Ikhlas dan Sabar dalam Berproses

Tetap saja manusia tak tahu apa yang terbaik untuk dirinya.
Terkadang merasa lebih baik begini, tetapi di beberapa saat kemudian begitu lebih baik. Sungguh, aku tak mau diombang-ambingkan oleh perasaan dan ketidakjelasan.
Analisis manusia bisa saja salah. Pandangan manusia tidak menyeluruh. Tidak tahu apa dan bagaimana masa depan yang akan menimpa dirinya. Jadi lagi-lagi semua dikembalikan kepadaNya. Ya, pandanganNya luas, tak terbatas dan menjangkau masa depan yang penuh misteri dalam akal dan nalar manusia.

Mengapa tidak minta pendapatNya saja?
Ikhtiar, doa dan tawakal padaNya.
Biarkan Dia saja yang memilihkan untukmu..

Netralkan dirimu, hatimu, pikiranmu..
Biarkan Dia yang memilihkan untukmu..
Ya, biasa saja

Jaga netralitas..

Termasuk ketika sore ini ditetapkan Pembimbing dalam KTI (Karya Tulis Ilmiah) di Diklat LIPI yang kuikuti. Inginnya dapat pembimbing A, eh dapatnya D.. Bismillah sajalah. Sudah diatur oleh panitia dan Insya Allah itu yang terbaik untukku..

Ikhlas dan sabar dalam berproses..
Kelak akan kutahu hikmah yang akan kupetik dalam setiap pernik misteri puzzle kehidupan..

Dan ingatlah..
Bergantung pada manusia itu salah..
Bergantunglah pada yang Maha KUat yaitu Allah SWT..

Boleh saja menaruh harapan pada seseorang, tapi sewajarnya saja..
Karena dengan manusia bisa saja kecewa tapi denganNya kau tak akan pernah kecewa.

So? Kembalikan semua padaNya..
Bersabarlah …
Kelak semua yang akan kita tanam akan kita tuai..
pada saatnya, ya hanya Dia Yang Maha Tahu saat yang tepat itu..
Bagaimana bentuknya, dimana dan dengan segala perniknya..

Menjadi Peneliti? Bismillah Saja-lah

Sudah seminggu di LIPI, mengikuti diklat fungsional Peneliti Tingkat Pertama. Di satu sisi adalah hal yang tidak mudah, suatu amanah, tanggung jawab dan kepercayaan yang harus dijaga sebaik-baiknya. Kadang merasa takut kurang mampu menjaga anugerah Allah, kesempatan yang tidak diberikan pada setiap orang. Ya, aku merasa biasa saja untuk menjadi seorang peneliti. Dari sisi kapasitas intelektual ya tidak bodoh tetapi tidak pintar. Biasa saja.

Aku hanya merasa beruntung mendapat kesempatan untuk mengikuti diklat fungsional peneliti di LIPI, tanpa harus mengeluarkan biaya sepeserpun. Biaya diklat senilai Rp.9000.000,- per orang sudah dibayar kantor pusat, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama. Transportasi dari Semarang pp Insya Allah juga ditanggung Kemenag pusat. Indah bukan? Ya, jika mendengarkan dan melihat sekilas akan terdengar begitu indah.

Menjadi seorang peneliti juga terdengar indah. Bisa jalan-jalan ke sana ke mari dengan biaya dinas. Akomodasi dibiayai. Hmmm, banyak teman-temanku yang mengatakan wah asyik ya, jalan-jalan terus.

Oke, dalam beberapa hal menjadi peneliti memang mengasyikkan. Keren. Seperti halnya LItbang (Elit dan berkembang). Peneliti adalah pekerjaan yang independen. Jabatan yang berkembang atau tidaknya itu sangat ditentukan oleh tangan dalam arti usaha orang yang bersangkutan.

Berbeda halnya dengan jabatan struktural, jumlahnya sedikit dan diperebutkan banyak orang tentu tidak mudah. Jadi teringat istilah yang disampaikan oleh Bapak Ketua LIPI, M. Bashori dalam penyampaian materi Bimbingan Karier PNS. Beliau mengatakan PNS itu bisa saja datang absen, tidur, pulang absen selama dua tahun, tahu-tahu sudah naik golongan. Makan gaji buta, itulah PNS yang di struktural.

Ingin menjadi pejabat struktural. Wah harus melibatkan 4 tangan: tangan kiri, tangan kanan, buah tangan dan tanda tangan. Spontanitas seluruh peserta diklat tergelak dengan guyonan tersebut.
1.Tangan kiri dalam arti untuk menjadi pejabat struktural membutuhkan relasi ,kenalan, kerabat dekat atau teman dekat.
2.Tangan kanan diartikan sebagai kemampuan, skill, kompetensi yang mendukung jabatan tersebut
3.Buah tangan, tak jarang harus mengeluarkan materi untuk mendapatkan suatu jabatan struktural. Makanya banyak orang yang suka mendekati pejabat agar mendapat jabatan juga
4. Tanda tangan, banyak janji-janji yang keluar tetapi kalau tidak disertai hitam di atas putih ya jelas tidak sah. Misalnya: janji mengangkat sebagai menteri keuangan, eh mendadak tidak jadi padahal sudah menggelar selamatan. Bisa saja terjadi demikian bukan?
Itulah susahnya kita mengejar jabatan struktural. Jumlahnya sedikit orangnya banyak, bagaimana tidak berebut?

