Managemen Resiko (Menyiapkan Hati untuk Sukses maupun Gagal)

Pagi ini kurangkai seuntai asa dan rasaku..
Rasa yang tak mampu kuterjemahkan, manis, asam, asin..
Tak kuberani untuk mengidentifikasikannya sebagai raja’ dan khauf padaMu..
Takut salah mendefinisikan..

Di satu sisi berkata lanjutkan, coba, teruslah berusaha, mungkin dia-lah jawaban atas salah satu puzzle hidupmu.
Di sisi lain berkata, berhati-hatilah, jangan tergesa-gesa, jangan berlebihan. Bukankah Allah tidak suka dengan sesuatu yang berlebihan. Dia Maha Cemburu, maka jangan pernah melupakan pendapatNya, petunjukNya, bimbingan dan ridhoNya.

Boleh berharap. Sebesar harapan yang kau cipta sebesar itu pula mesti menyiapkan kecewa. Begitulah, perlu kesiapan hati, mental dan keikhlasan di ujung setiap usaha dan doa manusia.
Ketika sukses tidak menjadikan sombong, ketika gagal tidak menimbulkan keterpurukan. Bersiap dengan segala kemungkinan. Kemungkinan sukses, hal yang baik dan indah, saya yakin hampir setiap orang siap menjalaninya. Tetapi bagaimana halnya dengan kemungkinan gagal, kecewa? Belum tentu setiap orang siap menjalaninya. Makanya, siapkan hati untuk kemungkinan terburuk yang akan dihadapi. Bersiap untuk gagal, kecewa, terluka, patah hati. JIkalah kesuksesan yang didapatkan itu adalah hadiah dan bentuk kemurahan hati dari Yang Maha Pengasih, Penyayang dan Maha Pemurah.

Jikalau gagal, bukan berarti Dia tidak lagi Maha Pengasih Penyayang dan Pemurah. Dia hanya ingin menunjukkan bahwa hal itu tidak pas, bukan yang terbaik untukmu. Bersabarlah, Dia akan menyiapkan yang terbaik untukmu, di saat yang tepat dengan cara manis dan tak terduga tentunya. Selalu ada keajaiban bagi siapapun yang percaya pada KuasaNya. JIka Dia menghendaki sesuatu terjadi cukup berkata “Kun” jadilah. Maka terjadialah apa yang Dia inginkan. Begitu pula jika Dia ingin kesuksesan berpihak padamu, maka akan sangat mudah dan sangat kecil bagiNya untuk melakukannya.

Seputar Kuesioner

Kuesioner adalah salah satu instrumen penelitian. Bagaimana membuat kuesioner yang baik disesuaikan dengan metode yang telah ditentukan. Akan tetapi ketika di lapangan ternyata ada beberapa kendala-kendala teknis yang perlu didiskusikan bersama. Berikut hasil diskusi kelas Diklat Fungsional LIPI tingkat pertama angkatan XII:

1. Bagaimana membuat pertanyaan tidak lebih dari 20 menit karena biasanya bila pertanyaan semakin lama maka semakin eror, Benar atau tidak?
2. Ada batasan tidak dalam menentukan jumlah kuesioner yang diberikan pada responden, karena semakin banyak yang diberikan maka bisa menimbulkan pusing pada responden?
3. Skala, orang Indonesia suka dengan kategori netral/sedang yaitu jawaban tengah-tengah. Sehingga timbul pertentangan skala empat dan skala lima. Kenapa penelitian di luar negeri skalanya sampai skala 5. Saya menyimpulkan orang Indonesia belum mampu menjawab pertanyaan skala/kuesioner yang diberikan.

Jawaban:
1. Kebanyakan suka yang ditengah-tengah. Kebosanan seseorang pasti ada batasnya. Kalau kita terlalu banyak pertanyaan, halamannya orang sudah bosan. Apalagi kalau harus mengisi sendiri. tidak ada tatap muka, tidak ada yang melihat, menghibur. Ah ini hanya sekedar mengisi. Tentu saja bias semakin besar. Apalagi bila tidak ada reward semacam souvenir. Peneliti harus berusaha bagaimana informasi yang didaptkan mendekati baik kalua tidak bisa sempurna. Dalam penelitian perlu ada pre test, apakah efektif tidak jika dibuat 30 pertanyaan. Katakanlah yang bisa dipercaya 20 dari 30 pertanyaan yang diberikan dalam test. Seorang peneliti akan mengedit, mana pertanyaan-pertanyaan yang mewakili.

