Membaca dan Dibaca Dunia (Memilih Bacaan Identik Memilih Teman Berbincang)


Memilih bacaan identik dengan memilih teman berbincang. Ya, membaca buku yang populer dan ringan seperti mengobrol santai dengan teman. Ketika membaca novel seperti reuni karena asyik, lama dan tak sadar telah berjam-jam membacanya. Membaca cerpen, artikel populer, surat kabar seperti menyapa teman, cuma sebentar dan sekilas saja. Kalau ada yang penting dikliping. Hahaha seperti kalau ketemu teman dan ada perlu, ngobrolnya bisa lebih lama. Itu yang sayarasakan.
Yang saya masih belum terbiasa adalah membaca jurnal.. Rasanya seperti mengobrol dengan dosen. Ada sisi-sisi ilmiah bahasa tulisan yang membuat otak berpikir lebih keras dan serius. Apalagi jurnal internasional, wah seperti ketemu dosen dr luar Indonesia. Kadang ada sih yang bahasa Inggrisnya mudah saya pahami. Kadang pula ada bahasa Inggris yang susah saya pahami. Biasanya karena topik yg dibahas masih hal baru bagi saya. Lengkap dengan istilah-istilah yang belum familiar buat saya. Ah, sepertinya tergantung juga dengan si pembaca. Kalau niat atau motivasi kuat, maka rasa ingin tahu insya alloh bisa mengalahkan keenggNan mengobrol dg jurnal internasional. Justru menimbulkan penasaran.. Ingin menelusuri lebih jauh referensi di foot note nya.
But,apaboleh buat jika foot note nya berbahasa Arab, gundul lagi.. Semacam Fikh Al Zakh Yusuf Qardhawi, Al-AMWAL nya Abu Ubaid, Muqaddimah Ibn Rusyd, Al- Kharaj etc. Saya akan mencari pihak ketig, ke empat, kelima, yang telah membacanya. But kelemahannya adalah, bisa timbul perbedaan pandangan/pemahaman terhadap buku sumber tersebut. Di sinilah saya merasa terbatas untuk mengobrol dengan buku-buku dan jurnal Arabic, sayang sekali bukan terkendali bahasa?
Rasanya seperti ada kesempatan tapi tak bisa berbuat apa-apa. Sedih ada, but its oke.. Ketika berbincang-bincang dengan buku terkendala bahasa, masih ada dosen yang bisa berbincang langsung dengan kita. So, jadikan dosen dan buku teman berbincang yang menyenangkan, asyik, hingga tak sadar telah mendapatkan ilmu.. Ya, harusnya begitu..

Membaca dunia dan dibaca dunia…

Ah, slogan kampus Sps Uin Jakarta yang tidak semudah mengatakannya.
MEMBACA dan menghasilkan karya yang layak dibaca dunia. Semoga saya bisa.. aamiin

Mendeley dan Zotero


Konon, ada seorang mahasiswa yang sedang menyelesaikan tesis, ketika mengumpulkan tugas akhirnya tersebut ternyata cara pengutipannya kurang sesuai dengan yang diinginkan kampus. Wajarlah, citation/pengutipan kan ada beraneka model: APA style, Chicago, Turabian etc. Dosen tersebut menolak tugas akhir mahasiswa tersebut dan meminta menghadap kembali seminggu kemudian dengan catatan draft tesisnya telah selesai diperbaiki sesuai dengan selingkung kampus.

Namun, dalam waktu kurang lebih dua jam, ternyata mahasiswa tersebut dapat menyelesaikan persoalan teknis seputar pengutipan referensi dan daftar pustaka. Tidak harus menunggu  seminggu, sudah kembali menghadap dosen tersebut dengan membawa tesis kurang lebih 200 halaman. Hebat bukan? ternyata rahasianya ada pada mendeley dan zotero… Menurutnya cukup sekali klik 5 menit saja sudah selesai, hanya mengeprint tulisan yang lebih membutuhkan waktu lebih lama.. wooooow, demikian ucap saya. Acara workshop sehari tentang mendeley dan zotero telah membuat saya penasaran di awal materi disampaikan.

Mendeley dan Zotero merupakan perangkat yang membantu penulis dalam mengutip tulisan. Cukup dengan satu kali klik, maka jadilah kutipan itu. Referensi pun akan menjadi lebih cepat dan rapi terselesaikan. Disitulah pentingnya kita belajar mendeley, zotero, atau aplikasi lain yang fungsinya semacam itu.

