Anonimitas Rasa

Kenapa siy malah jadi begini??? jadi ga enak hati. atau aku sendiri yg terlalu sensitif.. entahlah..

Ga tau bagaimana bermula hingga menjadi begini.. Jadi aneh. Perasaanku sendiripun jadi aneh. Ga ngerti..

Ah, awalnya becanda biasa. Teman-teman yang godain. Ga ada apa-apa. Biasa saja. Lama-lama malah jadi aneh.. Saat ada interaksi di suit-suitin. Saat jaga jarak, eh di senyum-senyumin. Ngomong salah, diam salah. Serba salah..

Mau nanya takut salah. Ga nanya malah jadi bertanya-tanya. Tanyanya saja sama siapa, juga ga tahu. Apa perlu ditanyakan juga kutaktahu..

Mau bersikap biasa, rasanya sudah ga biasa lagi. Tetapi ga biasanya di sebelah mana, karena apa dan bagaimana menyikapinya itu membuat semakin serba salah..

Belum pernah merasa serba salah seperti ini. Dikerjain ato engga aku ga ngerti.. kenapa jadi begini?

Dicuekin, ga usah dipikirin.. tetap aja kepikiran..
Dipikirin mau dicari jalan keluarnya eh ga tau harus bagaimana

Mau marah? aneh..
Kesal? aneh..
bete? aneh..
diam aja? aneh..

teman- teman yang aneh? entahlah
dia yang aneh? entah..
aku yang aneh? entah juga..
semua aneh? bisa aja..

semuanya menjadi jalinan keanehan yang tidak kutahu pasti dimana keanehannya..

belum pernah aku mengalami hal seaneh ini..
aku sendiri ga ngerti..
mbuhlah..

Anonimitas Rasa..

Nasehat untuk Diri Sendiri

Tak semua tanya segera terjawab..
Kau tahu kenapa?
Karena keterbatasan akal manusia

Seiring berjalannya waktu
Kau akan tahu
Bahwa butuh waktu, kejernihan hati dan jiwa
untuk bisa menemukan jawabannya..

Saat itulah
Akan kau sadari
Betapa kecilnya dirimu
Di hadapan kebijaksanaanNya yang Teramat Luas..

(nasehat untuk diri sendiri)

By jalinankata Posted in Puisi

Ingin amnesia

Saat masa lalu dan masa kini berdialektika
Aku tertawa
Aku terluka
Aku …
Tak tahu lagi harus berkata apa..

Jauh di dasar hatiku..
Kutak mau bayang-bayang masa lalu memberati langkahku

Kuingin amnesia
sebatas memory tentangmu
menghapus semua kesanmu di hatiku

Ingin kusapa

Buat seseorang yang pernah menyapa jiwaku begitu dalam..
Entah mengapa, terkadang ingin sekali kusapa dirimu..
Lewat semilir angin
Lewat rintik hujan
Lewat senyum lembut mentari pagi
Lewat sinar rembulan..
Lewat apapun yang bisa menyampaikan salamku padamu..

Tapi semua sirna..
Tak ada angin yang berhembus
Tak ada rintik hujan
Tak ada senyum lembut mentari pagi
Tak ada sinar rembulan..
yang mampu menyampaikan salamku untukmu..
karena itu hanya ada di masa lalu

betapa masa lalu itu begitu jauh..
walau sedetik yang lalu..

tapi mengapa mengenang masalalu terasa begitu dekat
walau sudah beberapa tahun yang lalu..

pelangi indah di depan mataku
hanya bisa dilihat
hanya sekejap..
setelah itu pergi..
dan tak akan pernah kembali..

NB: pernah kau bilang padaku “moga Allah meningkatkan derajad kita dimataNya”. Kau tahu, aku terus mencoba.. tapi mengapa jalan itu begitu curam untuk kudaki.. kutak sanggup lagi.. Kau tega melakukan semua ini.. tanpa persetujuanku sebelumnya.. Aku bukan dirimu..

VMJ (Virus Merah Jambu)

Jumat, 21.00 WIB, saat aku menunggu balasan sms dari seseorang sejak bakda maghrib tadi belum jua dibalas..

Beberapa kali sms masuk, tetapi bukan dari seseorang yang kutunggu. Entahlah.. mungkin dia marah padaku..

Hingga mendekati jam 21.00 aku kembali kirim sms padanya. Tapi dia ga membalas juga. Mau kutelepon.. tar malah bingung, mau ngomong apaan?Atau dia barangkali sedang sibuk.. Atau.. hp-nya silent kalee. Banyak kemungkinan..

Hingga ada sms masuk. Kubaca..

