Menjadi Peneliti? Bismillah Saja-lah

Sudah seminggu di LIPI, mengikuti diklat fungsional Peneliti Tingkat Pertama. Di satu sisi adalah hal yang tidak mudah, suatu amanah, tanggung jawab dan kepercayaan yang harus dijaga sebaik-baiknya. Kadang merasa takut kurang mampu menjaga anugerah Allah, kesempatan yang tidak diberikan pada setiap orang. Ya, aku merasa biasa saja untuk menjadi seorang peneliti. Dari sisi kapasitas intelektual ya tidak bodoh tetapi tidak pintar. Biasa saja.

Aku hanya merasa beruntung mendapat kesempatan untuk mengikuti diklat fungsional peneliti di LIPI, tanpa harus mengeluarkan biaya sepeserpun. Biaya diklat senilai Rp.9000.000,- per orang sudah dibayar kantor pusat, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama. Transportasi dari Semarang pp Insya Allah juga ditanggung Kemenag pusat. Indah bukan? Ya, jika mendengarkan dan melihat sekilas akan terdengar begitu indah.

Menjadi seorang peneliti juga terdengar indah. Bisa jalan-jalan ke sana ke mari dengan biaya dinas. Akomodasi dibiayai. Hmmm, banyak teman-temanku yang mengatakan wah asyik ya, jalan-jalan terus.

Oke, dalam beberapa hal menjadi peneliti memang mengasyikkan. Keren. Seperti halnya LItbang (Elit dan berkembang). Peneliti adalah pekerjaan yang independen. Jabatan yang berkembang atau tidaknya itu sangat ditentukan oleh tangan dalam arti usaha orang yang bersangkutan.

Berbeda halnya dengan jabatan struktural, jumlahnya sedikit dan diperebutkan banyak orang tentu tidak mudah. Jadi teringat istilah yang disampaikan oleh Bapak Ketua LIPI, M. Bashori dalam penyampaian materi Bimbingan Karier PNS. Beliau mengatakan PNS itu bisa saja datang absen, tidur, pulang absen selama dua tahun, tahu-tahu sudah naik golongan. Makan gaji buta, itulah PNS yang di struktural.

Ingin menjadi pejabat struktural. Wah harus melibatkan 4 tangan: tangan kiri, tangan kanan, buah tangan dan tanda tangan. Spontanitas seluruh peserta diklat tergelak dengan guyonan tersebut.
1.Tangan kiri dalam arti untuk menjadi pejabat struktural membutuhkan relasi ,kenalan, kerabat dekat atau teman dekat.
2.Tangan kanan diartikan sebagai kemampuan, skill, kompetensi yang mendukung jabatan tersebut
3.Buah tangan, tak jarang harus mengeluarkan materi untuk mendapatkan suatu jabatan struktural. Makanya banyak orang yang suka mendekati pejabat agar mendapat jabatan juga
4. Tanda tangan, banyak janji-janji yang keluar tetapi kalau tidak disertai hitam di atas putih ya jelas tidak sah. Misalnya: janji mengangkat sebagai menteri keuangan, eh mendadak tidak jadi padahal sudah menggelar selamatan. Bisa saja terjadi demikian bukan?
Itulah susahnya kita mengejar jabatan struktural. Jumlahnya sedikit orangnya banyak, bagaimana tidak berebut?

Berbeda halnya dengan jabatan fungsional peneliti. Yang diperlukan hanyalah dua tangan. Tangan sendiri dan tangan TUhan. Dalam arti usaha peneliti tersebut untuk menghasilkan karya terbaik melalui tangan Tuhan yang mengabulkan ikhtiar, doa dan tawakal kita. SEberapa karya yang dihasilkan sebesar itu pula jabatan fungsional peneliti berkembang.

