JAM TERBANG OH JAM TERBANG

Masih terkait dengan tulisan sebelumnya…

TIDAK ADA YANG NAMANYA KEBETULAN. KEBETULAN ADALAH BAHASA MANUSIA SAJA.

TERMASUK PERTEMUAN SAYA DENGAN ANDA DI KERETA INI. SUNGGUH, TAK MUNGKIN TANPA CAMPUR TANGANNYA ..

Bisa dibikin cerpen TENTANG INI niy, sayang durung tau dadi.. Spertinya sy pernah bertemu dgnya di forum ilmiah, familiar, tapi dimana ya? bikin penasaran aja. Interview-ku yg polos tak bisa menembus rasa ingin tahuku.. sementara interviewnya pdku sanggup membuatku bercerita tanpa dipaksa… taulah dia siapa saya..jiaahhhhhhh.. semacam peneliti PAR kayaknya.. ah knapa mesti dipikir???Ada beberapa clue yang kudapat.. wlo susah disimpulkan.. ck3 kok malah jadi rumit yow… Nek saya tahu siapa anda n ketemu di forum ilmiah, bisa membuat saya malu.. wawancara yang polos.. ya polos.. malah jadi penasaran… ya penasaran.. kacau bukan??? menebak-nebak? saya takut salah.. gludakkk sisan ntar jadinya..

Kesimpulan hari ini: waaaduw… BELAJAR INTERVIEW YG GAGAL dewh.. =((

jam terbang oh jam terbang… wk wk wk wk…

Setidaknya saya dapat banyak nasehat darinya. Tak apa-apalah (menghibur diri.com)

Tak Ada yang Namanya Kebetulan

TIDAK ADA YANG NAMANYA KEBETULAN. KEBETULAN ADALAH BAHASA MANUSIA SAJA. TERMASUK PERTEMUAN SAYA DENGAN ANDA DI KERETA INI. SUNGGUH, TAK MUNGKIN TANPA CAMPUR TANGANNYA (NASEHAT pAK cIPTO, teman seperjalanan kereta Semarang- Pasar Turi Surabaya, 25 September 2011)

Bismillah..

Selalu ada cerita dan hikmah di setiap perjalanan yang kulakukan. Entah mengapa,setiap kota yang kusinggahi meninggalkan kesan, hikmah dan pembelajaran yang berbeda. Pahit manis yang berbeda. Namun, semua berujung pada rasa syukur padaNya yang tiada terkira.

Pengalaman pertama terjun ke lapangan ku yaitu Kota Surabaya Februari 2011 kemarin. Bertugas mengumpulkan database kitab karya ulama di Jatim. Alhamdulilah, kebetulan mobil dinas Kepala Pekapontren Kanwil Kemenag Jatim bisa kupinjam selama 4 hari. Ck3.. suatu kebetulan yang indah bukan? cuma mengganti uang bensin, bisa muter2 ke Pondok-pondok pesantren, mengambil data yang diperlukan. Bisa ke Porong Sidoarjo juga.. Malu juga waktu itu, kemanjaanku kumat. Pertama kali ke lapangan tu… kok merasa sepi, sendiri, kaya orang ilang. Menyusuri kota sendirian, alone. Mana tidak ada sanak saudara lagi. Mencari data? Mau naik apa? nginep di mana? bagaimana mencari datanya? bagaimana menghadapi situasi baru, tempat baru, orang-orang yang sama sekali belum dikenal sebelumnya.. Ow.. ow.. ow… suatu pekerjaan yang bisa stres bila hanya dipikirkan, tetapi bila dijalani sambil berdoa dan tawakal padaNya, Insya Allah akan slalu ada jalan indah dariNya.

Waktu itu, saya merasa stres, di hotel, bingung mesti bagaimana dan langkah apa untuk bisa menyelesaikan pekerjaan saya saat itu. Hmmm manjapun kumat, ditemani informan, tapi tidak tepat waktu kalau janjian. Makan tidak enak, tidur tidak nyenyak. Walau tinggal di hotel dengan fasilitas yang baik. Waktu itu saya menginap di hotel utami, deket bandara Juanda. Dengan pertimbangan, hotel utami dekat bandara dan letaknya persis di sebelah Kanwil Kemenag Provinsi Jawa Timur, tempat saya meminta stempel perjalanan. Saya merasa sedih, bingung, merasa sendiri dalam menyelesaikan tugas. Untung informan saya baik, menghibur saya, menyemangati saya yang mendadak kangen rumah. huehehe. Malu juga ya kalau ingat itu semua. Walau sekarang, ya masih ada bau-bau kangen rumah ketika tugas dinas luar kota. Setidaknya sudah lebih tegar n siap dibanding pengalaman pertama di lapangan, SENDIRIAN.

