Pepatah Arab mengatakan: “Raih mimpimu, jalani yang tak Anda ingini, Anda tak akan meraih yang Anda inginkan hingga Anda siap menjalani hal-hal yang tidak Anda inginkan.”
Pas banged pepatah itu untuk merenungkan setiap lakon yang harus kita jalani di dunia ini yang kebetulan tidak kita sukai. Tak menyenangkan rasanya bila tidak suka tomat dikasih tomat. Apalagi bila terkesan dijauhkan dari tomat dan justru melihat dia sengaja makan tomat di depan kita. Seolah pamer enaknya makan tomat. Duh sakit hati banged. Bagaimana bisa positif thinking dengannya, bawaannya hati ini dijejali dengan pikiran dan prasangka negatif. Sempat terpikir ‘salah apa ya saya padanya’ kok sikapnya begitu. Jadi sulit sekali untuk memandang dari kacamata yang positif tentangnya. Padahal tak selalu yang dilakukannya jelek dan tak menyenangkan. Sudah ada semacam “halo effect’ yang negatif so susah sekali untuk mengubahnya menjadi positif, berpikiran yang jernih, husnudzon. Ya Allah mengapa jadi begini. Terkadang jalinan persaudaraan yang sudah dibangun indah oleh orang tua tapi bila tak mampu diteruskan dengan baik dan manis menimbulkan ilfill merasa berdosa, bersalah. Rasanya Allah sudah mencabut ikatan-ikatan yang menyatukan hati dan menimbulkan kedekatan. Ada semacam tembok pembatas yang tak nampak tapi begitu terasa dan jelas terbaca bagi yang mampu merasakann
Begitu juga kedekatan hati dengan orang yang bukan siapa-siapa tetapi entah mengapa bisa begitu dekat. Tak nampak jelas terlihat oleh mata namun terasa dekat di jiwa. Ah lebay jadinya. Tetapi kedekatan hati dan rasa memang tidak bisa diatur, dikelola atau ditentukan. Andaikan bisa, mungkin aku akan melakukannya sesuai dengan inginku.
Apakah sudah lama melupakan doa rabithah sehingga salah mendapatkan kedekatan hati? Aku justru takut bila hati ini didekatkan, dijadikan indah dan senang pada hal-hal yang tidak baik, dilarang olehNya. Hal yang paling menyedihkan adalah jika pelan-pelan kita semakin jauh dariNya,jauh dari orang-orang yang taat padaNya.
Apalagi bila hati menjadi kurang peka terhadap kebaikan. Lebih menyukai hal yang sia-sia, bila lebih disibukkan oleh hal-hal yang membuat kita lalai dari mengingat Allah, lebih mencintai dunia, takut kehilangan muka, harta, tahta, wanita. Astaghfirulloh.. (sekedar mengingatkan diri sendiri).
Cukup sering mendapat sentilan, kebanyakan guyonan yang justru akan melalaikan hati. Di satu sisi ingin bisa akrab dan bergaul dengan orang lain, tetapi jangan sampai larut dan berlebihan. Sekedarnya saja. Tetapi mengatur dan menjaga agar tetap sekedarnya saja itu tak mudah memang. Guyon, tapi tetap dalam batasnya.
