Membaca dan Dibaca Dunia (Memilih Bacaan Identik Memilih Teman Berbincang)


Memilih bacaan identik dengan memilih teman berbincang. Ya, membaca buku yang populer dan ringan seperti mengobrol santai dengan teman. Ketika membaca novel seperti reuni karena asyik, lama dan tak sadar telah berjam-jam membacanya. Membaca cerpen, artikel populer, surat kabar seperti menyapa teman, cuma sebentar dan sekilas saja. Kalau ada yang penting dikliping. Hahaha seperti kalau ketemu teman dan ada perlu, ngobrolnya bisa lebih lama. Itu yang sayarasakan.
Yang saya masih belum terbiasa adalah membaca jurnal.. Rasanya seperti mengobrol dengan dosen. Ada sisi-sisi ilmiah bahasa tulisan yang membuat otak berpikir lebih keras dan serius. Apalagi jurnal internasional, wah seperti ketemu dosen dr luar Indonesia. Kadang ada sih yang bahasa Inggrisnya mudah saya pahami. Kadang pula ada bahasa Inggris yang susah saya pahami. Biasanya karena topik yg dibahas masih hal baru bagi saya. Lengkap dengan istilah-istilah yang belum familiar buat saya. Ah, sepertinya tergantung juga dengan si pembaca. Kalau niat atau motivasi kuat, maka rasa ingin tahu insya alloh bisa mengalahkan keenggNan mengobrol dg jurnal internasional. Justru menimbulkan penasaran.. Ingin menelusuri lebih jauh referensi di foot note nya.
But,apaboleh buat jika foot note nya berbahasa Arab, gundul lagi.. Semacam Fikh Al Zakh Yusuf Qardhawi, Al-AMWAL nya Abu Ubaid, Muqaddimah Ibn Rusyd, Al- Kharaj etc. Saya akan mencari pihak ketig, ke empat, kelima, yang telah membacanya. But kelemahannya adalah, bisa timbul perbedaan pandangan/pemahaman terhadap buku sumber tersebut. Di sinilah saya merasa terbatas untuk mengobrol dengan buku-buku dan jurnal Arabic, sayang sekali bukan terkendali bahasa?
Rasanya seperti ada kesempatan tapi tak bisa berbuat apa-apa. Sedih ada, but its oke.. Ketika berbincang-bincang dengan buku terkendala bahasa, masih ada dosen yang bisa berbincang langsung dengan kita. So, jadikan dosen dan buku teman berbincang yang menyenangkan, asyik, hingga tak sadar telah mendapatkan ilmu.. Ya, harusnya begitu..

Membaca dunia dan dibaca dunia…

Ah, slogan kampus Sps Uin Jakarta yang tidak semudah mengatakannya.
MEMBACA dan menghasilkan karya yang layak dibaca dunia. Semoga saya bisa.. aamiin

Menulis Tesis (Nasehat untuk Diri Sendiri)


Menulis tesis tak seperti menulis puisi, diary atau blog curahan hati. Tak mudah merangkai kata-katanya. Sistematis itu tantangannya, bagi seorang yang terbiasa berpikir acak dan loncat-loncat.

Menulis tesis juga tak semudah sekedar mengutip sini dan mengutip sana. Apalagi bagi seorang yang butuh gambaran utuh dan menyeluruh sebelum akhirnya mencoba menguraikannya secara lebih detail. Bila belum mendapat gambaran besar, rasanya tak bisa merangkai kata walau hanya sederhana. Butuh membaca-dan terus membaca sekedar mengetahui kerangka tulisan yang sebenarnya, barulah mulai menuliskannya.

Menulis tesis tak semudah yang orang bilang. Tulis saja. Baca tulis, baca tulis. Karena bagi seorang yang masih pemula. Merangkai kata saja sulit apalagi menulis satu hari satu halaman agar 100 hari selesai karyanya.

Menulis tesis tak semudah yang orang kira. Kalau pekerjaan banyak menyita, fokus buyar semuanya, mood menulis langsung hilang seketika.  Tak bisa diselingi pekerjaan karena begitu sehari saja ditinggalkan, esok lusa sudah lupa sampai di mana ide akan dilanjutkan.

Menulis tesis tak semudah yang sudah terbiasa. Mencari ide agar mengalir susahnya bukan main. Bukan jalan mulus yang ditemui tetapi malah jalan buntu, bukan karena apa, karena kurang membaca buku.

