TRAGEDI MERAH PUTIH 17 FEBRUARI 2010 [Refleksi]

Merah Putihku

Berkibarlah Merah putihku

Tak ada yang sempurna. Karena kesempurnaan hanya milikNya semata. Justru dengan tidak sempurnanya kita, akan selalu tercipta nuansa-nuansa indah menuju perbaikan (Dwee-Marty)

Upacara 17 Februari 2010 kemarin adalah first experience saya dan 5 orang teman sebagai petugas upacara di kantor. Sehari sebelumnya, kami sudah persiapan dan latihan sebaik-baiknya. Mengingat, upacara 17 Februari kemarin juga merupakan upacara sumpah jabatan 3 orang rekan kerja kami sebagai PNS. So, sewajarnyalah kami ingin mempersembahkan yang terbaik untuk momen penting mereka.

Jam 06.45 WIB sudah sampai di kantor. Terlihat Mbak Umi (sang pelatih upacara) sibuk menyiapkan perlengkapan. Mulai dari sound system, kaset/CD lagu Indonesia Raya dan Mengheningkan Cipta, perlengkapan petugas (peci, sarung tangan putih, slayer merah, dsb) dibantu security. Lagu Indonesia Raya dan Mengheningkan cipta akan diputar dari kaset/CD karena tidak memungkinkan bila harus ada tim paduan suara tersendiri. Bisa-bisa tidak ada peserta upacaranya. Lha jumlah peserta upacaranya plus komandannya saja sekitar 20-an orang; bagian umum, kepegawaian, keuangan, litkayasa dan security crew. Petugas upacara 10 orang, yang dilantik menjadi PNS 3 orang. Para peneliti sedang survey tahap 3 ke lapangan. Otomatis peserta tersisa kurang lebih separo bagian sendiri. Lucu juga sih rasanya, jumlah peserta minimalis. Bagaimana bila suatu waktu tim litkayasa juga pas ke lapangan ya? Apakah masih akan ada upacara? He he he lucu kali ya. Selagi masih bisa dilangsungkan upacara ya tetep upacara-lah. Lanjut membaca