sETElah pulang dari pengalaman pertama saya di lapangan dan mendapat berbagai cerita teman-teman yang juga ke lapangan barulah saya sadar kalau saya beruntung sekali dibanding teman saya yang lain. Masing-masing di lapangan dengan kendala dan kesulitan sendiri-sendiri. Saya dimudahkan, kok masih saja kurang bersyukur. betapa dzalim dan tidak sadar dirinya saya sebagai hamba Tuhan. Yaaa, saya merasa bersyukur setelah menyadari bahwa tidak ada yang namanya KEBETULAN. kebetulan mobil dinas tidak dipakai karena pada minggu saya dinas ke SBY Februari 2011 itu sedang proses sertijab dari Peka pontren lama ke pekapontren baru. Otomatis belum ada kepastian siapa pemakai mobil dinas dan hari serah terima jabatan itu yaitu ketika saya telah memakai mobil dinas 4 hari. Subhanalloh,, kondisi yang bukan kebetulan bukan? itu semua rencanaNya untuk membantu saya dalam mengumpulkan data. So, mengapa saya masih mengeluh? hmmm malu saya.. Itu kesan yang saya ambil dari pengalaman pertama saya di lapangan. Dengan segala daya upaya yang saya mampu, stres, tekanan, kemanjaan.. ah.. malu bila diceritakan di sini saya mengambil hikmah bahwa dibalik suatu kesulitan akan ada kemudahan. Jadi hindarilah mengeluh.. masih banyak orang di luar yang kondisinya lebih buruk. Walau pengalaman pertama itu penuh dengan nuansa bingung, canggung, dung-dung.. ah biarlah.. bukankah kita butuh tangga proses untuk menuju tangga di atasnya? nikmati saja stres, bingung.. jadikan sebagai hal yang mentrigger kita untuk belajar dan lebih baik lagi.

Pengalaman ke lapangan ke dua dan sendirian adalah ke Kota Kupang Nusa Tenggara Timur, Mei 2011. Lagi-lagi tak ada yang namanya kebetulan. Banyak kemudahan-kemudahan dibalik kesulitan dan tekanan tugas yang harus saya selesaikan. Bayangkan, saya belum pernah ke NTT, belum pernah berinteraksi dengan pendeta. Eh, tugas saya membuat profil aliran-aliran gereja. Ck3… Ilmu tentang Islam, agama yang saya anut saja masih belum ada apa-apanya. eh ini diminta menyelesaikan tugas di bidang yang sama sekali saya tidak tahu.. Toh akhirnya bisa juga. Semua bukan karena saya hebat, bukan semata KEBETULAN tetapi karena atas ijinNya, bantuaNNya. Tidak ada kesombongan bagi setiap kegiatan lapangan. karena sungguh, kesombongan hanya menuai kesulitan.

Keika saya ke Kota Kupang, bayangan saya sudah yang tidak-tidak. Saat itu saya dapat tempat tugas yang jauh. Padahal teman-teman saya yang sudah berpengalaman malah memeilih kota yang dekat Semarang. Beberapa menyarankan saya agar tukar dengan bapak-bapak agar saya dapat tempat Yogya saja yang dekat, atau Purworejo saja yang notabene kota Kelahiran dan kota saya dibesarkan. Tetapi selaku junior saya tidak bisa menolak danmengiyakan saja. Biarkan mereka memilih. Ada yang dengan pertimbangan punya anak kecil, jadi biar memudahkan menghandle. Ada yang dengan pertimbangan lama tidak bersilaturahim ke orang tuanya, jadi bisa sekalian mampir silaturahim etc. Ya sudah, saya ke Kupang. Pertimbangannya masih jomblo. Ya saya tersenyum saja, bismillah dalam hati.

Benar saja ketika saya memudahkan orang lain, Allah tidak tinggal diam. Dia akan memberi kemudahan kepada saya. Dengan berbagai jalan, dengan segala Kuasanya, saya percaya itu. Kupang ternyata kota yang begitu ramah menyambut kedatangan saya. Kemudahan-kemudahan saya dapatkan. Walau saya juga mesti menjaga makan saya karena disana sebagian besar pemeluk agama Nasrani sehingga dikhawatirkan banyak makanan daging yang tidak halal saya konsumsi. Namun tidak mengurangi kesan RAMAH yang tidak saya dapatkan sama sekali dari Kota Surabaya. Pendeta-pendeta yang saya kunjungi wellcome. Menyenangkan, dan sungguh diluar dugaan saya. Sementara teman saya ada yang susah mendapatkan data karena birokrasi gereja yang susah ditembus. Hmm.. Kupang dengan Mbak Mery, teman dekat Pak Paiman (sekantor) dengan saya begitu ramah. Lewat Pak Paimanlah saya kenal dengan Mbak Mery (humas Kanwil NTT) sehingga saya merasa ada teman di tempat asing. Jalan-jalan makan jagung bakar di tepi pantai Teddy’s Bear, Ke Gong Perdamaian di malam hari. Hal yang kecil tetapi sungguh berarti. Pak kleden (humas kanwil Kemenag NTT) yang begitu perhatian, menanyakan kabar saya setiap hari. Hmm, entahlah mengapa Allah begitu baik dengan saya, membuat saya malu untuk mengeluh lagi.. Keramahan yang sama sekali tidak saya dapatkan ketika mengunjungi Surabaya.

