Bete… nulis aja

Tak terasa sepertiga Maret sudah kita lalui. Fyuhhh.. Februari bener-bener terlewatkan untuk sekedar mengisi blog ini. Ngapain aja yak? Itulah kalau lama tak menulis, serasa ada bagian cerita hidup yang terlewatkan. Walau cerita aneh, lucu, patah hati, jatuh hati etc kalau di tulis di blog setidaknya kan bisa jadi memori pribadi. Diary perkembangan diri yang bisa dianalisis dari sisi psikologis. Oh ini masa-masa jatuh, ini masa bangkit lagi, ini masa ga jelas wkwkwkw… Malu-maluin dan ga punya malu sama sekali. Apalagi ditulis diblog yang bisa dilihat publik… Hah biarinlah..

Yuk nulis lagi. Setidaknya latihan corat-coret, walau belum ada satu bukupun yang diterbitkan. Menulis.. menulis.. menulis…. Hingga sampai disuatu titik andaikan hasil tulisanmu bisa berbicara dan berkomentar.. “Ga tau malu niy orang”.. Nulis terus kagak jelas juntrungannya..
Iyaaa…………… lagi pusing bikin papper ga jadi-jadi…………..
Mau bantu????
Bantu kasih komentar..
Bantu kasih saran..
Bantu nemeni doank sambil tiduran jg gapapa (makin ga jelas)..
Udah ah, niat baik selalu banyak godaannya..
Dan yang pasti klo ga dimulai-mulai ga bakal selesai-selesai juga..
Ga usah dijelasin juga semua orang tau kok =)

Tau apa?

Lagi bete..

Bete ma siapa?

Sama kamu, siapa lagi coba????

Lagi sebel

Sama siapa?

Sama kamu, siapa lagi coba?

=)

Virus Apakah Ini???

Begitu berat untuk menulis..
Tak tahu apa yang mesti ditulis..
Aku malas untuk menulis..
Tapi hatiku ingin menulis..

Prie GS berkata “MENULISLAH DENGAN HATI”. Ya, ungkapan yang selalu melekat dalam ingatanku ketika mengikuti pelatihan menulis setahun lalu. Tulislah dengan segenap jiwa dan hatimu, agar hasilnyapun bisa sampai ke hati pembaca. Tidak kering, tidak hampa, tidak membosankan.

Menulis, banyak sekali manfaatnya. Salah satunya melatih otak kita untuk berpikir, merangkai kata dan kalimat. Di sisi lain dengan menulis juga mengasah kecerdasan emosi kita. Ketika menulis, sisi emosional penulis terlibat dalam proses penulisan. Tentu saja akan berbeda tulisan dengan ide yang sama ditulis dengan kondisi hati yang berbeda. Tak akan sama hasilnya.

Menulis merupakan upaya merecall memory di otak. Bila lama tidak menulis, walaupun ide sudah ketemu tetapi akan susah sekali ketika menuangkannya ke dalam tulisan. Otak terasa kaku dalam bekerja, pun hasil tulisan tersendat-sendat, tidak bisa mengalir dengan lancar. Saya sendiri merasakannya. Lama sekali saya tidak menulis, ketika memulai kembali terasa berat. Mau menulis apa ya? Kok susah sekali. Inginnya menulis tentang A, lho kok keluarnya malah B. Ingin mengeluarkan uneg-uneg ini kok malah jadi tentang itu. Rasanya antara otak dan hati jadi kurang selaras, kalau lama tidak menulis. Ehm.. ada sesuatu yang hilang.. Yang susah untuk didapatkan kembali. SEperti kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup. SEsuatu yang biasanya mewarnai hari-hari, mendadak hilang, pergi.. SEdih sekali bukan?

Bagaimana menemukan kembali makna dan arti pentingnya menulis.. itulah yang kuinginkan. Menulis sebagai suatu kebutuhan yang mengasyikkan, bukan keterpaksaan. Menulis seperti seorang yang sedang jatuh cinta. Ingin terus menulis, menulis dan menulis. Mempersembahkan karya yang terbaik, sesempurna mungkin, walau kusadar tak akan pernah ada yang sempurna. Tapi aku ingin jatuh cinta lagi, lagi, lagi dan lagi dengan dunia tulis-menulis.