Kenapa memilih mendeley atau zotero? Biasa, mahasiswa nyari yang gratisan. wk3… Yang gratisan aja masih gaptek, gimana yang berbayar, bisa rugi atuh kalau masih gaptek. Bisa menggunakan mendeley atau zotero saja sudah bagus… Lain-lain menyusul sajalah untuk saat ini.

Mendeley dan zotero? Makanan yang bergizi bagi yang sedang menulis ilmiah, artikel, jurnal, skripsi, tesis, disertasi, laporan penelitian dsb. Ibarat orang yang memasak, mendeley dan zotero adalah peralatan masak yang cukup canggih dan membantu memudahkan dalam proses memasak. Namun, bagaimana bagaimana halnya jika yang memasak juga sedang belajar memasak? Walhasil, tidak hanya belajar mengoperasikan peralatan masak baru tersebut, melainkan juga belajar mengolah makanan, meracik bumbu sehingga berhasil menyajikan  masakan. Dan itulah yang dialami oleh saya.

Menulis saja masih tertatih-tatih. Tetapi tak mengapa, dengan mendeley dan zotero semoga langkah tertatih-tatih ini kembali menemukan spirit baru..

Walau… mendeley membuat memble, zotero membuat melongo….

Ah… aplikasi yang bagus kalau tdak ditunjang kemampuan menulis yang bagus yaaa ibarat punya peralatan masak canggih tetapi kokinya tidak canggih. It’s oke… tak mengapa… semoga lama-lama kokinya ketularan canggih.. =)

Young Pal: Drama Korea yang Mencerahkan (versi saya)


Cara untuk melarikan diri dari mimpi buruk adalah terbangun dari tidur. Tapi selama kau tidak berkeinginan untuk terbangun, mimpi buruk itu terus berlanjut. Mimpi-mimpi buruk itu akan menjadi kenyataan lainnya, dan kenyataan itu tidak akan berakhir. Sampai dia memanggil namaku.”

Fyuuuh, tak sengaja nemu drama Korea Young Pal. Ramadhan-ramadhan begini nonton Korea? Oh God! Ga pernah direncanakan untuk itu, apalagi di malam-malam terakhir, di mana- seharusnya berburu lailatul qadar, memperbanyak ibadah dan mencharge kembali ruhani.

Awalnya ga sengaja,lagi  jenuh tesis,  jenuh kerjaan kantor yang ga ada habisnya, etc, pas lagi libur sholat (haid), jadi ga taraweh, di rumah sendirian. Jadi iseng nonton TV, kesasar ke drama Korea, dan dalam sekali tonton entah kenapa suka dengan jalan ceritanya, suka sama tokohnya, so sambil nunggu yang tarawih pulang, sambil nonton tv daripada sepi dan mau baca-baca juga lagi ga mood.

Sudah lama banget ga nonton drama Korea, apalagi di TV,  males karena serial, bakal menjadi candu kalau udah tertarik. Kalau luang kadang nonton film yang sekali habis dinikmati, ga harus serial yang panjang jalan ceritanya. hahahah, kenyataan berbicara lain saudara-saudara. Saya tergoda dengan Young Pal. Saya paling suka dengan karakter Dr. Kim, dan Yeo Jin tentunya. Jatuh cinta dengan serial romatis, action. Ceileee.. serasa muda lagi dah nonton Korea. Wk3.

