Menulis Mengasah Kecerdasan Emosi


Menulis itu mengasah kecerdasan & kelembutan hati, “paksakanlah” dirimu menulis & rasakanlah dampaknya dlm hidupmu Quote Jamil Azzaini dalam account twitternya.

Oke, i will practice it. Although i dont know what must be written.
Tonight so blue, like a million of clouds around me.
I pray to Allah, He will give me a right way, come out from this feeling
May be i am so mellow, but this is me..

Mungkin paragraf di atas sudah mewakili suatu kelembutan hati. Mungkin juga belum mewakili. Ah yang dimaksud menulis mampu melembutkan hati itu yang seperti apa? Yang saya peroleh dari teori menulis sebelumnya adalah dengan menulis mampu mengasah keecerdasan emosi. Why? menulis mampu menuntun kita untuk lebih mengenal emosi diri sendiri dan bagaimana mengelolanya dengan baik. Mungkin maksudnya begitu kalee ya..

Ehm, jujur saja siy, blog saya ini banyak sesi curhat pribadi dan ungkapan emosi dibanding sebagai sarana untuk mengasah otak secara kognisi. Harapan saya kedepan bisa lebih berimbang. Blog ini bisa sebagai sarana aktualisasi diri saya dalam belajar mengasah logika, lebih ilmiah sifatnya..

NB. Kalau omong doang tanpa langsung dipraktekkan sama aja boong dunk? he he he.. Yah, belajar nulis karya tulis ilmiah geeto lah.. Jangan curhat mulu. Malu-maluin atau ga punya malu siy???? (kaburrrrrr)

Managemen Resiko (Menyiapkan Hati untuk Sukses maupun Gagal)


Pagi ini kurangkai seuntai asa dan rasaku..
Rasa yang tak mampu kuterjemahkan, manis, asam, asin..
Tak kuberani untuk mengidentifikasikannya sebagai raja’ dan khauf padaMu..
Takut salah mendefinisikan..

Di satu sisi berkata lanjutkan, coba, teruslah berusaha, mungkin dia-lah jawaban atas salah satu puzzle hidupmu.
Di sisi lain berkata, berhati-hatilah, jangan tergesa-gesa, jangan berlebihan. Bukankah Allah tidak suka dengan sesuatu yang berlebihan. Dia Maha Cemburu, maka jangan pernah melupakan pendapatNya, petunjukNya, bimbingan dan ridhoNya.

Boleh berharap. Sebesar harapan yang kau cipta sebesar itu pula mesti menyiapkan kecewa. Begitulah, perlu kesiapan hati, mental dan keikhlasan di ujung setiap usaha dan doa manusia.
Ketika sukses tidak menjadikan sombong, ketika gagal tidak menimbulkan keterpurukan. Bersiap dengan segala kemungkinan. Kemungkinan sukses, hal yang baik dan indah, saya yakin hampir setiap orang siap menjalaninya. Tetapi bagaimana halnya dengan kemungkinan gagal, kecewa? Belum tentu setiap orang siap menjalaninya. Makanya, siapkan hati untuk kemungkinan terburuk yang akan dihadapi. Bersiap untuk gagal, kecewa, terluka, patah hati. JIkalah kesuksesan yang didapatkan itu adalah hadiah dan bentuk kemurahan hati dari Yang Maha Pengasih, Penyayang dan Maha Pemurah.

Jikalau gagal, bukan berarti Dia tidak lagi Maha Pengasih Penyayang dan Pemurah. Dia hanya ingin menunjukkan bahwa hal itu tidak pas, bukan yang terbaik untukmu. Bersabarlah, Dia akan menyiapkan yang terbaik untukmu, di saat yang tepat dengan cara manis dan tak terduga tentunya. Selalu ada keajaiban bagi siapapun yang percaya pada KuasaNya. JIka Dia menghendaki sesuatu terjadi cukup berkata “Kun” jadilah. Maka terjadialah apa yang Dia inginkan. Begitu pula jika Dia ingin kesuksesan berpihak padamu, maka akan sangat mudah dan sangat kecil bagiNya untuk melakukannya.