Menulis tesis tak semudah menuliskan rasa di jiwa. Bukan karena apa, “kata pepatah ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Sayangnya, bagaimana mengikatnya kita tak tahu. Ilmu keburu terlupa, sebelum diikat sudah lari tanpa meninggalkan jejak sama sekali.

Menulis tesis tak ringan. Tesis tak bisa dibangun hanya dalam waktu semalam. Beda dengan makalah yang bisa SKS semalam dikebut selesai walau seadanya. Tesis ibarat lari marathon, bukan lari sprint. Kau butuh komitmen, disiplin, tekun, rajin, pantang menyerah, rendah hati untuk bertanya. dan tak kalah pentingnya, mengikuti prosedur kampus yang kadang melelahkan dan menguji mental kita.

Tesis juga bukan hal yang bisa semau kita. Ada aturan tata tulis dan sistematika ilmiah yang harus kita pelajari. Selingkung dan transliterasi. Pun berkaitan dengan pembimbing dan penguji yang suka menguji nyali. Butuh komunikasi efektif dan belajar menjadi gelas kosong, agar terisi. Ilmu datang dan merasuk ke jiwa karena adanya etika dan adab bagi penuntut ilmu.

Tesis juga tak bisa kau kebut seperti halnya ujian akhir semester. Ia berkaitan dengan sistem, orang lain, berkaitan dengan jadwal kampus, jadwal para dosen, dan faktor kemudahan dariNya. Banyak-banyaklah berdoa dan mohon restu orang tua agar kau mudah melaluinya.Selesai satu tahap masih ada tahap berikutnya. Tak terkecuali ketika dikoreksi, dikritik, seberapa tangguh segera kau perbaiki untuk segera menghadap lagi?

Sidang proposal, WIP 1, TOEFL, komprehenship sudah terlalui

Sidang WIP 2, Pendahuluan, TOAFL/ITLA,  sedang diusahakan hingga lolos sidang promosi..

Itupun belum bisa terima ijazah sebelum membukukan karya dan mengirimkannya dalam bentuk makalah/jurnal.

Ah tak mengapa, tak usah dipikirkan dikerjakan saja, setidaknya sudah separuh perjalanan terlalui..

Bismillah, semoga saja yang separuh lagi penuh dengan kemudahan dariNya. Aamiin

 

 

 

 

 

 

 

 

 

My mind tells me to give up, but my heart won’t let me


Rintik hujan pagi ini mendendangkan lagu sumbang di hati. Padahal, biasanya aku suka hujan di pagi hari, karena menyegarkan bumi..

Entahlah, aku yang berusaha kuat padahal sebenarnya lemah, atau bagaimana..Katanya Tuhan tidak membebani manusia di luar batas kemampuannya, nyatanya aku merasa ini diluar kapasitasku.. Membuatku susah bernafas. Serasa semua tempat membawa beban-nya masing-masing. Tidak ada sedikit ruang untuk sekedar sejenak saja melepas penat.. Tak ada tempat yang bisa membuatku fokus menyelesaikan urusan satu-persatu. Tak sabarkah denganku, atau aku yang terlalu lamban?

Ketika aku di sini, ditanyakan urusan di tempat lain. Ketika di tempat lain, ditanyakan urusan di sini, begitu dan selalu begitu… Bagaimana bisa fokus? Buyar… selalu begitu.. dan semuanya berkelindan dan saling berkaitan satu sama lain. Menyebalkan bukan?

Aku sedang berusaha semampuku.. Aku cuma satu, otakku satu, tangan dua.. bagaimana bisa kelar semua urusan bersama-sama??? Mungkin aku sedang belajar bagaimana bisa tangguh.. menghadapi berbagai urusan secara bersama-sama, di himpit deadline secara bersama-sama pula..

Belum pernah dapat teka-teki menyulitkan seperti ini sebelumnya. Padahal aku sadar, setiap perjalanan hidup selalu menyisakan teka-teki. Lepas dari satu masalah, ganti masalah lain. Kadang suatu masalah belum selesai bahkan, eh sudah datang masalah baru lagi. karena hidup itu sendiri ujian dari masalah- masalah. Bagaimana kita merespon semua masalah yang hadir. Itu kuncinya.

dan yang paling menyebalkan, ada bagaimana bisa belajar tetap fokus dan semangat di sela-sela berbagai himpitan yang menyesakkan dada itu.. Some times i wanna give up, but my heart won’t let me..