Sudah lama aku “putus” dengan dunia tulis menulis. Bagaimana aku memulainya ya? Jatuh cinta lagi, itu bukan perkara yang mudah bukan? Tak mampu kuatur, kusetting, kurencanakan kapan dimana dan bagaimana prosesnya. Hah… repot malah jadinya.

Patah hati dengan dunia tulis menulis, iya pernah. Saat dunia tulis menulis menjadi sebuah beban berat yang harus dijalani. Laporan database ke lapangan, tugas majalah smart di kantor. Fiuhhhh… bener-bener kurasakan sebagai beban yang menghimpit, menyesakkan, menyebalkan, dan ingin sekali kuhindari ketika itu. Dengan berkedok dan alasan sibuk, banyak pekerjaan kantor lain yang mendesak untuk segera diselesaikan. Jadinya segala aktivitas yang berbau tulis-menulis,membutuhkan konsentrasi pikiran seakan tak mungkin dikerjakan di kantor. Jadi PR alias take home. Ya, wajar sajalah, dikantor dengan dalih mengurusi kepegawaian. Hmmm, kalau saya cermati sendiri, saya tidak perform akhir-akhir ini di kantor. Tidak suka, setengah-setengah mengurusi dan melayani pegawai. Apalagi hitung-menghitung presensi pegawai, mengecek pegawai yang terlambat, tidak ikut apel dsb. Malas, bosan, entahlah saya sedang terkena sindrom apa. Saya tahu, saya sedang terkena virus penurunan kinerja. Bodohnya, sudah tahu tetapi susah untuk merubahnya. Anti virus seperti apa ya, yang pas untuk saya?

Di sisi lain, menulispun terbengkelai. Dalam arti pekerjaan yang berkaitan dengan laporan, membuat tulisan, anotasi buku begitu masuk tas, dibawa pulang sudah tidak tersentuh. Malas sekali untuk mengerjakannya begitu sampai di rumah. Maka FB-pun menjadi pelarian yang manis.. Meng-update status, memberi komentar pada status orang lain, becanda. Ah.. begitu mudah tergoda untuk melakukan hal-hal ringan yang terkadang melenakan waktu dan pikiran. Jadi tidak fokus dengan apa yang seharusnya dan semestinya dilakukan.. Dan lagi-lagi, saya belum menemukan anti virus yang pas. MUNGKIN VIRUSNYA GAWAT, sudah menjalar ke otak, hati dan jiwa saya, sehingga lama-lama saya bisa gila….

Ya, gila karena belum juga menemukan anti virus yang pas. Penyakit yang kronis dan mendesak untuk segera disembuhkan. Penurunan kinerja, kemalasan, kecuekkan, kemarahan, hingga kadang saya sendiri merasa aneh dengan diri saya sendiri. Kok bisa begini ya??? Tak terasa sedikit demi sedikit mulai berubah.. berubah.. berubah… hingga tanpa disadari sudah banyak berubah.. Parahnya bukan perubahan ke arah kebaikan, tetapi perubahan ke arah kemunduran performancy.. Menakjubkan sekali bukan virus yang menyerangku? Pelan, tak terlihat, tak terasa nyata eh.. tiba-tiba sudah menjalar ke segenap otak, jiwa dan raga saya..

Virus apakah yang menyerang saya sebenarnya???
Sebagai seorang yang beriman, saya menyadari alert dari sang jiwa ketika keimanan mulai turun. Pelan-pelan hingga tak terasa sudah turun begitu banyak. TUbuh jadi tidak nyaman, hati dan jiwa-pun tidak tenang. Bekerja jadi malas-malasan, Ibadah berat. Puasa juga tidak segiat sebelumnya. Sholat tidak di awal waktu, tilawah Al Quran terasa berat. Ah.. syetan begitu cerdik menggoda saya, mencari sisi lemah saya hingga terjerat dalam virus yang melenakan, membuat saya semakin jauh saja dariNya. Walau di akhir ramadhan sempat merasakan kedekatan denganNya ketika itikaf di masjid.

Benar-benar berbeda sekali, ketika keimanan dalam kondisi bagus, dibandingkan keimanan dalam kondisi lemah. Dalam kondisi yang dekat denganNya, maka segala aktivitas hidup terasa ringan, wajah cerah ceria, hati tenang walaupun banyak beban dan tugas yang harus segera diselesaikan. Di sisi lain ketika keimanan turun, maka hati mudah sekali mengeluh, beban jadi terasa semakin berat, mudah terbawa marah, sedih, pesimis bahkan kadang merasa kesal dengan TUhan. Tidak sabar dengan ujian kehidupan. Lagi-lagi virus apa yang menyerang saya ini?