Setting di dunia medis menarik karena membuat orang awam dunia kedokteran bisa memasuki setting medis dengan berbagai tantangan dan ujiannya. Dunia konglomerat perusahaan ibarat madu dan racun sekaligus. Tak mudah, karena jabatan yang tinggi dengan aset yang besar membutuhkan kompetensi dan mental yang kuat. Wajar kiranya bila harta dan tahta merupakan ujian hidup yang sesungguhnya, disamping juga wanita (lawan jenis) .Pengkhiantan dari orang terdekat hingga berani melakukan tindakan membunuh pelan-pelan secara halus (dengan dibuat sakit). Pembunuhan di meja operasi yang terkesan tidak direncanakan waow membuat saya sedikit terhenyak dan benar-benar terkejut. Dunia medis ternyata begitu. Bisa membunuh tanpa terlihat jelas, tak akan tercium oleh orang awam. Wajar kiranya bila malpraktik itu suatu hal yang seharusnya diminimalisir. Lha ini disengaja untuk dibunuh. Beginilah, saya jadi kembali tersadar, betapa ilmu telah membuat kita berkuasa atas nyawa. Walaupun  takdir hidup dan mati di tangan yang Maha Kuasa, namun pentingnya kita menuntut ilmu dan memiliki suatu kompetensi di sini kembali teras ketika saya menonton film ini. Apakah kompetensi yang kita miliki pada akhirnya digunakan untuk berbuat kejahatan atau untuk kebaikan…Jadilah saya jatuh hati dengan  karakter Dr Kim. Dokter  yang baik hati, rendah hati, suka menolong dan menjadi hero bagi Yeo Jin, juga bagi pasien-pasien yang lain.  Dokter lain yang seharusnya mengoperasi justru sibuk  dengan urusannya sendiri dan tidak mau melakukan tindakan medis di saat-saat genting. Dia mau menolong, padahal lelah dan sedang menangani pasien.Bahkan di saat-saat kritis pun masih mengoperasi, dengan nyawanya sebagai taruhannya. Saya kurang tahu, apakah dalam dunia medis, ada SOP dalam sehari maksimal seorang dokter mengoperasi berapa pasien? atau adakah batasan kondisi fisik dan psikologis dokter harus fit sebelum mengoperasi pasien etc.Namun dalam kenyataannya bisa saja demikian, tak semua dokter punya  kepekaan yang sama dengan hal tersebut. Di RS  saja, kadang ada perawat yang cuek bebek dengan pasien. Mungkin bisa saja dengan alasan satu perawat menangai berapa pasien. ah entahlah…Saya awam dalam hal tersebut.

Drama Korea yang menarik, dengan alur konflik yang membuat penonton penasaran dengan jalan ceritanya. Kesetiaan yang bisa dibeli sehingga teman dan musuh kadang sulit dideteksi, orang-orang yang cari muka di depan atasan, ingin dipuji, show up etc. Keberpihakan yang mudah berbalik arah hanya karena uang dan kuasa. Kepada siapa kepercayaan harus diberikan? Duh, saat-saat genting dan penuh ujian  seperti itu, alangkah nyamannya bila ada seseorang yang datang dan membantu. So sweet gitu loh..

Manusiawi pula  bila dendam ada karena pernah disakiti, dikhianati dan  coba dibunuh. walaupun sudah dinasehati tetap saja butuh proses untuk bisa memaafkan dengan tulus. Dan benar, dendam itu tidak baik karena akan ada pihak-pihak lain yang memanfaatkan kesempatan itu. Dendam yang dibalas dendam hanya menjadi lingkaran setan yang tidak akan habis.Hingga akhirnya sadar, nasehat itu benar adanya. Balas dendam justru hanya menghancurkan dirinya sendiri. Kerinduan pada Dr Kim harus diperjuangkan kembali dengan penuh air mata, karena balas dendam telah membuat jarak yang tadinya dekat menjadi jauh. Dr Kim hanya akan menerima Yao JIn jika ia telah mampu menghapus dendamnya. Di saat yang lain, Yao Jin sengaja diracun pelan-pelan sehingga lama-lama kena kanker hati.  Ketika lemah, beberapa orang kembali bangkit untuk menjatuhkannya dari posisi Presdir. Duh, melihat hal itu rasanya saya ga mau diberi ujian kekuasaan/jabatan yang seperti itu (memang siapa yang mau kasih jabatan wk3, baru dikasih wewenang jadi pengelola uang bidang saja sudah klenger dan almost give up. entahlah mungkin memang saatnya give up. Dengan alasan tesis, jiyaaaaa… beneran itu? atau sekedar cari alasan. ehm pas sih. Masalahnya saya tak berminat tapi kenapa dikasih wewenang itu??? itulah pertanyaan saya. Berat dunia akhirat bro! Jadi bisa membaca orang-orang yang mupeng duit sama yang mupeng banget. Ups.. Jangan salaah, saya juga suka duit. Cuman masih sangat polos sehingga terkadang bikin kepala pusing jika ada yang minta aneh-aneh. Takut ga berkah, takut kebanyakn dosa.. fyuuuuh entahlah diri ini paling maleees pegang dan urus uang, tapi kenapa juga masih nempel di saiyaaa. selalu begitu..