Seputar Kuesioner


Kuesioner adalah salah satu instrumen penelitian. Bagaimana membuat kuesioner yang baik disesuaikan dengan metode yang telah ditentukan. Akan tetapi ketika di lapangan ternyata ada beberapa kendala-kendala teknis yang perlu didiskusikan bersama. Berikut hasil diskusi kelas Diklat Fungsional LIPI tingkat pertama angkatan XII:

1. Bagaimana membuat pertanyaan tidak lebih dari 20 menit karena biasanya bila pertanyaan semakin lama maka semakin eror, Benar atau tidak?
2. Ada batasan tidak dalam menentukan jumlah kuesioner yang diberikan pada responden, karena semakin banyak yang diberikan maka bisa menimbulkan pusing pada responden?
3. Skala, orang Indonesia suka dengan kategori netral/sedang yaitu jawaban tengah-tengah. Sehingga timbul pertentangan skala empat dan skala lima. Kenapa penelitian di luar negeri skalanya sampai skala 5. Saya menyimpulkan orang Indonesia belum mampu menjawab pertanyaan skala/kuesioner yang diberikan.

Jawaban:
1. Kebanyakan suka yang ditengah-tengah. Kebosanan seseorang pasti ada batasnya. Kalau kita terlalu banyak pertanyaan, halamannya orang sudah bosan. Apalagi kalau harus mengisi sendiri. tidak ada tatap muka, tidak ada yang melihat, menghibur. Ah ini hanya sekedar mengisi. Tentu saja bias semakin besar. Apalagi bila tidak ada reward semacam souvenir. Peneliti harus berusaha bagaimana informasi yang didaptkan mendekati baik kalua tidak bisa sempurna. Dalam penelitian perlu ada pre test, apakah efektif tidak jika dibuat 30 pertanyaan. Katakanlah yang bisa dipercaya 20 dari 30 pertanyaan yang diberikan dalam test. Seorang peneliti akan mengedit, mana pertanyaan-pertanyaan yang mewakili.

2. Skala tengah-tengah untuk ilmu saya ilmu demografi, ada kecenderungan orang menjawab umur seseorang yaitu suka menjawab pada kelompok 0 – 5. Ada cara untuk smoothing tentu saja dengan asumsi-asumsi tertentu. Sama dengan pendekatan statistik, menggunakan asumsi. Kuantitatif perlu keseimbangan dengan kualitatif. Perkembangan berikutnya kualitatif hanya menjelaskan abstrak jawaban, dulu ditinggalkan. setelah tahu kelemahan-kelemahan kuantitatif maka kembali lagi diperlukan kuantitatif.

3. Saya setuju dengan pengelaman tersebut, peneliti harus berhati-hati dalam melakukannnya. Perlu melibatkan peneliti dari latar belakang keilmuwan lain sehingga bisa lebih menyeluruh.

Pertanyaan:
1.Kuesioner dengan volume pertanyaan yang banyak dan volume yang sedikit. Dengan metode scheduling (peneliti menanyakan langsung kuesioner pada responden). Waktu yang diperlukan 1,5 jam sampai 2 jama. Kesulitan: ketika mendapat responden belum tentu mau menjawab semua pertanyaan yang banyak jumlahnya. Kelihatan responden kelelahan, sedangkan souvenir yang diberikan kecil nilainya.
2. Bagaimana caranya untuk mengetahui pembaca menjawab kuesioner dengan sesungguhnya..

Jawaban:
1. Waktu melakukan penelitian di daerah karena kendala bahasa pernah distop, karena kesalahan komunikasi. Akhirnya menunggu tim dari Jakarta untuk menjelaskan. Ternyata ada salah tangkap istilah migrasi dengan imigrasi.
2. Terkadang imbalan yang diberikan tidak sesuai. Peneliti dalam anggaran APBN 0,05, setengah persen saja kurang. Dilihat dari tunjangan, misalnya saya peneliti APU, 1.400.000,- sedangkan pengajar, profesor bukan peneliti lebih banyak jumlahnya. Akhirnya karena rasional, kita hanya dituntut dedikasi.

Pertanyaan:
1. Posisi asumsi, untuk menyelamatkan kita dari bias?
Asumsi kita penelitian kita bisa dipahami responden. Ada asumsi khusus, dengan statistik disebutkan penyimpangannya sekian. Asumsi untuk perhitungan berbeda lagi. Kalau nanti arahnya ke persoalan-persoalan khusus saya kurang menguasai. SEcara umum, maksud kami semua penelitian perlu asumsi-asumsi. Asumsi dalam psikologi perlu pertanyaan-pertanyaan yang diyakini bisa dipahami. Asumsi-asumsi diperlukan untuk memulai penelitian.

Disampaikan oleh Bpk
dalam Diklat Fungsional LIPI Cibinong

Ikhlas dan Sabar dalam Berproses


Tetap saja manusia tak tahu apa yang terbaik untuk dirinya.
Terkadang merasa lebih baik begini, tetapi di beberapa saat kemudian begitu lebih baik. Sungguh, aku tak mau diombang-ambingkan oleh perasaan dan ketidakjelasan.
Analisis manusia bisa saja salah. Pandangan manusia tidak menyeluruh. Tidak tahu apa dan bagaimana masa depan yang akan menimpa dirinya. Jadi lagi-lagi semua dikembalikan kepadaNya. Ya, pandanganNya luas, tak terbatas dan menjangkau masa depan yang penuh misteri dalam akal dan nalar manusia.