Alloh selalu bersama kita, sepanjang kita yakin bersama kesulitan ada kemudahan.. akan ada jalan keluar dari setiap masalah. Setiap akhir sesuatu akan ada awal yang baru.. Setiap pahit akan ada manis, dan setiap luka akan ada obat untuk menyembuhkannya..

Menyalahkan orang lain itu jalan termudah, namun tidak menyelesaikan. Menyalahkan orang lain yang telah mengambil keputusan untuk kita juga tak selamanya benar adanya, karena salah siapa juga mau-maunya menuruti orang lain. Walaupun itu orang tua kita sendiri. Dengan alasan tak mau mendebat orang tua, takut durhaka. Padahal orang tua tak selamanya benar. Namun lagi-lagi, orang tua, orang yang berwenang, seperti pejabat yang berkuasa, punya hak prerogatif untuk mengatur dengan kuasanya. Kuasa pimpinan terhadap anak buah untuk menyuruh melakukan suatu pekerjaan. Kuasa orang tua terhadap anaknya agar berbakti padanya. Kuasa seorang dosen pembimbing terhadap mahasiswa bimbingannya, dsb. Walau sebenarnya bisa dikomunikasikan, asal bisa berjalan dua arah.

Terkadang sulit untuk merendahkan hati, legowo..

Legowo terhadap kebijaksanaan atasan, orang tua, pejabat yang berkuasa dsb..

Di sinilah pelajaran hidup yang susah didapatkan sekedar dari bangku kuliah.

Ibarat murid yang harus takzim terhadap perintah gurunya.. walau kadang tak seide, tak sependapat atau sepemikiran. Kita yang dituntut untuk menyesuaikan dalam hal teknis dan metode. Walau terkadang terkesan kaku dan kurang kompatibel dengan kita. Dan lagi-lagi hal itu tidaklah mudah untuk dijembatani.. aku punya keterbatasan dan orang lainpun demikian. Antar keterbatasan itulah butuh jembatan yang menghubungkan. Cuma, terkadang jembatan penghubungnya itu tak mudah dicari di mana letaknya? Semoga Dia menunjukkan di mana jembatan penghubung dan mampu mengikatkannya dalam ukhuwah persaudaraan yang erat. Aamiin YRA

 

 

 

 

 

Cuti Tesis


 

Hingga pergantian tahun 2017, saya masih datar-datar aja belum semangat menyiapkan resolusi yang ingin dicapai apa di tahun ini. Hmm seakan mengalir saja tanpa ada target yang greget. Padahal ya sudah mentok, ditarget ga ditarget ya sudah seharusnya lulus tahun ini (hadeeeeh, ini adalah resolusi tahun-tahun sebelumnya yang belum tercapai, capek dech). Tapi bagaimana lagi.. memang belum kesampaian, ya terpaksa harus dilanjutkan sampai selesai (emang masih mau nambah tahun depan yak? wk3)

The problem is… masalahnya adalah? ini sudah akhir Januari dan masih juga belum mengetik satupun huruf untuk melanjutkan bab 4 tesis saya.. (Ga lucu, ga usah tertawa). Sedih malah, hiks3.

Saya ambil cuti 3 bulan. Wah lama sekali? Mau ngapain aja? kaya orang hamil aja,  biasanya begitu kalau ada yang mendengar saya ambil cuti 3 bulan. Rese banget sih. Hmmm wajar sih, kalau mendengar 3 bulan memang rasanya lamaaaaaa bangeeeeed. Padahal kalau digunakan untuk menyelesaiakn tesis rasanya sebentaaaaar bangeeed. Begitulah, waktu relatif. Terasa lama bagi yang menunggu, dan terasa begitu cepat bagi yang sedang jatuh cinta…

Sudah mau lahir belum tesisnya? kan udah hampir sebulan terlewati. Progressnya apa? duh sedih kalau ditanya progressnya apa.. Progressnya adalah sudah ikut latihan nyetir, besok sabtu tinggal safety driving. Lumayanlah walau belum bisa parkir lurus dan mundur, belum berani di jalan sempit, masih nervous kalau macet etc.. dan belum ditarget dapat SIM A karena masih harus memperlancar dulu. Setidaknya waktu tidak terbuang percuma kan? Dhafa sudah sunat (apa hubungannya dengan tesis ya). Ehm itu satu tugas dan amanah yang sudah tertunaikan dan menimbulkan 1 kelegaan tersendiri. Progress ketiga adalah sedang ambil kursus Arab Qowaid walau masih banyak yang belum ngerti dan paham karena kalau disuruh baca Arab gundul juga masih belum tentu bener baca a, i, u nya. Setidaknya ada tambahan ilmu tentang rumus-rumus perubahan dhomir  (tanda baca di huruf Arab) walaupun dalam prakteknya masih sangat belepotan. Its oke lah, daripada buta sama sekali..