Hal-hal yang tidak saya suka malah melekat erat, seperti  tertempel lem). Dan anehnya lagi, terkadang jawaban atas tanya saya pelan-pelan mulai muncul walau belum sepenuhnya terjawab. Begitulah hidup, terkadang kita belum tahu, apa MaksudNya? apa kehendakNya atas diri kita. Tetapi kalau Dia berkenan, tak perlu kita menjelaskan, realita hidup akan menjelaskan sendiri tanpa perlu kita berbuka suara. Dia akan menjelaskan ke saya, kalian, semua orang apa sebenarnya yang terjadi. Kalau Dia berkenanpun akan bisa saja membuka aib-aib, dosa kita tanpa bisa kita hindari. Di sisi lain, bisa saja kebaikan kita akan ditunjukkan Dia ke orang lain walaupun kita berusaha menyembunyikan, walaupun kita sbenarnya tak sebaik yang disangkakan. Kita sendirilah yang sebenarnya tahu diri kita yang asli, dan tentu Dia Maha Tahu segala jelek dan keburukan kita. Di saat kita  merasa sombong, seakan-akan sesuatu berjalan baik karena kemampuan kita, tiba-tiba Dia menegur dengan indah. Hoooi  ada Aku, yang berkuasa atas dirimu manusia biasa yang mulai sombong. Jadilah saya salah kasih honor narasumber dan ketukar honor moderator. Jihahahhhha.. efek puasa, ga ada aqua… Untung masih selamet ga ketukar sama yang lain-lain. fyuuuuh, udah gitu pengen pensiun eh jadi ga ya pensiun beneran? Bukankah sudah dibantu teman-teman lain? Masa masih mau nyerah juga? sama-sama ngerjain tesis juga bukan? Apakah aku seegois itu? Apakah aku yang tidak bisa membagi waktu? Ataukah aku yang sudah di puncak jenuh dengan tetek bengek itu? yaaaa akumulasi semua itu bisa jadi… (ups kebablasan curhat dewh). Lanjut cerita Korea aja yuk…  Makanya drama Korea Young Pal ini adalah hiburan yang pas disaat begini…

. Berat euy jadi Yao Jin yang Presdir perusahaan Hanshin. Banyak musuh yang tiba-tiba datang di saat lemah. Ga enaknya berkuasa begitu ya? tapi kadang saya heran dengan orang-orang yang gila kuasa? Enak di mananya sih? (atau saya saja yang polos?). Yao Jin  dengan tugasnya sebagai Presdir sampai stress, kelelahan, diracun oleh pelayan, bahkan dibuat halusinasi. Jadi ingat cerita di zaman kerajaan Majapahit dimana Tunggul Ametung berebut Kuasa (lengkapnya saya lupa ha3). wah-wah wah inilah pentingnya belajar sejarah, agar bisa belajar darinya. Termasuk belajar dari drama Korea di bulan ramadhan begini. Tak Mengapa bukan? (alesan wk3).

Saya suka endingnya, Dr Kim akhirnya kembali bersama Yao Jin. Yao Jin sadar bahwa jabatan Presdir telah membuatnya melupakan ketulusan Dr KIm yang menasehatinya untuk tidak balas dendam. Untung masih terselamatkan. Hampir saja Yao Jin kembali terbunuh. Lagi-lagi yang menyelamatkan Young Pal . Suka saya di bagian ini.. Suka jika Yao Jin kembali dengan Dr KIm.. Happy Ending… La lalala… Sejenak lupa kalau saya harus kembali belajar tesis. tidak hanya belajar membaca referensi jurnal-jurnal yang susah dikunyah dan dipahami karena teori-teori sosial yang masih baru buat saya, namun karena 1 konsep teori , namun  dengan tokoh yang banyak sekali membuat saya pusing berbie. Udah gitu, waktu belajar saya terbatas (jiaaah alasan, ngaku aja kalau lemot, susah nulis ilmiah, ga konsisten ngerjainnya hingga ide bisa datang dan pergi kaya jaelangkung gt.. datang saat tak diundang (saat kerja), dan pergi tanpa permisi (saat ingin ngerjain/ nulis eh idenya kabur entah ke mana, jadinya target 1 hari nulis 2 halaman jadi sekedar agenda kosong melompong. Anehnya,udah berani tanda tangan perjanjian dengan kampus bakal segera selesai, pakai materai lagi. Hiks3.. sedih kalau ingat yang itu… Mana janjiku? Lupa.. lupa….