Mengapa tidak minta pendapatNya saja?
Ikhtiar, doa dan tawakal padaNya.
Biarkan Dia saja yang memilihkan untukmu..

Netralkan dirimu, hatimu, pikiranmu..
Biarkan Dia yang memilihkan untukmu..
Ya, biasa saja

Jaga netralitas..

Termasuk ketika sore ini ditetapkan Pembimbing dalam KTI (Karya Tulis Ilmiah) di Diklat LIPI yang kuikuti. Inginnya dapat pembimbing A, eh dapatnya D.. Bismillah sajalah. Sudah diatur oleh panitia dan Insya Allah itu yang terbaik untukku..

Ikhlas dan sabar dalam berproses..
Kelak akan kutahu hikmah yang akan kupetik dalam setiap pernik misteri puzzle kehidupan..

Dan ingatlah..
Bergantung pada manusia itu salah..
Bergantunglah pada yang Maha KUat yaitu Allah SWT..

Boleh saja menaruh harapan pada seseorang, tapi sewajarnya saja..
Karena dengan manusia bisa saja kecewa tapi denganNya kau tak akan pernah kecewa.

So? Kembalikan semua padaNya..
Bersabarlah …
Kelak semua yang akan kita tanam akan kita tuai..
pada saatnya, ya hanya Dia Yang Maha Tahu saat yang tepat itu..
Bagaimana bentuknya, dimana dan dengan segala perniknya..

Menjadi Peneliti? Bismillah Saja-lah


Sudah seminggu di LIPI, mengikuti diklat fungsional Peneliti Tingkat Pertama. Di satu sisi adalah hal yang tidak mudah, suatu amanah, tanggung jawab dan kepercayaan yang harus dijaga sebaik-baiknya. Kadang merasa takut kurang mampu menjaga anugerah Allah, kesempatan yang tidak diberikan pada setiap orang. Ya, aku merasa biasa saja untuk menjadi seorang peneliti. Dari sisi kapasitas intelektual ya tidak bodoh tetapi tidak pintar. Biasa saja.

Aku hanya merasa beruntung mendapat kesempatan untuk mengikuti diklat fungsional peneliti di LIPI, tanpa harus mengeluarkan biaya sepeserpun. Biaya diklat senilai Rp.9000.000,- per orang sudah dibayar kantor pusat, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama. Transportasi dari Semarang pp Insya Allah juga ditanggung Kemenag pusat. Indah bukan? Ya, jika mendengarkan dan melihat sekilas akan terdengar begitu indah.

Menjadi seorang peneliti juga terdengar indah. Bisa jalan-jalan ke sana ke mari dengan biaya dinas. Akomodasi dibiayai. Hmmm, banyak teman-temanku yang mengatakan wah asyik ya, jalan-jalan terus.

Oke, dalam beberapa hal menjadi peneliti memang mengasyikkan. Keren. Seperti halnya LItbang (Elit dan berkembang). Peneliti adalah pekerjaan yang independen. Jabatan yang berkembang atau tidaknya itu sangat ditentukan oleh tangan dalam arti usaha orang yang bersangkutan.

Berbeda halnya dengan jabatan struktural, jumlahnya sedikit dan diperebutkan banyak orang tentu tidak mudah. Jadi teringat istilah yang disampaikan oleh Bapak Ketua LIPI, M. Bashori dalam penyampaian materi Bimbingan Karier PNS. Beliau mengatakan PNS itu bisa saja datang absen, tidur, pulang absen selama dua tahun, tahu-tahu sudah naik golongan. Makan gaji buta, itulah PNS yang di struktural.

Ingin menjadi pejabat struktural. Wah harus melibatkan 4 tangan: tangan kiri, tangan kanan, buah tangan dan tanda tangan. Spontanitas seluruh peserta diklat tergelak dengan guyonan tersebut.
1.Tangan kiri dalam arti untuk menjadi pejabat struktural membutuhkan relasi ,kenalan, kerabat dekat atau teman dekat.
2.Tangan kanan diartikan sebagai kemampuan, skill, kompetensi yang mendukung jabatan tersebut
3.Buah tangan, tak jarang harus mengeluarkan materi untuk mendapatkan suatu jabatan struktural. Makanya banyak orang yang suka mendekati pejabat agar mendapat jabatan juga
4. Tanda tangan, banyak janji-janji yang keluar tetapi kalau tidak disertai hitam di atas putih ya jelas tidak sah. Misalnya: janji mengangkat sebagai menteri keuangan, eh mendadak tidak jadi padahal sudah menggelar selamatan. Bisa saja terjadi demikian bukan?
Itulah susahnya kita mengejar jabatan struktural. Jumlahnya sedikit orangnya banyak, bagaimana tidak berebut?

