Selamat Tinggal Masa Lalu (Renungan Tahun Baru 1433H)

Waktu bergulir dengan ritme yang tetap, tetapi secara psikologis aku merasa begitu cepat waktu berjalan. Tanpa terasa tahun baru 1433H akan segera kita jelang. Ah, suka duka sepanjang tahun pasti ada. Harapan dan kenyataan yang hadir sudah sepatutnya kita syukuri bagaimanapun bentuknya. Ada harapan yang sudah tercapai, ada juga cita yang masih belum terkabul. Renungan perjalanan setahun ke belakang diperlukan untuk mengetahui sejauh mana kita melangkah. Apakah semakin baik, stagnan atau justru memburuk. Dalam buku yang pernah saya baca menyebutkan bahwa kesuksesan tidak hanya sekedar materi saja tetapi melingkupi beberapa aspek. Aspek-aspeknya lupa, jadi saya buat menurut versi saya sendiri saja ya (beginilah ngeblog ga perlu mencantumkan referensi, makanya saya suka)

1. Aspek keimanan kita kepada Allah SWT, apakah semakin baik atau buruk? Memang sih kadar keimanan dan ketakwaan, kita tidak dapat mengukurnya secara kongkrit. Setidaknya kita bertanya pada diri kita sendiri, apakah semakin dekat dengan Allah SWT atau semakin jauh? Kalau dibuat grafik setahun lamanya maka akan kelihatan jelas apakah grafiknya menaik atau menurun? Indikatornya ga usah susah-susah, lihat aja kondisi hati kita, bagaimana ibadah wajib kita, apakah di awal waktu ditunaikan, atau justru ogah-ogahan menunaikan?Ibadah sunah apakah kita tunaikan? Sholat kita, puasa, zakat, tilawah kita bagaimana? Muamalah dengan sesama bagaimana?

2.Aspek materi. Sudahkah kita mencapai cita-cita, karier, prestasi sesuai dengan harapan? Hidup di dunia tidak lepas dari unsur materi. Maka sudah semestinya kita memiliki rencana, cita-cita baik karier maupun profesi yang akan dicapai atau dikembangkan ke depan. Prestasi apa saja yang sudah kita raih, yang masih dalam proses pencapaian, yang belum sukses kita capai. Terkadang ketika kesulitan menghadang membuat kecewa, malas membuat perencanaan. Padahal gagal merencanakan sama saja dengan merencanakan kegagalan. Ada juga yang berkata ‘ah saya mengalir saja’ dan hasilnya bagus . Ya bagus siy tetapi lebih bagus lagi kalau direncanakan Insya Allah hasilnya lebih baik lagi. Hal yang sering terjadi justru sudah membuat perencanaan tetapi dalam action-nya masih belum konsisten, hangat-hangat tahi ayam. Semangat di awalnya saja. Di tengah perjalanan mulai mengendor, dan akhirnya terlupakan. Di awal tahun biasanya membuat rancangan ini itu, plan begini begitu. Di tengah jalan karena faktor hambatan, faktor SDM atau alasan lainnya yang dibenarkan sepihak oleh diri sendiri makanya meleset atau tidak maksimal. Misalnya: ingin menaikan TOEFL, mahir nyetir, ikut karate, rajin ngeblog, rajin menulis karya ilmiah, ternyata di akhir tahun memble hasilnya (curhat colongan euy, jadi malu). Di awal tahun ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Dibuatlah parameter begini begitu.. eh di akhir tahun saat evaluasi tahunan bagaimana, sudah baik dan meningkatkah? Ya, lumayanlah (ha ha ha lagi-lagi menghibur diri atau bagaimana ini)

3.Aspek hubungan interpersonal kita bagaimana. Bagaimana hubungan dengan orang tua, sanak saudara, teman, tetangga? Hablumminannas kita apakah meningkat atau menurun? Seberapa penting keberadaan kita bagi orang lain. Bukankah orang yang paling baik itu yang banyak kontribusinya bagi orang lain? Entah dalam bentuk kepedulian sekedar perhatian, senyum, hingga menebar kasih sayang berupa bantuan baik materiil maupun spirituil. Hmm, saya sendiri masih perlu untuk belajar banyak tentang ini. Termasuk bagaimana kita berkontribusi positif secara nyata dalam berbagai persoalan di sekitar kita, masyarakat, bangsa dan negara. Wuihhh, ga berani muluk-muluk dulu. Cukuplah diawali dengan berbenah dari diri sendiri, meningkatkan kepedulian dan perhatian pada keluarga, teman, saudara, syukur-syukur bisa berperan di masyarakat, bangsa dan negara. amiin.

Hal yang tidak kalah penting di renungan akhir tahun hijriyah ini adalah disamping membuat rencana di masa depan, perkuat dengan ikhtiar, doa dan

Doa akhir tahun
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ وَصَلىَّ اللهُ عَلَى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ()اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِيْ عَنْهُ فَلَمْ اَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وِلَمْ تَنْسَهُ وَحَلِمْتَ عَلَيَّ بَعْدَ قُدْ رَتِكَ عَلَى عُقُوْ بَتِيْ وَدَعَوْ تَنِيْ اِلَى التَّوْ بَةِ مِنْهُ بَعْدَ جَرَاءَتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ() اَللَّهُمَ اِنِّيْ اَسْتَغْفِرُكَ فَاغْفِرْلِيْ وَمَا عَلِمْتُهُ فِيْهَا مِمَّاتَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَاَسْئَلُكَ اَللَّهُمَّ يَا كَرِيْمُ يَاذَاالْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ()اَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّيْ وَلاَتَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَاكَرِيْمُ وَصَلىَّ اللهُ عَلَى سَيِّدِ نَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ() وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْ.

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi maha Penyayang.
Semoga rahmat Allah tercurah kepada junjungan kami dan pemimpin kami Nabi Muhammad SAW, keluarganya, dan para sahabat beliau.

Ya Allah, segala amal yang aku lakukan pada tahun ini (yang telah silam), dari hal-hal yang Engkau larang kepadaku, lalu aku tidak bertaubat, sedangkan Engkau tidak meridhoinya, dan Engkau tidak melupakannya, dan menyantuni atasku
sesudah kekuasaan-Mu atas siksa-siksa
padaku. Engkau menyeru aku bertaubat darinya sesudah aku lakukan durhaka pada-Mu. Perkenankanlah Engkau mengampuni aku. Dan segala apa yang aku lakukan di dalamnya dari hal-hal yang Engkau ridhoi, dan Engkau telah menjanjikan pahala kepadaku, maka aku memohon kepada-Mu ya Allah Dzat yang Mulia, hai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan, hendaklah Engkau terima dariku, janganlah Engkau memutuskan harapanku dari rahmat-Mu hai Dzat Yang Mulia.
Shalawat dan salam, tetapkanlah pada junjungan kami Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya…….