Berbeda halnya dengan jabatan fungsional peneliti. Yang diperlukan hanyalah dua tangan. Tangan sendiri dan tangan TUhan. Dalam arti usaha peneliti tersebut untuk menghasilkan karya terbaik melalui tangan Tuhan yang mengabulkan ikhtiar, doa dan tawakal kita. SEberapa karya yang dihasilkan sebesar itu pula jabatan fungsional peneliti berkembang.

Bila tidak menghasilkan karya? Ya, konsekuensinya diberhentikan dari jabatan. ow.. ow.. ow… tentu saja ada ketentuan dan syarat menjadi peneliti. Salah satunya dengan diklat fungsional peneliti tingkat pertama di LIPI. Upaya pertama memperoleh SIM (Surat Izin Meneliti). Di sinilah para calon peneliti digodok di kawah pusbindiklat selama 21 hari mendapatkan bekal awal dan arahan menuju peneliti. Harapannya bisa menciptakan profesor riset yang berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan…

Mulia, dan indah cita-cita LIPI bukan?
Bagaimana halnya dengan saya menjawab pertanyaan siapkah menjadi seorang profesor riset? Tentu saja bertahap dari peneliti pertama, muda, madya dst..

Ada semacam kegelisahan menjawab pertanyaan sekaligus tantangan berprofesi sebagai seorang peneliti. Ya, gelisah karena diri ini belum bisa apa-apa, belum mempunyai bekal, skill yang mumpuni.

Kalau ditanya apakah nyasar atau niat menjadi peneliti?
Awalnya tidak menyangka, tidak menduga. Tetapi kalau memang Tuhan sudah menakdirkan saya untuk menjadi seorang peneliti, mau bagaimana lagi. Saya ucapkan BISMILLAH saja.. Biarkan Allah yang membimbing saya, memampukan saya, menunjuki saya, memberi bimbingan pada saya untuk menjadi peneliti yang mendukung tegaknya kalam Allah di muka bumi.

Sungguh tak mudah bagi saya untuk mengiyakan tawaran menjadi seorang peneliti. Tetapi sudah telanjur masuk hutan, harimau, gajah, ular, semut yang saya temui akan saya upayakan sebagai teman yang saling berbagi dan belajar bagaimana mengelola hutan dengan sebaik-baiknya.

Ya, saya tahu, Allah akan memberikan yang terbaik bagi saya, Profesi terbaik menurutNya untuk saya. Jikalau saya menolak sungguh betapa tidak bersyukurnya saya menyia-nyiakan kesempatan yang tidak setiap orang bisa mendapatkannya.

Allah Maha Tahu, jika belum mampu maka Ia akan memampukan saya
Jika saya belum siap, Ia akan menyiapkan saya, Jika saya merasa sendiri, Dia akan memberi saya seorang teman. Ya teman hidup tempat saya berbagi segala suka duka, salah satunya suka duka berprofesi sebagai seorang peneliti. Kutahu, Dia akan memberikan teman hidup yang terbaik untukku. amiin

BERUBAH ITU MENYAKITKAN KAWAN

Jangan pernah merasa matang, karena sebentar lagi akan membusuk. Merasalah selalu hijau, maka kau akan terus termotivasi untuk belajar. Begitulah nasehat yang pernah saya dengar. Cuma, dalam prakteknya tidaklah selalu demikian.

Hasrat diri ingin berubah, tetapi apa daya keinginan tinggal keinginan. Selalu saja diri ini terbujuk rayu oleh indahnya kebiasaan buruk. Ya, kebiasaan menunda-nunda penyelesaian tugas atau pekerjaan, kebiasaan ngaret, kebiasaan mood-moodan dalam menyelesaiakn tugas, kurang konsisten, kurang tekun, mudah bosan dan sebagainya. Masing-masing diri kita kalau sudah berada di zona kenyamanan maka butuh usaha keras, perubahan yang terasa menyakitkan. Ya, untuk menciptakan suatu kebiasaan baru yang berbeda dari sebelumnya dibutuhkan pembiasan minimal 21 hari secara berturut-turut. Demikian nasehat seorang psikolog yang pernah saya dengar.
Tak usah contoh yang sulit, untuk dapat bangun pagi dan tidak tergoda tidur lagi ya butuh upaya yang tentu saja tidak menyenangkan pada awalnya. Rasa kantuk, tergoda kasur yang empuk, masih ingin malas-malasan dan sebagainya. Wah, pokoknya perubahan menuju kebaikan itu rasanya tidak menyenangkan.
Kadang kala kita merasa diri dalam tahap yang stagnan ketika rekan kerja, teman kita ternyata lebih prestasi, lebih oke, lebih perform dalam penyelesaian tugas, dalam penampilan dan sebagainya. Saat satu persatu pekerjaan yang biasanya dipercayakan kepada kita mulai bergeser seakan -akan diambil alih dan ditangani oleh orang lain. Hmm, jadi merasa there is something wrong pada diri kita. Saat itulah introspeksi diri dilakukan. Mudah sebenarnya untuk mengetahui apa saja yang perlu diperbaiki, kesalahan dan kekurangan dalam diri kita.