Kalau PR yang belum terselesaikan masih baaanyak… yah… setidaknya ada beberapa hal yang ingin saya capai tahun ini. Namun keinginan terbesar adalah lulus S2.. Dan waktu cuti saya tersisa 2 bulan.. Semoga dimudahkan dan dilancarkan untuk menyelesaikan.

Jadi ingat pesen salah satu pimpinan di kantor, jangan sampai ambil cuti tesis tapi malah “sia-sia”. Pergunakan waktu yang ada sebaik-baiknya. Optimalkan untuk nulis tesis.. Pekerjaan kantor bisa sambil tetap dikerjakan, tp jangan sampai melenakan dan melalaikan dari tesis.

Rasanya, cuti tesis ini adalah kepercayaan yang menyesakkan dada saya saat ini. Membuat makan saya terasa tak enak, tidur pun tak nyenyak. Buka laptop pun terasa bingung mau menulis lagi dari mana (karena efek lama jeda nulis tesis). Sharing sama teman di kampus malah ditertawakan… Ada juga cuti tesis yaaa… wk3. Nyuruh saya istighfar sebanyak-banyaknya agar diberikan ilham untuk menulis…

Ketika saya share lagi dengan teman lain dan mengajaknya sambil ikut kursus bahasa Arab di samping menulis tesis di akhir Desember kemarin, teman saya menolak. katanya dia mau fokus tesis aja, biarkan bahasa Arab menyusul kemudian.. karena menurutnya tesis bener-benr harus fokus dan menyita tenaga dan pikiran.

Cuma, entah kenapa, saya memutuskan untuk sambil belajar bahasa Arab, dan akhirnya beginilah.. di akhir januari ini, belum satupun huruf saya tambahkan di bab 4 saya, kerjaan kantor juga belum saya sentuh lagi.. It’s oke.. Fine!! (marah, kecewa? ) Hahaha, yang pasti jangan sampai menyalahkan bahasa Arab sebagai kambing hitam untuk tidak menulis tesis ya.. itu salah..

Yang benar adalah Bekasi- Ciputat sudah lumayan menguras tenaga di jalan. Jadinya waktu saya banyak terbuang di jalan.. dan belajar bahasa Arab bagi saya butuh fokus dan ketelatenan, bukan sekedar sambilan menyelesaikan tesis. Jadinya tak bisa mengerjakan dua-duanya. Bener juga kata Sarah yang memutuskan fokus tesis dulu..

Masing-masing orang punya kapasitasnya sendiri-sendiri. Bagi orang lain mudah, bagi saya mungkin butuh usaha keras, pun sebaliknya dalam hal lain.

Namun demikian, tidak membuat saya kapok untuk belajar bahasa Arab lagi. selesai sesi Qowaid 1, saya break dulu. Bukan karena menyerah dengan bahasa Arab karena belum benar-benar menguasai, melainkan karena tesis sudah menanti di depan mata sekian lamanya.. dan tak bisa dan tak sanggup kumendua..

Apalagi saya ketemu ustadz yang mampu mengubah paradigma saya tentang bahasa Arab, yang tadinya serasa bahasa planet jadi lumayan membumi, walau belum paham-paham amat setidaknya ada lah yang bisa saya tangkap dari uraian materi yang beliau sampaikan. So, sebenarnya berat juga untuk mengakhiri. Namun untuk meneruskan juga tak bisa untuk saat ini.. Dilemaaaa… jiaahhh. Serasa patah hati putus dari pacar.. ceile… Iyalah, di saat lagi penasaran belajar bahasa Arab eh tiba-tiba diputus karena situasi dan kondisi, gimana ga patah hati..