Bila tidak menghasilkan karya? Ya, konsekuensinya diberhentikan dari jabatan. ow.. ow.. ow… tentu saja ada ketentuan dan syarat menjadi peneliti. Salah satunya dengan diklat fungsional peneliti tingkat pertama di LIPI. Upaya pertama memperoleh SIM (Surat Izin Meneliti). Di sinilah para calon peneliti digodok di kawah pusbindiklat selama 21 hari mendapatkan bekal awal dan arahan menuju peneliti. Harapannya bisa menciptakan profesor riset yang berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan…

Mulia, dan indah cita-cita LIPI bukan?
Bagaimana halnya dengan saya menjawab pertanyaan siapkah menjadi seorang profesor riset? Tentu saja bertahap dari peneliti pertama, muda, madya dst..

Ada semacam kegelisahan menjawab pertanyaan sekaligus tantangan berprofesi sebagai seorang peneliti. Ya, gelisah karena diri ini belum bisa apa-apa, belum mempunyai bekal, skill yang mumpuni.

Kalau ditanya apakah nyasar atau niat menjadi peneliti?
Awalnya tidak menyangka, tidak menduga. Tetapi kalau memang Tuhan sudah menakdirkan saya untuk menjadi seorang peneliti, mau bagaimana lagi. Saya ucapkan BISMILLAH saja.. Biarkan Allah yang membimbing saya, memampukan saya, menunjuki saya, memberi bimbingan pada saya untuk menjadi peneliti yang mendukung tegaknya kalam Allah di muka bumi.

Sungguh tak mudah bagi saya untuk mengiyakan tawaran menjadi seorang peneliti. Tetapi sudah telanjur masuk hutan, harimau, gajah, ular, semut yang saya temui akan saya upayakan sebagai teman yang saling berbagi dan belajar bagaimana mengelola hutan dengan sebaik-baiknya.

Ya, saya tahu, Allah akan memberikan yang terbaik bagi saya, Profesi terbaik menurutNya untuk saya. Jikalau saya menolak sungguh betapa tidak bersyukurnya saya menyia-nyiakan kesempatan yang tidak setiap orang bisa mendapatkannya.

Allah Maha Tahu, jika belum mampu maka Ia akan memampukan saya
Jika saya belum siap, Ia akan menyiapkan saya, Jika saya merasa sendiri, Dia akan memberi saya seorang teman. Ya teman hidup tempat saya berbagi segala suka duka, salah satunya suka duka berprofesi sebagai seorang peneliti. Kutahu, Dia akan memberikan teman hidup yang terbaik untukku. amiin

Feeling Lonely

Alone… sendirian… di akhir pekan..
Waktunya istirahat setelah bekerja 5 hari. Lelah juga kerja ya, belum ada teman untuk berbagi beban kehidupan. jeileh.. =)

Rutinitas kantor terkadang bagiku terasa menjemukan. Mengurus presensi elektronik pegawai, surat tugas perjalanan dinas, seminar, workshop, rapat, apel, upacara, disiplin pegawai, arisan ibu-ibu kantor. Belum lagi kalau ikut turun ke lapangan dan membuat laporan seakan-akan dilakukan dengan sisa-sisa energi di rumah. Padahal masih jomblo ya? kok rasanya managemen diri masih kacau.. masih belum terhandle dengan baik. Kalau di list ya tugas dan pekerjaannya ya sudah begitu doank… Namun dalam prakteknya kok ribettt. Entah saya yang memang kurang kompeten atau belum menemukan “ruh” yang pas dalam bekerja. Pulang kerja sore hari sudah capek, pengen tidur.. Wah-wah -wah dunia tidak sesempit ini, kenapa terkadang diri saya berpikiran sempit hingga merasa sesak, tidak dapat bernafas dengan lega… Jiaaaaa… PERLU EVALUASI DIRI.. TRUS MEMPERBAIKINYA..

FEELING LONELY? Ah, setiap individu juga ada saatnya ingin menikmati kesendirian, ada saatnya ingin menikmati kebersamaan bersama teman-teman. Walau sudah beda juga sih rasanya. Teman-teman sudah banyak yang merid, jadinya kebersamaan sudah tidak seperti dulu lagi.. Urusannya sudah beda lagi. Tidak mungkin bebas untuk sekedar belanja bareng atau melakukan hal-hal bersama seperti dulu lagi… Ah, hidup jadi tidak seasyik dulu lagi kesannya. Hmmm.. kok saya jadi kurang bersyukur dengan hidup saya ya?