Juga perjalanan ke Surabaya hari ini. Sungguh, bukan suatu kebetulan ketika saya duduk bersebelahan dengan Pak Cipto yang lahir di Kota Purwokerto. Banyak nasehat yang saya dapatkan, saya-pun menanggapi sebisa dan semampu saya. Bagaimana dia sharing pengalaman selaku orang yang biasa melakukan perjalanan antar kota. Dia tidak menyebutkan dari mana dan untuk keperluan apa dia pergi antar kota. Tetapi beberapa hal yang bisa saya dapatkan darinya; ‘NGUWONGKE wong liyo” dan masuklah ke dalam kota, masyarakat yang kamu datangi sehingga bisa menjadi bagian dari mereka maka Insya Allah kita akan dimudahkan.

Saya pun mengajukan berbagai pertanyaan, bagaimana beratnya menjadi pimpinan dengan berbagai karakter anak buah, menyikapi iri hati teman, bagaimana pimpinan membuat kebijakan dan bagaimana trik agar bisa diterima oleh bawahan. Entah mengapa pertanyaan-pertanyaan saya itu dijawab dengan santai olehnya, dengan penuh perasaan, bahkan saya tahu dia meneteskan air mata. Dia berusaha menyembunyikan dari saya, dan mencoba tegar. “Saya sedang mengalami masa-masa sulit mb.. bla.. bla.. bla.. akhirnya keluarlah uneg-unegnya. Saya tahu, dia mempunyai masalah, intinya seperti apa, tetapi konteks pekerjaan dan siapa sebenarnya dirinya saya belum punya jam terbang untuk bisa menyimpulkan dengan tepat. Di sisi lain ketika dia menanyakan identitas saya, saya paham kalau dia menebak dengan tepat latar belakang saya, bisa mengetahui saya dengan lebih baik hanya dengan berbagai pertanyaan. BEGITULAH JAM TERBANG DI LAPANGAN PERLU DI ASAH. Dia sudah menggali saya dengan begitu dalam dan bisa benar-benar mengerti saya dengan obrolan yang kesannya basa-basi saja, tak terasa kalau diwawancarai. Sementara, saya berupaya mencari tahu tentang dirinya begitu sulit. Ketika saya menanyakan secara lugas, dia hanya tersenyum. Ck3.. mana mau dan bisa keluar dengan pertanyaan lugas, “Pak anda bekerja di mana? di kantor apa? Jurusan apa? kuliah di mana? GUBRAKKKK…. MENYEBALKAN SEKALI BUKAN. DIA DENGAN MUDAHKNYA MENGETAHUI TENTANG SAYA, PROFESI SAYA.. kuliah saya dimana???? ck3…

Semoga suatu saat saya bisa kembali menjumpai dia dalam forum resmi dan tahu siapa sebenarnya dia. Berguru kembali dengan sosok low profile itu.. Dan mungkin akan menertawakan kepolosan saya dalam menginterview dan mencari tahu siapa dia. “Kuliah di mana???” ha ha ha ha…

Tidak ada yang kebetulan, semoga kita bertemu kembali di suatu kebetulan yang lain, dalam forum yang lebih baik lagi tentunya. Amin..

SURABAYA, 25 SEPTEMBER 2011
faveHOTEL
MEXBUILDING-SURABAYA
room 636

NB: Memang saya masih perlu banyak belajar agar tidak bertanya dengan pertanyaan yang lugu, polos.. hi hi hi.. lebih elegant, halus taoi bisa menggali dan menyentuh makna terdalam. Begitulah.. INTERVIEW BUTUH JAM TERBANG. DAN ALHAMDULILLAH KEBETULAN SAYA BELAJAR PRAKTEK LANGSUNG DENGAN PAK CIPTO HARI INI. . SEMOGA ADA KEBETULAN TAHAP BERIKUTNYA.AMIN

Energi Pagi

Pagi menyapa..
SEtiap pagi adalah hari baru, berbeda dengan hari-hari sebelumnya..
Temukan makna setiap hari..
Agar bersemangat menyambut hari..
Siap menjalankan rutinitas dengan rasa yang berbeda..