2. Skala tengah-tengah untuk ilmu saya ilmu demografi, ada kecenderungan orang menjawab umur seseorang yaitu suka menjawab pada kelompok 0 – 5. Ada cara untuk smoothing tentu saja dengan asumsi-asumsi tertentu. Sama dengan pendekatan statistik, menggunakan asumsi. Kuantitatif perlu keseimbangan dengan kualitatif. Perkembangan berikutnya kualitatif hanya menjelaskan abstrak jawaban, dulu ditinggalkan. setelah tahu kelemahan-kelemahan kuantitatif maka kembali lagi diperlukan kuantitatif.

3. Saya setuju dengan pengelaman tersebut, peneliti harus berhati-hati dalam melakukannnya. Perlu melibatkan peneliti dari latar belakang keilmuwan lain sehingga bisa lebih menyeluruh.

Pertanyaan:
1.Kuesioner dengan volume pertanyaan yang banyak dan volume yang sedikit. Dengan metode scheduling (peneliti menanyakan langsung kuesioner pada responden). Waktu yang diperlukan 1,5 jam sampai 2 jama. Kesulitan: ketika mendapat responden belum tentu mau menjawab semua pertanyaan yang banyak jumlahnya. Kelihatan responden kelelahan, sedangkan souvenir yang diberikan kecil nilainya.
2. Bagaimana caranya untuk mengetahui pembaca menjawab kuesioner dengan sesungguhnya..

Jawaban:
1. Waktu melakukan penelitian di daerah karena kendala bahasa pernah distop, karena kesalahan komunikasi. Akhirnya menunggu tim dari Jakarta untuk menjelaskan. Ternyata ada salah tangkap istilah migrasi dengan imigrasi.
2. Terkadang imbalan yang diberikan tidak sesuai. Peneliti dalam anggaran APBN 0,05, setengah persen saja kurang. Dilihat dari tunjangan, misalnya saya peneliti APU, 1.400.000,- sedangkan pengajar, profesor bukan peneliti lebih banyak jumlahnya. Akhirnya karena rasional, kita hanya dituntut dedikasi.

Pertanyaan:
1. Posisi asumsi, untuk menyelamatkan kita dari bias?
Asumsi kita penelitian kita bisa dipahami responden. Ada asumsi khusus, dengan statistik disebutkan penyimpangannya sekian. Asumsi untuk perhitungan berbeda lagi. Kalau nanti arahnya ke persoalan-persoalan khusus saya kurang menguasai. SEcara umum, maksud kami semua penelitian perlu asumsi-asumsi. Asumsi dalam psikologi perlu pertanyaan-pertanyaan yang diyakini bisa dipahami. Asumsi-asumsi diperlukan untuk memulai penelitian.

Disampaikan oleh Bpk
dalam Diklat Fungsional LIPI Cibinong

Ikhlas dan Sabar dalam Berproses

Tetap saja manusia tak tahu apa yang terbaik untuk dirinya.
Terkadang merasa lebih baik begini, tetapi di beberapa saat kemudian begitu lebih baik. Sungguh, aku tak mau diombang-ambingkan oleh perasaan dan ketidakjelasan.
Analisis manusia bisa saja salah. Pandangan manusia tidak menyeluruh. Tidak tahu apa dan bagaimana masa depan yang akan menimpa dirinya. Jadi lagi-lagi semua dikembalikan kepadaNya. Ya, pandanganNya luas, tak terbatas dan menjangkau masa depan yang penuh misteri dalam akal dan nalar manusia.

Mengapa tidak minta pendapatNya saja?
Ikhtiar, doa dan tawakal padaNya.
Biarkan Dia saja yang memilihkan untukmu..

Netralkan dirimu, hatimu, pikiranmu..
Biarkan Dia yang memilihkan untukmu..
Ya, biasa saja

Jaga netralitas..