“Assalamualaikum. Kaifa haluk ya ukhti? kangen ki.. Lamo tak jumpo =)”

Dia adalah ukhti yang cukup dekat denganku.. sering ke mana-mana bareng, ngadain kegiatan bareng, jalan bareng dll. Cuma karena kesibukan masing-masing jadi lama ga ketemu. So sms atau sapa di Fb terkadang bisa sedikit mengobati rasa kangen.

“Waalaikumsalam Wr Wb. alhamdulillah baek. Iya kangen juga. Sibuk apa niy? Praktek di RS ya? Besok hari minggu ikut bantu outbound ga? Insya Alloh aku ikut” . kukirim.. terlihat tulisan delivered di layar N70ku

Dia balas.. “Insya Alloh mb, kuusahain ikut. Q sangat kangen n rindu ma temen-temen. Q pengen ngrasain kumpul -kumpul lagi.”

Kujawab.. “oke, Insya alloh aku juga ikut, walo cuma mpe dhuhur Insya Alloh..”

Dia masih kirim sms padaku: “mb Wii, ni q lagi gundah gulana nich? Adakah tips untuk mengatasinya?”

Kujawab singkat: “Kenapa kira-kira?”

“Entah apa itu, Sinta (nama samaran) ga tahu mb? Ada rasa resah, sedih n suka. Semua campur aduk”, jawabnya tak berapa lama dr sms sebelumnya.

“Sejak kapan? Hanya sesekali, saat tertentu ato mendominasi dlm keseharian?” tanyaku padanya

langsung sms masuk darinya: ” Dalam waktu-waktu ini.. membuatku ga konsen dalam mengerjakan tugas”

Dalam proses membalas.. baru kuketik beberapa kata.. eh udah masuk lagi sms darinya:
“Mb Wi, tolong terapi apa yang dapat menghilangkan itu semua? Q ga mau berlama-lama, bisa-bisa tugasku ga selese-selese.”

Dalam hati aku menduga sambil senyum-senyum sendiri ga jelas. Yach.. kok bisa ngepas begini ya.. aku juga sepertinya mengalami hal yang sama dengan dirinya. Gundah, gulana, senang , sedih, campur aduk..
Itu baru kusadari saat aku sms-an dengan temanku itu. Cuma dia ga tau kalau aku juga sedang merasakan hal yang sama..

Isengku sedikit kumat. Ehm, ga gitu dink, untuk memastikan saja kalau diagnosaku (bahwa dia sedang terkena virus merah jambu) kuat, kutambah dengan pertanyaan berikutnya:

“Biasanya saat sendiri atau saat rame-rame ma temen-temen? di malam hari, siang ato sore? tempatnya di rumah, di kampus atau di Rumah sakit?” hi hi hi kukirim sambil senyum-senyum, lumayan bisa sedikit menghilangkan kekesalanku.

Langsung di balas temanku; “Semuanya bisa mbak”

Kubalas: “waduh gaswat dunk! Sepertinya dirimu kena VIRUS MERAH JAMBU dengan someone.. Bener ga?

“Ma siapa mb? koq bisa Mb wi mendiagnosa seperti itu?” tanyanya padaku

Biasa.. terkadang orang yang lagi kena virus merah jambu suka ga ngeh kalau dirinya sedang terjangkit penyakit aneh. Iya aneh, jadi susah tidur, ga konsen, senang, sedih, ga jelas gitu jadinya. he he he

Kujawab: “gejala-gejala seperti itu biasanya VMJ. Di mana-mana ga konsen. Senang sekaligus sedih. Ma siapa? ya hanya hatimu dan Allah yang tahu (NB:klo blom dicurhatin ke orng lain, dan orang2 disekitar krg memperhatikan). wajar siy..”

“Mb Wi pernah ngalamin ya? he he he. Selama ini Sinta hanya berorientasi pada praktek dan tugas. Ada solusi Mb wi bwtku?” tanyanya padaku. kubaca di hp masih sambil senyum. Ah benarkah dia ga sadar kalau sedang suka dengan seseorang atau malu mengatakan langsung padaku ya =)

“Pernah.. Kira-kira dia gimana? suka ga? Sinta sendiri dah siap untuk serius blom? atau masih fokus study?” kutekan tombol reply..

“waduh mb, pertanyaanne kok aneh-aneh. Pengalamannya Mb Wi gimana?”
walah malah gantian nanya pengalamanku segala. Yg mo curhat sapa seeh? heran deh , jawabku dalam hati =)

“Pengalamanku, ya pernahlah suka sama seseorang. Doain aku mendapatkan seseorang yang terbaik menurutNya ya. Ga anehlah. Islam itu indah. Kalau siap menikahlah. Kalau belum, simpan dan jaga rasa itu sampai waktu yang tepat. Jadi rasa suka/ simpati pada seseorang itu juga suatu bentuk ujian. Bagaimana kita menyikapinya. Apakah dengan cara – cara yang sesuai dengan ajaran agama kita atau tidak..”
Kubalas dengan panjang 3 karakter..

