Patah Hati? Cukup Sampai di Sini

Patah hati tuh, kalau dipikir-pikir bisa bikin capek juga loh. Beneran dech. Menguras pikiran, menguras waktu. Duh, kaya hidup ini cuma buat patah hati aja ya? Gimana kita bisa berprestasi kalau patah hati masih terus menghantui.

Idiiih.. sapa juga yang mau patah hati? Andaikan ditawarin dulu, pasti kita akan jawab, “ogah dech.”

Tapi, kalau toh memang mesti patah hati kan ga bisa kita tolak juga. Jadi mo gimana lagi.. Kompromi dunk sama yang namanya patah hati. Iya engga?

“Kompromi? maksud loe?”

Ya sudah, terima saja kalau kita patah hati..
Trus segera tindak lanjuti.
Tetapkan bahwa “patah hati kita cukup sampai di sini saja”.
Ga usah di perpanjang lagi. Kalau tau ga bermanfaat masa siy masih juga dibiarkan saja?

“ye, sapa juga yang niat memperpanjang. tapi kan kadang-kadang patah hati lagi saat keinget dia, kadang lupa, kadang inget lagi, nangis lagi. gitu dech.”

Wah, itu sih belum sembuh beneran. Masih ada sisa-sisa luka. Bisa jadi, luka yang masih dalam proses penyembuhan itu jadi kembali berdarah. Malah bisa semakin parah. Makanya dijaga dunk!

Caranya?

Ehm, sebentar, apa ya? Ini aja dech. Menjaga stabilitas kedekatan kita padaNya. Jika iman kita stabil, Insya Alloh kita lebih survive.

Jadi katakan “cukup sampai di sini! untuk patah hati. “

Patah Hati itu Karma?

Patah hati lagi yang saya tulis.
Iya.. ingin rasanya segala hal yang berkaitan dengan patah hati saya kuras habis di sini. Biar tidak tersisa satu pun di otak dan di hati.

Tak tahu apalagi yang mesti saya tulis. Biarlah mengalir saja. Agar saya puas, agar saya tenang.

Ehm, apakah patah hati itu berarti karma? karena saya pernah mematahkan hati seseorang? Makanya biar adil, sayapun dikasih patah hati oleh Tuhan? Jadi lain kali.. saya bisa lebih berhati-hati untuk mematahkan hati seseorang? (ups, semoga saya tidak akan membuat patah hati lagi atau dibuat patah hati lagi).

Padahal saya mematahkan hati dengan cara yang lembut. Menolak secara halus. Tapi, ah yang namanya penolakan pastilah tidak mengenakkan, rasanya sakit.

Demikian pula ketika saya sendiri dipatahkan hati oleh seseorang dengan cara yang sangat sopan, lembut, manis. Justru patah hati yang saya rasakan semakin dalam. Betapa manisnya cara dia menolak diri saya, membuat saya semakin menangis tergugu..

Inikah karma?

Entahlah.. Yang pasti, saya senantiasa berhati-hati untuk berhadapan dengan “hati” orang lain. Karena hati saya sendiri juga tak mau terluka. Bahkan, ketika terluka-pun terasa manis. Ya, luka yang manis membuat saya menangis dan meringis..

Itulah pengalaman saya. Menolak dengan sopan dan manis. walhasil, sayapun pernah ditolak dengan sopan dan manis..

Impass bukan??? =)

Lagi-Lagi Patah Hati

Menulis tentang patah hati lumayan membantu mengobati luka. Setidaknya hati menjadi lebih tenang. Air mata yang tergenang di pipi adalah obat. Mengeluarkan hormon yang mampu menyetabilkan emosi.

Ah, memang keluarnya air mata inilah yang dinanti..
Agar tidak menyesak di hati..

Pernahkah kita merasa sedih sekali..
Hingga air mata kita mengering (saking sedihnya).
Justru selagi tangis masih tertahan..
Akan semakin memberat langkah kita..

Coba keluarkan lewat air mata..
Maka akan menemukan kelegaan..
Walaupun jalan keluar sesungguhnya belumlah kita temukan..

Menangis tak selamanya cengeng..
Menangis adalah suatu bentuk kelemahan manusia..
Atas takdirNya yang belum sepenuhnya kita terima..

Jadi, tak perlu ragu untuk menangis..
Menangislah..
Atas diri yang belum juga ridho dengan ketentuaNya..

Menangislah..
Atas diri yang penuh dosa dan kesombongan..

Menangislah..
Untuk sebuah usaha menemukan keikhlasan..