Hmmm… apa yang menyebabkan iman seseorang turun? virus apa?
Orientasi hidup, ya.. ketika dunia telah menjadi tujuan dibandingkan akherat, ketika harapan dan impian digantungkan pada manusia bukan lagi pada tUhan. Ketika uang, harta, tahta, wanita/pria menjadi hal yang dikedepankan dibandingkan meraih ridhoNya. Sungguh, tanpa disadari dunia begitu melenakan. Kemudahan -kemudahan yang didapatkan menjadikan hati menjadi kotor, tidak lagi peka dengan kebaikan dan perbaikan. Begitu berat hati dan jiwa ini untuk menghamba padaMu, bukan lagi menghamba pada dunia.

SEmoga.. saya bisa segera menemukan anti virusnya. Merubah orientasi hidup semata-mata untukNya. Saya yakin dan percaya dengan meraih ridhoNya, maka duniapun akan mengikuti kita. Rejeki, harta, tahta, jodoh, semua diatur olehNya. Gantungkan semua harapan, cita-cita dan cinta padaNya, ya padaNya semata. Dia Maha cemburu pada kita, ketika kita lebih mencintai dunia dibandingkan cinta terhadapNya. Maka Dia akan menegur kita dengan berbagai cara sebagai bukti kecintaanNya pada kita. Masihkah ragu, sombong, merasa diri bisa tanpaNya?
SUNGGUH MANUSIA BUKAN APA-APA, BUKAN SIAPA-SIAPA TAK MAMPU APA-APA TANPANYA.. YA, SEMUA TERJADI, BISA KITA RAIH DENGAN IZINNYA. MAKA GANTUNGKANLAH DIRI KITA, HAMBAKANLAH JIWA RAGA KITA, MEMOHONLAH PADANYA SEMATA. HANYA DIA YANG TAHU YANG TERBAIK UNTUK KITA, JANGAN MERASA DIRI MAMPU, BISA, TAHU YANG TERBAIK.. SEKALI LAGI.. MANUSIA TIDAK PUNYA KUASA APA-APA DIBANDINGKAN KUASANYA..
MAKA, MASIHKAN KITA SOMBONG UNTUK PASRAH DAN MENYERAHKAN DIRI SEPENUHNYA PADANYA?

Berbranding seperti apakah Blog kita?

Blogwalking itu menyenangkan bagiku..

Salah satunya bisa mencermati karakter orang dari gaya tulisannya.. Walo ga jago. Masih amatiran. Belajar otodidak. Trial -Eror.. Ya, setidaknya mempraktekkan ilmu psikologi yang kudapat di bangku kuliah. Ga ada salahnya tho???

Setiap kali aku bertamu ke salah satu blog, dari sisi lay out, entah pilihan warna hingga membaca tulisannya itu kok aku jadi membayangkan ya kira-kira orangnya tuh karakternya bagaimana. Kalian begitu tidak???

Bertamu ke blog ini kok suasananya sendu, melo. Ke Blog yang lain suasananya serius, ke blog yang lainnya lagi suasananya berbeda lagi. Hmmm itu mungkin blog yang sukses. Bisa menimbulkan aura tertentu hingga tercipta branding tertentu yang berkesan bagi pengunjung.

Kesan yang sudah ditangkap pengunjung akan terbawa masuk ke dalam hati. Ada klik. Ehem. Jadi lain kali kemungkinan besar dia akan kembali berkunjung ke blog anda.

Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda…

Ihirrrrr.. Makanya kalau mau blog kita berkesan dan memiliki banyak pengunjung maka perlu membuat branding, citra yang unik, beda dari yang lainnya..

Entah dari sisi contentnya yang unik, spesialisasi tulisan dengan tema tertentu atau apalah. aku sendiri tak tahu.
Kalau diibaratkan manusia itu, bisa menarik karena karakter. Jadi ciptakanlah karakter kuat tertentu pada blog anda.. So.. kekuatan karakter akan menarik pengunjung untuk kembali mendatangi blog anda???

Bagaimana dengan blog saya? Ah, saya sendiri sedang mencari jati diri. Mau dibawa ke mana blog saya????