Kembali ke topik menjalani hal yang tidak kita sukai. Duh, akhir-akhir ini memang saya sedang dihadapkan oleh hal tersebut. Curhat dot com niy ceritanya. Mengapa dapat posisi ini, jobdesk begini. Saat di depan eh jadi bumper, saat di belakang eh dapat jatah di dapur dibagian yang kena asap, panas, tidak bisa tampil di depan umum, sapa menyapa dengan tamu bla-bla bla… Padahal sapa -menyapa dengan orang baru atau menyambut teman lama adalah bagian yang saya senangi. Kalau dalam kepanitian siy bagian humas gitu. Kalau dibagian surat-menyurat, itu tidak saya sukai. Apalagi menyiapkan detail perlengkapan uh malas banged. Saya lebih senang jadi yang tampil di depan. Jadi tatkala harus berperan di balik layar mesti ikhlasss niy. Betewe Nulis ikhlasnya banyak huruf s nya. Apakah sudah benar-benar ikhlas? =D.. Pfff entahlah belum bener-bener ikhlas kali ya. Inginnya show on terus gitu. Lha pas show on gitu juga penuh resiko dicaci maki orang. Di belakang layar mah ga kelihatan banyak orang. Ga semua yang loe lakuin mesti diliat orang kan? dimana ilmu ikhlasnya dipraktekkan? Gubrakkkk!!! (kenapa bahasa tulisna gue mendadak berubah jadi begini ya, awalnya udah serius gitu model bahasa tuturnya) Hi hi hi ketauan aslinya..
Di belakang layar, jadi penjaga gawang, apa istimewanya ya? krik.. krik.. krik..
Jika diibaratkan sebuah tim, tak mungkin semuanya jadi pemain yang ada di garis depan, jadi penyerang. Tetapi pemain pertahanan, apalagi penjaga gawang atau kiper itu perannya sangat penting lho ya (idih menyemangati diri niy ceritanya wkwkwk, biarin!). Lagian kalau jadi pemain yang di depan tapi tidak bisa tampil maksimal cuma sekedar penggembira saja justru perannya ga penting walaupaun kelihatannya penting. Justru peran dibelakang layar walau tak tampak terlihat jelas oleh mata tetapi itu sangat penting (nah loe, lagi-lagi menyemangati diri). Lha iya lah, lihat aja pertandingan bola. Penjaga gawang berperan penting dalam menentukan skor kalah menangnya tim. Kalau penjaga gawangnya oke, ya ga akan kebobolan gawangnya. Minimal skor samalah. Biasanya penjaga gawang juga orang pilihan, dengan kriteria yang ditentukan alias tidak sembarangan. Tinggi badan sekian, skill demikian bla bla bla. Ha ha ha biar termotivasi saat dapat peran sebagai penjaga gawang. Istimewanya lagi, yang namanya penjaga gawang tuh cuma satu. the only one and one only… Ah ada juga kiper cadangan. Setidaknya saat pertandingan berlangsung, kiper kan cuma satu doank.. (bodo amat, lagi dapat jatah sebagai penjaga gawang, jadi memotivasi diri)
Di sisi lain, pemain penyerang juga pilihan kok, ga sembarangan. Bintang lapangan biasanya ya dari pemain yang sering mencetak gol. Tuh kan lagi-lagi yang di depan.. Gludakkk! Sudah, masing-masing posisi memegang peran yang penting. Kesuksesan ada di kerjasama tim yang baik. Ada yang bertindak sebagai penyerang, sayap kanak, kiri, bagian pertahanan hingga penjaga gawang.
Tim akan menang jika penyerang mampu mencetak gol. Nah butuh kerjasama kan? Lagi-lagi rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Posisi orang lain terlihat lebih indah, menyenangkan dan mengagumkan. Padahal belum tentu ketika kita dalam posisinya bisa merasakan hal demikian. Masing-masing peran butuh kecakapan, kemampuan tersendiri. Disamping itu masing-maisng peran juga punya beban, resikonya masing-masing. Tak semuanya indah-indah kok. Misalnya jadi kiper kalau kebobolan ya bisa disalahkan tim. Kalau jadi penyerang utama tapi tidak mampu mencetak gol padahal banyak peluang emas yang muncul juga bisa menimbulkan kekecewaan penggemarnya.
So kesimpulannya apa? Ya nikmati saja peran yang diberikan padamu. Terlepas itu kamu sukai atau tidak. Ada banyak hikmah dan pelajaran yang bisa dipetik di dalamnya (ceile sok bijak niy ceritanya). Terkadang bertukar peran juga boleh. Biar bisa saling merasakan bagaimana di posisi orang lain, apakah sanggup, bisa lebih baik??? Malu juga ingin kesuksesan seperti yang dijalani orang lain tetapi bila peran itu misalnya diberikan ke kita hasilnya tak sebaik jika dia yang dibagian itu.
