Patah hati tuh, kalau dipikir-pikir bisa bikin capek juga loh. Beneran dech. Menguras pikiran, menguras waktu. Duh, kaya hidup ini cuma buat patah hati aja ya? Gimana kita bisa berprestasi kalau patah hati masih terus menghantui.
Idiiih.. sapa juga yang mau patah hati? Andaikan ditawarin dulu, pasti kita akan jawab, “ogah dech.”
Tapi, kalau toh memang mesti patah hati kan ga bisa kita tolak juga. Jadi mo gimana lagi.. Kompromi dunk sama yang namanya patah hati. Iya engga?
“Kompromi? maksud loe?”
Ya sudah, terima saja kalau kita patah hati..
Trus segera tindak lanjuti.
Tetapkan bahwa “patah hati kita cukup sampai di sini saja”.
Ga usah di perpanjang lagi. Kalau tau ga bermanfaat masa siy masih juga dibiarkan saja?
“ye, sapa juga yang niat memperpanjang. tapi kan kadang-kadang patah hati lagi saat keinget dia, kadang lupa, kadang inget lagi, nangis lagi. gitu dech.”
Wah, itu sih belum sembuh beneran. Masih ada sisa-sisa luka. Bisa jadi, luka yang masih dalam proses penyembuhan itu jadi kembali berdarah. Malah bisa semakin parah. Makanya dijaga dunk!
Caranya?
Ehm, sebentar, apa ya? Ini aja dech. Menjaga stabilitas kedekatan kita padaNya. Jika iman kita stabil, Insya Alloh kita lebih survive.
Jadi katakan “cukup sampai di sini! untuk patah hati. “