Kuyakin, temanku itu sudah paham. Bahwa pacaran itu sebaiknya dihindari. Karena lebih banyak mudharat dibanding manfaatnya. Kalau ada yang bilang pacaran itu upaya penjajagan.

Seberapa jauh batas penjajagan itu? Toh orang yang lama pacaran tak selalu berlanjut ke pernikahan. Tak jarang, justru ketika telah menikah, bisa bosan/kecewa karena kehidupan rumah tangga tidaklah seindah di masa-masa pacaran.

Estimasi, anggapan tentang pasangannya tidak seindah seperti harapan selama pacaran. Dalam keseharian akan nampak sifat-sifat aslinya (pasangan bukanlah makhluk sempurna). Kehidupan rumah tangga membutuhkan kesediaan untuk menerima sepenuh hati kelebihan dan kekurangan pasangan. Kesediaan untuk bersama-sama mengarungi kesulitan. Kesediaan untuk saling menjajagi, saling menyesuaikan seumur hidup. Kesediaan untuk bertumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang semakin dewasa secara bersama-sama dalam satu visi dan misi. Suami sebagai nakhkoda dan istri sebagai pendampingnya.

Kembali ke soal pacaran.Adakah batasnya dalam pacaran? kalau lama pacaran justru bisa melenceng jauh dari sekedar jalan bareng. Kalau berdua-duaan saya yakin.. lama-lama.. kalau sudah saling suka, bisa saling berpegang tangan, berlanjut ke pelukan, ciuman etc. Bukankah ini mendekati zina? (ini pengalaman teman saya yg lain. saya alhamdulillah belum pernah pacaran sampai saat ini. Cita-cita saya pacaran setelah menikah. Jadi mau dipegang-pegang, mau diapa-apain ya ga masalah, justru berpahala =). tapi kalau belum halal (belum menikah) saya takut berdosa. Dosa saya sudah cukup banyak. Ga mau nambah dosa-dosa lagi. Ini hanya prinsip yang coba saya pegang sebagai seorang muslimah tentunya.. =D

Agak lama temanku membalas; ” Bismillah mb.. semoga kita dipertemukan seseorang yang terbaik bagi kita. saling mendoakan ya mbak. Aku pengen cerita banyak ma Mb wi. Insya alloh. semoga kita dipertemukan di waktu yang tepat”

Aku membaca balasan itu dengan tersenyum. Ia sudah cukup paham dengan maksudku. “Iya, amiin. Insya alloh” balasku.

“jazakillah khor ya mbak.. aku senang mempunyai sodara (sesama Muslim adalah saudara) seperti mb Wi. Memang Allah mempertemukan kita dengan sekenarioNya yang indah. Bobo’ yuk Mb.. Bismika allohuma ahya wabismika amuut..”

“Waiyyaki. Sama-sama. banyak berdoa biar hati tenang” balasku padanya

Dalam hati aku belum ngantuk.. Ah kutulis saja di blog.. Pas juga untuk mengurai benang kusut di hati. Agar tidak salah tafsir. Aku Tak bermaksud begitu. Sejujurnya, siapa sih yang tidak ingin punya teman dekat, teman sharing, berbagi rasa? Tapi kita tidak bisa sharing dengan semua orang bukan? Hanya orang/teman dekat saja. Itupun mestinya dipilih-pilih lagi. Kalau dengan lawan jenis.. takutnya menimbulkan penafsiran yang berbeda dari orang lain. Kalau sudah ada orang sekitar yang menganggap hubungan lebih dari sekedar teman, berarti mungkin saja tanpa disadari memang begitu..

Di sisi lain, aku takut melukai dan tak ingin dilukai. Jadi soal hati, aku kan hati-hati sekali. Karena yang namanya patah hati itu sakit.. Bahkan Meggy Z sendiri lebih memilih sakit gigi daripada sakit hati. Padahal adikku sendiri kalau sakit gigi jadi gampang emosi, ga mau makan apa-apa. Kalau aku ditawarin sih, ga mau sakit gigi apalagi sakit hati.

Jadi kembali ke topik VMJ.. Kalau memang benar-benar suka dan serius, maka bertindaklah secara pria dewasa yang penuh tanggung jawab. Berproses menuju pernikahan (taaruf). tetapi kalau belum siap untuk mencintai sepenuh hati maka lupakan atau simpan saja rasa itu hingga tiba saatnya. yaitu ketika siap untuk menanggung beban lahir batin orang yang kita sukai. Bagiku, cinta adalah tanggung jawab. Itu dibuktikan dengan menikah, bukan pacaran. Moga Alloh senantiasa menjaga prinsipku. Amiin.