Sama halnya juga, saya pasrah bila memang belum bisa dapat SIM A. Break dulu buat tesis… Tesis itu bukan segalanya. namun segalanya bisa kacau karena tesis…

Bismillah,laa haulaa walaa quwwata illaa billah.. Semoga dilancarkan, dimudahkan, diberi petunjuk untuk menyelesaikan tesis. Aamiin YRA.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Curhat Akhir Tahun 2016


Setelah selesai suatu urusan masih banyak urusan lain yang menunggu. Bijaklah dalam mengatur dan memanfaatkan waktu. Namun tidak selalu begitu menurut saya. Ada kalanya butuh jeda seharian tidak mengerjakan hal-hal yang serius. Otak dan tubuh butuh refresing, sekedar cooling down setelah dikejar-kejar deadline yang membebani dan bikin stress. kalau stres malah ga bisa mengerjakana apa-apa. Mengerjakan ini eh otaknya mikiran itu, bercabang-cabang. Tetapi kadang kala begitu kondisinya. di kntr di tanya ini, itu, minta cepet semua. waduuuhhh puyeng. gimana mau selesai kalau begitu. Satu persatu diselesaikanlah.. Kalau ga mau bersabar ya kerjakan sendiri,ga usah nunggu-nunggu atau minta tolong saya… Jiaahhhh.. bisa keluar tanduk saya.

Long weekend ini ya santai aja. “Me Time”. Seharian bisa nonton film beberapa judul menyenangkan juga setelah sekian lama serasa ga punya me time. Nonton ILy 3800, Jilbab Traveler Love Sparks in Korea, di hari Sabtu, Termasuk masak nasgor terasi, goreng empek2 dan makan sampe puas. Malem harinya mo datang ke undangan pengajian RW tapi lagi males, so di rumah aja mendekam di atas tv sambil menikmati hidup santai. Bersyukur dah maketin motor pulang kampung setelah itu motor mengikuti petualangan hidup saya mulai dari kuliah di Semarang, kerja di Balai Litbang Agama Semarang, pindah kos Tembalang ke Kalipancur sampai balik lagi stay di Banyumanik. Motor biru itu juga sudah menemani saya selama kost di Pisangan Ciputat, hingga ikut ke Bekasi. Jadi sedih juga nyuruh dia pulang kampung.. Idih lebayyy, padahal besok pas tahun baru juga mo pulang kampung, bakal butuh tu motor buat jalan2 di kampung..

Hari minggu bisa ikut senam jantung sehat sama ibu2 plus sarapan pagi bersama pake lontong sayur. Kebetulan ada yang lagi ultah jadi makan rame2, lanjut belanja sayuran ke pasar, trus siang hari ke dosen pembimbing, udah. Eh ada yang kelewat, manasin mobil. Duh, satu PR ini yang belum menemukan solusinya.. Ini mobil mau dibagaimanain yah? Mau kusetirin sendiri belum punya SIM. Mau kucoba nyetir sendiri sekedar puter2 komplek sebenarnya, belum berani kalau ga ada yang mendampingi, takut kalau pas jalanan sempit atau ga bisa parkir, jiaaahhh… sabar-sabar…

Pulang naek kereta? jiaahhh mau gimana lagi.. Padahal kan ntar di kampung juga muter2 dari Kutoarjo- Magelang-Piyungan. Setidaknya itu tiga kota minimal yang harus diputerin.. eh disinggahin.. Harusnya bawa mobil aja yah? But.. hiks3 auk ah gelap.. Nyari sopir? Jiaaahhh..
Enakan juga ada yg nemenin tp bukan sopir ;D.. But I havent found him. Ke mana harus mencari? selain di atas hamparan sajadah? Jiahhh novel bangetss.. Males gue.. punya jalan cerita yang aneh begini.. Ga lucu.. tapi banyak yang nertawain. Biasa diledekin juga di kntor. Uh gue aja yang baper kali ya… habis di ledekin mulu, lama2 jadi baper wajar aja kan?

Moga lebaran tahun 2017 udah bisa bawa mobil pulang kampung, mo ada yang mendampingi atau tidak pokoknya bawa mobil. huhuhuhu… repot di saananya kalau ga bawa mobil =(. Serius berani bawa mobil ga ada yang nemenin? lebaran crowded lhoh, bisa2 jadi macet terpanjang seduania macam Brexit kemarin. Mana udah ga bisa ambil cuti tahunan lagi lho tahun 2017, kan udah diakumulasi awal tahun buat nyelesein tesis (katanya). Duh, Robbii jangan kasih gue teka-teki hidup yang bikin pusing begini. Kasih jawaban dan solusinya dong, pusing kan gueee..

