Belajar dari Semangat Juang Thoriq bin Ziyad

Mengapa masih ragu untuk melangkah???
Bukankah niat dan tujuan sudah ditetapkan?

Mengapa masih bingung??
Masihkah terlena oleh comfort zone-mu?

Mengapa tidak jua segera berkemas?
masihkah menghitung kendala, kesulitan yang kemungkinan timbul? Takutkah untuk melangkah ke luar dari zona amanmu?

Jika membayangkan kesulitan dan kendala, hanya kelemahan, keraguan yang kita dapati.
Tidak-kah kau berpikir bahwa hidup tak mungkin akan selalu berjalan mulus dan lancar. Pasti akan ada kesulitan menuju cita-cita dan tujuan. Itu sudah pasti.

Pilih mana, tetap di zona aman tapi tidak bisa banyak berkembang, atau keluar dari zona aman dan menghadapi berbagai tantangan dan kesulitan baru?PILIH MANA?

Bukankah tantangan, kesulitan akan memaksa diri kita untuk berkembang dan maju. Kalau ditawari, belum tentu diri kita akan mau. Ingginnya maju, sukses tanpa hambatan. jelas itu bertentangan dengan sunatullah (hukum Tuhan). Justru kesulitan dan kendala adalah sarana yang efektif untuk meningkatkan kompetensi, kualitas diri kita. Baik kualitas teknis maupun kualitas kedekatan kita pada Tuhan.

Masih ragu? Ya, apakah kau mampu? Apakah kau siap?
Pertanyaan yang seringkali mengecilkan niat. Bagaimana kau tau sudah siap atau tidak jika tidak kau persiapkan dan tidak juga kau lakukan?

Solusinya: kembalikan luruskan niat, banyak berdoa. Terkadang hati kita begitu ingin melangkah, tetapi dalam kondisi yang berbeda bisa kembali melemah. Yup, disitulah godaan untuk meraih kesuksesan.

Hal yang menarik, belajarlah dari Thoriq bin Ziyad. QUOTE YANG SANGAT INSPIRATIF DARINYA: “Kita datang ke sini bukan untuk kembali. Kita hanya memiliki dua pilihan: MENAKLUKKAN NEGERI INI lalu tinggal di sini ATAU kita semua BINASA!”

Yup, aku jadi sangat malu bila membaca sejarah Islam tentang semangat juang Thoriq itu. Padahal aku cuma ingin pindah kost ke Ngaliyan dan keluar dari zona amanku. Itu saja.. Kok berat banget untuk melangkah ya???
Tak bisakah aku sedikit saja mewarisi keberanian Thoriq bin Ziyad itu? “SEKALI MAJU, TAK ADA KESEMPATAN UNTUK MUNDUR LAGI”. Kenapa begitu, karena kapal, telah mereka bakar sendiri, jadi tak ada pilihan untuk mundur dan kembali melainkan maju dan hadapi. Dengan kata lain hanya ada pilihan HIDUP MULIA ATAU MATI SYAHID (mati memperjuangan nilai kebenaran yang diyakini).

Duh, aku malu jika mengingat dan merenungkan heroikismenya. Aku bukan dia. Tetapi tidak salahkah jika aku ingin bisa SEKUAT DIRINYA untuk maju dan tidak memberi kesempatan untuk mundur dan ragu??? Tidak lain untuk mewujudkan cita-citaku, harapanku.

Masihkah ragu?? Ingat Thoriq bin Ziyad..
Masih ragu? Ingat Thoriq bin Ziyad..

Bismillah, aku berkemas-kemas dulu ya..

Niy ada sedikit cerita tentang Thoriq bin Ziyad. Pahlawan Islam yang luar biasa. Semoga kita bisa meneladani dan mengambil hikmah darinya. Amiiin

Thariq bin Ziyad bin Abdullah bin Walgho bin Walfajun bin Niber Ghasin bin Walhas bin Yathufat bin Nafzau adalah putra suku Ash-Shadaf, suku Barbar, penduduk asli daerah Al-Atlas, Afrika Utara. Ia lahir sekitar tahun 50 Hijriah. Ia ahli menunggang kuda, menggunakan senjata, dan ilmu bela diri.