Agama dalam Perspektif Psikologi

Agama merupakan hal menarik dibicarakan sepanjang sejarah manusia. Hal ini terbukti dengan banyaknya kajian yang mencoba terus menjawab pertanyaan seputar keagamaan dan perilaku pemeluk agama. Di sisi lain, perkembangan zaman, dinamika sosial dengan segala macam problema masyarakat membutuhkan suatu tuntunan, jawaban sebagai solusi. Agama diharapkan mampu sebagai solusi ampuh bagi permasalahan yang timbul, baik dalam lingkup pribadi, keluarga, masyarakat, negara maupun dunia. Tak jarang agama ditafsirkan beragam oleh pemeluknya. Hingga timbul suatu kontroversi keagamaan.

Beberapa contoh fenomena sosial seputar agama dan perilaku pemeluk agama yang menarik untuk dikaji:
1. Malcom Little adalah bekas napi Amerika dengan kasus perampokan. Di penjara dia berkenalan dengan muslim kulit hitam dan belajar Islam. Akhirnya dia menjadi mubaligh Islam kulit hitam yang mengajar tentang pemisahan rasial. Namanya kemudian berubah menjadi Malcom X. Dia pergi ke Mekah, di sana mengalami pengalaman religius berupa perasaan yang amat menyatu dengan muslim kulit putih. Hal itu semakin mendorongnya untuk menyuarakan persamaan ras bagi seluruh pemeluk agama Islam.

2. Lia Eden atau Lia Aminuddin, penggagas agama Salamullah mengaku sebagai Imam Mahdi yang akan membawa keamanan dan keadilan dunia. Lia mengaku sebagai penyampai wahyu Tuhan dan mempunyai kekuatan untuk menyembuhkan. Pada Disember 1997, Majlis Ulama Indonesia (MUI) telah mengutuk kumpulan Salamullah ini karena terseleweng dari ajaran Islam yang benar. Kumpulan ini membalas balik dengan mengeluarkan “Undang-undang Jibril” (Gabriel’s edict) yang mengutuk MUI karena berlaku tidak adil, merasa telah menghakimi mereka dengan sewenang hati.

3. Pada bulan Februari 2009, di Jombang, seorang bocah bernama Muhammad Ponari (10) yang mendapatkan batu ajaib seusai disambar petir menjadi fenomena yang mencengangkan. Ponari menjelma menjadi juru sembuh. Puluhan ribu orang berjejal di rumahnya di Kecamatan Megaluh, Jombang, Jawa Timur. Mereka berdatangan dari berbagai kota di Jawa Timur, bahkan hingga Jawa Tengah. Banyak orang berharap batu ajaib di tangan Ponari bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Dalam pandangan Islam, hal tersebut menodai ajaran agama, dikatakan Musyrik (menyekutukan Tuhan), yaitu menggiring opini publik untuk percaya bahwa batu itulah yang menyembuhkan penyakit, bukan Tuhan.

Pertanyaan Psikologi tentang Agama
Beberapa pertanyaan yang perlu dikemukakan :
1. Apa itu agama?
2. Bagaimana ilmuwan psikologi mendekati permasalahan analisa dan konsep agama dari sudut pandang psikologi?
3. Apa saja teori dan metode yang dipakai dalam mempelajarinya?
4. Apa saja konflik – konflik yang muncul dalam agama?
5. Bagaimana perkembangan agama dari usia anak-anak sampai usia tua?
6. Bagaimana perubahan agama dan konversi bisa dipahami?
7. Apa konsekuensi kehidupan beragama?
8. Kenapa ada sebagian pemeluk agama yang terkesan fanatik sedangkan yang lain tidak?
9. Apakah ada kepribadian tertentu yang cenderung memeluk suatu agama tertentu?
10. dsb

Apa itu Agama???
Melton, dalam ensiklopedia di Amerika mencatat ada 1730 primary religious bodies yang diartikan sebagai sebuah gereja, golongan agama, sekte atau cara memuja. Beberapa ilmuwan psikologi mencoba menjawab pertanyaan “apa itu agama secara esensial?”

Agama sebagai Rekoneksi
Secara etimologi, agama berasal dari kata latin Legare, yang berarti mengikat atau menghubungkan. Dalam bahasa Inggris ditulis Ligament yang berarti koneksi. Agama menunjukkan proses mengikat/menghubungkan kembali. Sayangnya, tidak jelas dari kata legare tersebut, apakah apakah seseorang dihubungkan kembali kepada Tuhan, alam, pikiran, tekanan kosmis, sesama individu ataukah komunitasnya.

