Tak Ada yang Abadi [Refleksi]

Baru saja, jam 02.00 WIB saya terima telpon dari ibu saya. Kaget juga siy, di ujung telepon terdengar isak tangis. Saya berusaha tenang mendengar kabar bahwa Om atau Pak Lik (adik ibu saya persis) meninggal dunia. Kaget, shock! Ya, selama ini terlihat segar bugar. Tidak ada tanda-tanda sakit.

Kematian adalah misteri. Kita tidak akan pernah tahu sampai berapa jatah usia kita di dunia. Orang yang lebih muda bukan berarti akan meninggal belakangan dibandingkan orang yang lebih tua usianya.

Kematian itu pasti. Duh, membuat saya merinding. Ya, merindinglah, karena kita tidak tahu bagaimana cara kita mengakhiri hidup di dunia. Apakah husnul khotimah atau suul khotimah?

Dan yang lebih pasti lagi, kematian itu semakin dekat dengan kita. Entah kapan waktunya. Ibarat menyalakan sebatang lilin. Lilin kehidupan kita bukannya semakin panjang, tetapi semakin pendek.

Kita tidak bisa mengelak dari kematian. Kalau sudah waktunya dipanggil yang Maha Kuasa, maka tidak ada tempat untuk bersembunyi. Yang bisa kita lakukan hanyalah memperbanyak bekal akhirat. Sudah cukupkah bekal kita?

Berapa banyak kebaikan yang kita torehkan?
Berapa banyak dosa dan kesalahan yang kita lakukan?
Sudahkah kita menggunakan usia kita dengan sebaik-baiknya? Atau justru kita telah menyia-nyiakan usia kita selama ini?

Saudaraku, masih ada waktu untuk berbenah.
Masih ada waktu untuk mohon ampun atas dosa-dosa kita.
Masih ada waktu untuk senantiasa memperbarui iman dan takwa kita kepadaNya.

Masih ada waktu..
Selagi nafas kita berhembus..
Masih ada waktu..

“Ya Allah, perbaikilah agamaku untukku yang mana ia merupakan penjaga perkaraku. Perbaikilah duniaku yang di dalamnya terdapat kehidupanku. Perbaikilah akhiratku untukku yang di dalamnya terdapat tempat kembaliku. Jadikanlah hidupku sebagai tambahan untukku dalam setiap kebaikan, serta jadikanlah matiku sebagai istirahat untukku dari segala keburukan.” (HR Muslim 4897)