Beratnya dalam ACTION memulai perubahan baik, peningkatan kualitas diri secara konsisten dan kontinue itu yang tidak mudah. Kalau ditanya siapa sih yang mau bangun lebih pagi, siapa yang mau repot-repot bekerja dengan lebih lama dibanding teman kita lainnya? Ah, tentu saja belum tentu setiap orang mau berubah tanpa adanya kesadaran bahwa betapa pentingnya kita memperbaiki diri, betapa pentingnya kita berubah, bila ingin kualitas kita meningkat. Tak bisa bila stagnan, malas berubah, merasa diri sudah menguasai tanpa ada action real untuk terus dan terus belajar. Ingat hidup terus berdinamika kawan. Zaman terus berkembang dengan teknologi baru, kompetensi baru, kebutuhan baru yang berbeda dengan sebelumnya. Bila kita tidak mau beradaptasi untuk ikut serta berproses menyesuaikan perubahan ya wajar saja bila akan ketinggalan.

Zaman internet mesti tahu dan menguasai IT, bahasa Inggris, kemampuan interpersonal yang baik dan sebagainya. Itu semua tidak datang dengan sendirinya. Tetapi dengan diasah, kemauan, kesungguhan, ketelatenan untuk belajar dari hal-hal kecil. Jangan merasa bisa dan menganggap remeh pekerjaan yang diberikan kepada kita. Dari hal-hal kecil yang kita kuasai itulah kita akan menguasai hal-hal yang besar.

Misalnya berawal dari staf yang mengarsip surat, membuat surat hingga akhirnya terbiasa menangani kontrak jual beli. Itu semua butuh jam terbang, tidak datang dengan sendirinya. Namun, terkadang kita tidak sabar dengan PROSES, inginnya serba instan. Ah kalau cuma membuat surat malas, begitu-begitu saja membosankan.. JIah… godaan terberat memang disitu kawan.

Kalau ditanya setiap orang ingin posisi yang tinggi, peran yang utama dalam suatu lingkungan atau instansi. Pernahkan kita sadari, bahwa sebelum memegang peran tersebut, mereka pasti bersusah payah berproses sehingga dipandang mampu, pantas, dan sanggup untuk menduduki peran yang sekarang?

SEkalai lagi, ada tangga-tangga kompetensi, skill yang perlu diasah agar bisa sampai tangga di atas. Jangan pernah merasa bisa sampai tangga teratas bila tidak pernah mau dan berusaha untuk melewati tangga demi tangga di bawahnya.
Melompat ke tangga teratas mungkin bisa. TEtapi resikonya besar. Dan sangat susah tentunya. Bisa terjerembab, berdarah-darah. Berproses dengan sabar, tekun…

Merasalah selalu hijau maka kita akan termotivasi untuk belajar, berubah ,menjadi dewasa dan matang..

SELAMAT BERUBAH KAWAN!!!

STILNESS (Kerja OK, Ibadah Ok di Bulan Ramadhan)

Sharing Diskusi The Power of Life Today..

Yang kita cari bukan orang yang tahu, tapi yang memberikan ketenangan. Begitu jawaban si Bos ketika ada project yang harus dikerjakan. Why???

Dalam situasi tidak tenang, pekerjaan yang ringan dan sepele bisa jadi berantakan. Sebaliknya dalam kondisi tenang.. Pilihan kata tidak menyakiti, lebih logis, rasa lebih terjaga. Bila situasi tegang, logika jadi diabaikan.

Tenang bukan berarti lamban memutuskan. Tenang lebih pada menghindari aspek-aspek negatif dari emosi yang tidak terkendali.

Kondisi dan situasi kerja sekarang jauh berbeda dengan puluhan tahun lalu. Survey membuktikan, meskipun fasilitas dan benefit lebih baik dibanding jaman dulu, tapi dari sisi ketenangan lebih buruk. Pekerjaan dulu hanya dikerjakan di kantor. Pulang bisa fokus pada keluarga, sosialisasi dengan tetangga. Sekarang situasinya sudah berbeda. Di jalan bisa saja langsung dihubungi bos, harus segera ngecek imel, memikirkan kerjaan yang terpaksa “take home”. Memang di satu sisi teknologi mempermudah kita, tadi di sisi lain juga bisa mengganggu kenyamanan kita. PR kita sekarang adalah bagaimana dengan fasilitas dan teknologi yang semakin mudah dan baik tetapi kita bisa tetap tenang dan tidak terganggu?

Di bulan Ramadhan ini, bagaimana bisa pekerjaan bisa terhandle dengan baik di sisi lain ibadah juga bisa seoptimal mungkin. Ada beberapa kiat yang bisa kita terapkan:

1. Tenang pikiran, caranya:

a. Tidak mudah reaktif dengan situasi dan kondisi yang terjadi.
Pikiran dianugerahi Illahi dengan imajinasi, persepsi. Bisa jadi misalnya ketika ada klakson di jalan kita sudah mempersepsikan negatif, sehingga mudah menjadi hal yang membuat panas dan marah. Padahal ketika mengklakson niatnya baik, tetapi bisa jadi karena terburu-buru, mepet waktu ke kantor jadi rasanya ingin marah-marah. Takut terlambat.
b. Ada juga yang tidak tenang karena terbelenggu masa lalu sehingga tidak fokus pada saat ini. Masa lalu yang ‘dirasa lebih indah atau masa lalu yang burukj membuat tidak fokus dengan pekerjaan atau kehidupan kita saat ini. Mengapa? Karena pikiran kita lebih memikirkan pada seandainya begini.. mungkin lebih baek. Coba kalau dulu.. tak mungkin begini..Justru kita hanya akan menghabiskan waktu untuk menyesali diri. Padahal masa depan kita masih bebas untuk akan kita isi dengan hal yang baik atau buruk.. Masa lalu sudah berlalu, dan tak mungkin kita ubah. Tetapi masa depan masih bisa kita ubah dengan usaha dan doa kita. Masa depan bisa kita rencakan agar lebih baik.
c. Ada juga yang tidak tenang karena suka menghakimi orang lain, sibuk menilai orang lain disesuaikan dengan standar kita. Sebaliknya ada juga yang sibuk dengan penilaian orang lain, sehingga melakukan segala sesuatu dengan standar orang lain. Ingin diterima orang lain. Padahal standar orang lain belum tentu fit dan positif dengan diri kita. Setiap orang
kondisinya berbeda. Contohnya: Memesan baju, dengan ukuran yang sama-sama M saja bisa jadi ada yang lengannya agak dipendekkan, ada yang lehernya lebih lebar, ada yang perutnya lebih longgar. Dan nyaman tidaknya yang bisa merasakankan si pemakai. Pandangan orang lain tentang baju yang dipakai diterima, dijadikan bahan pertimbangan, tapi bukan berarti langsung diikuti.
d. Adanya informasi dari berbagai sumber, sehingga mudah reaktif. Padahal informasi yang datang perlu di”buffer” mana yang penting sama yang tidak. Pada saatnya nanti mana yang ada impact-nya bagi kita akan kita rasakan juga.Misalnya kabar perceraian artis akan menjadi hal yang menghebohkan bila kita terlewatkan infiormasinya. Padahal belum tentu informasi tersebut penting dan berguna bagi kita.
2. Perkataan dan Perbuatan dijaga
Ada hubungan antara perkataan dan perbuatan dengan ketenangan pikiran. Ada orang yang suka mengkritik orang lain. Mengkritikdalam arti secara berlebihan. Ternyata dari pihak lain tidak mengharapkan kritikan tersebut. Bukan karena tidak menerima kritik. Kritik yang tulus untuk perbaikan dengan kritik yang ingin menjatuhkan orang lain tentu akan berbeda rasa dan dampaknya. Kritik yang timbul karena dorongan nafsu ingin menjatuhkan, efeknya akan berbeda dengan kritik yang tulus. Kritik yang tulus disampaikan dengan santun, bukan di hadapan banyak orang. Hasilnya yang dikritik akan terdorong untuk berubah dengan kesadaran pribadi. Sebaliknya kritik yang didorong dengan nafsu efeknya bukan keinginan untuk menjadi lebih baik, tapi bisa jadi orang tersebut malah menunjuk bahwa yang mengkritikpun bukan orang yang sempurna. Misalnya:”Menerapkan peraturan hanya berlaku untuk orang lain, tetapi memaklumi diri sendiri.”Selalu mencari kelemahan orang lain karena ingin mendapatkan kepuasan.
3. Tidak bisa melepas keterikatan dengan hasil
Terkadang Tuhan ingin menunjukkan bahwa “kamu hanya bisa berusaha, hasil akhir tetap aku yang memutuskan”. Jadi ketika hasil tidak sesuai dengan harapan maka akan menimbulkan pikiran yang tidak tenang. Jadi takut kehilangan. Pikiran ” coba kalau begini, begitu”. Tindakan jadi membuat berbagai antisipasi yang tidak perlu, tidak baik, mengganggu rencana semula. Merombak project dari awal, karena panik dan tidak tenang. Bukan antisipasi project yang sudah didapat malah dana yang membengkaklah yang dialami. Ikhlas dalam proses mencapai hasil diperlukan.
Terakhir.. Kalau tanya pak Dokter, jenis-jenis penyakit modern saat ini berawal dari kekhawatiran, kecemasan yang tidak perlu. So.. Keep cool, calm… Biar pikiran bisa positif, so bisa lebih konstruktif dalam mengambil keputusan, menentukan pilihan juga dalam menghadapi berbagai persoalan, situasi dan kondisi yang ada di hadapan kita. Baik kondisi yang unpredictable, predictable, yang menyenangkan atau tidak menyenangkan..

Keep COOL< CALM Nice sharing Pak Fauzi, thx..

Menaklukkan Gajah (Hati -Hati dengan Kenyamanan yang diberikan Orang Lain)

Gajah-gajah di Lampung bebas, liar, suka merusak perkampungan. Suatu saat mereka ditembak pemburu dengan obat bius. kemudian dibawa ke sekolah gajah Way Kambas. Kaki gajah dirantai sehingga ketika akan berdiri jatuh lagi. Makanan diberikan yang tidak enak, daun kering. Karena itu yang ada dan gajah tidak bisa ke mana-mana ya akhirnya habis juga. Berbulan-bulan lamanya rantai diperpanjang sedikit demi sedikit, akhirnya dilepas. Ketika dilepas rantainya dan diajak main bola, gajahnya sudah jinak.