[TEORI] ANALISIS KONFLIK

Konflik adalah perbedaan kepentingan, pendapat, cara pandang. Lebih lengkapnya lihat di tulisan saya yang berjudul TEORI KONFLIK

ANALISIS KONFLIK
Analisis merupakan proses untuk mengkaji dan memahami realitas konflik dari berbagai perspektif yang beragam. Di sisi lain analisis konflik bisa dijadikan dasar pijakan dalam pengembangan strategi dan rencana aksi. Konflik bila diibaratkan sebagai suatu penyakit maka untuk mengkajinya diperlukan 3 proses yaitu: PROGNOSIS –> DIAGNOSIS –>TREATMEN.

PROSES ANALISIS KONFLIK
Konflik membutuhkan proses dalam mengidentifikasinya. Dalam Training Mediasi Konflik yang saya ikuti hari ini di WMC (Walisongo Mediation Centre) Semarang, peserta training diberikan games PEMULUNG (begitu istilah yang disebut Elma, salah satu peserta dari Puslitbang Kehidupan Beragama Kementerian Agama RI Pusat). Games ini mengasah kemampuan peserta training dalam menganalisa suatu hal. Peserta dibagi menjadi kelompok-kelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas 3 orang. Trainer memberikan setumpuk benda ke masing-masing kelompok. Diberikan waktu 15 menit untuk mengelompokkan tanpa ada komunikasi. Setelah itu peserta diminta presentasi hasil pengelompokan yang telah dilakukan. Ternyata antar anggota kelompok mengalami kesulitan atau pandangan yang berbeda dalam mengelompokkan benda-benda yang diberikan. Ada yang memasukkan pita dalam kelompok alat tulis tanpa disadari. Hal ini tentu saja menggelikan, karena baru disadari oleh peserta begitu presentasi dilakukan.

Dari hasil games tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam melakukan ANALISIS KONFLIK diperlukan hal-hal sebagai berikut:
1. kejelian, kecermatan
2.banyaknya persepsi yang berbeda memerlukan common persepsion
3.perlunya pengelompokkan sesuai dengan jenis, ragamnya
4.perlu kerjasama dalam mengelompokkan
5.analisis dari berbagai sudut pandang

MENGAPA PERLU CONFLICT ANALISIS?
Orang yang bekerja dengan konflik harus memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai dinamika, hubungan dan isu terkait dengan situasi yang membantu untuk merencanakan, menemukan strategi yang lebih baik.

KEGUNAAN ANALISIS KONFLIK
Analisis konflik berguna untuk:
1. memberikan pemahaman tentang latar belakang dan sejarah situasi konflik dan peristiwa terkini
2. Mengidentifikasi semua kelompok yang relevan (mana kelompok-kelompok yang bisa diajak
bersekutu, mana yang tidak)
3. Memahami perspektif dari semua kelompok atau pihak yang berbeda dan untuk mengetahui lebih
luas hubungan mereka satu dengan yang lain
4. Mengetahui faktor yang mendukung dan menopang konflik

ADA 9 ALAT UNTUK MENGANALISIS KONFLIK
Konflik perlu dianalisis. Ada 9 cara untuk menganalisis, yaitu:
1. STAGES OF CONFLICT
Konflik memiliki karakter tertentu sehingga bisa diperkirakan dalam suatu grafik: pre-konflik,
konfrontation, crisis, outcome hingga post conflict. Dengan demikian bisa diantisipasi dan dicari
kemungkinan penyebab timbulnya, apakah karakternya masih sama atau karena adanya hal baru
yang tidak dijumpai sebelumnya.
2. TIMELINES
Konflik bisa dianalisis dengan menggambarkan kejadian-kejadian kronologis suatu peristiwa terkait
dengan dua atau tiga kelompok yang berkonflik
3. CONFLICT MAPPING
Teknik visual untuk menggambarkan hubungan antar kelompok dalam konflik. Dengan teknik ini
bisa digunakan untuk memahami situasi secara lebih baik, bagaimana hubungan antar pihak yang
berkonflik, memperjelas letak kekuatan, melihat siapa yang menjadi sekutu atau potensial menjadi
sekutu, mengenali kemungkinan intervensi dan mengevaluasi apa yang sudah dilakukan.
4. THE ABC (ATTITUDE, BEHAVIOUR, CONTEXT) TRIANGLE
Teknik yang digunakan untuk mengidentifikasi faktor attitude, behaviour dan context kaitannya
satu sama lain pad akedua pihak yang berkonflik.
5.THE ONION
Cara menganalisis tentang apa yang dikatakan oleh masing-masing kelompok mengenai konflik.
Hal ini dilakukan dengan menganalisis dari lapisan terluar, ke dalam hingga ke inti masalah, yang
meliputi: POSISI, INTEREST dan NEEDS kedua belah pihak. POSISI: what we say we want.
INTEREST: What we really want? NEEDS: What must we have
6.THE CONFLICT THREE
Alat grafis dengan menggunakan gambar pohon untuk memilih isu-isu konflik penting. Tujuannya
untuk mengetahui masalah ini, sebab dan akibat dari suatu problem/konflik.
7.FORCE – FIELD ANALYSIS
Teknik analisis yang bertujuan untuk menganalisis kekuatan positif dan kekuatan negatif dalam
suatu konflik. Tujuan teknik ini untuk mengidentifikasi kekuatan yang mendukung atau
melemahkan rencana aksi atau perubahan yang diinginkan, menentukan cara untuk memperkuat
dan menurunkan kekuatan, memperkitakan kekuatan itu dan kekuatan kita untuk
mempengaruhinya.
8.PILLARS
Teknik analisis konflik berupa ilustrasi grafis mengenai unsur-unsur pendukung. Tujuannya untuk
mengetahui ketiuka tidak jelas kekuatan apa yang mempertahankan situasi yang tidak stabil.
Disisi lain juga berguna ketika terperangkap dalam suatu situasi.
9.THE PYRAMID
Tkenik pyramid merupakan alat grafis yang menunjukkan level-level stake holder dalam konflik.