Menurut Wulf, kata agama mengacu pada suatu kekuatan yang besar pada perasaan-perasaan orang/tindakan dalam merespon kekuatan tersebut.
Namun secara umum, agama mengisyaratkan adanya kebutuhan dalam diri semua orang untuk memperbaiki diri. Tinjauan secara etimologis ini, membawa kita pada pendapat bahwa agama itu melibatkan usaha manusia untuk merasakan keseluruhan dan kelengkapan, atau pada apa yang telah menjadi komitmennya.

Agama Personal dan Sosial
Kenneth Pergament mengatakan bahwa agama itu bisa dijumpai dalam setiap dimensi kehidupan sosial dan personal. Kita bisa berbicara tentang agama sebagai cara berperasaan, cara berpikir, cara bertindak maupun sebagai cara berhubungan. Artinya, agama bisa dipahami baik melalui analisa pada tingkat personal maupun sosial.

Pada tingkat personal, agama menunjukkan bagaimana ia dilaksanakan dalam kehidupan individual, yang memuat pernyataan tentang kesadaran, kode tingkah laku, bagaimana agama bisa membuat orang merasa bersalah atau bebas maupun kebenaran apa yang dipercayainya.

William James mengatakan bahwa agama berhubungan dengan inner disposisi dari seseorang yang meliputi kesadaran, ganjaran, ketidakberdayaan dan ketidaksempurnaan. Pertanyaan kuncinya adalah apa yang kamu percayai secara personal dan bagaimana fungsi agama bagi kehidupan anda? Bagaimana pengaruhnya untuk kita dan untuk apa agama itu? Bagaimana pula dampak agama terhadap sikap kita tentang isu-isu sosial, kesehatan fisik dan mental, kesejahteraan dan kemampuan kita dalam menghadapi krisis?

Dalam tataran sosial dan kemasyarakatan, agama menunjukkan pada suatu kelompok yang oleh Melton disebut primary religious bodies atau dengan kata lain agama adalah sebagai institusi atau lembaga sosial. Institusi sosial ini seperti: gereja Kristen, gereja Kaum Yahudi, sekte-sekte independen, bersama dengan kepercayaan kolektif dan praktek keagamaan mereka. Penekanannya adalah pada bagaimana agama berinteraksi dengan bagian lain dalam masyarakat dan bagaimana kelompok melaksanakan organisasi agama.
Perbedaan pandangan agama dalam pandangan personal, sosial dan keorganisasian di atas adalah karena isi kepercayaan dan proses psikologis yang berfungsi mencapai atau merubah mereka tidak sama baik secara individu maupun kelompok.

Fungsi Agama
Definisi agama secara fungsional adalah apapun yang bermanfaat bagi individu maupun sosial.

Emile Durkheim memandang agama sebagai lembaga sosial positif yang membantu mengarahkan manusia bersama-sama menstabilkan masyarakat. Fungsi agama ini berisi unsur-unsur sosial dan moral dan memungkinkan manusia untuk mengatasi perasaan keterasingannya.

Pada tingkat analisa personal, Melton Yniger memandang agama bagi kehidupan individu berhubungan dengan kematian yang tidak dapat dielakkan, makna kehidupan, keabsolutan vs relativitas moral dan tuntutan untuk mengatasi kesunyian yang muncul.

Paul Tillich menambahkan bahwa agama itu melibatkan hubungan manusia dengan beberapa masalah pokok. Fungsi agama adalah sebagai suatu proses, bukan sebagai suatu doktrin. oleh sebab itu, agama bisa theis/atheis. Tuhan bisa dalam bentuk tongkat, batu, maupun sebuah ide.

Malony mengatakan bahwa “Religion can be God, Country, or Yale.”

Menurut Erich Fromm (dalam Yudha, 2004, hal 27) agama sebagai setiap sistem pemikiran dan tindakan yang dimiliki bersama oleh sekelompok orang yang memberikan kerangka pengarahan (hidup) dan obyek untuk dipuja kepada orang-orang yang menjadi anggota kelompok itu secara pribadi

Wulf (1991) mengatakan agama mengacu pada perasaan, tindakan seseorang untuk merespon adanya suatu kekuatan besar.

Secara keseluruhan, kita dapat mengatakan bahwa pendekatan fungsional berhubungan dengan Bagaimana sesuatu itu adalah dasar keagamaan, sedangkan pendekatan substansi mengindikasikan Apa dasar keagamaan itu.

Pendefinisian Agama dalam Penelitian Psikologi
Penelitian psikologi berupaya mencari pendekatan yang mampu menjembatani kedua aspek substansi dan fungsional, sehingga agama didefinisikan sebagai kesadaran akan kebergantungan kepada Tuhan.

Metode Memahami Agama
Sebelum melakukan penelitian tentang agama, lebih baik melakukan studi eksperimen, survei, observasi maupun interview sehingga dapat ditentukan metode terbaik untuk memahami tentang fenomena agama. Diperlukan teknik yang mengikat, bergantung pada prosedur yang spesifik dan perlakuan dari agama yang digunakan sebagai variabel.

