Sejarah dan Biografi, Apa Pentingnya?

Seorang ahli sejarah Inggris pernah menulis sebuah buku mengenai kegunaan sejarah, mulai dari yang bersifat praktis sampai filosofis. Ia tidak melupakan fungsi sejarah sebagai suatu “rekreasi” (hiburan di saat istirahat). Kisah sejarah bisa menjadi obat kejemuan dalam perjalanan yang meletihkan. Siapa tahu bisa dipakai sebagai pengantar menjelang tidur.

Sejarah yang menyajikan berbagai episode kehidupan di masa lalu,  mampu mengasah logika dan emosi. Sejarah mengajak kita berkelana “flask back” ke masa lalu, berinteraksi dengan para pelaku sejarah, entah dia masih hidup atau sudah meninggal dunia. Pada akhirnya, sejarah akan memberi kita sesuatu yang lain, KEARIFAN.

Sejarah bisa bercerita apa saja; ekonomi, politik, sosial, budaya. Pelaku sejarah tidak bisa dilepaskan dari konteks sosialnya. Menurut Sidney Hook tentang “pahlawan” ; bisa jadi pelaku sejarah dilihat oleh pengisah sejarah sebagai eventful man (yang secara kreatif memberi jawab terhadap tantangan zaman) atau event-making man (yang berhasil menjadikan tindakannya sebagai penentu arah perjalanan sejarah). Namun, ia tetap sebagai bagian denyut nadi sejarah masyarakatnya.

Berbeda dengan sejarah,  biografi  berisi tentang pengalama perjuangan  individu dengan nasibnya sebagai perhatian utamanya. Dalam biografi, “anak manusia” yang diperlakukan sebagai aktor sejarah, adalah segala-galanya. Ialah yang menjadi pusat perhatian. Tempat dan fungsi dari konteks sosial dan waktu dalam proses pengisahan mengalami perubahan dan lebih sering bersifat ganda.

Di satu pihak konteks dipakai sebagai latar belakang (konteks waktu, tempat, ruang dan sosial adalah hasil rekonstruksi yang dikerjakan oleh penulis biografi).

Di pihak lain, konteks itu adalah sesungguhnya hasil konstruksi pemahaman sang aktor. Pemahamannya tentang konteks inilah yang menentukan pilihannya dalam menentukan tindakan.

Dalam perkembangan ilmu sejarah modern, “biografi” dan “sejarah” dibedakan. Namun, dalam biografilah kita sesungguhnya mendapatkan unsur sejarah yang paling akrab, yaitu manusia yang berpikir dan bertindak, yang kecewa dan bahagia, yang sedih dan gembira.

Dalam biografi kita tidak hanya berhadapan dengan dunia yang objektif (sebagaimana bukti-bukti sahih menunjukkan), tetapi lebih dimungkinkan untuk menangkap dan memahami dunia subjektif (sebagaimana dilihat, dirasakan, dan dibangun oleh sang aktor).

Dalam biografi, kita lebih mungkin mengikuti dengan baik, proses pemahaman konteks dan struktur lingkungan, pengambilan keputusan, sampai akhirnya semacam pola perilaku yang diwujudkan oleh sang aktor.

Dengan kata lain, dengan kesemestaannya, universe yang terbatas, bahkan sangat terbatas, biografi sesungguhnya memberikan aspek dan vista sejarah yang mendalam. Kita melihat sejarah dari sudut aktor atau pelaku sejarah. Dengan begini, kita akan lebih mungkin memahami denyut sejarah dengan lebih mendalam. Biografi memberikan kepada kita sikap empati terhadap sejarah, sebagai gambaran pergumulan manusia dan masyarakat di masa lalu- entah bila dan entah di mana.

Biografi boleh dikatakan sebagai pengetahuan tentang “sebagian” yaitu tentang pengalaman dan nasib seorang individu dalam konteks kerangka waktu dan tempat tertentu, dari “keseluruhan” sejarah, yang berkisah dan membuat analisa tentang tempat dan waktu tertentu pula.

Ringkasan ini bersumber pada: Azra, Azyumardi. 1998.  Biografi Sosial-Politik Menteri – Menteri Agama RI. Jakarta: Balitbang Depag & IAIN Jakarta