Sekali lagi.. Blog ini adalah tempat saya belajar menulis. Jadi biarkan saja apa yang ada di hati, di otak yang bericara.. Tentang karakter blog…
Just Let it Flow!!! =)

Menulis adalah Kebutuhan

Berbicara mengenai menulis dan tulisan..

Terkadang membuatku malu, tak tahu harus berkata apa.
Apalagi ngeblog begini, sejujurnya tak punya modal khusus, selain NEKAD. Ya.. asal tulis aja apa yang ada di pikiran, mengungkapkan apa yang dirasakan. Namanya ngeblog kan ga ada standar macem-macem. Ga ada yang nyensor juga. Jadi ga ada kamus ga dimuat, kecuali emang ga ada keinginan buat menulis alias lagi kena penyakit malas. Disitulah indahnya ngeblog.. Tulisanku ga berbentuk pun bisa tetap eksis di dunia maya. Yang penting berani malu dech. Siapa tau ada yang suka dengan tulisan ancur ini. Nyasar ke sini.. eh nyesel ga balik lagi. he he he. Gapapa setidaknya sudah menyumbang satu klik. Hitung -hitung bisa nambah blog statistik. Lumayan kan, walau the guest ga mampir ke sini lagi..

Disadari ato engga, ternyata merangkai huruf A – Z itu butuh seni ya. Dan Entah bagaimana karya seni yang sudah nekad kuhasilkan di blog ini.

Di awal membuat blog ini sih inginnya menulis yang oke, keren, bagus. Wah bayangannya siy yang muluk -muluk gitu. Paling tidak bisa nulis artikel, “sukur-sukur” bisa yang sedikit ilmiah.

Jiaaah, kenyataannya masih jauh dari apa yang ku idealkan. Maluu..?? sebenarnya iya. Tapi sudah bermuka badak. Jadi tak tahu malu lagi. Maju terusss dech. Apapun hasil tulisanku.

Boro – boro memikirkan kebutuhan pembaca, apa yang kira-kira menarik dan bermanfaat bagi orang lain. Lha bisa menulis saja sudah banyak bersyukur. Apalagi kalau ada yang memberi komentar, seneng banget dech.

Bagiku, menulis adalah pilihan. Daripada ga eksis sama sekali di dunia nyata ya nyoba-nyoba meng-eksiskan diri-lah di dunia maya. Sapa tau tar bisa eksis beneran di dunia nyata. Ga ada ruginya.

Di sisi lain, menulis itu seakan sudah seperti candu bagiku.. Ada yang hilang kalau ga nulis. Rasanya ga plong, rasanya nyesek di dada, rasanya aneh… Walo sekedar curhat beginian. walo tulisan ringan sekedar cerita sehari -hari. Aneh ga sih?

Ehm, meminjam teorinya Maslow, menulis adalah kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri. Jadi bila tidak terpenuhi akan menjadi stressor tersendiri. Ya ibaratnya orang lapar kan butuh makan, orang lelah butuh istirahat. Nah orang yang suka nulis kalau dilarang nulis atau kebetulan belum sempat menuangkan ide yang bermunculan di otak, menuangkan rasa yang bergejolak di hati maka bisa dibayangkan.. Ga enak rasanya..

Aku belum pernah sih membaca tulisan ilmiah tentang menulis, blogging dan aktualisasi diri. SEpertinya bagus juga tuh untuk diteliti. Wah.. lucu, tiba-tiba aja ada ide penelitian. Sayang, sudah ga jamannya lagi skripsi.

Begitulah otakku, suka ga nyambung. Saat mencari ide ini, dapatnya malah itu. Giliran diminta nyari ide penelitian atau buat tulisan tentang psikologi agama atau yang berbau-bau agama eh malah dapatnya ide begitu.

Ck.. ck.. ck.. Andaikan saja otakku ada tombol on of yang bisa kusetel dengan baik. Wah asyik kali ya. Saat aku ingin membuat tulisan berbau psikologi agama. Tinggal pencet tombol tertentu maka segera keluar ide tertentu, langsung mengalir lancar dalam tulisaaan. Wuiih.. indah banget duniaku kalau bisa begitu ya..

Trus pas aku ingin membuat tulisan berbau motivasi untuk majalah smart.. Tekan tombol yang berbeda. Teeet.. keluar ide dan langsung menjadi tulisaaan. Asoy banget mah..