Teroris ditahan di masukan camp, diberi fasilitas sehingga membuat nyaman. Mereka akhirnya lupa dengan teman seperjuangan di luar.

Hikmah yang kita peroleh:

Hati – hati dengan kenyamanan yang diberikan orang lain, banyak organisasi, karena seringkali suatu saat membuat anda tersadar bahwa anda sedang dijinakkan.

Anda boleh masuk ke dalam suatu instansi, perusahaan, kantor dsb, tapi jangan sampai anda kehilangan visi. Klo memang ternyata sudah merubah visi, anda harus mulai berpikir kembali tentang visi hidup anda.

Mungkin awalnya gajah terpaksa makan daun kering, awalnya tidak enak tidak mau. tapi karena lama-lama terbiasa jadinya ketika diberi rumput hijau jadi tidak enak lagi.

Ketika ingin meliarkan kembali siamang yang sudah jinak. Kasihan sekali. Karena ketika di lepas ke hutan, mereka terlihat bingung, tidak langsung bebas bergerak ke mana-mana. Begitu juga ketika melepas burung yang sudah lama di dalam sangkar. Ketika di lepas tidak langsung terbang, tapi hinggap dulu, seperti mikir-mikir dulu..

Begitu juga ketika anda di dalam suatu organisasi sudah tidak mampu lagi mempertahankan visi misi hidup anda. Maka sebaiknya anda merenungkan kembali, apakah masih bisa berlanjut atau dilepas saja.

Ketika masih menjadi mahasiswa aktif, kritis. Begitu menjadi anggota DPR menjadi lembek..

Hati-hati juga ketika di lembaga bila bisa menyatukan visi, bersinergi, walaupun menurunkan standar. Asal masih dalam visi standar anda.Yang penting jangan sampai kehilangan visi hidup anda.

Manusia sifatnya senang di zona kenyamanan dan menghindari kesusahan. tetapi biasanya yang dihindari banyak orang yaitu menghindari kesusahan lebih kuat dibanding mencari kesenangan. Kalau orang sudah nyaman maka akan berusaha mempertahankan kenyamanannya itu.

Buat orang-orang yang kerja tidak sesuai dengan hati nurani tidak sesuai dengan passsion. Ya walau kerja satu jam, maka tidak akan sembuh capeknya dalam seminggu.

Berganti pekerjaan adalah hal yang tidak menyenangkan. Ada satu hal. Ketika kita masuk dalam suatu sistem atau lembaga. Ibarat biji yang masuk dalam pot besar. Kita tumbuh dengan benih lain di pot. Bisa jadi kita tumbuh lebih cepat dan tidak muat lagi di pot, makanya mau tidak mau harus quit dari situ. Bisa jadi awalnya nyaman, tetapi lama-lama bosan. Atau tetap disitu sebagai bonsai.. =D

Kenyamanan itu nikmati ala kadarnya saja. Tunda kesenangan. Jangan nikmati saat itu juga. Ketika masih muda, ingat hidup anda masih panjang. Kalaupun mau menikmati itu, yakinkan bahwa anda punya dana abadi.

Kalau kita punya keinginan, maka diupayakan supaya berhasil.

Banyak orang melakukan ini, ya melakukan saja.

Pemikiran lahir dari tindakan.

Tindakan yang terus- menerus melahirkan kebiasaan.

Kebiasaan akan melahirkan karakter.

Karakter Inilah yang memperlihatkan warna kita.

Kalau karakternya begini, dreamnya begini kira-kira bisa tercapai tidak

NB. Sharing diskusi The Power of Life-nya TRIJAYA FM

Menulis adalah Kebutuhan

Berbicara mengenai menulis dan tulisan..

Terkadang membuatku malu, tak tahu harus berkata apa.
Apalagi ngeblog begini, sejujurnya tak punya modal khusus, selain NEKAD. Ya.. asal tulis aja apa yang ada di pikiran, mengungkapkan apa yang dirasakan. Namanya ngeblog kan ga ada standar macem-macem. Ga ada yang nyensor juga. Jadi ga ada kamus ga dimuat, kecuali emang ga ada keinginan buat menulis alias lagi kena penyakit malas. Disitulah indahnya ngeblog.. Tulisanku ga berbentuk pun bisa tetap eksis di dunia maya. Yang penting berani malu dech. Siapa tau ada yang suka dengan tulisan ancur ini. Nyasar ke sini.. eh nyesel ga balik lagi. he he he. Gapapa setidaknya sudah menyumbang satu klik. Hitung -hitung bisa nambah blog statistik. Lumayan kan, walau the guest ga mampir ke sini lagi..

Disadari ato engga, ternyata merangkai huruf A – Z itu butuh seni ya. Dan Entah bagaimana karya seni yang sudah nekad kuhasilkan di blog ini.

Di awal membuat blog ini sih inginnya menulis yang oke, keren, bagus. Wah bayangannya siy yang muluk -muluk gitu. Paling tidak bisa nulis artikel, “sukur-sukur” bisa yang sedikit ilmiah.

Jiaaah, kenyataannya masih jauh dari apa yang ku idealkan. Maluu..?? sebenarnya iya. Tapi sudah bermuka badak. Jadi tak tahu malu lagi. Maju terusss dech. Apapun hasil tulisanku.