E-peneliti udah gue kebut minggu kemarin, ampe mepet deadlock.. Tinggal nanya progressnya, eh memantau. Ehm berkas print outnya dikasihin juga ga sih? nah loe, blm disiapin fotocopy-an berkasnya kan? (blm lengkap maksudnya), ntar gedubrak-gedubruk lagi… auk ah. Motivasi jadi peneliti maju mundur seiring kesibukan kantor yang semrawut, jadi urusan pribadi malah terlantar.. Termasuk tesis… apa kabar?? hahaha terlupakan..

Rekap keuangan dan berkas2 spj?? waduh ini yang masih bikin kepala cenat-cenut kalau dipikirin. Untung ada libur loong weekeend, jadi bisa gue tinggalin dulu itu… Males ngitung2 dan nyelesein berkas itu.. disaat masih kepikiran urusan laen.. Duh, satu-satulah, ga bisa langsung selesai semuanya. Untung, pimpinan sabar dan pengertian.. Kalau tidak sabar, saya kasihin saja tuh rekapan dan spj2 berkas itu.. biar dikerjain yg laen atau gimana gituh.. Eh ga boleh gt, kan cuti besar gue udah di acc dan udah keluar, masa nglembur dikit lagi aja keberatan?? sebenarnya tinggal dikerjakan aja sih, ntar juga lama2 bakal kelar kok..

Namanya manusia, selagi hidup ada saja amanah yang harus dipikirkan dan diselesaikan bukan? Jadi coba dinikmatin aja. Enjoy your life!! Jadi inget Love Sparks in Korea. SEmoga dimudahkan menemukan apa yang kucari! =)

Sawfa Nabqa Huna


Sawfa Nabqa Huna

سَوْفَ نَبْقَى هُنَا

سَوْفَ نَبْقَى هُنَا .. كَيْ يَزُولَ الأَلَم

Kita akan terus berada disini, Hingga hilang penderitaan
سوف نحيا هنا .. سوف يحلو النغم

Kita akan terus hidup disini, Hingga menjadi indah irama kehidupan
موطني موطني .. موطني ذا الإباء

Negriku ….negriku… negriku yang hebat
موطني موطني .. موطني يا أنا

Negriku …negriku…negriku adalah aku

رغم كيد العدا .. رغم كل النقم

Betapapun konspirasi dan permusuhan
سوف نسعى إلى .. أن تعم النعم

Kita terus berjuang menebar kebaikan
سوف نرنو إلى .. رفع كل الهمم

Dan terus membangkitkan semangat juang
بالمسير للعلا ومناجاة القمم

Untuk menuju ketinggian dan meraih kemuliaan

فلنقم كلنا .. بالدواء والقلم

Kita semua harus bangkit …Dengan pena dan obat
كلنا عطف على .. من يصارع السقم

Kita semua peduli pada para penderita
فلنواصل المسير .. نحو غايات أهم

maka kita meneruskan perjalanan, menuju tujuan yang lebih besar
ونكون حقا .. خير أمة بين الأمم

sehingga kita benar-benar , menjadi ummat terbaik didunia

سوف نبقى هنا .. كي يزول الألم

Kita akan terus berada disini, Hingga hilang penderitaan

سوف نحيا هنا .. سوف يحلو النغم

Kita akan terus hidup disini, Hingga menjadi indah irama kehidupan

كم سهرنا من ليالي .. للصباح لا ننم

Berapa lama kita selalu begadang, Tanpa tidur sampai pagi
كم عراقيل كسرنا .. كم حفظنا من رزم

Berapa banyak rintangan telah kita lewati, Dan berapa banyak diktat telah kita hafalkan

كم جسور قد عبرنا .. كم ذرفنا من حمم

Berapa banyak lembah telah kita sebrangi, Dan betapa banyak peluh yang bercucuran
نبتغي صيد المعالي .. نبتغي رأس الهرم

Memburu kemuliaan…dan mencari ketinggian.