NB. Resume materi TRAINING MEDIASI KONFLIK
DI WMC (WALISONO MEDIATION CENTRE) SEMARANG, 8 – 12 NOVEMBER 2011

JURNAL:BENTUK-BENTUK DAN WILAYAH PENGALAMAN RELIGIUS HUJJAJ STUDI KUALITATIF FENOMENOLOGIS PADA INDIVIDU YANG MENUNAIKAN HAJI DI KOTA SEMARANG

BENTUK-BENTUK DAN WILAYAH PENGALAMAN RELIGIUS HUJJAJ
STUDI KUALITATIF FENOMENOLOGIS
PADA INDIVIDU YANG MENUNAIKAN HAJI DI KOTA SEMARANG

THE FORMS AND AREAS OF HUJJAJ’S RELIGIOUS EXPERIENCE
THE QUALITATIVE PHENOMENOLOGICAL STUDY ON HUJJAJ OF SEMARANG

Dwi Martiningsih
Balai Litbang Agama Semarang
E-mail: dweepsikologi@yahoo.com

ABSTRACT
The purpose of this study was to determine the forms and areas of hujjaj’s religious experience. The method of research used was qualitative phenomenological research. The subjects of the study were four people in the early adulthood, middle adulthood and late adulthood. The results showed that hujjaj’s religious experience were grouped according to the suitability of the content and themes into four types: the social-psychological experience, physiological experience, spiritual experience and parapsychological experience. The area of hujjaj religious experience were: physical, emotional, intellectual, that integrated on personal area and transpersonal area that consist of intuition and para-phsychological phenomena,
Key Words: Religious Experience, Hujjaj

ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk – bentuk dan wilayah pengalaman religius hujjaj. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif fenomenologis dengan subjek penelitian 4 orang usia dewasa awal, madya dan dewasa akhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman religius pada hujjaj dikelompokkan menjadi 4 macam berdasar kesesuaian isi dan tema, diantaranya: pengalaman sosial-psikologis, pengalaman fisiologis, pengalaman spiritual dan pengalaman para-psikologis. Wilayah pengalaman religius hujjaj: fisikal, emosional, intelektual yang terintegrasi dalam kesatuan wilayah personal dan transpersonal yang meliputi intuisi dan fenomena para-psikologis.
Kata Kunci: Pengalaman Religius, Hujjaj

PENDAHULUAN

Latar Belakang Penelitian
Ibadah haji merupakan salah satu bentuk ajaran Islam, sebagai sarana untuk penyucian dan penyempurnaan diri secara utuh, empirik dan transendental. Penyempurnaan diri secara utuh terlihat dari adanya perubahan positif dari keyakinan, sikap dan perilaku yang lebih baik, bahkan menjadi panutan di dalam masyarakat1.
Ibadah haji seperti “akhirat mini” yang memberikan visualisasi (tayangan) kehidupan di masa yang akan datang. Menurut Al-Ghazali dalam Baghir2, semua keadaan yang dialami oleh seseorang yang sedang berhaji merupakan contoh dan petunjuk tentang keadaan-keadaan yang akan dialaminya di akhirat kelak, memberikan peringatan akan sikap, tingkah laku selama hidup di dunia.
Salah satu contoh nyata dialami oleh K.H. Mustofa Bisri yang merasa ”diwelehke” Tuhan. Ketika akan melakukan thawaf, ia menganjurkan teman-temannya menyimpan sandal di tempat yang aman, yaitu di sudut. Semua teman-temannya mengikuti anjurannya, tetapi setelah thawaf selesai semua sandal hilang, kecuali sandal ibunya. Pengalaman tersebut memberikan pelajaran berharga padanya untuk tidak berani lagi berjanji atau memutuskan sesuatu yang bukan menjadi wewenangnya.3.
Pengalaman selama menunaikan haji yang membawa perubahan sikap dan perilaku juga dialami oleh Sutardji Culzom Bahri. Jika sebelum naik haji Tardji harus minum minuman keras dulu sebelum membacakan puisi, setelah menunaikan haji, Tardji dapat menemukan inspirasi menciptakan puisi tanpa harus minum minuman keras terlebih dahulu3.
Pengalaman-pengalaman yang dialami jamaah haji dapat dikatakan sebagai penyingkapan tabir kehadiran Allah (kasf), walaupun sebenarnya yang bisa dialami adalah sebatas penyingkapan tabir tanda-tanda kebenaran Allah SWT, bukan melihat Tuhan secara langsung. Pengalaman–pengalaman pribadi tersebut memang benar dan bisa diterima masyarakat. Ada juga pandangan populer “weruh sakdurunge winarah” (tahu sebelum diberitahu) disebabkan kejernihan batin dan kedekatan pada tanda-tanda (ma’alim) kebenaran Allah yang kemudian mampu mengambil makna dan hikmah dari setiap peristiwa4.
Pengalaman kasyf dalam menunaikan haji bila dimaknai sebagai suatu bentuk komunikasi atau pendekatan diri pada Tuhan, bisa disebut sebagai pengalaman beragama (religius experience).
Dalam sebuah penelitian pada kelompok pengajian Tawakkal Yogyakarta Subandi5 berhasil mengidentifikasi tema-tema pengalaman beragama yang terjadi. Dalam pengajian tawakal tersebut dilakukan dzikir dan muhasabah sebagai aktivitas utama pengajian. Kelompok pengajian tawakkal tersebut melakukan aktivitas dizikir secara intensif yang kemudian menimbulkan penghayatan perenungan. Hasil integrasi aktivitas fisik, akal dan hati tersebut memunculkan pengalaman religius.
Hampir semua ibadah dalam agama Islam tidak lepas dari dzikir. Baik dalam sholat, puasa, hingga ibadah haji dianjurkan untuk memperbanyak dzikir. Hal ini menimbulkan dorongan dalam diri peneliti untuk mengetahui pengalaman dzikir, termasuk dalam ibadah haji sebagai rukun Islam yang ke-5.
Setiap tahun ada ratusan ribu penduduk Indonesia berangkat dan kembali dari tanah suci Mekah. Besarnya minat muslim Indonesia untuk berhaji mendorong peneliti untuk meneliti secara empiris mengenai pengalaman religius hujjaj yang diharapkan mampu berimplikasi secara signifikan bagi perubahan masyarakat ke arah yang lebih baik6.
Berdasarkan rekapitulasi pendaftaran haji Propinsi Jawa Tengah tahun 2005/2006 diperoleh data bahwa jumlah jamaah haji terbanyak berasal dari Kota Semarang, yaitu 2.692 orang7. Hal inilah yang membuat penulis tertarik untuk mengadakan penelitian di Kota Semarang.
Berdasarkan latar belakang permasalahan tersebut, maka yang menjadi pertanyaan penelitian adalah apa saja bentuk-bentuk dan di mana wilayah timbulnya pengalaman religius yang diharapkan berimplikasi ke arah perubahan perilaku hujjaj yang lebih baik?
TUJUAN
Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bentuk-bentuk dan wilayah timbulnya pengalaman religius yang dialami hujjaj.
MANFAAT
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan mampu memperkaya pengetahuan dan memberi kontribusi bagi pengembangan ilmu di bidang Psikologi, khususnya dalam bidang Psikologi Sosial, Psikologi Islami maupun bidang ilmu lain yang terkait dengan pengalaman religius pada hujjaj.
Secara praktis, penelitian berikut diharapkan mampu memberi sumbangan mengenai:
a.Fakta-fakta psikologis dan pemikiran-pemikiran psikologi transpersonal khususnya nilai-nilai psikologis dalam pelaksanaan ibadah haji
b.Kondisi psikologis-spiritual manusia dalam pelaksanaan ibadah haji.