Dalam kasus pemahaman psikologi agama, hal terbaik untuk memulai yaitu dengan psikography agama. Psikography agama adalah pendeskripsian kejadian secara terus terang dan objektif apa yang ada di dalam pikiran, perasaan dan tindakan manusia.

Menurut Glock & Stark (dalam Ancok & Suroso, 1994, hal 77) agama bida dipahami melalui dimensi-dimensi keberagamaan, yang terdiri atas beberapa hal, yaitu:

a. Aspek Keyakinan (Religious belief) merupakan penerimaan individu pada hal-hal dogmatis dalam agamanya.
b.Aspek Ritual/ Praktik (Religious Practice)menunjukkan seberapa jauh individu menjalankan kewajiban-kewajiban ritual yang telah ditetapkan agamanya.
c. Aspek Pengalaman (Religious Feeling)menunjukkan suatu pengalaman beragama yang berisikan perasaan-perasaan, persepsi-persepsi dan sensasi-sensasi yang dialami seseorang ketika berkomunikasi dengan Tuhan.
d.Aspek Pengetahuan (Religious Knowledge) mengacu pada seberapa jauh pengetahuan seseorang terhadap agamanya.
e.Aspek Konsekuensi (Religious Consequences) mengacu pada identifikasi akibat-akibat keyakinan keagamaan, praktik, pengalaman dan pengetahuan seseorang dari hari ke hari.

Dimensi ideologis dan intelektual adalah aspek kognitif keberagamaan. Dimensi eksperiensial merupakan aspek afektif keberagamaan. Dimensi ritualistik dan konsekuensial sebagai aspek behavioural keberagamaan.

Dari kelima aspek tersebut di atas, kita melihat bahwa agama sebagai variabel yang multidimensional. Terdiri atas berbagai aspek yang saling berkaitan satu sama lain. Misalnya: kita melihat seseorang yang rajin beribadah tetapi berperilaku buruk kepada tetangganya. Hal itu berarti ada aspek religiusitas yang perlu diperbaiki, dalam hal ini konsekuensi. Demikian pula sebaliknya, ada yang jarang beribadah tetapi bersikap baik dan ramah kepada tetangganya. Berarti yang perlu diperbaiki aspek ritual ibadah.

Semarang, 22 April 2010
dari berbagai sumber

Curahan Hatiku

Senin, 12 April 2010 @ kavling Bambankerep 69-70

Bosan.. ngantuxxx… Uh.. siang ini mentari bersinar begitu terik. Di dalam ruanganpun masih terasa panas. Padahal ac udah dinyalain lho. Jendela juga udah dibuka biar dapat semilir angin. Kok masih juga terasa panas, lemas. Atau karena aku sedang puasa ya? Jadi ngantuxx n lemas bawaannya. Wew..

Kok bisa ya? Entahlah. Padahal tadi pagi aku berangkat kerja dengan hati yang riang gembira. Melewati Jumat, Sabtu, Minggu kemarin dengan serangkaian kegiatan yang bermanfaat bersama-sama teman-teman. Mulai dari ngaji, bersih-bersih dan ngerapiin kamar, rapat di hari sabtu dilanjutkan mengikuti pengajian ibu-ibu di malam minggu. Alhamdulillah acara selesei jam 22.00 WIB.

Hari minggu pagi ke lapangan FKOD Sampangan, mendapat suntikan motivasi dari Ustadz Ari Purbono dalam rapat umum menjelang pilwakot Semarang 2010. Suatu kolaborasi aneh yang terasa. Ya, ada dangdut, campursari, lagu-lagu lawas hingga lagu religi. Yang paling berkesan apa ya? ehm.. saat aku maju di depan panggung ada yang mayungi aku, jadi ga kepanasan (hi hi hi ga penting kalee). Padahal yang lain tu panas-panasan. Bukan itu, tapi semangat dan ruh yang dikobarkan Ustadz Ari dan Pak Ahmadi mampu menyentuh jiwa. Hicks terharu, hingga meneteskan air mata. “Tetap tersenyum. Jangan pernah tunjukkan kalau kita lelah. … bla.. bla bla.. Padahal dalam setiap perjuangan pasti selalu ada luka-luka bersamanya. Pengorbanan tenaga, waktu, materi, sakit hati dan entah apa lagi. Semua itu benar-benar ujian yang tak akan bisa dirasakan kecuali kita terlibat langsung di dalamnya.

Tentu akan berbeda, bagi yang hanya mendengar apa itu jeruk dengan yang ikut mencicipi. Seperti halnya makan jeruk yang sudah tersedia manis di atas meja, dengan memakan jeruk hasil tanaman sendiri. Merawat pohon jeruk dari kecil, menyirami, menjaga, hingga berbuah dan kita petik hasilnya. Tentu saja rasaenya berbeda. walau sama-sama jeruknya.