SElamat Beraktivitas..
Berangkat pagi ya…
Keep smile..
You are you..
Biarkan yang lain dengan dirinya..
Jangan terpengaruh..
Fokus on your target..
Memperbaiki diri..
Semoga Allah memberkahi..
( ^ ___ ^)VVV

Pagi-pagi sudah ngeblog… hitung-hitung melatih jari-jari, melatih otak biar tidak kaku =))

Virus Apakah Ini???

Begitu berat untuk menulis..
Tak tahu apa yang mesti ditulis..
Aku malas untuk menulis..
Tapi hatiku ingin menulis..

Prie GS berkata “MENULISLAH DENGAN HATI”. Ya, ungkapan yang selalu melekat dalam ingatanku ketika mengikuti pelatihan menulis setahun lalu. Tulislah dengan segenap jiwa dan hatimu, agar hasilnyapun bisa sampai ke hati pembaca. Tidak kering, tidak hampa, tidak membosankan.

Menulis, banyak sekali manfaatnya. Salah satunya melatih otak kita untuk berpikir, merangkai kata dan kalimat. Di sisi lain dengan menulis juga mengasah kecerdasan emosi kita. Ketika menulis, sisi emosional penulis terlibat dalam proses penulisan. Tentu saja akan berbeda tulisan dengan ide yang sama ditulis dengan kondisi hati yang berbeda. Tak akan sama hasilnya.

Menulis merupakan upaya merecall memory di otak. Bila lama tidak menulis, walaupun ide sudah ketemu tetapi akan susah sekali ketika menuangkannya ke dalam tulisan. Otak terasa kaku dalam bekerja, pun hasil tulisan tersendat-sendat, tidak bisa mengalir dengan lancar. Saya sendiri merasakannya. Lama sekali saya tidak menulis, ketika memulai kembali terasa berat. Mau menulis apa ya? Kok susah sekali. Inginnya menulis tentang A, lho kok keluarnya malah B. Ingin mengeluarkan uneg-uneg ini kok malah jadi tentang itu. Rasanya antara otak dan hati jadi kurang selaras, kalau lama tidak menulis. Ehm.. ada sesuatu yang hilang.. Yang susah untuk didapatkan kembali. SEperti kehilangan seseorang yang berarti dalam hidup. SEsuatu yang biasanya mewarnai hari-hari, mendadak hilang, pergi.. SEdih sekali bukan?

Bagaimana menemukan kembali makna dan arti pentingnya menulis.. itulah yang kuinginkan. Menulis sebagai suatu kebutuhan yang mengasyikkan, bukan keterpaksaan. Menulis seperti seorang yang sedang jatuh cinta. Ingin terus menulis, menulis dan menulis. Mempersembahkan karya yang terbaik, sesempurna mungkin, walau kusadar tak akan pernah ada yang sempurna. Tapi aku ingin jatuh cinta lagi, lagi, lagi dan lagi dengan dunia tulis-menulis.

Sudah lama aku “putus” dengan dunia tulis menulis. Bagaimana aku memulainya ya? Jatuh cinta lagi, itu bukan perkara yang mudah bukan? Tak mampu kuatur, kusetting, kurencanakan kapan dimana dan bagaimana prosesnya. Hah… repot malah jadinya.

Patah hati dengan dunia tulis menulis, iya pernah. Saat dunia tulis menulis menjadi sebuah beban berat yang harus dijalani. Laporan database ke lapangan, tugas majalah smart di kantor. Fiuhhhh… bener-bener kurasakan sebagai beban yang menghimpit, menyesakkan, menyebalkan, dan ingin sekali kuhindari ketika itu. Dengan berkedok dan alasan sibuk, banyak pekerjaan kantor lain yang mendesak untuk segera diselesaikan. Jadinya segala aktivitas yang berbau tulis-menulis,membutuhkan konsentrasi pikiran seakan tak mungkin dikerjakan di kantor. Jadi PR alias take home. Ya, wajar sajalah, dikantor dengan dalih mengurusi kepegawaian. Hmmm, kalau saya cermati sendiri, saya tidak perform akhir-akhir ini di kantor. Tidak suka, setengah-setengah mengurusi dan melayani pegawai. Apalagi hitung-menghitung presensi pegawai, mengecek pegawai yang terlambat, tidak ikut apel dsb. Malas, bosan, entahlah saya sedang terkena sindrom apa. Saya tahu, saya sedang terkena virus penurunan kinerja. Bodohnya, sudah tahu tetapi susah untuk merubahnya. Anti virus seperti apa ya, yang pas untuk saya?