Berbeda halnya dengan jabatan fungsional peneliti. Yang diperlukan hanyalah dua tangan. Tangan sendiri dan tangan TUhan. Dalam arti usaha peneliti tersebut untuk menghasilkan karya terbaik melalui tangan Tuhan yang mengabulkan ikhtiar, doa dan tawakal kita. SEberapa karya yang dihasilkan sebesar itu pula jabatan fungsional peneliti berkembang.

Bila tidak menghasilkan karya? Ya, konsekuensinya diberhentikan dari jabatan. ow.. ow.. ow… tentu saja ada ketentuan dan syarat menjadi peneliti. Salah satunya dengan diklat fungsional peneliti tingkat pertama di LIPI. Upaya pertama memperoleh SIM (Surat Izin Meneliti). Di sinilah para calon peneliti digodok di kawah pusbindiklat selama 21 hari mendapatkan bekal awal dan arahan menuju peneliti. Harapannya bisa menciptakan profesor riset yang berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan…

Mulia, dan indah cita-cita LIPI bukan?
Bagaimana halnya dengan saya menjawab pertanyaan siapkah menjadi seorang profesor riset? Tentu saja bertahap dari peneliti pertama, muda, madya dst..

Ada semacam kegelisahan menjawab pertanyaan sekaligus tantangan berprofesi sebagai seorang peneliti. Ya, gelisah karena diri ini belum bisa apa-apa, belum mempunyai bekal, skill yang mumpuni.

Kalau ditanya apakah nyasar atau niat menjadi peneliti?
Awalnya tidak menyangka, tidak menduga. Tetapi kalau memang Tuhan sudah menakdirkan saya untuk menjadi seorang peneliti, mau bagaimana lagi. Saya ucapkan BISMILLAH saja.. Biarkan Allah yang membimbing saya, memampukan saya, menunjuki saya, memberi bimbingan pada saya untuk menjadi peneliti yang mendukung tegaknya kalam Allah di muka bumi.

Sungguh tak mudah bagi saya untuk mengiyakan tawaran menjadi seorang peneliti. Tetapi sudah telanjur masuk hutan, harimau, gajah, ular, semut yang saya temui akan saya upayakan sebagai teman yang saling berbagi dan belajar bagaimana mengelola hutan dengan sebaik-baiknya.

Ya, saya tahu, Allah akan memberikan yang terbaik bagi saya, Profesi terbaik menurutNya untuk saya. Jikalau saya menolak sungguh betapa tidak bersyukurnya saya menyia-nyiakan kesempatan yang tidak setiap orang bisa mendapatkannya.

Allah Maha Tahu, jika belum mampu maka Ia akan memampukan saya
Jika saya belum siap, Ia akan menyiapkan saya, Jika saya merasa sendiri, Dia akan memberi saya seorang teman. Ya teman hidup tempat saya berbagi segala suka duka, salah satunya suka duka berprofesi sebagai seorang peneliti. Kutahu, Dia akan memberikan teman hidup yang terbaik untukku. amiin

Lembut tetapi Tegas


Sosoknya sederhana, biasa saja. Tak menarik perhatian bagiku. SEhari, dua hari masih biasa saja. Tetapi begitu terlibat dalam kerja sama, entah mengapa jadi terlihat menarik. Ya, sosok yang dewasa, mampu membuatku patuh dengan sukarela dan tanpa paksaan sama sekali. Jarang banged aku bisa begitu. Ya, aku biasanya suka membantah, suka mendebat, terkenal sulit diarahkan. Aku tak suka ya kukatakan tak suka secara apa adanya. Mungkin dianggap ga sopan. Mungkin bahasaku dalam mengatakan tidak dianggap kurang halus dan tidak tahu seninya mengatakan tidak. Tapi begitulah aku. Aku ingin dimengerti diarahkan, dibimbing dengan cara yang manis tanpa paksaan. Di dikte? itu hal yang tidak kusukai.

Tapi dia bisa menghandle aku dengan caranya, membuatku susah untuk mengatakan tidak. Ya, aku menyukai caranya membimbingku, mengarahkanku, memimpinku. Suka, suka, suka….