TINJAUAN PUSTAKA
Menurut Dagun6 pengalaman religius (religius experience) sama dengan pengalaman beragama, yaitu pengalaman yang tercerap ketika seseorang merasa bertemu secara langsung dengan sang Illahi atau ketika kesadarannya berpadu secara ekstatis dengan ideal-ideal dan aspirasi-aspirasi yang paling tinggi.
Menurut Glock & Stark dalam Ancok & Suroso8 pengalaman beragama merupakan salah satu dari aspek-aspek religusitas. Aspek-aspek religiusitas sendiri terdiri dari: keyakinan (religius belief), ritual/praktik (religius practice), pengalaman (religius feeling), pengetahuan (religius knowledge), konsekuensi (religius consequences)
Pengalaman beragama dapat dikelompokkan berdasar kesamaan isi dan tema, seperti yang dilakukan Subandi7 sebagai hasil penelitiannya yaitu:
1.Pengalaman fisiologis, yaitu pengalaman yang mencakup:
a.Timbulnya gerakan otomatis
Pengalaman dimana subjek menyadari sepenuhnya apa yang terjadi tetapi tidak mampu mengendalikan gerakan, karena ada kekuatan yang menguasai dirinya.
b.Penyucian diri
Pengalaman subjek mengalami proses penyucian diri dari hal-hal yang tidak dibenarkan agama, yang pernah dilakukan sebelumnya.
c.Pengalaman penyembuhan (healing experience)
Pengalaman yang berkaitan dengan dengan kesembuhan pada waktu melaksanakan dzikir atau untuk kesembuhan orang lain.
2.Pengalaman sosial-psikologis, yang mencakup tema:
a.Transisi
Pengalaman dimana subjek secara langsung atau tidak langsung menyatakan terjadi perubahan peningkatan ibadah yang jauh berbeda dengan sebelumnya.
b.Hilangnya rasa ke-akuan
Pengalaman hilangnya rasa kesombongan, merasa pintar, merasa menjadi orang penting atau merasa bisa.
c.Pengalaman yang sulit diungkapkan (ineffeble)
Pengalaman yang berkaitan dengan alam perasaan, pengalaman kerohanian yang sulit digambarkan.
d.Pengalaman yang berhubungan dengan problem kehidupan sehari-hari
Pengalaman adanya intervensi dari kekuatan diluar dirinya dalam menghadapi masalah kehidupan sehari-hari.
e.Pengalaman yang berkaitan dengan suasana emosi
Pengalaman adanya berbagai perasaan yang muncul dalam diri subjek: berdosa, rasa sedih, gembira, bahagia dan sebagainya.
3.Pengalaman para-psikologis, yang mencakup tema:
a.Pengalaman yang menjangkau masa depan
Pengalaman yang menggambarkan kejadian yang akan datang yang mampu melampaui pandangan batin, memiliki nilai prediktif.
b.Pengalaman mendapat gangguan dari makhluk halus
Pengalaman mendapatkan gangguan ketika berusaha mendekatkan diri pada Allah.
c.Pengalaman yang berkaitan dengan perubahan kesadaran (Altered States of Counsciousness)
Adanya perubahan kesadaran dalam diri seseorang dari kesadaran normal kehidupan sehari-hari ke kesadaran yang lain, termasuk pengalaman yang berupa penglihatan (visions), pendengaran (voices), atau pengalaman terlepas dari ikatan dimensi ruang waktu.
4.Pengalaman spiritual/kerohanian, yang mencakup tema:
a.Penyucian diri
Pengalaman subjek mengalami proses penyucian diri dari hal-hal yang tidak dibenarkan agama, yang pernah dilakukan sebelumnya.
b.Penemuan kebenaran
Pengalaman subjek menemukan bukti-bukti tentang kebenaran ajaran agama yang pernah diperoleh sebelumnya sehingga keimanan semakin mantap.
c.Pemahaman baru tentang ajaran agama
Pengalaman mendapatkan pemahaman dengan dimensi pemahaman yang baru (telah mengenal ajaran suatu tertentu tetapi baru benar-benar mengerti dan memahaminya).
d.Keakraban dan kedekatan dengan Tuhan
Pengalaman yang berisi pernyataan subjek secara langsung atau tidak langsung tentang kedekatannya dengan Tuhan. Bisa tercermin melalui hubungan yang akrab seperti disayangi, dimarahi, atau berdialog pribadi dengan Tuhan.
e.Peningkatan ritual ibadah
Pengalaman peningkatan ibadah ritual
f.Pembaharuan moralitas
Pengalaman perubahan tingkah laku moral, seperti hilangnya sifat-sifat buruk, berhenti melakukan perbuatan dosa.
g.Perasaan diatur oleh Tuhan
Pengalaman dimana subjek merasa bahwa kehidupannya sudah diatur oleh Tuhan, baik masalah besar maupun kecil dalam kehidupan sehari-hari.
h.Pengalaman mendapatkan petunjuk Tuhan
Pengalaman subjek mendapatkan petunjuk Tuhan melalui ayat-ayat Quran maupun isyarat-isyarat inderawi maupun kejadian sehari-hari.
Haji secara lughawi berarti menyengaja atau menuju dan mengunjungi. Haji secara istilah berarti mengunjungi Kakbah untuk beribadah kepada Allah dengan syarat-syarat dan rukun-rukun serta beberapa kewajiban tertentu dan melaksanakannya dalam waktu tertentu, yaitu bulan Syawal, Dzulqaidah dan Dzulhijjah.10
Syarat-syarat wajib haji antara lain: Islam, baligh (dewasa), berakal sehat, merdeka dan istitha’ah (mampu baik material mapun segi jasmani dan rohani).
Rukun haji meliputi; niat ihram, wukuf di Arafah, tawaf, sai, tahalul dan tertib. Wajib haji meliputi; niat ihram dari miqot, mabit di Muzdalifah, melontar jumrah aqabah, mabit di Mina, melontar tiga jumrah (ula, wustha, aqabah) dan meninggalkan pantangan selama masih dalam ihram.10
Berdasarkan penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengalaman religius haji adalah suatu perasaan, persepsi atau sensasi yang dialami oleh seseorang sebagai hasil dari pelaksanaan ibadah haji yang meliputi rukun haji maupun wajib haji dan didefinisikan oleh suatu kelompok/masyarakat sebagai suatu bentuk komunikasi dengan esensi ketuhanan (otoritas transendental).