Di sisi lain, menulispun terbengkelai. Dalam arti pekerjaan yang berkaitan dengan laporan, membuat tulisan, anotasi buku begitu masuk tas, dibawa pulang sudah tidak tersentuh. Malas sekali untuk mengerjakannya begitu sampai di rumah. Maka FB-pun menjadi pelarian yang manis.. Meng-update status, memberi komentar pada status orang lain, becanda. Ah.. begitu mudah tergoda untuk melakukan hal-hal ringan yang terkadang melenakan waktu dan pikiran. Jadi tidak fokus dengan apa yang seharusnya dan semestinya dilakukan.. Dan lagi-lagi, saya belum menemukan anti virus yang pas. MUNGKIN VIRUSNYA GAWAT, sudah menjalar ke otak, hati dan jiwa saya, sehingga lama-lama saya bisa gila….

Ya, gila karena belum juga menemukan anti virus yang pas. Penyakit yang kronis dan mendesak untuk segera disembuhkan. Penurunan kinerja, kemalasan, kecuekkan, kemarahan, hingga kadang saya sendiri merasa aneh dengan diri saya sendiri. Kok bisa begini ya??? Tak terasa sedikit demi sedikit mulai berubah.. berubah.. berubah… hingga tanpa disadari sudah banyak berubah.. Parahnya bukan perubahan ke arah kebaikan, tetapi perubahan ke arah kemunduran performancy.. Menakjubkan sekali bukan virus yang menyerangku? Pelan, tak terlihat, tak terasa nyata eh.. tiba-tiba sudah menjalar ke segenap otak, jiwa dan raga saya..

Virus apakah yang menyerang saya sebenarnya???
Sebagai seorang yang beriman, saya menyadari alert dari sang jiwa ketika keimanan mulai turun. Pelan-pelan hingga tak terasa sudah turun begitu banyak. TUbuh jadi tidak nyaman, hati dan jiwa-pun tidak tenang. Bekerja jadi malas-malasan, Ibadah berat. Puasa juga tidak segiat sebelumnya. Sholat tidak di awal waktu, tilawah Al Quran terasa berat. Ah.. syetan begitu cerdik menggoda saya, mencari sisi lemah saya hingga terjerat dalam virus yang melenakan, membuat saya semakin jauh saja dariNya. Walau di akhir ramadhan sempat merasakan kedekatan denganNya ketika itikaf di masjid.

Benar-benar berbeda sekali, ketika keimanan dalam kondisi bagus, dibandingkan keimanan dalam kondisi lemah. Dalam kondisi yang dekat denganNya, maka segala aktivitas hidup terasa ringan, wajah cerah ceria, hati tenang walaupun banyak beban dan tugas yang harus segera diselesaikan. Di sisi lain ketika keimanan turun, maka hati mudah sekali mengeluh, beban jadi terasa semakin berat, mudah terbawa marah, sedih, pesimis bahkan kadang merasa kesal dengan TUhan. Tidak sabar dengan ujian kehidupan. Lagi-lagi virus apa yang menyerang saya ini?

Hmmm… apa yang menyebabkan iman seseorang turun? virus apa?
Orientasi hidup, ya.. ketika dunia telah menjadi tujuan dibandingkan akherat, ketika harapan dan impian digantungkan pada manusia bukan lagi pada tUhan. Ketika uang, harta, tahta, wanita/pria menjadi hal yang dikedepankan dibandingkan meraih ridhoNya. Sungguh, tanpa disadari dunia begitu melenakan. Kemudahan -kemudahan yang didapatkan menjadikan hati menjadi kotor, tidak lagi peka dengan kebaikan dan perbaikan. Begitu berat hati dan jiwa ini untuk menghamba padaMu, bukan lagi menghamba pada dunia.

SEmoga.. saya bisa segera menemukan anti virusnya. Merubah orientasi hidup semata-mata untukNya. Saya yakin dan percaya dengan meraih ridhoNya, maka duniapun akan mengikuti kita. Rejeki, harta, tahta, jodoh, semua diatur olehNya. Gantungkan semua harapan, cita-cita dan cinta padaNya, ya padaNya semata. Dia Maha cemburu pada kita, ketika kita lebih mencintai dunia dibandingkan cinta terhadapNya. Maka Dia akan menegur kita dengan berbagai cara sebagai bukti kecintaanNya pada kita. Masihkah ragu, sombong, merasa diri bisa tanpaNya?
SUNGGUH MANUSIA BUKAN APA-APA, BUKAN SIAPA-SIAPA TAK MAMPU APA-APA TANPANYA.. YA, SEMUA TERJADI, BISA KITA RAIH DENGAN IZINNYA. MAKA GANTUNGKANLAH DIRI KITA, HAMBAKANLAH JIWA RAGA KITA, MEMOHONLAH PADANYA SEMATA. HANYA DIA YANG TAHU YANG TERBAIK UNTUK KITA, JANGAN MERASA DIRI MAMPU, BISA, TAHU YANG TERBAIK.. SEKALI LAGI.. MANUSIA TIDAK PUNYA KUASA APA-APA DIBANDINGKAN KUASANYA..
MAKA, MASIHKAN KITA SOMBONG UNTUK PASRAH DAN MENYERAHKAN DIRI SEPENUHNYA PADANYA?