Termasuk ketika sore ini ditetapkan Pembimbing dalam KTI (Karya Tulis Ilmiah) di Diklat LIPI yang kuikuti. Inginnya dapat pembimbing A, eh dapatnya D.. Bismillah sajalah. Sudah diatur oleh panitia dan Insya Allah itu yang terbaik untukku..

Ikhlas dan sabar dalam berproses..
Kelak akan kutahu hikmah yang akan kupetik dalam setiap pernik misteri puzzle kehidupan..

Dan ingatlah..
Bergantung pada manusia itu salah..
Bergantunglah pada yang Maha KUat yaitu Allah SWT..

Boleh saja menaruh harapan pada seseorang, tapi sewajarnya saja..
Karena dengan manusia bisa saja kecewa tapi denganNya kau tak akan pernah kecewa.

So? Kembalikan semua padaNya..
Bersabarlah …
Kelak semua yang akan kita tanam akan kita tuai..
pada saatnya, ya hanya Dia Yang Maha Tahu saat yang tepat itu..
Bagaimana bentuknya, dimana dan dengan segala perniknya..

Menjadi Peneliti? Bismillah Saja-lah

Sudah seminggu di LIPI, mengikuti diklat fungsional Peneliti Tingkat Pertama. Di satu sisi adalah hal yang tidak mudah, suatu amanah, tanggung jawab dan kepercayaan yang harus dijaga sebaik-baiknya. Kadang merasa takut kurang mampu menjaga anugerah Allah, kesempatan yang tidak diberikan pada setiap orang. Ya, aku merasa biasa saja untuk menjadi seorang peneliti. Dari sisi kapasitas intelektual ya tidak bodoh tetapi tidak pintar. Biasa saja.

Aku hanya merasa beruntung mendapat kesempatan untuk mengikuti diklat fungsional peneliti di LIPI, tanpa harus mengeluarkan biaya sepeserpun. Biaya diklat senilai Rp.9000.000,- per orang sudah dibayar kantor pusat, Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama. Transportasi dari Semarang pp Insya Allah juga ditanggung Kemenag pusat. Indah bukan? Ya, jika mendengarkan dan melihat sekilas akan terdengar begitu indah.

Menjadi seorang peneliti juga terdengar indah. Bisa jalan-jalan ke sana ke mari dengan biaya dinas. Akomodasi dibiayai. Hmmm, banyak teman-temanku yang mengatakan wah asyik ya, jalan-jalan terus.

Oke, dalam beberapa hal menjadi peneliti memang mengasyikkan. Keren. Seperti halnya LItbang (Elit dan berkembang). Peneliti adalah pekerjaan yang independen. Jabatan yang berkembang atau tidaknya itu sangat ditentukan oleh tangan dalam arti usaha orang yang bersangkutan.

Berbeda halnya dengan jabatan struktural, jumlahnya sedikit dan diperebutkan banyak orang tentu tidak mudah. Jadi teringat istilah yang disampaikan oleh Bapak Ketua LIPI, M. Bashori dalam penyampaian materi Bimbingan Karier PNS. Beliau mengatakan PNS itu bisa saja datang absen, tidur, pulang absen selama dua tahun, tahu-tahu sudah naik golongan. Makan gaji buta, itulah PNS yang di struktural.

Ingin menjadi pejabat struktural. Wah harus melibatkan 4 tangan: tangan kiri, tangan kanan, buah tangan dan tanda tangan. Spontanitas seluruh peserta diklat tergelak dengan guyonan tersebut.
1.Tangan kiri dalam arti untuk menjadi pejabat struktural membutuhkan relasi ,kenalan, kerabat dekat atau teman dekat.
2.Tangan kanan diartikan sebagai kemampuan, skill, kompetensi yang mendukung jabatan tersebut
3.Buah tangan, tak jarang harus mengeluarkan materi untuk mendapatkan suatu jabatan struktural. Makanya banyak orang yang suka mendekati pejabat agar mendapat jabatan juga
4. Tanda tangan, banyak janji-janji yang keluar tetapi kalau tidak disertai hitam di atas putih ya jelas tidak sah. Misalnya: janji mengangkat sebagai menteri keuangan, eh mendadak tidak jadi padahal sudah menggelar selamatan. Bisa saja terjadi demikian bukan?
Itulah susahnya kita mengejar jabatan struktural. Jumlahnya sedikit orangnya banyak, bagaimana tidak berebut?

