Menyikapi Orang “Menyebalkan”

Pernahkah kesal dengan seseorang? Pernahkah merasa mengapa dia begitu menyebalkan padahal kita merasa sudah bersikap baik padanya?

Ah, saya pernah. Kesal, marah dengan seseorang. Saya sudah berusaha membantunya sebisa saya. Diminta mengantar CD file, saya cari dan antar ke alamatnya. Diminta mempersiapkan file bahan yang diperlukan saya juga mencoba menyiapkannya. Padahal itu diluar jobdesk saya.

Singkat kata, justru karena saya yang sering menghubungi pihak lain (katakanlah Mr.C) maka saya jadi akrab dengannya.

Suatu ketika saya diminta menanyakan nama lengkap Mr.C dan gelarnya. Ya, berhubung sudah akrab, info tersebut mudah saja saya peroleh.

Siang harinya, saya diminta mengantar surat undangan pembicara untuk Mr.C. Saya baca tulisan nama dan gelarnya tidak sesuai dengan apa yang saya tuliskan. Saya meminta untuk mengganti amplop dan surat itu. Dia tidak mau. Huh.. ya sudah saya terima dengan menyimpan sedikit kesal dalam hati. Padahal, menurut saya benar tidaknya kita menuliskan Nama dan gelar seseorang itu menunjukkan seberapa besar kita menghormati dan menghargainya.

Sambil menyelesaikan pekerjaan lain, saya online, chatt dengan Mr.C. “Pak, saya mau mengantar surat buat Bapak besok, bapak di kantor jam berapa?”

Belum di balas sama Mr.C, walau YM-nya aktif. Ah, saya lihat dulu pesan terakhir Mr.C, “Mbak Dwi saya out dulu, ada kelas”.

Oh, dia lagi sibuk. Tetapi YMnya tetap aktif. Saya invisible, melanjutkan pekerjaan lain.

Tidak sampai setengah jam kemudian, ada instruksi, “Mb, suratnya tadi gimana? udah dikomunikasikan belum?”

“Ehm, sudah Mb, lewat YM, tetapi blom dibalas, jawab saya.

Kenapa?” tanya saya lebih lanjut

“Wah, ini pembicaranya mau diganti,” lanjutnya.

“OH, begitu. Kok bisa begitu?” sambung saya

“Kurang bagus, lihat saja hasil yang kemarin, ” jawabnya

Saya diam.

“Iya, tadi ga sengaja ada yang datang ke sini (kantor). Dari instansi xxx. Dia yang mau ngisi. Eh ga taunya, dia kakak tingkat saya. Jadi reunian deh”, katanya bersemangat cerita pada saya.

“Oh , ya sudah tak apa-apa,” saya tersenyum kecut.

“Mana suratnya?” tagihnya pada saya

“Saya langsung kasih ke dia surat undangan yang tujuan Nama + gelarnya itu ditulis salah.

Singkat kata, tak berapa lama kemudian, saya cek YM. Waduh, pesan saya udah terkirim tadi. Ga mungkin dibatalin lagi. Saya jadi bingung harus bagaimana cara menyampaikan pembatalan itu.

Saya cek, Mr C sudah membalas: saya sudah di kantor jam 7 Mbak.”

Saya bingung mau ngomong apa. Akhirnya saya minta maaf padanya, “Maaf Pak, saya ga jadi nganter surat. Mungkin lain kali. Soalnya belum fix. Maaf ya Pak..”

Setelah saya mengirimkan pesan tersebut, saya merasa bersalah, kecewa, marah, merasa engga enak dengannya. Ah, saya bingung untuk merangkai kata maaf dan menjelaskan semuanya.

Ada beberapa hikmah yang saya ambil dari kejadian itu:
1. Mungkin ada sikap, tingkah laku saya selama ini yang kurang berkenan baginya
2. Mungkin saya yang terlalu serius memandang hal seperti ini, bagi dia mungkin bukan hal yang penting.
3. Saya perlu belajar bagaimana ikhlas. Bekerja semampu saya, seoptimal yang bisa saya lakukan. Saya merasa sudah melakukan apa yang saya bisa, kalau ada yang tidak suka, biarlah itu urusan mereka. Cukup Allah saja yang tahu bagaimana hati saya sesungguhnya.

4. Rumput tetangga selalu nampak lebih hijau dibanding rumput sendiri. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Apakah kita akan sibuk memantau dan mengintip perkembangan “hijaunya” rumput tetangga tersebut, atau justru fokus pada rumput kita sendiri. Kita rawat, kita jaga, kita sirami, beri pupuk. Biar rumput kita tumbuh, berkembang menghijau dengan versi kita, sebisa kita.

Ah, terakhir kalinya, saya masih kecewa, marah. BIarlah.. saya akan fokus mengelola rumput saya, biar menghijau, dengan cara saya, dengan keunikan yang saya miliki.

Kalau toh saya menemukan rumput tetangga yang lebih menghijau dan lebih bagus. Saya akan belajar darinya. Saya akan mencari tahu, bagimana dia merawat rumput itu dari tanaman pengganggu lainnya, dari hewan yang merusak indahnya rumput itu. Saya akan belajar darinya ;)