Dimensi Spiritual Manusia
Menurut Mc.Waters dalam Noesjirwan11 dalam psikologi transpersonal yang mempelajari dimensi spiritual manusia, kesadaran manusia itu terintegrasi dan mempunyai tingkat dan fungsinya masing-masing dan terbagi atas: tingkatan personal dan tingkatan transpersonal. Tingkatan kesadaran tersebut digambarkan dalam diagram sebagai berikut:
Diagram1. Diagram tingkat kesadaran Mc.Waters

Tingkatan personal terdiri atas: aspek fisikal (lingkaran 1), emosional (lingkaran 2) dan aspek intelektual (lingkaran 3). Lingkaran 1, 2, 3 tersebut terintegrasi sehingga memungkinkan individu berfungsi secara harmonis. Penyatuan ketiga aspek tersebut menjadi satu yaitu kawasan personal manusia.
Tingkatan berikutnya masuk dalam wilayah transpersonal manusia yang terdiri atas: aspek intuisional (empati, ESP/ Extra Sensory Perception) yang ditunjukkan dalam lingkaran 5. Pada aspek intuisi ini manusia bisa mempersepsi tanpa perantara panca inderanya (ESP). Salah satu bentuk ESP adalah clairvoyance (kewaskitaan/kemampuan melihat keadaan fisik suatu objek atau seseorang atau suatu keadaan yang tidak langsung ada di depan mata). Wilayah transpersonal manusia berikutnya yaitu fenomena-fenomena parapsikologis (lingkaran 6), penghayatan kesatuan universal (lingkaran 7) dan penunggalan, penghayatan simultan semua dimensi (lingkaran 8).
Dari dimensi ritual haji yang meliputi rukun haji dan wajib haji dapat diduga bahwa hujjaj akan memperoleh pengalaman religius seperti pengalaman emosi berupa rasa syukur, ketakjuban, sedih hingga pengalaman yang tak terungkapkan (ineffable) yang berada di lingkaran kedua dari diagram Mc. Waters.
METODE PENELITIAN
Perspektif Penelitian
Penelitian ini menggunakan desain kualitatif. Kirk dan Miller Moleong10 menyebutkan landasan berfikir yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah pada makna-makna tertentu yang terdapat di balik tindakan berpola yang tidak dapat diungkap dengan angka atau secara kuantitatif.
Penelitian fenomenologis merupakan suatu penelitian yang berupaya menemukan makna dari suatu pengalaman langsung oleh beberapa orang yang mengalami suatu fenomena tertentu.
Secara umum berdasarkan konsep fenomenologi di atas, maka peneliti memandang bahwa bentuk – bentuk pengalaman religius pada hujjaj merupakan suatu fenomena yang menampilkan pengalaman – pengalaman individu selama menunaikan haji hingga memperoleh makna terdalam dan dapat mengambil hikmah dari pengalaman haji.
Fokus Penelitian
Fokus penelitian ini adalah bentuk-bentuk dan wilayah timbulnya pengalaman religius hujjaj dalam tinjauan psikologi transpersonal.
Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian adalah individu yang baru pertama kali menunaikan ibadah haji. Pemilihan sampel pada penelitian berikut menggunakan teknik pemilihan subjek bertujuan (purposive sampling) dimana pemilihan dilakukan dengan sengaja dan bertujuan memenuhi karakteristik yang telah ditentukan.
Karakteristik subjek adalah individu yang pertama kali menunaikan haji. variasi umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, keikutsertaan dalam manasik haji (pengetahuan agama) dipilih sebagai variabel yang dipandang mampu memperkaya dan membedakan bentuk-bentuk pengalaman religius hujjaj.
Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan teknik wawancara dengan menggunakan petunjuk umum wawancara (bentuk semi terstruktur).
Analisis Data
Analisis data dilakukan peneliti dengan urutan: 1. Peneliti membuat dan mengatur data yang sudah dikumpulkan, 2. Peneliti membaca dengan teliti data yang sudah diatur untuk mengetahui kecukupan data yang diperoleh supaya relevan dengan fokus penelitian, memungkinkan peneliti mendapat pencerahan tentang tema-tema penting dalam pernyataan subjek.3. Peneliti mendeskripsikan pengalamannya di lapangan untuk menggambarkan situasi penelitian dan konteks yang dapat membantu memahami pernyataan-pernyataan subjek. 4. Horisonalisasi yaitu transkrip wawancara diperiksa untuk identifikasi ucapan-ucapan yang relevan dan tidak relevan bagi penelitian ini. Caranya dengan menebalkan ucapan-ucapan subjek yang relevan dengan fenomena yang sedang diteliti. Hasil identifikasi tersebut kemudian ditulis terpisah pada kolom lain.5. Unit-unit makna yang diperoleh dengan terus melakukan dan merevisi hasil coding. Melalui keseluruhan transkrip, peneliti diharapkan bisa menemukan beberapa unit makna 6.Deskripsi Tekstural yaitu deskripsi yang didasarkan pada ucapan subjek yang harfiah. Ucapan tersebut diambil dari hasil horisonalisasi.7.Deskripsi Struktural berisi interpretasi peneliti terhadap ucapan subjek yang harfiah yang ditulis setelah ucapan harfiah dari subjek tersebut. 8. Makna /Esensi merupakan keseluruhan unit makna, deskripsi tekstural serta deskripsi struktural disatukan untuk kemudian dicari makna universal atau esensi dari pengalaman subjek.
Verifikasi Data
Verifikasi data dilakukan untuk mengetahui sejauh mana taraf kepercayaan, daya transfer dan konsistensi (dependabilitas) penelitian. Peneliti melakukan triangulasi dan peer debrifieng untuk mengecek kredibilitas, melakukan deskripsi sedetail mungkin dan pemilihan subjek secara purposive sampling untuk mendapatkan transferabilitas, dan melakukan bimbingan untuk mengecek konsistensi penelitian.
PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil deskripsi struktural, secara ringkas unit-unit makna yang berhasil diidentifikasi adalah sebagai berikut :
1.Pengalaman religius hujjaj merupakan pengalaman yang dirasakan hujjaj, kaitannya dengan otoritas yang sifatnya transendental. Ke empat subjek merasakan bahwa haji menimbulkan suatu pengalaman religius yang mengingatkan mereka bahwa ada Kuasa Tuhan yang mengatur setiap peristiwa yang terjadi, termasuk kemampuan mereka untuk menunaikan haji ke Mekah.
2.Dari identifikasi pengalaman religius hujjaj, diperoleh gambaran sebagai berikut:
a.Pengalaman Fisiologis dengan tema timbulnya gerakan otomatis tidak dijumpai pada keempat subjek. Pengalaman penyucian diri dan penyembuhan dialami oleh subjek 2, 3, dan 4. Subjek 1 tidak mengalami penyucian diri dan penyembuhan.
Contoh pengalaman fisiologis dengan tema penyembuhan dialami oleh subjek 2:
”Rematik, disini (Indonesia) rematik. Tapi di sana lain. Ga terasa sakit. Obatnya generik biasa. Ya itu opo namane waktu Sa’i.”
Contoh pengalaman fisiologis dengan tema penyucian diri dialami oleh subjek 1:
(Waktu Ihrom)” Hati bersih mengingat hanya Alloh.”