Ehm tadi baru saja belajar aplikasi zotero dan mendeley, sekdar icip-icip tapi membuat kembali semangat sekaligus sedih. why? Ya iyalah, selama ini referensi saya tumpuk di folder, buka ya manually. eh dikenalin cara memange perpus pribadi yang rapi, dengan cara citation.. Rasanya sih sesuatu gituuuuh… Cuman input file jurnalnya apa mesti one by one gituh??? Oh My GOd… terima kasih untuk ilmu yang mampir tadi siang. Jujur, ada yang nawarin bantu input referensi, asal dibayaaar wk3….. Sebenarnya saya ga hanya butuh asisten buat memanage perpustakaan digital saya inih…tapi juga butuh editor yang merapikan tulisan saya yang masih kacau balau… Kalau untuk menulis ya biarkan saya saja yang menulis karena sudah tanggung jawab saya. Tapi Ya Alloh, tolong kasih saya kelapangan, kemampuan, kemudahan untuk menulis  dan menyelesaikan tesis, pleaseeee… Ini doa saya di malam-malam lailatul qodar ini… Biar happy ending mirip-mirip Young Pal gituuuh… Ah ini tulisan sudah melebar kemana-mana, tidak fokus, kurang mengerucut, eyd tidak diperhatikan, ga ada catatan kakinya, ehm referensinya kurang, istilahnya ga konsisten, halaman juga kurang.. (emang tesissss?  suka-suka gue….weeeee =P. Inilah kenapa saya suka blog… seancur-ancur tulisan saya juga dimuat… dipublish… bodo amat!

 

 

 

 

 

 

[Review Jurnal]Filantropi Islam dan Sektor Ketiga: Potret Lembaga-Lembaga Zakat di Indonesia


Pengantar

Makalah Islamic Philanthropy and The Third Sector: The Potrait of Zakat Organizations in Indonesia  karya D. Muhtada ini  menganalisis peran lembaga filantropi sebagai sektor ketiga di Indonesia. Fokus studi ini mengenai peran lembaga-lembaga zakat sejak filantropi Islam lahir sebagai kekuatan sektor ketiga di Indonesia, yang ditandai dengan lengsernya  Soeharto sebagai Presiden pada tahun 1998.

Di bagian awal, makalah ini mendiskusikan  kerangka teori  filantropi dan sektor ketiga. Dalam bagian ini, konsep filantropi dan sektor ketiga didiskusikan.  Selanjutnya, makalah ini mendiskusikan tentang zakat dan lembaga-lembaga zakat di masyarakat muslim  dengan menggali zakat sebagai konsep filantropi Islam. Di dalamnya juga menjelaskan gambaran umum lembaga-lembaga zakat di masyarakat muslim. Makalah ini juga menjelaskan peran lembaga-lembaga zakat sebagai sektor ketiga di Indonesia. Dalam diskusi ini mencakup tentang perkembangan lembaga-lembaga zakat  di masa Indonesia modern, kompetisi sumberdaya di dalamnya dan kontribusi mereka pada masyarakat Indonesia. Di akhir bagian, ada analisis bagaimana lembaga-lembaga zakat dapat dikembangkan untuk memperkuat perannya sebagai sektor ketiga.

Metodologi

Makalah ini menggunakan pendekatan sosio teologis karena pada dasarnya zakat merupakan isu teologi yang posisinya sebagai rukun Islam yang ketiga. Melalui pendekatan teologis, makalah ini ingin menunjukkan zakat sebagai doktrin Islam memiliki signifikasi tinggi dalam kehidupan sosial. Dengan kata lain, aktivitas sosial melalui pengumpulan zakat akan dianalisis untuk melihat signifikasi sosial dari pilar Islam ini. Data yang digunakan untuk analisis makalah ini tersedia online di website lembaga-lembaga zakat. Lebih jelasnya, data juga dapat diperoleh melalui tulisan-tulisan dengan isu-isu yang relevan.

Bersambung…..

 

 

Jeda Sejenak


Menikmati sore hari di kantor sendirian, enak juga. Lepaskan SPJ-SPJ kegiatan, rekap keuangan, tesis, hingga berbagai tetek bengeknya. Ngeblog…. duh, rasanya menjadi barang yang langka dan mahal. Apalagi melihat sun set dari lantai 3 kantor, alhamdulillah  indah bangets..