MENGACA DIRI. Yup, betul!!!!
Cuma seringkali kaca kita tidak lagi jernih dan bening. Hingga bayangan yang kita tangkap jadi jauh dari aslinya. Apalagi yang namanya mengaca diri susyah bukan main. Hati kita sebagai panduan dalam berkaca. Oh My God! Padahal hati manusia seringkali kotor terkena debu-debu iri, sombong, angkuh, merasa bisa dan mampu, hingga minder, keraguan, ketidakpercayaan, prasangka negatif, kecenderungan menyukai dan tidak menyukai sesuatu, etc. Bagaimana bisa mengaca diri dengan baik????
POSITIF THINKING
Ya, jurus positif thinking memang jurus yang tidak pernah basi. Baik positif thinking pada sesama manusia maupun positif thinking dengan Allah SWT. Ya, yakinlah ketika mendapat peran di balik layar itu semua sudah dengan pertimbangan yang masak, bukan asal taruh. Mungkin saja bila diberikan ke orang lain ia tidak lebih mampu dibanding anda. Positif thinking dengan Allah SWT. Itu sangat penting. Yakinlah setiap posisi dan peran yang diberikan ke kita ada maksudnya dimasa yang akan datang. Siapa tahu di masa yang akan datang, skill yang kita kuasai dari pembelajaran hal-hal yang tidak kita sukai akan sangat berguna di kehidupan yang akan datang. Who knows gitu loh. Emang manusia itu sok tahu dan terlalu kepede-an. Sok mendikte Tuhan. Merasa paling baik jika begitu bukan begini. Dalam posisi itu bukan dalam posisi ini. Padahal sapa tahu, dengan melewati yang begini akan sukses di yang begitu di masa depan. Ada tangga-tangga skill dan kompetensi yang mesti dilewati bro,, sist… Siapa tahu di masa yang akan datang bakal jadi ibu suri, ibu kepala atau memegang posisi yang penting. Ceileeee… makanya tuh diasah dari sekarang.. Yang namanya diasah begitu tidak nyaman kawan, menyebalkan dan butuh kesabaran. Makanya mesti sabar. Akar pendidikan memang pahit, tapi percayalah buahnya akan manis.. Kelak kau akan tahu… (itu kata pepatah lho ya, bukan saya sok tahu)..
Masa-masa penempaan untuk mencapai yang baik memang tak menyenangkan. Ingin rasanya menjerit, teriak, marah-marah. Kok ada yang nyantai aja, tidak banyak beban kerja tapi standar gaji tetap sama.. Wuaaaaaa………… kalau diibaratkan tokoh kartun mukanya sudah merah, ESMOSI TINGKAT DEWA. Tetapi percuma, toh tak mengubah yang di depan mata, justru memperburuk situasi. Tetap cool, calm, ikhlas, sabar menjalani… (DUH, SO SWEET BANGED SIY). Gludak!!!!
Di sisi lain, bila melihat orang lain yang dikasih jobdesk tapi kenyataannya hanya sebagai formalitas saja, jauhhhhhhh di reluuuuuuuuuuuuuuung hati terdalamku berkata “kasihan banged” ya… Kesannya weird banged deh. Jelas akan kurang dihargai orang lain. Ada rasa tak berguna, ada dan tiadanya dia tak berpengaruh. Tak dianggap. Hikssss sediiiiiiih kalau begitu. Mending jadi penjaga gawang tak apa-apa lah, pemaian di belakang layar juga oke..
