawab saya.

Dia diam.

Setidaknya kita berusaha melakukan yang terbaik, Allah tidak akan menyia-nyiakan usaha hambaNya. Suatu saat semoga mentari indah itu benar-benar dikirim Allah untuk kita. Mengusir gelapnya mendung yang kini menghiasi. Amiin. Semoga

Smg, 17 Februari 2010 @ 04.00 WIB

NB: semoga saya juga bisa dan tetap berusaha menulis dengan baik, apapun hasilnya =)

One thought on “Keep on Trying

  1. Catatan Mentor:

    1. Judulnya menarik. Meksi menggunakan bahasa Inggris, tapi mudah dipahami dan bisa memahami secara sekilas isi dari judul yang dibuat tersebut. Ok!
    2. Pemaparan Anda sudah cukup bagus. Mengalir deras. Enak dibaca. Lancar, luwes, sederhana tapi mudah dimengerti. Ok!
    3. Isinya juga punya pesan kuat untuk mengingatkan. Memberikan inspirasi dan motivasi. Ok!
    4. Hanya saja yang perlu diperbaiki adalah penulisan kata yang sesuai dengan EYD. Masalah EYD pernah saya bahas secara cukup panjang bagaimana posisinya dalam sebuah tulisan. Sebagian masalahnya sudah dibahas pada catatan sebelumnya. Untuk lebih bagusnya lagi, silakan memiliki buku pedoman penulisan EYD yang dikeluarkan oleh Pusat Bahasa.

    Ok. Jadi secara umum kemapuan menuangkan gagasan secara tertulis sudah cukup bagus. Hanya perlu diasah untuk lebih bagus lagi. Mengasah kemampuan menulis, ya dengan sering menulis. Tetap semangat!

    Salam,
    O. Solihin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s