Entah mengapa juga, aku suka bila dia menurutiku “serius tapi santai”. Aku tak bisa bekerja dengan baik bila tanpa diselingi jalan-jalan atau sedikit bermain-main. Terlalu serius membuatku stres. Mungkin bagi sebagian orang, dianggap ga selese-selese, tipe lelet, tipe ga cak-cek. Tetapi lagi-lagi, dia bisa menghandle aku tentang hal itu. Manis sekali bukan???

Belajar sambil bermain. Bekerja sambil refresing.. That’s me.. Ada yang ga suka??? Ya sudah.. tetap tidak mengubahku. Maaf ya..

Aku tidak suka bila disuruh ini itu, begini begitu tanpa minta pendapat dariku. Kalau dalam bentuk saran, ehmm bagaimana bila, eh aku punya ini coba dibaca mungkin bisa membantu.. Kalau kau mau aku punya bukunya.. etc Padahal sebenarnya dia menyuruhku untuk mempelajari buku tersebut. Ketika aku menolak dengan alasan kemungkinan kecil sekali untuk bisa membacanya, dia menerima. Tak memaksa.. Ya, lagi-lagi aku suka caranya membimbingku..

Aku juga suka ketika dia membiarkanku memilih.. Dan bagaimana aku bisa memilih yang lain, ketika dia memberi beberapa pilihan tetapi dengan dukungan informasi lengkap di belakangnya. Kalau A bla-bla bla.. Kalau B akan blu blu blu.. Kalau C akan bli bli bli.. Jadinya dia milih D yang ble ble ble… Dan tebak, apa yang kupilih… seperti pilihannya D, ble.. ble.. ble.. Terkesan kebetulan dan seakan tanpa janjian bila sama dengan pilihan dia bukan? Caranya manis dan smart. Itu kusuka sekali.

Dia merencanakan dan mengarahkanku dengan halusss sekali dan tanpa kusadari. Membimbingku tanpa kesan mendikte. Menyuruhku tanpa merasa disuruh. Dia juga mau mengikuti mauku untuk bermain-main sambil belajar. Sabar juga ya..
Dan sepertinya dia mampu membaca pikiranku.. Benar-benar menyebalkan bukan??? Dia membuatku belajar berpikir, membuatku belajar memutuskan dan menghargainya bila ternyata keputusanku tidak sesuai dengan yang diharapkannya.
Dia manis. Lembut tetapi tegas. Marah dengan kata-kata yang lembut dan tegas. Justru membuatku segan untuk berkata tidak dan membantah. Padahal aku biasa membantah, mencari tahu kenapa mesti A kok tidak B atau C??? Dengan sikapku yang begitu justru bagi kebanyakan orang aku dianggap tidak penurut, bandel, tipe yang sulit dan menyebalkan. Tapi sifatku itu lagi-lagi mampu dihandle dia dengan manis dan cantikkk…

Dan satu hal yang kusukai juga darinya. Dia telah menyiapkan dan mengusahakan yang terbaik semampu dia untukku. Berusaha membuatku betah, enjoy dengan kondisi yang ada.Itu membuatku terharu dan lidahku kelu untuk mengatakan tidak padanya.

Ada lagi yang kusuka darinya. Dia memberiku tanggung jawab tanpa harus saklek, prosedur yang ketat., Terserah mau bagaimana dan kapan, yang satu itu harus diselesaikan olehmu. Begitu ucapnya padaku. Tegas tetapi lembut. Aku suka..

Aku tahu sosok yang kuinginkan seperti apa. Tetapi aku sekaligus tak tahu akan menemukan sosok seperti itu dimana. Karena dia sudah ada yang punya.. Aku menyukai karakter yang begitu. Lembut tetapi tegas.. Ya, sedari dulu aku jatuh cinta dengan karakter lembut tetapi tegas..

JAM TERBANG OH JAM TERBANG


Masih terkait dengan tulisan sebelumnya…

TIDAK ADA YANG NAMANYA KEBETULAN. KEBETULAN ADALAH BAHASA MANUSIA SAJA.

TERMASUK PERTEMUAN SAYA DENGAN ANDA DI KERETA INI. SUNGGUH, TAK MUNGKIN TANPA CAMPUR TANGANNYA ..