Bener banged, “Sebaik-baiknya orang adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” Tul. betulll banged. Bila kita mendadak tiada maka akan banyak yang merasa kehilangan. KEREN BANGED TUH. Cuma untuk menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain itu tak mudah. Butuh keikhlasan untuk berkorban. Tidak mementingkan kepentingan pribadi, Mendahulukan kepentingan orang lain. Membuat orang lain berharga, penting, istimewa. Mesti low profile, tawadhu”. Duh, dimana dan bagaimana agar sifat-sifat baik itu menempel padaku, pada anda, pada kita??? Tak semudah itu menempel. Butuh proses, pengasahaan, penempaan lewat kasus nyata di dalam kehidupan. Disitulah kita diuji, diasah sejauh mana keikhlasan kita, rendah hati kita, sejauh mana mampu menekan ego pribadi, merasa diri benar, merasa diri bisa dan merasa tidak perlu mendapat masukan dari orang lain, bla-bla bla…
Cobalah sejenak melihat dari kacamata yang berbeda… agar kau tahu… bahwa masih banyak kekurangan dan kesombongan yang mewarnai diri. Banyak hal yang menjadikan kita belum pantas. Jika sudah pantas, Allah akan kasih kok ke kita. Rejeki, jabatan, harta tak akan lari ke mana. JIka sudah menjadi hak kita ya akan sampai. Tak mungkin Tuhan salah memberi rejeki. Tinggal kita ikhtiar semampu kita, berdoa dan tawakkal padaNya.
Ingin terlihat hebat, keren di mata manusia? Duh… riya’. Biar Allah saja yang tahu segala hal tentang kita. Kehebatan kita? Ah, masih kalah jauh dibanding banyaknya aib-aib, dosa, kekurangan kita yang mungkin bila ditampakkan di hadapan manusia, kita akan sangat malu. Ya, sangat malu. Mudah saja bagi Allah untuk menunjukkan dan membuka aib, kesalahan kita di hadapan umum, di hadapan manusia kalau Dia mau. Ya semudah Dia menunjukkan kebaikan, prestasi kita. Sangat amat mudah bagiNya. Jadi apa yang mesti kita banggakan pada diri kita? Kita manusia tak bisa apa-apa. Dia Maha membolak-balikkan hati kita, membolak-balikkan posisi kita, kondisi diri kita. Tak usahlah merasa cantik, manis, pinter, kaya, baik hati, keren dan seabreg lainnya yang membuat diri jadi lupa betapa semua itu bisa sirna dalam sekejap. Ya, jika Dia menginginkan bisa saja wajah cantik atau wajah ganteng berubah jadi jelek, entah karena kecelakaan, penyakit atau apa. Harta toh bisa dengan mudah diambil olehNya. Tahta, jabatan? Ah mudah juga bagiNya untuk mengambil. Demikian pula jika Dia mempercayakan harta, jabatan, wanita cantik atau pria tampan untuk mendampingi kita? Sangat amat mudah… Cuma, apakah itu semua membuat kita semakin dekat denganNya atau justru membuat semakin jauh?
So… apalagi yang bisa kamu inginkan wahai manusia???? Allah lebih tahu kondisimu, keimananmu, hal yang terbaik bagimu. Boleh jadi jika diberi kekayaan, kecantikan/ketampanan, kepandaian, jabatan akan membuatmu sombong, lupa diri bahkan lupa Tuhan. Yakinlah kondisi kita saat ini, posisi kita, rejeki kita adalah yang terbaik bagi kita. Setiap hal ada masanya. Jika sudah tiba, tak akan meleset, ia akan datang menghampiri kita. Ya, teruslah memperbaiki diri agar hal-hal baik menjumpai kita, dan agar manusia juga Allah mempercayakan hal-hal yang baik terjadi pada diri kita. Rejeki, harta, tahta, kepandaian, wajah cantik, semua hal yang ada pada kita adalah amanah yang harus dijaga dipertanggungjawabkan di masa yang akan datang. Jadi jangan pernah minta hal yang jika diri tak yakin sanggup mampu mempertanggungjawabkannya dengan baik, kelak di akhirat.
*sekedar renungan di dini hari*
Pengingat bagi diri yang sering alpha dan kurang bersyukur atas segala nikmat dan karuniaNya