Fokus Pada Puzzle Hari Ini!

Kata-kata bijak mengatakan fokuslah pada hari ini. Hari ini adalah karunia, kemarin sudah menjadi sejarah dan masa depan adalah misteri.

Fokus pada hari ini. Harusnya begitu. Tetapi kita seringkali protes dengan kondisi. Entah dengan kejujuran hati atau tanpa kita sadari. Bagaimana itu terjadi? Otak kita menyimpan memori, hati kita punya ukiran setiap hari. Rasa seringkali tidak bisa dibohongi. Ah, sejumlah rasionalisme yang datang silih berganti melintasi.

Manusia pada awalnya seperti selembar kertas putih. Warna apa yang akan tercipta adalah hasil dari ukiran kita sendiri. Begitulah John Locke berkata dalam teori tabula rasa . Dalam pandangan Islam sendiri mengatakan, manusia lahir dalam kondisi fitrah, orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi. Sejak lahir kita baik, pengalaman dari lingkungan sekitarlah yang berperan penting membentuk diri kita saat ini.

Diri kita saat ini adalah hasil dari susunan puzzle waktu demi waktu di masa lalu. Terkadang, kita masih terjebak dengan puzzle masa lalu. Puzzle kita hari ini bukanlah semata-mata karya kita murni. Ada Kuasa Allah di dalamnya, yaitu hasil kolaborasi antara ikhtiar, doa dan tawakal kita pada-Nya. Puzzle kita tak selalu sesuai dengan harapan kita. Mungkin ada beberapa bagian yang “terputus” di tengah jalan. Mau tidak mau harus kita ganti dengan warna atau bentuk lain. Awalnya kita ingin bentuk puzzle mawar putih. Ternyata puzzle yang tersedia hanya memungkinkah untuk menjadi melati mungil. Berganti dengan puzzle berikutnya dengan bentuk yang tidak akan pernah sama dan tidak bisa kita duga jelas puzzle seperti apa pada akhirnya. Setelah potongan puzzle itu tersedia untuk kita, barulah kita tahu, oh ternyata inilah yang Allah kehendaki.

Namun, adakalanya saat kita menyusun puzzle baru, sesuatu terjadi. Tiba-tiba kita teringat dengan bentuk puzzle yang dulu pernah kita harapkan tetapi “terputus” di tengah jalan. Walau melati mungil sudah Allah beri ke kita. Entah mengapa masih terkesan dengan bentuk mawar putih. Tak bisa menghilangkan kesan mawar putih di sela-sela kita menyusun puzzle setiap hari. Bagaimana kita bisa fokus pada puzzle hari ini jika mimpi puzzle di masa lalu masih juga membayangi? Apakah kita tidak mensyukuri apa yang Allah karuniakan pada kita?

Saat saya berbincang dengan seorang teman, katakanlah namanya Verdi. Dia mengatakan, tetap tidak bisa mbak. Dia mempunyai arti tersendiri di hati. Tidak akan bisa diganti. Bolehlah yang baru datang, tetapi bentuk dan rasanya berbeda. Saat saya bertemu dengannya beberapa saat lalu, jujur saya akui “rasa itu masih ada”. Padahal kami sudah tidak bertemu puluhan tahun lho.

“Cinta lama bersemi kembali dunk?” tanyaku.

“ Iya.. mungkin begitu,” jawabnya tersenyum malu.

“Dia juga sepertinya masih menyimpan rasa, saya masih bisa merasakannya,” tambahnya.

Pfff… bagaimana ini? Aku bertanya dalam hatiku sendiri.

Wah seneng bisa dipercaya mendengarkan unek-unek orang lain. Walau tak jarang, saya sendiri bingung menanggapinya. Setidaknya berlatih jam terbang. Toh yang jadi kelinci percobaan saya juga dengan senang hati minta pendapat saya. Padahal saya belum menikah dan mengetahui pasti bagaimana kehidupan berumah tangga. Selagi bisa memberi manfaat walau hanya sekedar mendengarkan teman-teman atau siapapun yang curhat, saya sih oke-oke saja. Solusi bisa sambil jalan. Terkadang orang curhat juga hanya ingin didengarkan. Solusi praktis ya saya beri beberapa alternatif semampu saya. Herannya, mereka kok menyimak dengan seksama ya. Niat tulus, insya Allah akan tetap diperhatikan. He he he

Susahnya, mereka biasanya selalu punya jurus jitu untuk mencari pembenaran atas tindakannya itu. Seperti kasus si Verdi itu. Wah- wah wah, teknik konseling macam apa yang mesti dipakai ya? Rasional emotif? Transaksional? Atau psikoanalisis, jurusnya Freud yang mencari akar masalah dengan fokus menggali masa lalu. Saya tak pernah memikirkan hal itu. Mengalir sajalah. Malah bisa semakin pusing.