b.Pengalaman Sosial-Psikologis dengan tema transisi, pengalaman ineffable dan pengalaman yang berkaitan dengan emosi dialami oleh ke empat subjek. Pengalaman ujian kesabaran hanya dialami oleh subjek 3 dan subjek 4. Pengalaman berkaitan dengan problem sehari-hari dialami oleh subjek 3, sedangkan pengalaman hilangnya rasa ke-akuan dialami subjek 2,3, dan 4.
Contoh pengalaman sosial-psikologis dengan tema pengalaman ineffable yang dialami subjek 1:
“Alhamdulillah saya pernah menapakkan kaki ke Masjidil Haram. Saya udah pernah ngeliat Kakbah. Gimana bentuk Kakbah, makamnya Rosul. Rasanya ga kebayang. Ga bisa ke omong deh Mbak.”

Contoh pengalaman sosial-psikologis dengan tema pengalaman transisi yang dialami subjek 1:
”Jadi khusyuk. Setelah pergi haji, khusyuk, semua milik Alloh. Dunia hanya mainan. Yang penting ibadah. Ibadahnya khusuk, menambah khusyuk. Tawakal, semakin dekat dengan Alloh. Jadi apalah dunia ini. Cuma main-main aja, kesenangan hidup.”

Contoh pengalaman sosial-psikologis dengan tema pengalaman ujian kesabaran yang dialami subjek 3:
”[.. Nanti sampai di sana kami tidak nanggung urusan makan. Masalah ini sudah ditangani pemerintah Indonesia dengan pemerintah Arab. Kami tidak akan bertanggung jawab makan. Dulu kami yang bertanggung jawab. Di sana waktu itu saya makan dulu.Daripada mambu, ternyata di sana tidak ada makanan. Pagi tidak ada makanan. Ya Allah Ya Allah Ya Allah.”

Pengalaman catering haji jamaah haji Indonesia yang terlambat datang seperti yang dialami subjek1, disatu sisi menunjukkan bahwa pemerintah kurang baik dalam penyediaan layanan bagi jamaah haji. Di sisi lain dengan adanya ujian tersebut menimbulkan pengalaman religius bagi jamaah haji.
Contoh pengalaman sosial-psikologis dengan tema pengalaman berkaitan dengan emosi denga sub tema terharu yang dialami subjek 1:
”Terharu sekali waktu ninggalin Mekah. Mekah itu mayoritas kota petani, kalau Madinah kota perdagangan. Kulturnya beda, jadi mungkin juga menimbulkan rasa yang berbeda juga. Jadi waktu mau meninggalkan Mekah di thawaf wada’ itu rasanya gimana gitu, mengharukan.”

c.Pengalaman Para-Psikologis
Pengalaman para-psikologis dengan tema pengalaman menjangkau masa depan tidak dialami oleh keempat subjek. Tema pengalaman mendapat gangguang dari makhluk halus dialami oleh subjek 1 dan subjek 4, sedangkan subjek 2 dan subjek 3 tidak mengalami hal tersebut. Tema pengalaman menjangkau kesadaran (ASC) dialami oleh subjek 1, 2, 3, tetapi subjek 4 tidak mengalaminya.
Contoh pengalaman para-psikologis dengan dengan tema gangguan makhluk halus terjadi pada subjek 3 waktu umrah:
“Godaan besar. Kalau diteruskan ngga bagus. Sekali-sekali mengantarkan. Kalau mau umroh saya ngantarke. Kalau mau umrah ngantarke lagi. Kalau diteruske ga jadi ibadah. Wanitanya masih muda. Tapi saya ngga Tanya sudah berkeluarga atau belum. Saya ngga tau dia persisnya.”

Pengalaman ASC (Altered States Of Consciousness) sebagai berupa terlepasnya ikatan dimensi ruang dan waktu dialami oleh subjek 1 sebagai berikut:
“Kita serasa ga di dunia, ga kerasa gitu. Kita semua di dalam tenda. Di situ dzikir, berdoa. Saya aja berdoa untuk usia saya saat itu sampai usia-usia saya berikutnya. Sampe menikah, punya anak. Pokoknya sampe usia-usiaku berikutnya, selagi masih di sana dimanfaatkan untuk berdoa.”
Pengalaman ASC (Altered States Of Consciousness) dalam bentuk visions dialami oleh subjek 1 sebagai berikut:
”Waktu tawaf ifadhah mama dan aku ngeliat uang segepok yang masih baru-baru buanyak banget Mbak di bawah. Mama bilang, Dek dibawah ada uang banyak. Wah aku kaget banget. Masih baru-baru uangnya, cuma kesenggol-senggol orang yang thawaf. Ya udah saya dan mama berdoa saja semoga pemilik uang itu bisa menemukannya. Mungkin uang itu milik jamaah yang ngga sengaja jatuh. Mungkin baru jatuh. Masih rapi dan kesenggol-sengggol kaki orang. Ya sudah berdoa saja. Ga tau, yang penting sudah berdoa agar yang punya bisa menemukannya, soalnya kasihan juga kan kalau kehilangan uang sebanyak itu. Bisa membayangkan Mbak.”
d.Pengalaman Spiritual/Kerohanian
Semua subjek hampir mengalami ke delapan tema pengalaman spiritual/religius. Subjek 1 tidak mengalami pengalaman penyucian diri dan subjek 4 tidak mengalami pengalaman mendapat petunjuk Tuhan.
Contoh pengalaman spiritual/kerohanian dengan tema pembaharuan moralitas yang dialami oleh subjek 4 waktu di Mekah:
“Saya istighfar. Saya mikir-mikir, mungkin karena itu. Paling tidak saya merasa di situ ada perasaan, e..,. ada perasaan menyepelekan orang lain. Saya menangis. Kesalahan saya itu, sampe saya itu kok saya ngga boleh masuk masjid.”
Pengalaman spiritual/kerohanian dalam bentuk pembaharuan moralitas dan pengalaman mendapatkan petunjuk Allah dialami subjek 1:
”[.. di Nabawi. Aku harus keluar, tak apalin. Aku keluar pintu keempat. Yang kuinget itu thok Aku lupa mama di mana. Semua sama. Apalagi semua seragam. Aku cari ngga ada, jangan-jangan aku salah apa, sampe lupa begini. Ada orang India, manggil aku. Taruh lagi di raknya minta tolong aku, body language lah mbak. Oh ya, aku taruhin di situ. Aku berdoa. Aku langsung inget mamaku di mana. Di situ ada yang khotbah cewek. Yang deket tempat aku sholat. Subhanalloh, melalui orang tadi kan, akhirnya ketemu lagi. Panikkan mama itu.”