Biasa nih, nulis yang berbau curhat. setelah beberapa saat melepas sejenak dari padat merayapnya aktivitas kantor. Baru saja merekap kegiatan kantor. Ternyata sampai akhir maret 2016 sudah banyak kegiatan yang dilakukan: 10 kali rapat persiapan, 6 RDK, 1 Sosialisasi, dan 1 kegiatan fullboard. Lumayan menguras energi fisik, psikis. Walhasil tesis terlupakan. Bulan Maret sudah hampir usai… Semoga bisa sambil belajar tesis, belajar mengelola kegiatan kantor, etc.

 

Public Hearing dan Suksesnya Suatu Kebijakan Administrasi


Publik Hearing? Mendengar istilah tersebut masihlah asing di telinga saya. Saya juga belum pernah mengikutinya. Publik Hearing (dengar pendapat publik) merupakan bagian dari tugas pokok dan fungsi Public Relation Division.

Tujuan Public Hearing adalah untuk mengetahui apa dan bagaimana sebenarnya tingkat pemahaman, respon, dan ekspektasi publik terhadap suatu kebijakan yang berlaku selama ini, serta yang direncanakan di masa mendatang. Misalnya publik hearing regulasi PMA dan KMA tentang zakat, yang insya Allah akan saya ikuti esok hari, 18 Februari 2016 di Sofyan Hotel Tebet, Jakarta Selatan.

Gap yang muncul antara kebijakan (policy at strategic level) yang direncanakan dan didesain dan praktek administrasinya (administration in practice)seringkali memunculkan hipotesa bahwa sebaik apapun inisiasi program kegiatan atau kebijakan yang dibuat, apabila tidak tersosialisasikan dan terkomunikasikan dengan baik dan efektif, hasilnya seringkali tidak sesuai dengan harapan dari tujuan disusunnya kebijakan dimaksud.

Disinilah, fungsi komunikasi publik (kehumasan) yang merupakan bagian dari fungsi manajemen perubahan (change management) menjadi sangat penting untuk dapat menjembatani gap antara otoritas (policy makers)  dan (stakeholders) para pemangku kepentingan.Tidak hanya pada tataran penyebarluasan informasi searah, tetapi lebih kepada membangun komunikasi yang lebih interaktif antara para pembuat kebijakan (policy makers) dengan para pemangku kebijakan (stakeholders), dan masyarakat  pada khususnya.

Milka Casanegra de Jantscher dan Richard M. Bird (1992) dalam penelitian mereka menyimpulkan: “Successful tax administration reforms thus have these three main ingredients in common-simplification, strategy, and committment” . Kesuksesan penerapan suatu kebijakan (dalam hal ini kebijakan perpajakan)  dipengaruhi oleh tiga hal: kesederhanaan, strategi dan komitmen.

Kesederhanaan (simplicity) yang dimaksud oleh Bird adalah bahwa sistem administrasi perpajakan dapat secara efektif diaplikasikan pada negara-negara berkembang dengan tingkat kepatuhan yang rendah sekalipun. Jurus atau strategi(strategy)disini dimaknai sebagai adanya suatu formulasi rencana yang berkaitan dengan penentuan prioritas dan alokasi sumber daya yang optimal. Sedangkan komitmen(committment), diartikan sebagai dukungan penuh dan konsisten dari semua lini dari mulai dari level pembuat kebijakan, manajemen, hingga ke level teknis operasional di lapangan.

Disinilah, fungsi komunikasi publik (kehumasan) yang merupakan bagian dari fungsi manajemen perubahan (change management) menjadi sangat penting untuk dapat menjembatani gap antara otoritas (policy makers) dan pemangku kepentingan (stake holder) tersebut.Tidak hanya pada tataran penyebarluasan informasi searah, tetapi lebih kepada membangun komunikasi yang lebih interaktif antara para pembuat kebijakan (policy makers) dengan para pemangku kebijakan (stakeholders), masyarakat  yang menjadi bagian dari pemberlakuan kebijakan tsb pada khususnya.

Masyarakat dapat menyampaikan opini, masukan dan keinginan mereka kepada otoritas suatu kebijakan melalui kegiatan public hearing tsb. Public hearing sering terbukti mampu meningkatkan ketajaman output kebijakan yang dihasilkan.