Sudah wajar sih, bila kasus Verdi terkadang menimbulkan suatu ‘masalah’. Dalam arti kita bisa kembali terjebak dengan pesona indah puzzle di masa lalu.

Solusinya sih, kontrol-lah diri kita. Dengan nilai-nilai agama yang kita anut, dengan sistem moral yang berlaku di masyarakat. Luruskan kembali niat. Ingatlah bahwa itu hanya masa lalu. Biarkan berlalu, jangan memberati langkah kita di saat ini. Jangan biarkan puzzle yang sedang kita bentuk ternodai.

Bila masih terngiang-ngiang dengan masa lalu, kita akan berat untuk melangkah ke depan. Puzzle saat ini juga menjadi tidak terasa indah lagi.

Syukurilah kondisi saat ini. Walau berbeda dengan puzzle yang kita idealkan. Toh, masing-masing punya pesona keindahannya masing-masing, bukan? Jika sesekali melintas, tepiskan! Jangan biarkan kembali bersemi. Walau sakit, walau terluka. Insya Allah tidak akan sia-sia. Itu adalah salah satu bentuk ujian kenaikan tingkat keimanan kita. Bukankah Allah tidak akan membiarkan hambaNya mengatakan beriman, tanpa adanya ujian?

Lepaskan, ikhlaskan puzzle ‘terputus’ di masa lalu. Kita menjadi lebih ringan untuk menyambut masa depan. Apa yang terbaik menurut kita belum tentu terbaik menurutNya. Yakinlah, Hanya Dia yang Maha Tahu baik buruknya sesuatu bagi kita.

Wahai pemilik nyawaku

Betapa lemah diriku ini

Berat ujian dariMu

Kupasrahkan semua padaMu

Tuhan, baru kusadar

Indah nikmat sehat itu

Tak pandai aku bersyukur

Kini kuharapkan cintaMu

Kata-kata cinta terucap indah mengalir berdzikir di kidung doaku

Sakit yang kurasa, biar jadi penawar dosaku

Butir-butir cinta air mataku

Teringat semua yang kau beri untukku

Ampuni khilaf dan salah selama ini ya Illahi

Muhasabah cintaku

Tuhan.. kuatkan aku

Lindungiku dari putus asa

Jika kuharus mati

Pertemukan aku denganMu

(NASYID MUHASABAH CINTA: EDCOUSTIK) (Catatan redaksi: sakit di sini dalam arti hati yang sakit)

Semarang, 18 Februari 2010 @ 03.00 WIB

NB: Moga saya bisa mengerjakan tugas-tugas menulis yg belum selesai. Amiin

Puzzle

Puzzle Kehidupan

Puzzle kehidupan

Puzzle of Love

2 thoughts on “Fokus Pada Puzzle Hari Ini!

  1. Catatan Mentor:

    1. Jika tak membaca isinya, judulnya membuat bingung. Tapi unik. Okelah. Ini hanya teknik menarik pembaca. Meski judulnya bagi kalangan tertentu membingungkan, tapi isinya sudah banyak menjelaskan dari maksud pilihan kata “puzzle” dalam judul tersebut. Ok!
    2. Cara Mbak Dwi memaparkan sebuah gagasan dalam tulisan ini terasa kuat dalam memahami isinya. Jadi selain mengalir, juga jelas arah dan muaranya pada kesimpulan yang sudah dirancang sebelumnya. Fokus dan runut dalam memberikan penjelasan. Mudah dipahami dan enak dibaca.
    3. Isinya, meski masih bisa diperdebatkan, karena tidak bisa mengeneralisir semua masalah “masa lalu”, bahwa “masa lalu” harus ditinggalkan dan fokus pada hari ini. Sebabnya, tak semua “masa lalu” harus begitu saja ditinggalkan. Kadang, ada yang perlu dan wajib dibangkitkan kembali. senyum (misalnya tentang penerapan syariat Islam, yang pernah diterapkan di masa lalu, dan kini tak diterapkan dalam sebuah negara, maka upaya mengingat dan mencoba menerapkannya kembali menjadi sebuah perjuangan bagi yang meyakini syariat Islam sebagai solusi atas berbagai problema kehidupan. Mereka tidak akan fokus pada sistem hukum yang ada saat ini). Jadi, tak semua “masa lalu” harus dikubur dalam-dalam. Dalam contoh di tulisan ini, tepat bahwa harus fokus pada puzzle hari ini. Karena kasusnya kan berbeda. senyum Tapi secara umum, tulisan Mbak Dwi sudah berkarakter. Khas. Mungkin karena memiliki latar belakang psikologi sehingga tulisannya berkarakter dan bagus.
    4. Untuk EYD sudah mulai berkurang salah tulisnya. Beberapa hanya salah ketik. Ok!

    Ini saja catatan dari saya. Semoga bermanfaat dan kian menambah semangat untuk terus menulis dan menulis.

    Salam,

    O. Solihin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s