Reuni Kecil Keluarga

Sabtu, 27 Februari 2010 kemarin mendadak ada reuni keluarga. Tiada lain karena paman/om saya meninggal dunia. Ya, di satu sisi kepergiannya menyisakan luka bagi keluarga, sanak saudara.

Kematian om saya itu terkesan mendadak. Tanpa ada tanda-tanda dia akan pergi untuk selamanya. Jadi keluarga, tetangga, teman-temannya-pun masih belum begitu percaya kalau paman saya itu meninggal dunia.

Kematian om saya itu begitu mudah. Masuk angin, minta dikerokin ke bibi/tante saya (istrinya). Setelah itu merasa mual di perut. Merasa mau muntah, tetapi ga ada yang dimuntahkan. Mendadak nafasnya berhenti. “Pak, jangan becanda ah”, begitu ucap istrinya di tengah malam. Tapi om saya tidak bereaksi. “jangan becanda”, sambil menggoyang-goyangkan tubuh suaminya.

Tak berapa lama kemudian di bawa ke RS, tapi sudah dinyatakan meninggal dunia. Jadi ketika Om saya itu dicabut nyawanya oleh Malaikat Izrail, tante saya itu tidak menyadarinya. Entahlah, kok bisa begitu ya. Padahal, kata buku atau entah saya dapat darimana, selembut apapun malaikat mencabut nyawa, rasanya tetap saja sakit. Semoga saja kematian om saya itu husnul khotimah. Amiin.

Di sisi lain, ketika ada keluarga yang meninggal, maka kerabat dekat, teman dan tetangga berdatangan. Bila mau melihat sisi positifnya, itu bisa menjadi suatu moment kecil reuni keluarga. Iya, kemarin keluarga pihak ibu datang semua. Setelah sekian lama tidak berkumpul akhirnya bisa ketemu, mengakrabkan kembali tali silaturahim, saling bertanya kabar satu sama lain. Biasanya setahun sekali (waktu lebaran) sebagai sarana reuni keluarga. Tetapi sudah dua kali atau lebih, episode reuni tetapi tidak lengkap pesertanya. Entah Om saya yang di Pekalongan yang tidak bisa datang, atau om saya yang di Jakarta yang tidak bisa pulang, atau yang lainnya. Kemarin, bisa berkumpul semuanya. Haruskah dengan moment dan cara seperti itu?

Semoga lain kali ada moment yang lebih indah untuk mengakrabkan dan menyambung tali silaturahmi yang mendingin karena jarak, waktu maupun berbagai alasan lainnya. Semoga :)

Mengapa saya menulis diary???

Tak terasa, Februari 2010 tinggal beberapa jam lagi. Ah, betapa waktu begitu cepat berjalan. Goresan peristiwa demi peristiwa dalam hidup yang mewarnai hari demi hari, semoga mampu menjadikanku lebih baik.

Sekilas mengingat perjalanan 28 hari terakhir dalam hidupku. Tak ada yang begitu menarik untuk diingat, dikenang. Begitulah, bila kita membiarkan setiap peristiwa dalam hidup berlalu, tanpa sempat dan mencoba menorehkannya dalam suatu catatan, diary atau buku. Otak terlalu berat untuk mampu mengingat setiap detail peristiwa yang sudah lewat. Mungkin hanya bisa mencatat gambaran umumnya saja. Itupun terbatas pada hal-hal yang berkesan. Lepas dari itu, semua lewat, tak berbekas.

Tak salah kiranya, bila saya mencoba menuliskan setiap peristiwa kecil dalam hidup saya. Biar kenangan itu senantiasa ada dan terjaga. Tak lain untuk mengetahui dan mencatat sendiri pengalaman dan sejarah pribadi. Memahami perubahan dan perkembangan yang terjadi pada diri sendiri. Siapa tahu, akan menjadi suatu hal yang berguna di masa depan. Who knows? ;) .

Alasan kedua; saya ingin belajar lebih peka menangkap setiap peristiwa yang saya lalui. Memotretnya dalam sudut pandang saya. Biar mengasah skill saya dalam dunia tulis-menulis. Bahkan bisa menulis buku suatu saat nanti. ehemm, cita-cita saya yang belum kesampaian niy. Doakan saya ya..

Alasan ketiga; terus terang, menulis itu membuat saya lega. Serasa ada yang kurang bila lama tidak curhat. Pfuhhhh, nyesak di dada dech bila lama ga nulis. Rasanya seperti orang lapar atau kehausan. ketika saya lapur, trus mampu mendapatkan makanan atau minuman, itu suatu kenikmatan tersendiri. Luar biasa nikmatnya. Begitu pula halnya “menulis” bagi saya. Kangen, hampa, bila kebutuhan untuk menulis diary ini tak jua tersalurkan.

So,,, lanjutkan menulis!!!! =))

Susahnya memanggil Long Term Memory (LTM)

Ketik aaaa..
ketik bbbbb..
ketik cccc…

Hi hi hi.. Kenapa responnya masih dingin-dingin aja ya. Otakku ini memang unik. Lama ga dipake mikir yang serius, jadi butuh pemanasan dulu. Biar ga kaget, biar lancar mikirnya.