Rindu Terhalang

Kata pepatah… ketika malam semakin gelap, sabarlah.. itu pertanda pagi segera menyapa..

Namun terkadang.. malam menyapa lebih lama dibanding siang.
Dan terkadang kumerasa malam begitu betah bertahan dan enggan beranjak pergi meninggalkan. Ada apa gerangan? Padahal aku ingin segera melihat terbitnya fajar.
Terburu-burukah, tak sabarkah?
Aku rindu kicau burung yang riang,
Berloncat indah dari dahan ke dahan,
Sepertinya tak mungkin kujumpai di waktu malam..

Aku juga rindu tetes embun pagi
SEnyum lembut mentari..
SEmilir lembut sang bayu yang mampu menyampaikan perasaanku padamu..

BERUBAH ITU MENYAKITKAN KAWAN

Jangan pernah merasa matang, karena sebentar lagi akan membusuk. Merasalah selalu hijau, maka kau akan terus termotivasi untuk belajar. Begitulah nasehat yang pernah saya dengar. Cuma, dalam prakteknya tidaklah selalu demikian.

Hasrat diri ingin berubah, tetapi apa daya keinginan tinggal keinginan. Selalu saja diri ini terbujuk rayu oleh indahnya kebiasaan buruk. Ya, kebiasaan menunda-nunda penyelesaian tugas atau pekerjaan, kebiasaan ngaret, kebiasaan mood-moodan dalam menyelesaiakn tugas, kurang konsisten, kurang tekun, mudah bosan dan sebagainya. Masing-masing diri kita kalau sudah berada di zona kenyamanan maka butuh usaha keras, perubahan yang terasa menyakitkan. Ya, untuk menciptakan suatu kebiasaan baru yang berbeda dari sebelumnya dibutuhkan pembiasan minimal 21 hari secara berturut-turut. Demikian nasehat seorang psikolog yang pernah saya dengar.
Tak usah contoh yang sulit, untuk dapat bangun pagi dan tidak tergoda tidur lagi ya butuh upaya yang tentu saja tidak menyenangkan pada awalnya. Rasa kantuk, tergoda kasur yang empuk, masih ingin malas-malasan dan sebagainya. Wah, pokoknya perubahan menuju kebaikan itu rasanya tidak menyenangkan.
Kadang kala kita merasa diri dalam tahap yang stagnan ketika rekan kerja, teman kita ternyata lebih prestasi, lebih oke, lebih perform dalam penyelesaian tugas, dalam penampilan dan sebagainya. Saat satu persatu pekerjaan yang biasanya dipercayakan kepada kita mulai bergeser seakan -akan diambil alih dan ditangani oleh orang lain. Hmm, jadi merasa there is something wrong pada diri kita. Saat itulah introspeksi diri dilakukan. Mudah sebenarnya untuk mengetahui apa saja yang perlu diperbaiki, kesalahan dan kekurangan dalam diri kita.

Beratnya dalam ACTION memulai perubahan baik, peningkatan kualitas diri secara konsisten dan kontinue itu yang tidak mudah. Kalau ditanya siapa sih yang mau bangun lebih pagi, siapa yang mau repot-repot bekerja dengan lebih lama dibanding teman kita lainnya? Ah, tentu saja belum tentu setiap orang mau berubah tanpa adanya kesadaran bahwa betapa pentingnya kita memperbaiki diri, betapa pentingnya kita berubah, bila ingin kualitas kita meningkat. Tak bisa bila stagnan, malas berubah, merasa diri sudah menguasai tanpa ada action real untuk terus dan terus belajar. Ingat hidup terus berdinamika kawan. Zaman terus berkembang dengan teknologi baru, kompetensi baru, kebutuhan baru yang berbeda dengan sebelumnya. Bila kita tidak mau beradaptasi untuk ikut serta berproses menyesuaikan perubahan ya wajar saja bila akan ketinggalan.