Berbeda halnya dengan jabatan fungsional peneliti. Yang diperlukan hanyalah dua tangan. Tangan sendiri dan tangan TUhan. Dalam arti usaha peneliti tersebut untuk menghasilkan karya terbaik melalui tangan Tuhan yang mengabulkan ikhtiar, doa dan tawakal kita. SEberapa karya yang dihasilkan sebesar itu pula jabatan fungsional peneliti berkembang.

Bila tidak menghasilkan karya? Ya, konsekuensinya diberhentikan dari jabatan. ow.. ow.. ow… tentu saja ada ketentuan dan syarat menjadi peneliti. Salah satunya dengan diklat fungsional peneliti tingkat pertama di LIPI. Upaya pertama memperoleh SIM (Surat Izin Meneliti). Di sinilah para calon peneliti digodok di kawah pusbindiklat selama 21 hari mendapatkan bekal awal dan arahan menuju peneliti. Harapannya bisa menciptakan profesor riset yang berguna bagi pengembangan ilmu pengetahuan…

Mulia, dan indah cita-cita LIPI bukan?
Bagaimana halnya dengan saya menjawab pertanyaan siapkah menjadi seorang profesor riset? Tentu saja bertahap dari peneliti pertama, muda, madya dst..

Ada semacam kegelisahan menjawab pertanyaan sekaligus tantangan berprofesi sebagai seorang peneliti. Ya, gelisah karena diri ini belum bisa apa-apa, belum mempunyai bekal, skill yang mumpuni.

Kalau ditanya apakah nyasar atau niat menjadi peneliti?
Awalnya tidak menyangka, tidak menduga. Tetapi kalau memang Tuhan sudah menakdirkan saya untuk menjadi seorang peneliti, mau bagaimana lagi. Saya ucapkan BISMILLAH saja.. Biarkan Allah yang membimbing saya, memampukan saya, menunjuki saya, memberi bimbingan pada saya untuk menjadi peneliti yang mendukung tegaknya kalam Allah di muka bumi.

Sungguh tak mudah bagi saya untuk mengiyakan tawaran menjadi seorang peneliti. Tetapi sudah telanjur masuk hutan, harimau, gajah, ular, semut yang saya temui akan saya upayakan sebagai teman yang saling berbagi dan belajar bagaimana mengelola hutan dengan sebaik-baiknya.

Ya, saya tahu, Allah akan memberikan yang terbaik bagi saya, Profesi terbaik menurutNya untuk saya. Jikalau saya menolak sungguh betapa tidak bersyukurnya saya menyia-nyiakan kesempatan yang tidak setiap orang bisa mendapatkannya.

Allah Maha Tahu, jika belum mampu maka Ia akan memampukan saya
Jika saya belum siap, Ia akan menyiapkan saya, Jika saya merasa sendiri, Dia akan memberi saya seorang teman. Ya teman hidup tempat saya berbagi segala suka duka, salah satunya suka duka berprofesi sebagai seorang peneliti. Kutahu, Dia akan memberikan teman hidup yang terbaik untukku. amiin

Lembut tetapi Tegas

Sosoknya sederhana, biasa saja. Tak menarik perhatian bagiku. SEhari, dua hari masih biasa saja. Tetapi begitu terlibat dalam kerja sama, entah mengapa jadi terlihat menarik. Ya, sosok yang dewasa, mampu membuatku patuh dengan sukarela dan tanpa paksaan sama sekali. Jarang banged aku bisa begitu. Ya, aku biasanya suka membantah, suka mendebat, terkenal sulit diarahkan. Aku tak suka ya kukatakan tak suka secara apa adanya. Mungkin dianggap ga sopan. Mungkin bahasaku dalam mengatakan tidak dianggap kurang halus dan tidak tahu seninya mengatakan tidak. Tapi begitulah aku. Aku ingin dimengerti diarahkan, dibimbing dengan cara yang manis tanpa paksaan. Di dikte? itu hal yang tidak kusukai.