Ah.. sementara itu dulu.. mau sholat ashar dulu..
Semoga Allah senantiasa bersama kita. Dalam setiap langkah kita. Amiin =)

Menulis itu..

Menulis itu..
Jika anda diminta untuk mengisi titik -titik di atas, kira-kira apa jawaban anda???

Saya yakin, tiap orang memiliki alasan yang berbeda. Mungkin ada yang menjawab menulis itu adalah keterpaksaan, untuk menyalurkan emosi, untuk mengurai benang kusut di hati. Itulah jawaban yang saya terima dari salah seorang teman.

Menurut saya, itu jawaban yang klasik. Saya berkunjung ke blognya dan diminta untuk berkomentar mengenai tulisannya. Ah, sebenarnya kondisi saya juga tak jauh berbeda dengannya. Jawaban klasik itu juga yang ada di lembar jawab saya. Padahal kami ga contekan lho ya? =))

Begitulah kalau penulis pemula ditanya tentang alasan menulis. Bahwa menulis itu ya keterpaksaan. Seperti halnya saya, ga merasa ada bakat untuk menulis. Hanya sekedar memberanikan diri untuk menulis dan menulis. Sekedar mencari jawab atas tanya yang ada di kepala dan di hati. Berharap ada yang mau membaca, memahami, menanggapi, syukur syukur mau berdiskusi tentang topik bahasan yang ingin dicari tahu.

Di sisi lain, menulis itu juga perlu agar orang lain memahami mengapa kita begini dan tidak begitu. Menulis bisa menjadi katarsis emosi yang sopan dan berpahala. Kok bisa? Lha iyalah, misalnya saat patah hati, dari pada nangis-nangis ga jelas lebih baik menulis di blog. Saat marah, kecewa pada seseorang (karena belum juga memahami dan mengerti kita), kalau langsung disampaikan ke yang bersangkutan saat itu, bisa jadi malah menambah masalah semakin ruwet.

Berbeda halnya bila kita tuangkan dalam puisi, cerpen, atau dalam diary. Maka kita akan sedikit lega. Sambil menulis,otak akan merangkai memory mencoba mencari jawaban yang bijaksana atas permasalahan kita. Walhasil, di akhir tulisan kita menemukan suatu titik pencerahan. Kita pun jadi lebih tenang dan siap untuk kembali menghadapi persoalan kita. Emosi kita lebih tertata. Itulah mengapa menulis bisa mengasah kecerdasan emosi dan intelektual kita

Menulis itu berpahala? iya, dengan catatan tulisan kita itu bermanfaat bagi orang lain. Bukan dalam arti menebarkan keburukan, tetapi menambah ilmu, membuat orang kembali bersemangat untuk berubah dan memperbaiki diri. Jadi bukan tulisan yang mengajak untuk hal-hal yang tidak baik.

So, menulis itu..
Butuh keberanian, kesungguhan dan ketelatenan. Bila baru mulai belajar menulis saja sudah ingin langsung menghasilkan tulisan bagus, itu sama artinya dengan ingin sehat tapi makan makanan instan. Tak usah mengukur hasil tulisan kita dengan tulisan orang lain yang sudah mempunyai jam terbang tinggi. Orang yang bisa menulis dengan bagus pun pernah menjadi penulis pemula. Tak langsung menjadi penulis profesional.

Maka selaku penulis pemula alangkah baiknya terus mengasah pisau, belajar memotong untuk menghasilkan masakan yang terlezat sesuai kemampuan kita. Bila pisau jarang di asah, maka akan berkarat, memotong pun akan membutuhkan waktu yang lebih lama. Bumbu masakan yang diperlukan apa, komposisinya berapa, cara memasaknya bagaimana, dan berapa lama waktu yang diperlukan untuk memasaknya bisa lupa. Sambil memasak, sambil membuka catatan resepnya. Menelpon ibu di rumah atau bertanya kawan, karena takut salah. He he he..

Begitu juga dengan menulis, terkadang sudah merasa punya bahan-bahan di kepala maupun buku- buku yang menumpuk di meja, tetapi giliran mau merangkai kata dan mengembangkan ide, kok bingung memulainya ya???

Itu bagian dari proses belajar. Ah, biar saja saya memberanikan diri untuk terus menulis, apapun hasilnya =))

Menerapkan ilmu Padi yuk!!!

Baru saja aku berkangen ria dengan teman kuliah lewat chatting.
Ternyata lama tidak bersua, membuat awal obrolan jadi tidak sehangat dulu, saat kami sering berdiskusi dan mencari tugas kuliah bersama-sama.