Zaman internet mesti tahu dan menguasai IT, bahasa Inggris, kemampuan interpersonal yang baik dan sebagainya. Itu semua tidak datang dengan sendirinya. Tetapi dengan diasah, kemauan, kesungguhan, ketelatenan untuk belajar dari hal-hal kecil. Jangan merasa bisa dan menganggap remeh pekerjaan yang diberikan kepada kita. Dari hal-hal kecil yang kita kuasai itulah kita akan menguasai hal-hal yang besar.

Misalnya berawal dari staf yang mengarsip surat, membuat surat hingga akhirnya terbiasa menangani kontrak jual beli. Itu semua butuh jam terbang, tidak datang dengan sendirinya. Namun, terkadang kita tidak sabar dengan PROSES, inginnya serba instan. Ah kalau cuma membuat surat malas, begitu-begitu saja membosankan.. JIah… godaan terberat memang disitu kawan.

Kalau ditanya setiap orang ingin posisi yang tinggi, peran yang utama dalam suatu lingkungan atau instansi. Pernahkan kita sadari, bahwa sebelum memegang peran tersebut, mereka pasti bersusah payah berproses sehingga dipandang mampu, pantas, dan sanggup untuk menduduki peran yang sekarang?

SEkalai lagi, ada tangga-tangga kompetensi, skill yang perlu diasah agar bisa sampai tangga di atas. Jangan pernah merasa bisa sampai tangga teratas bila tidak pernah mau dan berusaha untuk melewati tangga demi tangga di bawahnya.
Melompat ke tangga teratas mungkin bisa. TEtapi resikonya besar. Dan sangat susah tentunya. Bisa terjerembab, berdarah-darah. Berproses dengan sabar, tekun…

Merasalah selalu hijau maka kita akan termotivasi untuk belajar, berubah ,menjadi dewasa dan matang..

SELAMAT BERUBAH KAWAN!!!

Feeling Lonely

Alone… sendirian… di akhir pekan..
Waktunya istirahat setelah bekerja 5 hari. Lelah juga kerja ya, belum ada teman untuk berbagi beban kehidupan. jeileh.. =)

Rutinitas kantor terkadang bagiku terasa menjemukan. Mengurus presensi elektronik pegawai, surat tugas perjalanan dinas, seminar, workshop, rapat, apel, upacara, disiplin pegawai, arisan ibu-ibu kantor. Belum lagi kalau ikut turun ke lapangan dan membuat laporan seakan-akan dilakukan dengan sisa-sisa energi di rumah. Padahal masih jomblo ya? kok rasanya managemen diri masih kacau.. masih belum terhandle dengan baik. Kalau di list ya tugas dan pekerjaannya ya sudah begitu doank… Namun dalam prakteknya kok ribettt. Entah saya yang memang kurang kompeten atau belum menemukan “ruh” yang pas dalam bekerja. Pulang kerja sore hari sudah capek, pengen tidur.. Wah-wah -wah dunia tidak sesempit ini, kenapa terkadang diri saya berpikiran sempit hingga merasa sesak, tidak dapat bernafas dengan lega… Jiaaaaa… PERLU EVALUASI DIRI.. TRUS MEMPERBAIKINYA..

FEELING LONELY? Ah, setiap individu juga ada saatnya ingin menikmati kesendirian, ada saatnya ingin menikmati kebersamaan bersama teman-teman. Walau sudah beda juga sih rasanya. Teman-teman sudah banyak yang merid, jadinya kebersamaan sudah tidak seperti dulu lagi.. Urusannya sudah beda lagi. Tidak mungkin bebas untuk sekedar belanja bareng atau melakukan hal-hal bersama seperti dulu lagi… Ah, hidup jadi tidak seasyik dulu lagi kesannya. Hmmm.. kok saya jadi kurang bersyukur dengan hidup saya ya?

Ha ha ha. Begitulah curhat the single woman. Tak jauh-jauh dari itu.. Sisi interpersonal saya cenderung dominan, membuat saya menikmati kesendirian dengan menulis blog, membaca buku, novel dsb. Walau kadang juga merasa sendiri, sepi begitu selesai membaca atau menulis. Need someone to share with.. ehem ehem..

Lagi-lagi .. still in triying find the right man.. i dont know… who is it?
May be i havent known him, i have known him for such a long time, may be… you.. who read this..=)
i dont know..
but time will tell,
i belive it…

Keep on trying, praying, and giving the result on God’s hand.. Ok?
too many things that i think make me confusing…

really..

Tidak seperti membeli buah, mau jeruk, apel, rambutan, durian atau pisang. Kalau tidak suka bisa ditukar, diberikan pada orang lain atau akhirnya dibuang…

Pilihan seumur hidup bro.. sist..
MOga segera nemu deh..
Biar ga feeling lonely lagi..

BRONDONG AGAIN

Masih berbau jodoh..