Bisa dibikin cerpen TENTANG INI niy, sayang durung tau dadi.. Spertinya sy pernah bertemu dgnya di forum ilmiah, familiar, tapi dimana ya? bikin penasaran aja. Interview-ku yg polos tak bisa menembus rasa ingin tahuku.. sementara interviewnya pdku sanggup membuatku bercerita tanpa dipaksa… taulah dia siapa saya..jiaahhhhhhh.. semacam peneliti PAR kayaknya.. ah knapa mesti dipikir???Ada beberapa clue yang kudapat.. wlo susah disimpulkan.. ck3 kok malah jadi rumit yow… Nek saya tahu siapa anda n ketemu di forum ilmiah, bisa membuat saya malu.. wawancara yang polos.. ya polos.. malah jadi penasaran… ya penasaran.. kacau bukan??? menebak-nebak? saya takut salah.. gludakkk sisan ntar jadinya..

Kesimpulan hari ini: waaaduw… BELAJAR INTERVIEW YG GAGAL dewh.. =((

jam terbang oh jam terbang… wk wk wk wk…

Setidaknya saya dapat banyak nasehat darinya. Tak apa-apalah (menghibur diri.com)

Tak Ada yang Namanya Kebetulan


TIDAK ADA YANG NAMANYA KEBETULAN. KEBETULAN ADALAH BAHASA MANUSIA SAJA. TERMASUK PERTEMUAN SAYA DENGAN ANDA DI KERETA INI. SUNGGUH, TAK MUNGKIN TANPA CAMPUR TANGANNYA (NASEHAT pAK cIPTO, teman seperjalanan kereta Semarang- Pasar Turi Surabaya, 25 September 2011)

Bismillah..

Selalu ada cerita dan hikmah di setiap perjalanan yang kulakukan. Entah mengapa,setiap kota yang kusinggahi meninggalkan kesan, hikmah dan pembelajaran yang berbeda. Pahit manis yang berbeda. Namun, semua berujung pada rasa syukur padaNya yang tiada terkira.

Pengalaman pertama terjun ke lapangan ku yaitu Kota Surabaya Februari 2011 kemarin. Bertugas mengumpulkan database kitab karya ulama di Jatim. Alhamdulilah, kebetulan mobil dinas Kepala Pekapontren Kanwil Kemenag Jatim bisa kupinjam selama 4 hari. Ck3.. suatu kebetulan yang indah bukan? cuma mengganti uang bensin, bisa muter2 ke Pondok-pondok pesantren, mengambil data yang diperlukan. Bisa ke Porong Sidoarjo juga.. Malu juga waktu itu, kemanjaanku kumat. Pertama kali ke lapangan tu… kok merasa sepi, sendiri, kaya orang ilang. Menyusuri kota sendirian, alone. Mana tidak ada sanak saudara lagi. Mencari data? Mau naik apa? nginep di mana? bagaimana mencari datanya? bagaimana menghadapi situasi baru, tempat baru, orang-orang yang sama sekali belum dikenal sebelumnya.. Ow.. ow.. ow… suatu pekerjaan yang bisa stres bila hanya dipikirkan, tetapi bila dijalani sambil berdoa dan tawakal padaNya, Insya Allah akan slalu ada jalan indah dariNya.

Waktu itu, saya merasa stres, di hotel, bingung mesti bagaimana dan langkah apa untuk bisa menyelesaikan pekerjaan saya saat itu. Hmmm manjapun kumat, ditemani informan, tapi tidak tepat waktu kalau janjian. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak. Walau tinggal di hotel dengan fasilitas yang baik. Waktu itu saya menginap di hotel utami, deket bandara Juanda. Dengan pertimbangan, hotel utami dekat bandara dan letaknya persis di sebelah Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur, tempat saya meminta stempel perjalanan. Saya merasa sedih, bingung, merasa sendiri dalam menyelesaikan tugas. Untung informan saya baik, menghibur saya, menyemangati saya yang mendadak kangen rumah. huehehe. Malu juga ya kalau ingat itu semua. Walau sekarang, ya masih ada bau-bau kangen rumah ketika tugas dinas luar kota. Setidaknya sudah lebih tegar n siap dibanding pengalaman pertama di lapangan, SENDIRIAN.