Boro – boro memikirkan kebutuhan pembaca, apa yang kira-kira menarik dan bermanfaat bagi orang lain. Lha bisa menulis saja sudah banyak bersyukur. Apalagi kalau ada yang memberi komentar, seneng banget dech.

Bagiku, menulis adalah pilihan. Daripada ga eksis sama sekali di dunia nyata ya nyoba-nyoba meng-eksiskan diri-lah di dunia maya. Sapa tau tar bisa eksis beneran di dunia nyata. Ga ada ruginya.

Di sisi lain, menulis itu seakan sudah seperti candu bagiku.. Ada yang hilang kalau ga nulis. Rasanya ga plong, rasanya nyesek di dada, rasanya aneh… Walo sekedar curhat beginian. walo tulisan ringan sekedar cerita sehari -hari. Aneh ga sih?

Ehm, meminjam teorinya Maslow, menulis adalah kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri. Jadi bila tidak terpenuhi akan menjadi stressor tersendiri. Ya ibaratnya orang lapar kan butuh makan, orang lelah butuh istirahat. Nah orang yang suka nulis kalau dilarang nulis atau kebetulan belum sempat menuangkan ide yang bermunculan di otak, menuangkan rasa yang bergejolak di hati maka bisa dibayangkan.. Ga enak rasanya..

Aku belum pernah sih membaca tulisan ilmiah tentang menulis, blogging dan aktualisasi diri. SEpertinya bagus juga tuh untuk diteliti. Wah.. lucu, tiba-tiba aja ada ide penelitian. Sayang, sudah ga jamannya lagi skripsi.

Begitulah otakku, suka ga nyambung. Saat mencari ide ini, dapatnya malah itu. Giliran diminta nyari ide penelitian atau buat tulisan tentang psikologi agama atau yang berbau-bau agama eh malah dapatnya ide begitu.

Ck.. ck.. ck.. Andaikan saja otakku ada tombol on of yang bisa kusetel dengan baik. Wah asyik kali ya. Saat aku ingin membuat tulisan berbau psikologi agama. Tinggal pencet tombol tertentu maka segera keluar ide tertentu, langsung mengalir lancar dalam tulisaaan. Wuiih.. indah banget duniaku kalau bisa begitu ya..

Trus pas aku ingin membuat tulisan berbau motivasi untuk majalah smart.. Tekan tombol yang berbeda. Teeet.. keluar ide dan langsung menjadi tulisaaan. Asoy banget mah..

Ahaaa… Insight baru muncul. Yang kurang beres otakku nih. Jarang diasah, jarang dilatih, atau emang otakku aja yang perlu di up grade ya? menurut kalian yang mana kira-kira letak erornya???

Semuanya??? Waduh mesti kerja keras niy. Up grade segera dengan membaca buku-buka yang berbobot. Iya, tau siy. Cumaaa.. (idih ngeles)

Buku berbobot membuat cepet mengantuk, belum apa-apa selera hilang, mati rasa..

Trus kok bisa ngaku-ngaku berprofesi sebagai calon peneliti?
Entah, keberuntungaku aja kalee. Kuyakin aku bukan seorang yang ber IQ cerdas, bukan seorang yang berwajah serius, apalagi muka jenius.

Ada salah seorang teman yang tertawa begitu aku ketrima jadi calon peneliti. Wah ga ada tampang. Cocoknya tuh kamu jadi apa ya? Pokoknya aneh deh.. jawabnya.

Yee biarin.. jawabku begitu. Kuyakin aku bukan orang pinter, bukan orang jenius, ga bertampang peneliti. Mungkin lebih cocok jadi guru Tk, begitu jawab temenku itu.

Halah, setidaknya membawa nuansa baru, begitu jawabku. Setidaknya para peneliti yang melihatku bisa sedikit terhibur dengan wajah ceriaku, dengan diriku yang cenderung ekspresif, spontan etc-lah..

Masalah bisa menulis dengan baik atau engga, ya belakanganlah. Yang penting dijalani dulu. Toh Allah sudah meng-acc diriku di sini sebagai calon peneliti. Walo awalnya aku ga nyangka juga siy akan berprofesi begini..

Menulis aja sukanya yang berbau -bau diary.. Apa iya nanti bisa membuat tulisan yang ilmiah, yang membutuhkan daya analisis tajam??? uhuyyyy ga ngertilah..

Ga usah terlalu serius begitu, bisa -bisa jadi botak tar, bertampang peneliti beneran kan malah aneh jadinya. Tar “ku bukan diriku lagi”
ku bukan yang duluuu lagi,
dimana candamu sayang,
di mana kasihmu..

Kulihat dari wajahmu..
(lho malah kebablasan nyanyi)

udahlah kalau memang menulis adalah suatu kebutuhan, ya tinggal menulis aja.. Gitu aja kok repottt..

Lagian ngeblog juga ga ada aturan tata tulis atau EYD..
Eits.. kalau ada Pak Guru yang denger bisa protes..
hi hi hi…

PNS Ibarat Tanaman dalam Pot

PNS Ibarat Tanaman dalam Pot.

Hmm, suatu istilah yang kudapatkan dalam acara diklat kepegawaian akhir Mei 2010 kemarin. Ya, Pak Kanwil kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah yang memberikan istilah demikian.