Brondong..
Hmmm.. beberapa kali ketemu dengan brondong, maksudnya dikenalin untuk hal yang serius, eh ketemunya brondong terus..
Di’pacok2′in juga dengan brondong,
Berteman, menarik… eh brondong..
Kenalan, asyik.. eh brondong..

Ada yang komentar, kalau brondong so what gitu loh..
Iya siy, tak mengapa asal orangnya dewasa, bisa saling melengkapi satu sama lain, siap untuk bertanggung jawab..

SEbenarnya bukan brondong atau tidaknya yang menjadi hal yang serius untuk didiskusikan. Kedewasaan berpikir, bersikap dan kesiapan bertanggung jawab-lah yang diperlukan untuk sebuah hubungan yang serius.

Siapkah untuk itu semua? Usia biologis bukanlah jaminan keharmonisan suatu hubungan. Tiga bersaudara dengan selisih usia 2 tahun, bukan jaminan si kakak lebih dewasa dibanding adik-adiknya. Bisa saja yang tengah lebih dewasa dibanding si sulung..

Brondong? Kalau secara logika, saya pikir setiap orang ingin hubungan dijalin dengan seseorang yang dewasa, mengerti dan memahami satu sama lain. SEpanjang si brondong bisa memenuhi kriteria tersebut menurut saya tidak apa-apa. Mungkin saja ada sisi-sisi kelebihan si Brondong yang justru melengkapi segala kekurangan yang ada pada diri anda. Kesiapan berkomitmen dan bertanggung jawab patut diperhatikan. Kalau brondong belum siap untuk itu, ya sudah lupakan saja. Cari yang lain, entah yang lain itu brondong AGAIN atau tidak. Siapa tahu, jodoh anda memang brondong. he he he he..

Beberapa teman saya menikah dengan brondong.
Pas saya tanya, ada yang komentar: “wah ngga nyangka sama sekali, kok dapet jodohnya brondong ya, malu jadinya.”

Teman saya itu pada awalnya sudah ada sentimen dengan yang namanya brondong. Idih, engga banged.. Nyari yang lebih tua-lah.. bla.. bla.. bla…

Pas dia kasih undangan ke saya… Otomatis saya kaget.. Saya konfirmasi Kok bisa tertarik dan mantappp dengan brondong? Dia hanya tersenyum.. dengan mata yang berbinar-binar… Spontanitas saya tertawa.. Dia justru membalas dengan berkata “kudoain kamu dapat brondong juga”. Kupukul bahunya dan kurangkul dia, untuk memberikan ucapan selamat…

Misteri jodoh…
Kalau sudah KuasaNya yang bicara..
Siapapun tak akan bisa mengubahnya..

Termasuk diriku…
Wah, bisa jadi doa teman saya itu terkabul..
brondong…

KOmunikasi Tanpa Kata

Menyebalkan..
Bila berkomunikasi tanpa kata..
Bahasa nonverbal tak mudah untuk dimengerti..
Tapi entah mengapa menarik untuk mencoba memahaminya.

Dengan sekedar tatapan, gerakan tubuh, tiba-tiba menjauh tapi hati terasa dekat.. etc..
Tak mudah memang, memahami bahasa tubuh manusia. Berkata tidak, tetapi bahasa tubuh mengatakan iya. Berkata iya, tetapi dalam tindakan nyata justru menjauh. Apa maksud yang ingin disampaikan sebenarnya?

Begitu bodohnyakah sehingga masih juga merasa butuh penjelasan lewat kata-kata? Begitu sulitnyakah untuk menanyakan langsung? Walau memang Orang Jawa penuh dengan bahasa nonverbal, penuh basa-basi. Dan banyak yang tidak kupahami. Aku takut salah mengerti..

Diam=pun terkadang susah diterjemahkan.. Diam sedang tak ingin diganggu, diam karena marah, diam karena sakit, diam karena tidak setuju. Begitu multitafsir..

Itulah mengapa komunikasi tanpa kata tidak mudah, kecuali orang yang sudah dekat. Itupun masih bisa timbul salah paham. So.. alangkah lebih baiknya bila dilengkapi bahasa verbal..

Katakan I LOVE U.. mungkin susah. Tetapi tatapan mata, tindakan tidak bisa berbohong..
Katakan I MISS U.. mungkin berat. Tetapi pandangan mata tetaplah berbicara..
Katakan I NEED U mungkin sudah dicoba tapi tetap tak bisa bersuara.
Hembusan angin tak bisa menyampaikan apa yang dirasa..
Pun bintang di langit tak tahu bahwa sinarnya tak secemerlang sinar si Dia, yang seakan berbisik.. hidupku tak lengkap tanpamu..

JIahhhh… lagi kumat eror-e..