Ha ha ha. Begitulah curhat the single woman. Tak jauh-jauh dari itu.. Sisi interpersonal saya cenderung dominan, membuat saya menikmati kesendirian dengan menulis blog, membaca buku, novel dsb. Walau kadang juga merasa sendiri, sepi begitu selesai membaca atau menulis. Need someone to share with.. ehem ehem..

Lagi-lagi .. still in triying find the right man.. i dont know… who is it?
May be i havent known him, i have known him for such a long time, may be… you.. who read this..=)
i dont know..
but time will tell,
i belive it…

Keep on trying, praying, and giving the result on God’s hand.. Ok?
too many things that i think make me confusing…

really..

Tidak seperti membeli buah, mau jeruk, apel, rambutan, durian atau pisang. Kalau tidak suka bisa ditukar, diberikan pada orang lain atau akhirnya dibuang…

Pilihan seumur hidup bro.. sist..
MOga segera nemu deh..
Biar ga feeling lonely lagi..

Coretan Penghujung Ramadhan

Sesungguhnya jiwa manusia itu mempunyai saat di mana ia ingin beribadah dan ada saat di mana ia enggan beribadah.” Pasti ada rahasia kenapa Alloh menciptakan keduanya. Sama seperti iman yang tak seterusnya naik, namun ada kalanya turun. Wallohu ta’ala a’lam. Semua itu adalah misteriNya. Setidaknya, hal tersebut membuka mata saya untuk tak selalu memandang sinis sesuatu yang buruk dan mencaci sesuatu yang jelek. Karena Alloh pasti punya maksud menghadirkannya ke tengah-tengah kita. Apapun itu. Bisa sebagai ujian agar manusia bersabar. Bisa sebagai pengingat bahwa sesungguhnya manusia itu dho’if. Tak ada seorang manusia pun yang sempurna. Itulah mengapa jangan terlalu kagum pada seseorang atas kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Sebab, ketika kau menemukan sedikit saja keburukannya kau akan kecewa dan perlahan akan menjauh darinya. Semua kebaikan/kelebihannya akan lenyap seiring kau temukan satu-persatu kekurangannya. Tapi bukan seperti itu yang diinginkan sebuah jalinan. Jalinan yang berkah adalah ketika kau bisa menghargai dia sebagai dirinya. Ketika satu persatu tabir kekurangannya tersingkap, kau akan memandangnya sebagai sebuah ladang amal untuk membantunya menuju kesempurnaan penciptaannya sebagai makhluk. Tak ada alasan lain kecuali mengharap ridhoNya. Itulah yang diinginkan sebuah jalinan agar tetap langgeng. Kenapa bisa begitu? Karena jika jalinanmu berkah, maka ridho Alloh akan mengikatnya erat, tak hanya di dunia, tapi sampai ke syurga.

Ga jelas

iya niy, ngerjain tugas dulu, keasyikan ngeblog. Curhat mulu, kapan ngerjain tugas klo begini?

Bikin artikel apaan ya enaknya? Temanya Kehidupan sosial keagamaan. Panjang 10 -15 hal kuarto. Mana abstraknya in english.. waduwwww.

Ngerjain PR 1 feature.. niy temanya bebas..

heh.. kalau diberi berbagai ketentuan begitu, kok otak bawaannya mau nolak ngerjain yah. Pengennya nulis curhatan mulu. Yang gampang. Otak ga perlu mikir berat. Yang ringan-ringan ajah..

Lha, kalau beban maunya ringan, giliran jatah, maunya yang enak dan nyaman. Mana ada???

he he he.. ya udah.. tak sholat dhuhur dulu. Trus ngerjain tugas satu persatu. Maruk juga siy.. Pengennya dua-duanya beres bersamaan. Tambah parah aja. Emang siapa saya? Lha nulis aja masih kacau balau begini.

Semangat!!! ^ – ^V

Kira-kira, saya akan milih tugas yang berat dulu atau yang ringan dulu ya?.. tapi deadlinenya duluan yang bikin feature.

Bismillah..