Rentang waktu dan kemajuan teknologi terkadang membuat yang dekat menjadi jauh dan yang jauh menjadi dekat. Aneh pula, bila orang yang selama ini dekat dengan kita karena lama tidak saling sapa di facebook, sms atau telepon jadi sedikit merenggang. Di sisi lain, orang yang baru kita kenal sepintas lalu, tapi karena sering bertegur sapa lewat blog, menulis di wall facebooknya, malah bisa terasa dekat.

Facebook di sisi lain memudahkan tali silaturahmi dengan kawan-kawan lama kita, memudahkan mendapatkan berbagai informasi, dari yang sifatnya isu internasional, global bahkan yang privasi, kehidupan sehari-hari orang yang bersangkutan.

Saat di dunia nyata mungkin kita mengenal seseorang yang kalem, pendiam. Eh, setelah menjadi temannya di facebook kita jadi tahu kalau ternyata dia lucu, unik, dsb. Facebook membuat kita lebih mengenal karakter pribadi, kesukaan, kelebihan/potensi dari teman-teman kita. Walaupun tidak secara keseluruhan, setidaknya ada gambaran bagaimana kehidupannya, pergaulan sosialnya, pemikirannya (lewat notes) maupun sisi lain dari teman- teman kita. Jadi tak selamanya facebook itu negatif.

Yang menjadi kurang menyenangkan bagi saya adalah saat jumlah teman semakin bertambah maka intensitas kedekatan cenderung berkurang. Kita tidak bisa membagi dan memberikan tanggapan perhatian kita secara merata pada semuanya. Tetap saja kita memiliki teman yang bisa saling sering bertegur sapa. Tetapi ada juga yang sekedar approve sebagai teman dan sudah tidak ada lagi interaksi yang lebih jauh lagi.

Dalam jejaring sosial juga seperti komunitas di masyarakat, kantor, lingkungan kuliah, kerja maupun komunitas lainnya. Terlihat dan terasa adanya in group dan out group. Ketika ada seseorang yang pasang status di wall, kalau diperhatikan orang itu-itu saja yang menanggapi. Ada yang mungkin tertarik menanggapi tetapi merasa kurang dekat dengan orang tersebut, jadi urung untuk nimbrung.

Di sisi lain, seiring bergantinya situasi, kondisi akibat dinamika hidup, bisa juga membuat teman dekat di jaman SD menjadi tak dekat lagi. Bukan karena sombong atau bagaimana, tetapi ketika ketemu langsung seakan ada bait-bait yang terputus dan tidak mudah untuk menyambungnya agar tetap menjadi lagu yang indah. Saat ngobrol topik jadul (jaman dulu) saat bersama-sama akan nyambung dan enak banget. Tetapi saat obrolan itu mendekati dan berubah ke arah sekarang, saat perubahan terjadi pada diri masing-masing (entah perubahan status sosial, gelar, jabatan, pendidikan maupun embel-embel lain), kedekatan itu kembali berjarak.

Ah, kita memang harus pandai-pandai menempatkan diri. Bagaimana kita tetap bisa dekat dengan teman-teman, akrab, walau berbagai dinamika hidup dan perubahan mewarnai kita.

Tetap mencoba mengamalkan ilmu padi. Semakin berisi semakin merunduk. Walau kita telah memperoleh kesempatan untuk menimba ilmu tak berarti membuat kita menjadi sombong dan tak mau akrab dengan teman -teman kita dengan berbagai latar belakang dan kondisi yang belum tentu seberuntung kita.

Kita perlu menyadari di atas langit masih ada langit.. Kita bukan yang terhebat, jadi tak perlu sombong. KIta juga bukan yang paling bodoh, jadi tak perlu minder.

Gapailah bintang yang tinggi di langit, tetapi rendahkan hati sedalam mutiara di dasar laut.
Semoga bisa =)

Gagal Posting

Dalam ngantuk, masih kucoba merangkai kata
Entah mau menulis tentang apa
Seuntai tema, sebuah judul sudah kutata
Paragraf demi paragraf sudah berbaris mempesona
Dalam sekejap hilang dan sirna

Ah, ini hanya satu kerikil kecil dalam upaya menjalin kata
Tak mengapa
Biar kutata lagi huruf demi huruf yang masih tersisa di kepala
Apapun hasilnya
Aku sudah mencoba

(Saat posting satu tulisan tapi gagal karena koneksi internet yang lambat, kuganti saja dengan tulisan ini. Mungkin ada yang salah dalam niat atau memang sedang diuji kesungguhanku untuk belajar menulis… Tema yang kutulis tadi tentang cinta.. Moga lain kali aku bisa merangkainya dengan lebih indah. Sudah ngantux ni. Belum tidur dari tadi ^ – ^)