نقضي ساعات طوال .. نستقي علم الأمم

Kita habiskan waktu yang sangat panjang, menuntut ilmu berbagai bangsa
نستهين كل غال .. كي نحقق الحلم

kita habiskan semua yang berharga, agar dapat mewujudkan cita cita
إن سئمنا لا نبالي .. فلنسير للأمال

Bila rasa jemu datang kita tidak peduli, Dan terus berjalan mewujudkan harapan
إن قمة الجبال .. تستحق لا جرم

untuk mencapai puncak gunung, memang mahal harganya

سوف نبقى هنا .. كي يزول الألم

Kita akan terus berada disini, Hingga hilang penderitaan
سوف نحيا هنا .. سوف يحلو النغم

Kita akan terus hidup disini, Hingga menjadi indah irama kehidupan

يا نجوم السماء .. يا عبائق النسم

wahai bintang bintang langit, wahai angin yang sepoi sepoi
يا سحائب الرجاء.. يا طيور الحرم

wahai awan awan harapan, wahai merpati masjidil haram
يا رعود الشتاء .. يا جميع الأنام

wahai petir-petir musim dingin, wahai seluruh manusia
إشهدو هذا المساء .. إنني قلت القسم

saksikanlah dipagi ini , saya menyampaikan sumpah setia
إشهدو هذا المساء .. إنني قلت القسم

saksikanlah dipagi ini, saya menyampaikan sumpah setia
سوف نبقى هنا .. كي يزول الألم

Kita akan terus berada disini , Hingga hilang penderitaan
سوف نحيا هنا .. سوف يحلو النغم

Kita akan terus hidup disini, Hingga menjadi indah irama kehidupan

____________________________________________________________

Lagu yang membuat menangis,

Tak boleh berhenti, hanya sampai di sini..

Kita harus terus melangkah..

Melanjutkan perjalanan yang baru dimulai..

Bismillah…

 

 

 

Sejenak Refleksi Hidup


Kehidupan berjalan tak selalu yang kita mau. Kehidupan juga tak selalu seperti yang kita rencanakan. Terkadang ada saatnya kita berada di titik yang tak tahu, ke mana harus meneruskan langkah. Lurus kah? Belok ke kiri? Belok ke kanan? atau bahkan putar haluan dan kembali ke titik semula.

Hidup tidak bisa di ulang, ketika misalnya memutuskan kembali ke titik semula, kondisi sudah berubah, berbeda. Situasi juga tidaklah sama. Pun, perasaan munngkin juga sudah berbeda.. Ada proses penataan ulang terhadap kenyataan yang harus dijalani. Ada sisi-sisi yang mesti bisa dikompromi. walau tak mudah, tapi itulah kenyataan dan takdirNya ysng berbicara. Manusia bisa apa?

Ketika meneruskan langkah, harus bisa tegar dan menghadapi apa yang di depan mata. Semua pilihan punya konsekuensinya masing-masing. Apa yang dulu sepertinya ingin dicapai terkadang menemukan jalan buntu, membuat ragu. Apa yang dulu tak diperhatikan menjadi menarik untuk diperhatikan. Apa yang dulu tak disadari menjadi disadari. Terlambat menyadari, dan kadang menimbulkan tanya, kenapa mesti seperti ini?

Ada sedih, ada juga yang lebih dari sekedar sedih. Terkadang perasaan bercampur aduk, susah untuk diwakilkan dengan kata-kata.. Susah untuk diungkapkan walau sebenarnya tanpa dikatakan juga sudah terungkap. Susah untuk disampaikan walau itu juga termasuk bagian dari penyampaian. Menyakitkan! Hidup memang punya episode menyakitkannya sendiri-sendiri. Hal yang menyakitkan di waktu lampau berbeda dengan hal yang menyakitkan di masa kini, pun di masa yang akan datang. Segala sesuatu ada masanya. Itu akan berlalu, tak usah terlalu menjadikannya berlebihan. Tak baik.. Toh dibalik itu semua ada hikmah yang bisa di petik. Ada sesuatu yang ingin diasah di diri kita. Menjadi lebih baik dari sebelumnya, menjadi lebih taat dan menggantungkan diri pada KuasaNya. menjadi lebih bijak, menjadi … menjadi…. yang mungkin baru akan disadari esok hari, lusa atau bahkan bertahun-tahun berikutnya…

Ah entahlah, apa maksudNya dibalik ini semua?

Apa mauNya?

Apa rencanaNya?

Bisakah kita tetap sabar menjalani hal-hal yang tidak mengenakkan? menyakitkan? menyedihkan?

Bisakah kita ridho, ikhlas terhadap segala ketentuanNya, entah yang kita sukai atau tidak kita sukai?