Sejauh mana pendapat, masukan dan keinginan stakeholders dapat dikaji, ditindaklanjuti dan dioptimalkan pemanfaatannya  menjadi sangat krusial. Sensitivitas inilah yang perlu terus ditingkatkan, tentunya diiringi dengan niat yang tulus, perspektif yang jernih, serta pertimbangan yang obyektif dari para penentu kebijakan publik.

Selain memperoleh masukan dari perspektif yang berbeda, kegiatan public hearing ini juga diharapkan mampu mendorong terciptanya rasa memiliki “sense of belonging” dari publik, mengingat adanya proses pelibatan mereka, sehingga sudah sewajarnya program-program kebijakan yang digulirkan dan ditawarkan policy makers dapat lebih diterima, bahkan seyogyanya juga memperoleh dukungan penuh dari para pemangku kebijakan khususnya kalangan masyarakat yg terkena kebijakan tsb.

Hasil positif lainnya adalah bahwa kegiatan ini nyata-nyata dapat mendorong peningkatan kerjasama kemitraan dengan para pemangku kebijakan seperti dengan akademisi  dan institusi dan lembaga -lembaga terkait, misalnya kerjasama di bidang penelitian.

Public Hearing atau kegiatan dengar pendapat publik ini merupakan langkah penting dan strategis dalam rangka menyukseskan kebijakan dan program yang digulirkan.

Dan yang terpenting, perlu terus  memanfaatkan respon positif, peluang kerjasama kemitraan ke depan, serta semangat keterbukaan dan kebersamaan yang terbangun dari kegiatan Public Hearing  ini, untuk dapat merancang suatu kebijakan administrasi yang tepat bagi publik(desirable policy for society), dalam arti tidak saja efisien mendorong kepatuhan sukarela (maximum revenue at minimum/low compliance cost), tetapi juga administrable untuk mampu memberi pesan yang jelas kepada, misalnya Wajib zakat , bahwa Baznas mampu mendeteksi mereka dan melakukan tindakan penegakansanksi (law enforcement activities) secara efektif. Hal ini konsisten dengan argumen yang disampaikan Carlos A. Silvani (1992) yang mengatakan : “Voluntary compliance may be encouraged, however, if the administrion is successful in establishing a strong prospect that noncompliance will be detected and effectively punished”.

Momentum kegiatan-kegiatan publik hearing/serupa di masa yang akan datang, akan mampu menumbuh-suburkan kesadaran dan tanggung-jawab kolektif terhadap arti penting (zakat) bagi pembangunan sendi-sendi berbangsa dan bernegara, menuju masyarakat adil, makmur, berdaulat dan mandiri. Suatu keniscayaan terwujudnya kondisi tersebut tidak lagi semata menjadi tanggung jawab Kemenag/BAZNAS, melainkan menjadi tanggung jawab kita semua, para pemangku kebijakan, baik itu kalangan akademisi, profesional, amil, tanpa kecuali……, seluruh masyarakat muslim Indonesia. Amin.

 

 

 

Semua Atas KuasaNya


Saya pernah mendengar ungkapan, Tidak ada suatu yang kebetulan dalam hidup ini. Daun yang jatuh saja atas kuasaNYa, apalagi jalan hidup manusia.

Cuma anehnya, yang saya juga ga tau, jalan hidup saya sendiri. Apa maksudNya? Apa sekenarioNya buat saya? entahlah, kadang saya sendiri ga memperhatikan diri saya. Hingga  ada seorang  teman yang rese’ dan bilang ke saya, “kalau saya memang di bagian kajian Al-Qur’an tapi nuansa pekerjaan saya tidak lepas dari Tata Usaha.”

Weww, saya jadi sadar, bener jugaa. Tapi so what gituloh.. Saya kebagian jatah jadi bendahara bidang. Masalah buat loe? Memang saya sendiri merasa jalan hidup saya kadang mirip novel yang ada di dunia fiksi. Bedanya ini dunia nyata.

Kalau saya saat ini dipercaya sebagai bagian dari pengelola kegiatan bidang ya ga pernah saya bayangkan sebelumnya, dan  ga pernah ngarep. apalagi berkaitan dengan uang. Duh, itu hal yang saya alergi sebenarnya. Sebelum2nya kalau saya dijatah pegang uang buat belajar mengelola kegiatan biasanya saya kasih ke teman yang udah biasa pegang. Sampai atasan ngeh juga kalau saya mungkin ga begitu serius belajar keuangan.