Subjek 1 juga mendapatkan pengalaman spiritual dalam bentuk kedekatan dengan Tuhan:

”[.. tapi yang menarik dari haji itu, apa ya, kita bisa merasakan benar-benar yang namanya pengalaman spiritual itu waktu kita haji. Di situ kita benar-benar merasa dekat banget sama Allah.”

Pengalaman spiritual dalam bentuk peningkatan ritual ibadah dialami oleh subjek 2:
“Ndak tho ya. Sholat, dzikir, satu jam sampe satu setengah jam. Kalau tidak ya sholat malam. Itu untuk kesehatan bagi orang yang sudah tua. Tulange kuat kalau sholat itu. Kena air wudhu tu bagus. Untuk orang tua lebih baik, awak lebih sehat.”

3.Secara umum, bisa disimpulkan bahwa dari ke empat bentuk pengalaman religius haji, pengalaman yang hampir dialami oleh ke empat subjek yaitu pengalaman spiritual atau kerohanian. Pengalaman ini berada dalam wilayah personal manusia yang merupakan hasil integrasi dari wilayah fisikal, emosional dan intelektual. Pengalaman fisiologis dan emosional yang berada di wilayah personal manusia juga dialami ke empat subjek, akan tetapi tidak sebanyak pengalaman spiritual/kerohanian. Pengalaman para-psikologis berada dalam wilayah transpersonal manusia. Pengalaman para psikologis dialami subjek 1,2 dan 3, sedangkan subjek 4 tidak mengalami pengalaman yang mencapai wilayah transpersonal. Pengalaman para psikologis hujjaj mencapai lingkaran 5 (intuisional) dan 6 (fenomena para-psikologis). Tingkatan 7 (penghayatan kesatuan universal) dan 8 (penunggalan, penghayatan simultan semua dimensi) tidak dialami oleh ke empat hujjaj.

SIMPULAN
Pengalaman religius pada hujjaj dikelompokkan menjadi 4 macam berdasar kesesuaian isi dan tema, diantaranya: pengalaman sosial-psikologis, pengalaman fisiologis, pengalaman spiritual dan pengalaman para-psikologis.
Bentuk pengalaman religius yang paling banyak dialami oleh hujjaj adalah pengalaman spiritual/kerohanian dibandingkan ke-tiga bentuk pengalaman religus lainnya.
Pengalaman religius mencakup wilayah personal dan transpersonal manusia, yang menurut Mc. Waters masuk dalam wilayah para-psikologis (lingkaran 1 sampai dengan lingkaran 6).

SARAN
Berkaitan dengan bentuk-bentuk pengalaman religius hujjaj, kesalehan merupakan hal penting yang perlu diteliti pada tahap berikutnya. aspek sosial dari ibadah haji.
Saran bagi pemerintah agar meningkatkan sarana prasarana dan layanan yang mendukung optimalisasi ibadah haji. Salah satu contoh nyata yaitu permasalahan catering haji yang terlambat datang seperti yang dialami subjek 3 tidak terjadi lagi di kemudian hari.

UCAPAN TERIMA KASIH
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Drs. Mahmud Thoha, M.A, APU. yang telah membimbing dan memberikan semangat kepada penulis dengan sabar selama pembuatan karya tulis ilmiah ini.

DAFTAR PUSTAKA
1Adz-Dzakiey, Hamdani Bakran. 2005. Prophetic Intelligence Kecerdasan Kenabian Menumbuhkan Potensi Hakiki Insani Melalui Pengembangan Kesehatan Ruhani. Yogyakarta: Islamika.
2Baghir, Haidar. 2004. ASQ: Adversity Spiritual Question. Bandung: Arasy PT Mizan Pustaka
3Hasyim, Mustafa W. Munif, Achmad. 1993. Haji Sebuah Perjalanan Air Mata
Pengalaman Beribadah Haji 30 Tokoh. Yogyakarta: Bintang Intervisi Utama.
4Madjid, Nurcholish. 2000. Perjalanan Religius Umrah dan Haji. Jakarta: Paramadina
5Subandi. 1997. Tema-Tema Pengalaman Religius Kelompok Pengajian Tawakkal Yogyakarta
6Jemaah Haji 1427 H Kemungkinan Beruntung Mendapat Haji Akbar. (2006, 7 Desember). Jurnal Haji 2006. Republika. http://www.republika.co.id/koran.asp?kat_id=106 diambil 7 Desember 2006
7Rekapitulasi Profil Jamaah Haji Indonesia 2006. http://www.depag.go.id.
Mudjahid, Sodik. Haji, Penggerak Bangsa?
http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/072007/03/99umrah-haji.htm diunduh 7 Desember 2006
8 Dagun, Save M. 2005. Kamus Besar Ilmu Pengetahuan. Cetakan ke empat. Jakarta: Lembaga Pengkajian Kebudayaan Nusantara.
9Ancok, Djamaludin. Suroso, Fuad Nashori. 2001. Psikologi Islami Solusi Islam atas Problem Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
10Gayo, Nogarsyah Moede. 2003. Pustaka Pintar Haji dan Umrah. Jakarta: Inovasi.
11Noesjirwan, F. Joesoef. 2000. Metodologi Psikologi Islami. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
12Moleong, Lexy. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

TEORI KONFLIK

Perbedaan adalah suatu keniscayaan dalam kehidupan. Dua orang saja tak mungkin semuanya sama, apalagi bila tiga empat lima hingga suatu komunitas, pasti banyak perbedaan di dalamnya. Jika kita tidak mampu menyikapi dengan baik, perbedaan bisa menjadi memacu timbulnya konflik. Sebelum lebih jauh, perlu kita samakan persepsi apa itu konflik.
A.Definisi Konflik
Konflik adalah perbedaan, perselisihan, adanya gap antara kondisi ideal dengan kenyataan. Konflik bisa pula kita artikan sebagai benturan kepentingan.
Perbedaan idealnya dalam hal variasi, ragam yang bisa memperkaya satu sama lain, saling bersinergi. Perbedaan bukanlah hal yang seharusnya berbenturan. Namun kenyataan yang sering kita hadapi, perbedaan adalah hal yang lebih banyak membuat renggang bukan hal yang memperkuat atau merekatkan kedua belah pihak.

B. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perbedaan
Perbedaan yang terjadi dalam kehidupan dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya: pengetahuan, pengalaman, latar belakang, imajinasi, persepsi, nilai-nilai yang dianut dsb.

C.Tipe-Tipe Konflik

Konflik secara garis besar terbagi atas 4 macam;
1. Nihil Konflik yaitu kondisi tanpa konflik
2. Konflik Laten yaitu konflik yang tak terlihat, sewaktu-waktu bisa muncul. Konflik ini perlu
dimunculkan ke permukaan agar tidak liar dan bisa segera ditangani
3. Konflik Permukaan yaitu konflik yang tidak mengakar hanya karena kesalahan komunikasi
4. Konflik Terbuka yaitu konflik yang mengakar secara mendalam serta tampak sangat jelas, membutuhkan tindakan untuk mengatasi penyebab yang mengakar dan efek yang tampak
Johan Gulton membagi kondisi dalam istilah Damai, menjadi dua:
1.Damai positif yaitu kondisi dimana semua sistem harmoni, equlibrium, semua nilai-nilai kemanusiaan ada
2.Damai negatif yaitu kondisi damai akan tetapi kurang harmoni karena partisipasi yang tidak seimbang, keadilan dan kemanusiaan yang tidak tercipta. Misalnya: kondisi damai tetapi susah mencari kerja, banyak kemiskinan, pengangguran, pendidikan yang rendah dsb.
D. Unsur-Unsur Konflik

Unsur-Unsur konflik adalah hal-hal yang ada di dalam konflik, apa yang ada di dalam konflik? Diantaranya:
1. Perselisihan, masalah
2. Kepentingan yang diperebutkan
3. Pihak-pihak/aktor
4. Kreator
5. Provokator
6. Penggembira (ada pihak yang diuntungkan dengan adanya konflik tersebut)
7. SEjarah, diskursus
8. Triger/Pemantik/Pencetus

Konflik itu seperti kebakaran hutan. Bila rumput basah, ada api-pun tak akan mampu menciptakan kebakaran. Berbeda halnya bila rumput kering, ditambah ada angin kencang, maka cukup dengan api kecil bisa menciptakan kebakaran. Api inilah yang dimaksud dengan triger yaitu peristiwa pencetus tetapi tidak cukup menjelaskan konflik itu sendiri.Ada pivotal factor (faktor inti) yang melatarbelakanginya. Disisi lain ada faktor yang memobilisasi dan faktor aggravating (faktor yang memperburuk).

E. Teori Penyebab Konflik
1.Community Relation Theory/Teori Hubungan Komunitas
Teori yang mengatakan bahwa konflik disebabkan karena polarisasi, ketidakpercayaan dan
permusuhan antar kelompok
2.Principle Negotiation Theory/Teori Negosiasi Utama
Konflik disebabkan oleh posisi yang tidak tepat serta pandangan ‘zero sum’ mengenai konflik
yang diadopsi oleh kelompok yang bertentangan. Sasarannya: agar kelompok-kelompok yang
bertentangan mampu memisahkan pribadi dari masalah dan persoalan sehingga mampu melakukan
negosiasi atas dasar kepentingan mereka bukan posisi mereka.
3.Human Need Theory
Konflik disebabkan kebutuhan dasar manusia: fisik, psikologis, sosial yang tidak terpenuhi,
dikecewakan.
4.Identity Theory
Konflik karena identitas yang terancam
5.Intercultural Theory/Teori Miskomunikasi Antar Budaya
KOnflik karena gaya komunikasi antar budaya yang berbeda
6.Conflict Transformation Theory

Konflik disebabkan oleh persoalan nyata berupa ketidaksetaraan, ketidak adilan yang ditunjukkan
oleh kerangka kerja sosial, budaya, ekonomi yang saling bersaingan.

F. Level Konflik

1. Internasional
2. Intra-State Conflict, biasanya terkait dengan keamanan suatu negara,struktur negara
3. Community Conflict
4. Interpersonal Conflict

NB. RESUME MATERI TRAINING MEDIASI KONFLIK 8 NOPEMBER 2011
@ WMC (WALISONGO MEDIATION CENTRE) SEMARANG
(kALAU GA DIJADIIN TUGAS,BELUM TENTU BIKIN RESUME HUE HE HE)

Menulis Mengasah Kecerdasan Emosi

Menulis itu mengasah kecerdasan & kelembutan hati, “paksakanlah” dirimu menulis & rasakanlah dampaknya dlm hidupmu Quote Jamil Azzaini dalam account twitternya.

Oke, i will practice it. Although i dont know what must be written.
Tonight so blue, like a million of clouds around me.
I pray to Allah, He will give me a right way, come out from this feeling
May be i am so mellow, but this is me..

Mungkin paragraf di atas sudah mewakili suatu kelembutan hati. Mungkin juga belum mewakili. Ah yang dimaksud menulis mampu melembutkan hati itu yang seperti apa? Yang saya peroleh dari teori menulis sebelumnya adalah dengan menulis mampu mengasah keecerdasan emosi. Why? menulis mampu menuntun kita untuk lebih mengenal emosi diri sendiri dan bagaimana mengelolanya dengan baik. Mungkin maksudnya begitu kalee ya..

Ehm, jujur saja siy, blog saya ini banyak sesi curhat pribadi dan ungkapan emosi dibanding sebagai sarana untuk mengasah otak secara kognisi. Harapan saya kedepan bisa lebih berimbang. Blog ini bisa sebagai sarana aktualisasi diri saya dalam belajar mengasah logika, lebih ilmiah sifatnya..

NB. Kalau omong doang tanpa langsung dipraktekkan sama aja boong dunk? he he he.. Yah, belajar nulis karya tulis ilmiah geeto lah.. Jangan curhat mulu. Malu-maluin atau ga punya malu siy???? (kaburrrrrr)