sETElah pulang dari pengalaman pertama saya di lapangan dan mendapat berbagai cerita teman-teman yang juga ke lapangan barulah saya sadar kalau saya beruntung sekali dibanding teman saya yang lain. Masing-masing di lapangan dengan kendala dan kesulitan sendiri-sendiri. Saya dimudahkan, kok masih saja kurang bersyukur. betapa dzalim dan tidak sadar dirinya saya sebagai hamba Tuhan. Yaaa, saya merasa bersyukur setelah menyadari bahwa tidak ada yang namanya KEBETULAN. kebetulan mobil dinas tidak dipakai karena pada minggu saya dinas ke SBY Februari 2011 itu sedang proses sertijab dari Peka pontren lama ke pekapontren baru. Otomatis belum ada kepastian siapa pemakai mobil dinas dan hari serah terima jabatan itu yaitu ketika saya telah memakai mobil dinas 4 hari. Subhanalloh,, kondisi yang bukan kebetulan bukan? itu semua rencanaNya untuk membantu saya dalam mengumpulkan data. So, mengapa saya masih mengeluh? hmmm malu saya.. Itu kesan yang saya ambil dari pengalaman pertama saya di lapangan. Dengan segala daya upaya yang saya mampu, stres, tekanan, kemanjaan.. ah.. malu bila diceritakan di sini saya mengambil hikmah bahwa dibalik suatu kesulitan akan ada kemudahan. Jadi hindarilah mengeluh.. masih banyak orang di luar yang kondisinya lebih buruk. Walau pengalaman pertama itu penuh dengan nuansa bingung, canggung, dung-dung.. ah biarlah.. bukankah kita butuh tangga proses untuk menuju tangga di atasnya? nikmati saja stres, bingung.. jadikan sebagai hal yang mentrigger kita untuk belajar dan lebih baik lagi.

Pengalaman ke lapangan ke dua dan sendirian adalah ke Kota Kupang Nusa Tenggara Timur, Mei 2011. Lagi-lagi tak ada yang namanya kebetulan. Banyak kemudahan-kemudahan dibalik kesulitan dan tekanan tugas yang harus saya selesaikan. Bayangkan, saya belum pernah ke NTT, belum pernah berinteraksi dengan pendeta. Eh, tugas saya membuat profil aliran-aliran gereja. Ck3… Ilmu tentang Islam, agama yang saya anut saja masih belum ada apa-apanya. eh ini diminta menyelesaikan tugas di bidang yang sama sekali saya tidak tahu.. Toh akhirnya bisa juga. Semua bukan karena saya hebat, bukan semata KEBETULAN tetapi karena atas ijinNya, bantuaNNya. Tidak ada kesombongan bagi setiap kegiatan lapangan. karena sungguh, kesombongan hanya menuai kesulitan.

Keika saya ke Kota Kupang, bayangan saya sudah yang tidak-tidak. Saat itu saya dapat tempat tugas yang jauh. Padahal teman-teman saya yang sudah berpengalaman malah memeilih kota yang dekat Semarang. Beberapa menyarankan saya agar tukar dengan bapak-bapak agar saya dapat tempat Yogya saja yang dekat, atau Purworejo saja yang notabene kota Kelahiran dan kota saya dibesarkan. Tetapi selaku junior saya tidak bisa menolak danmengiyakan saja. Biarkan mereka memilih. Ada yang dengan pertimbangan punya anak kecil, jadi biar memudahkan menghandle. Ada yang dengan pertimbangan lama tidak bersilaturahim ke orang tuanya, jadi bisa sekalian mampir silaturahim etc. Ya sudah, saya ke Kupang. Pertimbangannya masih jomblo. Ya saya tersenyum saja, bismillah dalam hati.

Benar saja ketika saya memudahkan orang lain, Allah tidak tinggal diam. Dia akan memberi kemudahan kepada saya. Dengan berbagai jalan, dengan segala Kuasanya, saya percaya itu. Kupang ternyata kota yang begitu ramah menyambut kedatangan saya. Kemudahan-kemudahan saya dapatkan. Walau saya juga mesti menjaga makan saya karena disana sebagian besar pemeluk agama Nasrani sehingga dikhawatirkan banyak makanan daging yang tidak halal saya konsumsi. Namun tidak mengurangi kesan RAMAH yang tidak saya dapatkan sama sekali dari Kota Surabaya. Pendeta-pendeta yang saya kunjungi wellcome. Menyenangkan, dan sungguh diluar dugaan saya. Sementara teman saya ada yang susah mendapatkan data karena birokrasi gereja yang susah ditembus. Hmm.. Kupang dengan Mbak Mery, teman dekat Pak Paiman (sekantor) dengan saya begitu ramah. Lewat Pak Paimanlah saya kenal dengan Mbak Mery (humas Kanwil NTT) sehingga saya merasa ada teman di tempat asing. Jalan-jalan makan jagung bakar di tepi pantai Teddy’s Bear, Ke Gong Perdamaian di malam hari. Hal yang kecil tetapi sungguh berarti. Pak kleden (humas kanwil Kemenag NTT) yang begitu perhatian, menanyakan kabar saya setiap hari. Hmm, entahlah mengapa Allah begitu baik dengan saya, membuat saya malu untuk mengeluh lagi.. Keramahan yang sama sekali tidak saya dapatkan ketika mengunjungi Surabaya.