Mengapa tanaman dalam pot?
Ya, karena PNS itu abdi negara, maka gaji bulanannya sudah bisa dikira-kira seberapa banyaknya. Ibaratnya tanaman ya akarnya bisa mencari sari-sari makanan sebanyak yang tersedia di dalam pot. Kalau ga cukup ya.. bolehlah akarnya keluar sedikit dari pot. Cari pekerjaan sambilan gitu. Tetapi kalau akarnya kebanyakan keluar dari pot bisa dipastikan potnya akan pecah. he he he. Maksudnya, konsentrasi ke pekerjaannya sebagai abdi negara tidak akan bisa optimal. Misalnya dia lebih mengurus bisnisnya dibanding pekerjaan kantor. Itu tidak diperbolehkan. Tetapi kalau akar hanya sedikit yang keluar masih diperbolehkan. Sebuah istilah yang cukup mengena di hati.

Pengalaman Pak Kanwil sendiri mengapa dia bisa menjadi kanwil ya “wis dikersakke sing kuwoso”. Mungkin ada orang yang lebih pandai dibanding dirinya, tetapi kenapa Tuhan memilih dia menjadi Kanwil yaitu tadi, mungkin dia dianggap pas untuk menjadi kanwil. Ibarat tanaman dalam pot, potnya pak Kanwil itu lebih besar dibanding pot -pot PNS yang biasa saja, tidak memiliki suatu jabatan. Gerrr, peserta spontan hampir tertawa semua. Joke yang cukup segar untuk acara malam hari. Membuat peserta diklat sekitar 300-an orang menjadi tidak mengantuk.

Hal yang berkesan dari sosoknya adalah Pak Kanwil meniti karier dari bawah. Mulai dari guru dengan gaji yang tidak “cucok” untuk membayar tenaga dan pikiran yang sudah dia keluarkan. Yang penting niatnya tulus, Pak, Bu. Biarkan Allah saja yang mengatur jalan kita mau bagaimana. Eh ga taunya kok saya sekarang bisa jadi begini ya..

Applause para audience kembali terdengar. Hal lain yang tak kalah penting agar bisa menjadi seorang yang sukses adalah KSA (Knowledge, Skill, Attitude). Bagaimana kita mau berusaha mencari ilmu, pengetahuan secara terus-menerus didukung keahlian dan sikap yang baik. Insya Allah kesuksesan akan bersama kita. Amiin

(^ _ ^)

Comfort Zone (Adversity Question)

Mulai melangkah terkadang terasa berat. Ada banyak gangguan, bisikan yang kadang melemahkan. Pertimbangan-pertimbangan memang diperlukan. Tetapi kalau hanya menimbang tanpa mulai melangkah dan menetapkan suatu pilihan bisa menjadi suatu kelemahan.

Teman yang sudah melangkah bisa saja sudah sampai jauh di depan, lha kalau kita masih juga bingung antara maju, mundur, jalan mana yang akan dipilih? mana bisa segera memperoleh kemajuan kalau begini caranya..

Jebakan paling manis adalah comfort zone. Kondisi ini kita alami ketika ada rasa nyaman, sukses, dan tidak ada keinginan untuk meraih hal yang lebih tinggi.

Bukan berarti ambisius, atau tidak mensyukuri setiap jenjang kesuksesan yang telah kita gapai. Kalau diibaratkan orang yang sedang naik gunung, ehm bahasa adversity question, ada tiga tipe manusia:

1. tipe yang langsung menyerah begitu di depannya terlihat gunung yang begitu tinggi. Dia tidak yakin akan mampu mendaki. Keinginan untuk menjadi orang sukses ada tetapi ketika action, mudah menyerah begitu melihat ada kendala di hadapannya.

2. tipe camp-er, yaitu seseorang yang awalnya bersemangat untuk mendaki gunung. Ketika mendapat kesulitan dia bisa menghadapi, hingga sampailah di suatu tempat yang nyaman, indah, mempesona di tengah pendakiannya. Tetapi ia merasa sudah cukup untuk berhenti sampai di situ. Tidak terdorong untuk berjuang sampai di puncak, walaupun sebenarnya dirinya mampu untuk itu.

3. tipe climber, seseorang yang terus bersemangat untuk mendaki sampai puncak. Walau ada banyak halangan kesulitan dan tantangan, ia tidak mudah menyerah. Sesekali boleh saja berhenti untuk mengembalikan tenaga, bekal untuk kembali mendaki. ketika di tengah perjalanan menemukan tempat yang nyaman, ia menikmati sebentar tetapi kemudian kembali berjuang menuju puncak yang menjadi awal tujuannya. Tipe climber adalah orang yang ketika mampu meraih suatu kesuksesan tidak cepat puas dan berhenti di situ. Ia akan terus berusaha untuk meraih kesuksesan yang lain. Baginya kehidupan adalah suatu dinamika untuk terus belajar dan mengasah potensi seoptimal mungkin.

Teori seperti itu sudah lama saya dapatkan. Tetapi dalam prakteknya kadang sedikit terlupakan. Perlu kembali diingatkan bahwa terlalu lama di comfort zone membuat kita tidak berkembang.