Ahaaa… Insight baru muncul. Yang kurang beres otakku nih. Jarang diasah, jarang dilatih, atau emang otakku aja yang perlu di up grade ya? menurut kalian yang mana kira-kira letak erornya???

Semuanya??? Waduh mesti kerja keras niy. Up grade segera dengan membaca buku-buka yang berbobot. Iya, tau siy. Cumaaa.. (idih ngeles)

Buku berbobot membuat cepet mengantuk, belum apa-apa selera hilang, mati rasa..

Trus kok bisa ngaku-ngaku berprofesi sebagai calon peneliti?
Entah, keberuntungaku aja kalee. Kuyakin aku bukan seorang yang ber IQ cerdas, bukan seorang yang berwajah serius, apalagi muka jenius.

Ada salah seorang teman yang tertawa begitu aku ketrima jadi calon peneliti. Wah ga ada tampang. Cocoknya tuh kamu jadi apa ya? Pokoknya aneh deh.. jawabnya.

Yee biarin.. jawabku begitu. Kuyakin aku bukan orang pinter, bukan orang jenius, ga bertampang peneliti. Mungkin lebih cocok jadi guru Tk, begitu jawab temenku itu.

Halah, setidaknya membawa nuansa baru, begitu jawabku. Setidaknya para peneliti yang melihatku bisa sedikit terhibur dengan wajah ceriaku, dengan diriku yang cenderung ekspresif, spontan etc-lah..

Masalah bisa menulis dengan baik atau engga, ya belakanganlah. Yang penting dijalani dulu. Toh Allah sudah meng-acc diriku di sini sebagai calon peneliti. Walo awalnya aku ga nyangka juga siy akan berprofesi begini..

Menulis aja sukanya yang berbau -bau diary.. Apa iya nanti bisa membuat tulisan yang ilmiah, yang membutuhkan daya analisis tajam??? uhuyyyy ga ngertilah..

Ga usah terlalu serius begitu, bisa -bisa jadi botak tar, bertampang peneliti beneran kan malah aneh jadinya. Tar “ku bukan diriku lagi”
ku bukan yang duluuu lagi,
dimana candamu sayang,
di mana kasihmu..

Kulihat dari wajahmu..
(lho malah kebablasan nyanyi)

udahlah kalau memang menulis adalah suatu kebutuhan, ya tinggal menulis aja.. Gitu aja kok repottt..

Lagian ngeblog juga ga ada aturan tata tulis atau EYD..
Eits.. kalau ada Pak Guru yang denger bisa protes..
hi hi hi…

Inspirasi dari Para Penulis (bag 1)

Kita semua hanya “mampir ngombe” di dunia ini. Kalau masa “mampir ngombe” itu sudah habis, Anda ingin dikenang sebagai penulis yang seperti apa? Ungkap Pipiet Senja. Penulis yang dalam kurun waktu 30 tahun sudah menghasilkan 96 buku, belum termasuk ratusan cerpen dan puluhan novel berbahasa sunda yang tak terdata semua judulnya. Dalam kondisinya sebagai seorang thalasemia.

(ck3.. subhanalloh… aku jadi maluuuu, too much defence mechanism-ku yang tidak mendukung, melainkan melemahkan. Harusnya pilih defence mechanism yang manis seperti Pipiet Senja itu loh.. )

klik saja http://pipietsenja.multiply.com
00000000

“You get ideas all the time. The only difference between writers and other people is we notice when we’re doing it.” Itu mungkin kutipan yang pas dari kata-kata Neil Gaiman, salah satu pengarang favorit Clara Ng, untuk menjelaskan dari mana ide-ide tulisannya berasal.

(ah… Bagiku ide berkompetisi lari dengan “kecepatan cahaya”, kalau tidak amat sangat segera sekali diikat dengan menuliskannya maka dia akan kabur tanpa permisi, apalagi basa-basi. Tega sekali… :D )
====

Ketika dianggap jadi penulis hanya bermodalkan faktor keturunan, Andrei Aksana berkomentar,

“Buat saya, bakat hanya 1%, selebihnya adalah kerja keras dan keringat.”

(Iya, justru kerja keras dan keringetnya itu loh yang sangat amat tidak murah dan mudah..)

oleh2 ngeblog walking..

dah dulu..
bye…