Bisakah kita tetap dalam koridorNya, menjalankan perintahNya dan menjalani laranganNya? menjadi hambaNya yang taat?

Bisakah kita menerima takdirNya?

Bahkan ketika kita merasa lelah, lemah, dan kehilangan arah?

Bahkan ketika seakan segala daya dan upaya kita terasa belum ada hasilnya?

Ke mana mesti melangkah??

SELAIN KEMBALI  PADANYA..

PASRAHKAN diri PADANYA

ikhlasssss…. sungguh hatiku pasrah.. padaMu..

Bimbing, tuntun, arahkan ke jalan yang Engkau ridhoi..

atas jalan hidupku ini..

Engkau yang Maha Mengetahui yang terbaik buat hambaMu..

Ya mugholibul qulub, tsabbit qalbi ‘ala dinnik..

Jangan uji melebihi batas kemampuanku..

La haula walaa quwwata illa billah..

 

Bogor, Amaroossa Hotel

room 912

sidang tafsir argumentasi teologis….

serasa kuliah  matrikulasi tentang pemikiran Islam…

setelah sekian lama ikut beberapa kegiatan namun biasanya berkutat dengan keuangan dan spj,

alhamdulillah bisa juga menyimak isi kajian… ^ -^

Hal yang langka… jadi terasa istimewaaaa…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Mendeley dan Zotero


Konon, ada seorang mahasiswa yang sedang menyelesaikan tesis, ketika mengumpulkan tugas akhirnya tersebut ternyata cara pengutipannya kurang sesuai dengan yang diinginkan kampus. Wajarlah, citation/pengutipan kan ada beraneka model: APA style, Chicago, Turabian etc. Dosen tersebut menolak tugas akhir mahasiswa tersebut dan meminta menghadap kembali seminggu kemudian dengan catatan draft tesisnya telah selesai diperbaiki sesuai dengan selingkung kampus.

Namun, dalam waktu kurang lebih dua jam, ternyata mahasiswa tersebut dapat menyelesaikan persoalan teknis seputar pengutipan referensi dan daftar pustaka. Tidak harus menunggu  seminggu, sudah kembali menghadap dosen tersebut dengan membawa tesis kurang lebih 200 halaman. Hebat bukan? ternyata rahasianya ada pada mendeley dan zotero… Menurutnya cukup sekali klik 5 menit saja sudah selesai, hanya mengeprint tulisan yang lebih membutuhkan waktu lebih lama.. wooooow, demikian ucap saya. Acara workshop sehari tentang mendeley dan zotero telah membuat saya penasaran di awal materi disampaikan.

Mendeley dan Zotero merupakan perangkat yang membantu penulis dalam mengutip tulisan. Cukup dengan satu kali klik, maka jadilah kutipan itu. Referensi pun akan menjadi lebih cepat dan rapi terselesaikan. Disitulah pentingnya kita belajar mendeley, zotero, atau aplikasi lain yang fungsinya semacam itu.

Kenapa memilih mendeley atau zotero? Biasa, mahasiswa nyari yang gratisan. wk3… Yang gratisan aja masih gaptek, gimana yang berbayar, bisa rugi atuh kalau masih gaptek. Bisa menggunakan mendeley atau zotero saja sudah bagus… Lain-lain menyusul sajalah untuk saat ini.

Mendeley dan zotero? Makanan yang bergizi bagi yang sedang menulis ilmiah, artikel, jurnal, skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian dsb. Ibarat orang yang memasak, mendeley dan zotero adalah peralatan masak yang cukup canggih dan membantu memudahkan dalam proses memasak. Namun, bagaimana bagaimana halnya jika yang memasak juga sedang belajar memasak? Walhasil, tidak hanya belajar mengoperasikan peralatan masak baru tersebut, melainkan juga belajar mengolah makanan, meracik bumbu sehingga berhasil menyajikan  masakan. Dan itulah yang dialami oleh saya.

Menulis saja masih tertatih-tatih. Tetapi tak mengapa, dengan mendeley dan zotero semoga langkah tertatih-tatih ini kembali menemukan spirit baru..

Walau… mendeley membuat memble, zotero membuat melongo….

Ah… aplikasi yang bagus kalau tdak ditunjang kemampuan menulis yang bagus yaaa ibarat punya peralatan masak canggih tetapi kokinya tidak canggih. It’s oke… tak mengapa… semoga lama-lama kokinya ketularan canggih.. =)