Senin, 3 Mei 711 M, Thariq membawa 70.000 pasukannya menyeberang ke daratan Eropa dengan kapal. Sesampai di pantai wilayah Spanyol, ia mengumpulkan pasukannya di sebuah bukit karang yang sekarang dikenal dengan nama Gibraltar -diambil dari bahasa Arab “Jabal Thariq”, Bukit Thariq. Lalu ia memerintahkan pasukannya membakar semua armada kapal yang mereka miliki.

Pasukannya kaget. Mereka bertanya, “Apa maksud Anda?” “Kalau kapal-kapal itu dibakar, bagaimana nanti kita bisa pulang?” tanya yang lain.

Dengan pedang terhunus dan kalimat tegas, Thariq berkata, “Kita datang ke sini bukan untuk kembali. Kita hanya memiliki dua pilihan: menaklukkan negeri ini lalu tinggal di sini atau kita semua binasa!”

Kini pasukannya paham. Mereka menyambut panggilan jihad Panglima Perang mereka itu dengan semangat berkobar.

Lalu Thariq melanjutkan briefingnya. “Wahai seluruh pasukan, kalau sudah begini ke mana lagi kalian akan lari? Di belakang kalian ada laut dan di depan kalian ada musuh. Demi Allah swt., satu-satunya milik kalian saat ini hanyalah kejujuran dan kesabaran. Hanya itu yang dapat kalian andalkan.

Musuh dengan jumlah pasukan yang besar dan persenjataan yang lengkap telah siap menyongsong kalian. Sementara senjata kalian hanyalah pedang. Kalian akan terbantu jika kalian berhasil merebut senjata dan perlengkapan musuh kalian. Karena itu, secepatnya kalian harus bisa melumpuhkan mereka. Sebab kalau tidak, kalian akan menemukan kesulitan besar. Itulah sebabnya kalian harus lebih dahulu menyerang mereka agar kekuatan mereka lumpuh. Dengan demikian semangat juang kita akan bangkit.

Musuh kalian itu sudah bertekad bulat akan mempertahankan negeri mereka sampai titik darah penghabisan. Kenapa kita juga tidak bertekad bulan untuk menyerang mereka hingga mati syahid? Saya sama sekali tidka bermaksud menakut-nakuti kalian. Tetapi marilah kita galang rasa saling percaya di antara kita dan kita galang keberanian yang merupakan salah satu modal utama perjuangan kita.

Kita harus bahu membahu. Sesungguhnya saya tahu kalian telah membulatkan tekad serta semangat sebagai pejuang-pejuang agama dan bangsa. Untuk itu kelak kalian akan menikmati kesenangan hidup, disamping itu kalian juga memperoleh balasan pahala yang agung dari Allah swt. Hal itu karena kalian telah mau menegakkan kalimat-Nya dan membela agama-Nya.

Percayalah, sesungguhnya Allah swt. adalah penolong utama kalian. Dan sayalah orang pertama yang akan memenuhi seruan ini di hadapan kalian. Saya akan hadapi sendiri Raja Roderick yang sombong itu. Mudah-mudahan saya bisa membunuhnya. Namun, jika ada kesempatan, kalian boleh saja membunuhnya mendahului saya. Sebab dengan membunuh penguasa lalim itu, negeri ini dengan mudah kita kuasai. Saya yakin, para pasukannya akan ketakutan. Dengan demikian, negeri ini akan ada di bawah bendera Islam.”

Keep on Trying

Terus Berjuang dan berproses

Tetap Berjuang dan Berproses (Dwee-Marty)

Ada satu hal yang menarik, ketika seorang kenalan bercerita pada saya. Dia ingin mengurangi kebiasaan buruknya. Dengan santainya menceritakan kalau mempunyai “rasa” dengan seseorang, nota bene bukan istrinya. Bahkan dia mengatakan “lagi butuh vitamin” niy. Begitulah kalau dia sedang kangen dengan wanita pujaannya. Sms atau telpon-telponan dia lakukan. Lebih mesra dibandingkan ketika dia lakukan dengan istrinya. Saya saja bisa membedakan bagaimana ekspresi wajahnya, kemesraannya ketika dia menelpon ‘sang vitamin’. Anehnya lagi, ketika dia menelpon istrinya dia ga bisa selama dan semesra itu. Saya sampai mesem-mesem dan kadang sengaja batuk-batuk mengganggunya ketika dia sedang membutuhkan vitamin. Lanjut membaca