Tapi dia bisa menghandle aku dengan caranya, membuatku susah untuk mengatakan tidak. Ya, aku menyukai caranya membimbingku, mengarahkanku, memimpinku. Suka, suka, suka….

Entah mengapa juga, aku suka bila dia menurutiku “serius tapi santai”. Aku tak bisa bekerja dengan baik bila tanpa diselingi jalan-jalan atau sedikit bermain-main. Terlalu serius membuatku stres. Mungkin bagi sebagian orang, dianggap ga selese-selese, tipe lelet, tipe ga cak-cek. Tetapi lagi-lagi, dia bisa menghandle aku tentang hal itu. Manis sekali bukan???

Belajar sambil bermain. Bekerja sambil refresing.. That’s me.. Ada yang ga suka??? Ya sudah.. tetap tidak mengubahku. Maaf ya..

Aku tidak suka bila disuruh ini itu, begini begitu tanpa minta pendapat dariku. Kalau dalam bentuk saran, ehmm bagaimana bila, eh aku punya ini coba dibaca mungkin bisa membantu.. Kalau kau mau aku punya bukunya.. etc Padahal sebenarnya dia menyuruhku untuk mempelajari buku tersebut. Ketika aku menolak dengan alasan kemungkinan kecil sekali untuk bisa membacanya, dia menerima. Tak memaksa.. Ya, lagi-lagi aku suka caranya membimbingku..

Aku juga suka ketika dia membiarkanku memilih.. Dan bagaimana aku bisa memilih yang lain, ketika dia memberi beberapa pilihan tetapi dengan dukungan informasi lengkap di belakangnya. Kalau A bla-bla bla.. Kalau B akan blu blu blu.. Kalau C akan bli bli bli.. Jadinya dia milih D yang ble ble ble… Dan tebak, apa yang kupilih… seperti pilihannya D, ble.. ble.. ble.. Terkesan kebetulan dan seakan tanpa janjian bila sama dengan pilihan dia bukan? Caranya manis dan smart. Itu kusuka sekali.

Dia merencanakan dan mengarahkanku dengan halusss sekali dan tanpa kusadari. Membimbingku tanpa kesan mendikte. Menyuruhku tanpa merasa disuruh. Dia juga mau mengikuti mauku untuk bermain-main sambil belajar. Sabar juga ya..
Dan sepertinya dia mampu membaca pikiranku.. Benar-benar menyebalkan bukan??? Dia membuatku belajar berpikir, membuatku belajar memutuskan dan menghargainya bila ternyata keputusanku tidak sesuai dengan yang diharapkannya.
Dia manis. Lembut tetapi tegas. Marah dengan kata-kata yang lembut dan tegas. Justru membuatku segan untuk berkata tidak dan membantah. Padahal aku biasa membantah, mencari tahu kenapa mesti A kok tidak B atau C??? Dengan sikapku yang begitu justru bagi kebanyakan orang aku dianggap tidak penurut, bandel, tipe yang sulit dan menyebalkan. Tapi sifatku itu lagi-lagi mampu dihandle dia dengan manis dan cantikkk…

Dan satu hal yang kusukai juga darinya. Dia telah menyiapkan dan mengusahakan yang terbaik semampu dia untukku. Berusaha membuatku betah, enjoy dengan kondisi yang ada.Itu membuatku terharu dan lidahku kelu untuk mengatakan tidak padanya.

Ada lagi yang kusuka darinya. Dia memberiku tanggung jawab tanpa harus saklek, prosedur yang ketat., Terserah mau bagaimana dan kapan, yang satu itu harus diselesaikan olehmu. Begitu ucapnya padaku. Tegas tetapi lembut. Aku suka..

Aku tahu sosok yang kuinginkan seperti apa. Tetapi aku sekaligus tak tahu akan menemukan sosok seperti itu dimana. Karena dia sudah ada yang punya.. Aku menyukai karakter yang begitu. Lembut tetapi tegas.. Ya, sedari dulu aku jatuh cinta dengan karakter lembut tetapi tegas..