Juga perjalanan ke Surabaya hari ini. Sungguh, bukan suatu kebetulan ketika saya duduk bersebelahan dengan Pak Cipto yang lahir di Kota Purwokerto. Banyak nasehat yang saya dapatkan, saya-pun menanggapi sebisa dan semampu saya. Bagaimana dia sharing pengalaman selaku orang yang biasa melakukan perjalanan antar kota. Dia tidak menyebutkan dari mana dan untuk keperluan apa dia pergi antar kota. Tetapi beberapa hal yang bisa saya dapatkan darinya; ‘NGUWONGKE wong liyo” dan masuklah ke dalam kota, masyarakat yang kamu datangi sehingga bisa menjadi bagian dari mereka maka Insya Allah kita akan dimudahkan.

Saya pun mengajukan berbagai pertanyaan, bagaimana beratnya menjadi pimpinan dengan berbagai karakter anak buah, menyikapi iri hati teman, bagaimana pimpinan membuat kebijakan dan bagaimana trik agar bisa diterima oleh bawahan. Entah mengapa pertanyaan-pertanyaan saya itu dijawab dengan santai olehnya, dengan penuh perasaan, bahkan saya tahu dia meneteskan air mata. Dia berusaha menyembunyikan dari saya, dan mencoba tegar. “Saya sedang mengalami masa-masa sulit mb.. bla.. bla.. bla.. akhirnya keluarlah uneg-unegnya. Saya tahu, dia mempunyai masalah, intinya seperti apa, tetapi konteks pekerjaan dan siapa sebenarnya dirinya saya belum punya jam terbang untuk bisa menyimpulkan dengan tepat. Di sisi lain ketika dia menanyakan identitas saya, saya paham kalau dia menebak dengan tepat latar belakang saya, bisa mengetahui saya dengan lebih baik hanya dengan berbagai pertanyaan. BEGITULAH JAM TERBANG DI LAPANGAN PERLU DI ASAH. Dia sudah menggali saya dengan begitu dalam dan bisa benar-benar mengerti saya dengan obrolan yang kesannya basa-basi saja, tak terasa kalau diwawancarai. Sementara, saya berupaya mencari tahu tentang dirinya begitu sulit. Ketika saya menanyakan secara lugas, dia hanya tersenyum. Ck3.. mana mau dan bisa keluar dengan pertanyaan lugas, “Pak anda bekerja di mana? di kantor apa? Jurusan apa? kuliah di mana? GUBRAKKKK…. MENYEBALKAN SEKALI BUKAN. DIA DENGAN MUDAHKNYA MENGETAHUI TENTANG SAYA, PROFESI SAYA.. kuliah saya dimana???? ck3…

Semoga suatu saat saya bisa kembali menjumpai dia dalam forum resmi dan tahu siapa sebenarnya dia. Berguru kembali dengan sosok low profile itu.. Dan mungkin akan menertawakan kepolosan saya dalam menginterview dan mencari tahu siapa dia. “Kuliah di mana???” ha ha ha ha…

Tidak ada yang kebetulan, semoga kita bertemu kembali di suatu kebetulan yang lain, dalam forum yang lebih baik lagi tentunya. Amin..

SURABAYA, 25 SEPTEMBER 2011
faveHOTEL
MEXBUILDING-SURABAYA
room 636

NB: Memang saya masih perlu banyak belajar agar tidak bertanya dengan pertanyaan yang lugu, polos.. hi hi hi.. lebih elegant, halus taoi bisa menggali dan menyentuh makna terdalam. Begitulah.. INTERVIEW BUTUH JAM TERBANG. DAN ALHAMDULILLAH KEBETULAN SAYA BELAJAR PRAKTEK LANGSUNG DENGAN PAK CIPTO HARI INI. . SEMOGA ADA KEBETULAN TAHAP BERIKUTNYA.AMIN

Energi Pagi


Pagi menyapa..
SEtiap pagi adalah hari baru, berbeda dengan hari-hari sebelumnya..
Temukan makna setiap hari..
Agar bersemangat menyambut hari..
Siap menjalankan rutinitas dengan rasa yang berbeda..

SElamat Beraktivitas..
Berangkat pagi ya…
Keep smile..
You are you..
Biarkan yang lain dengan dirinya..
Jangan terpengaruh..
Fokus on your target..
Memperbaiki diri..
Semoga Allah memberkahi..
( ^ ___ ^)VVV

Pagi-pagi sudah ngeblog… hitung-hitung melatih jari-jari, melatih otak biar tidak kaku =))