Kapan kita berada di comfort zone?
Saat hidup kita statis, kurang dinamis. Bisa saja kondisi itu kita sadari, bisa juga tidak kita sadari. Tapi kalau mau kita renungkan, kita evaluasi diri sejenak, dalam beberapa tahun ini, apakah hidup kita ini begini-begini saja?dalam arti kita kurang berkembang? kita merasa sudah puas dengan kondisi yang ada? Padahal bisa jadi kompetensi kita lebih dari kondisi real saat ini.

tidak inginkah meraih suatu mimpi, cita-cita yang lebih tinggi dari apa yang sudah kita dapatkan? Klo iya, segeralah kita keluar dari comfort zone. Tantang diri kita untuk memperbaiki diri, meraih cita-cita yang lebih tinggi, harapan yang belum kesampaian..

Berat mungkin untuk mengawali. Perlu kembali meluruskan niat, mengingat visi misi dalam hidup. Kembali jabarkan visi dalam misi dan planning -planning jangka pendek, menengah maupun panjang. Susun strategi untuk meraih dan siapkan diri untuk action..

Begitu mudah untuk dituliskan, tetapi tak mudah dalam actionnya. Itu wajar. Tak kalah pentingnya adalah temukan teman, komunitas yang bisa saling mendukung dan mengingatkan tentang cita-cita, harapan yang akan kita raih. jangan lupa ikhtiar diiringi dengan doa. Ketika sudah merasa maksimal di keduanya, ditutup dengan tawakal, menyerahkan hasil kepada Allah semata..

Semoga kita bisa menjadi seorang yang tidak mudah menyerah, tidak mudah lelah dalam mengumpulkan asa, menggapai cita.

Bismillah.. Moga Allah meridhai dan memberkahi slalu. Amiin
^ -^

Time to Change

Sore yang cerah, saat menunggu detik-detik menuju pulang kantor.. Ah, masih setengah jam lagi. Mau kerja, udah ga mood. Mau pulang? kok belum saatnya ya.. walo ada beberapa gelintir orang yang diem-diem udah ngilang dari kantor. .
Masih utak-atik di depan laptop.. Ga tau mo ngapain. mau browsing udah nanggung. Mo fesbuk-an aduww… gitu-gitu doank statusnya. lagi males komenn.

Eh ada salah seorang temen lewat.. kusapa.. ngobrol dech sambil nunggu jam pulang (hi hi hi.. ga jelas juga ya..)

‘Kok belum pulang?” tanyaku “
‘Kan masih setengah jam lagi,” jawabnya sambil tersenyum.

Dalam hati, walah rajin banget pulang on time. Rajin ngepassin jam pulang maksudnya, he he he. Lha sama aja udah ga produktiff. Di kantor juga mo ngapain. sebenarnya tadi mo ngajak pulang aja biar sama-sama bolos setengah jam. Lumayan kan???

Jadi inget masa-masa sekolah. Rasanya klo udah jam 12 siang tu, udah ga efektif lagi. Bawaannya males belajar, pengen bebas dari biologi, bahasa Indonesia, apalagi matematika. Jarang tuh diletakkin di jam siang. Otak udah mau berontak, ga mau mikir yang berat-berat. bawaaannya mo pulang, makan, istirahat, ato jalan-jalan ma teman-teman.

kenapa bisa gitu ya? bosan, jenuh, lelah, lelah, ato kenapa ya?hmmm…

Di sisi yang laen, klo kuamati, ada juga orang yang setiap hari bisa tetep kerja dengan giat.. Kesannya tidak ada yang namanya mood-mood-an. Everyday produktif. Bisa gitu ya?

Aku sendiri kok beda ya? ada saatnya rajin, ada saatnya males.. gelombang naik turunnya itu terasa. walo bisa juga kalo terpaksa harus selesai saat itu, aku bisa menyelesaikan juga dengan lembur. tapi klo dari sisi konsistensi, ehm dalam arti sedikit-demi sedikit.. nyicil setiap hari.. susah banget. . Rasanya bosan klo harus begitu. aku lebih suka spontanitas, klo 1 pekerjaan bisa langsung selesai itu bagus. klo terlanjur tertunda.. maka biasanya udah susah buat nglanjutin lagi..

Demikian juga ngeblog.. klo tulisan ga langsung jadi n ga langsung di posting, biasanya akan berakhir di konsep/draft, delet atau bahkan menjdi tulisan yang kubiarkan begitu saja..

Padahal menurut teori.. tullisan yang bagus itu.. Ga bisa sekali jadi.. ada proses editingnya. Bisa jadi tulisan yang belum jadi itu suatu saat akan bisa dikembangkan menjadi tulisan yang bagus.. Itu kiat-kiat yang kuperoleh dari para penulis yang udah profesional.

entahlah.. sampai kapan mau begini-begini terus..
Alloh tidak akan mengubah nasib suatu kaum, melainkan melalui usaha kaum itu sendiri.

So.. jika ingin kualitas yang lebih, maka dibutuhkan kemauan untuk mengubah dan memperbaiki diri. Ups, salah dink.. tindakan nyata untuk berubah. Nah, itu sudah tau. Semua orang juga sudah tahu… Prakteknya itu loh yang susahhhhhh..

Termasuk untuk bisa berubah dan memanfaatkan waktu-waktu yang biasa diabaikan oleh kebanyakan orang.

Bukankah..Orang yang luar biasa adalah orang yang bisa memanfaatkan waktu-waktu dimana orang lain biasa menyia-nyiakannya…

So… tunggu apalagi..