Anehnya, sudah berusaha lari, ehhhh masih juga hal2 begitu mampir ke saya. Awalnya saya diminta bantu2 aja. Saya bilang saja insya Alloh. Saya tenang, karena menurut saya teman saya yang lebih pas buat jadi bendahara bidang. So, kalau cuma bantu-bantu its okelah. But, saya kaget waktu DDTK di kantor dan diberi SK, lah posisi itu ternyata malah di saya. Weleeh, ga terpikirkan sama sekali. Begitulah, bisanya yang ga diingini malah terjadi. Sooo belajarlah saya tentang kuitansi dan SPJ kegiatan, baca mata anggaran etc.

Anehnya lagi, saya tesisnya tentang zakat, walau di kemenag saya bukan di bagian zakat, dan jauh dari hal-hal yang berbau zakat. Lha kantor saya saja jauh dari Pemberdayaan Zakat Kemenag. Lucunya, giliran saya ke lapangan ngumpulin data zakat dan mengalami kendala birokrasi, saya minta tolongnya ke Kasubdit Pengawasan Zakat via telepon, dan atas bantuan beliau saya alhamdulillah bisa melewati birokrasi rumit untuk akhirnya bisa ikut Rakornas Baznas Desember 2015 kemarin. Itu keanehan lagi yang ada di dalam hidup saya…

Dan, saya masih terkendala birokrasi pengumpulan data, sepertinya harus silaturahmi langsung ke beliau. Masa minta tolong via telepon lagi, ga sopan bangets khan? Dan pas ujian komprehenshif lisan ditanya penguji, anda kemenag tapi bukan di bagian zakat, bagaimana bisa penelitian tentang zakat? hahahha saya sendiri juga merasa aneh, buts setelah saya terangkan prosesnya bla.. bla.bla.. bla… penguji hanya mengangguk-angguk saja.

Begitulah hidup,manusia tak tahu apa sekenario terbaik untuk dirinya. Biarkan Dia saja yang mengatur semua.. Tak usah dibikin ribet dan pusing… Jalani saja hidup dengan baik dan mengikuti perintah dan aturanNya. Jauhi laranganNya. Raih ridhoNYa. Sudah itu saja, karena hidup di dunia hanyalah mengumpulkan bekal untuk akherat.

So, kalau dibilang aneh, ya aneh… Saya sendiri juga ga tau jawabnya.. Bodo amat, rese banget sih loe..

 

 

Hindari Menunda-nunda


Ubah hidup Anda hari ini. Jangan
bertaruh pada masa depan, lakukan
sekarang, jangan tunda lagi” – Simone
de Beauvoir

Dear Dwee,

Seseorang akan sulit berhasil jika ia
suka menunda-nunda pekerjaan. Tapi
saya yakin Anda bukanlah orang yang
demikian.

Laksamana Laut Amerika, Willian
Halsey mengatakan, “Segala masalah
akan menjadi lebih kecil jika Anda
tidak menghindarinya, tetapi
menghadapinya.”

Penundaan merupakan pupuk yang
menghambat pertumbuhan. Jika Anda
terlalu lama membuat keputusan untuk
sebuah peluang yang tiba-tiba datang,
peluang itu akan hilang.

Lihatlah hasil akhir dari sebuah
pekerjaan, agar Anda terpacu untuk
tidak menundanya.

Jangan habiskan waktu Anda
mengerjakan tugas-tugas yang tidak
penting atau tidak perlu. Jika tidak
penting, jangan sekedar menundanya,
hapuskan saja tugas itu.

John C. Maxwell menyarankan Anda
untuk memilah lagi pekerjaan yang
perlu diprioritaskan.

Telaahlah apakah tugas tersebut
memberi manfaat finansial? Apakah hal
itu akan membuka jalan untuk sesuatu
hal lain yang lebih baik? Apakah hal
itu bisa memberikan Anda pengembangan
atau pencapaian yang lebih besar?
Atau apakah penyelesaian tugas itu
bisa melegakan Anda secara emosional?

Jika Anda mendapatkan semua alasan
positifnya, Anda telah berada di
jalur yang benar. Mulailah bergerak
maju dan bertindaklah secara cepat
dan efektif.

Salam, Anne Ahira