Tetapi jangan salah, bila udah keluar sisi anehnya, rasanya ide tu mengalir deras, ga bisa di stop. Bawaannya pengen ngetik terussss. Makan bisa terlewat (udah kenyang dengan tulisan kalee), mandi belakangan (di ujung hari (pagi- pagi n sore menjelang malam, tapi serasa segar terus), hmm sholat tetap tidak terlewat (jeda sholat, nulis lagi). Kalau lagi begini, adekku lah yang baek, beliin maem atau cemilan. Ngingetin tetep jaga kesehatan. Jiah segitunya. Walo tulisanku ya, rata-rata masih buat konsumsi pribadi. Tak mengapalah. Ni mulai memberanikan diri go public!

Judul artikel udah ditentukan, kerangka udah dibuat. Bahan-bahan udah ada. Kok berat banget ya buat bikin tulisannya?

Ada rasa ga begitu yakin tar bakalan bagus. Lama ga bikin tulisan ilmiah. Buka-buka buku waktu jaman kuliah kok bisa kaget begini ya. Apalagi waktu nemu selembar kertas soal ujian mata kuliah psikologi agama, soal no 3. “mungkinkah dilakukan penelitian untuk mengukur keberagamaan pada jiwa seseorang? bagaimana metoda dan validitasnya?”

soal no 4. “kajilah kemungkinan kehidupan keagamaan pada
keluarga pasangan yang berbeda agama!”

Soal no 5. “kajilah kasus bentrokan antara aparat dengan pengikut sekte Imam Mahdi di Selena, Palu dalam perspektif psikologi agama”

Hah, soalnya begitu? Waktu aku dulu kuliah, gimana ngerjainnya ya? Itu soal mid semester Senin, 14 November 2005 (sudah 4 tahun 4 bulan yang lalu). HUwaaaa… kalau diminta mengerjakan sekarang, malah nilainya bisa D kaleee. Bingung!! Ga ngerti gimana mesti ngejawabnya. tapi psikologi agama kalo ga salah dapet AB ato A. Ga salah tuh? (heran dengan diriku sendiri).

Harusnya, aku bisa dunk bikin suatu kajian psikologi agama buat dikirim ke jurnal analisa. Iya, secara rasional dan rekaman jejak-jejak yang telah kulalui dalam sejarah hidupku (jiaaah, lebay), ini bukan suatu tugas yang berat bro, sist. Iya ga?

tetapi seiring berjalannya waktu, dimana rekaman memory ttg ilmu yang dulu pernah kudapatkan itu ya? Kupanggil-panggil , tapi respon otak kok masih dingin terus. Otak mengalami sedikit distorsi memory sepertinya. LOng term memory-ku mesti di “turn on” kan lagi.

Sampah-sampah di otak perlu dibersihkan. Biar jalan respon saraf-saraf ttg memory yang kuperlukan segera datang dan bisa membantuku membuat kajian ilmiah (hi hi hi.. aneh, terus terang masih aneh, belum terbiasa, tetapi perlu dibiasakan).

Perjalanan otakku 4 tahun, 4 bulan ini ke mana dan ngapain aja siy? Sampe susah banget memanggil memory ttg psikologi agama. Sudah old story kalee. he he he. Tapi, kenapa kalo “old love story” biasanya masih bagus disimpan di otak ya? giliran yang ilmiah begini, otak kok letoy????? TANYA KENAPA???

God, Help me plizzzzz….
Pusink!!!
Bismillah.. Tunjuki dan bantu aku ya Aziz, Ya Malikul Mulki, Ya Dul Jalali wal ikrom (he3… pas begini ngrayu sama Allohnya mesti dipermanisssss…)

Cabut dulu ya… =))

Tak Ada yang Abadi [Refleksi]

Baru saja, jam 02.00 WIB saya terima telpon dari ibu saya. Kaget juga siy, di ujung telepon terdengar isak tangis. Saya berusaha tenang mendengar kabar bahwa Om atau Pak Lik (adik ibu saya persis) meninggal dunia. Kaget, shock! Ya, selama ini terlihat segar bugar. Tidak ada tanda-tanda sakit.

Kematian adalah misteri. Kita tidak akan pernah tahu sampai berapa jatah usia kita di dunia. Orang yang lebih muda bukan berarti akan meninggal belakangan dibandingkan orang yang lebih tua usianya.

Kematian itu pasti. Duh, membuat saya merinding. Ya, merindinglah, karena kita tidak tahu bagaimana cara kita mengakhiri hidup di dunia. Apakah husnul khotimah atau suul khotimah?

Dan yang lebih pasti lagi, kematian itu semakin dekat dengan kita. Entah kapan waktunya. Ibarat menyalakan sebatang lilin. Lilin kehidupan kita bukannya semakin panjang, tetapi semakin pendek.

Kita tidak bisa mengelak dari kematian. Kalau sudah waktunya dipanggil yang Maha Kuasa, maka tidak ada tempat untuk bersembunyi. Yang bisa kita lakukan hanyalah memperbanyak bekal akhirat. Sudah cukupkah bekal kita?

Berapa banyak kebaikan yang kita torehkan?
Berapa banyak dosa dan kesalahan yang kita lakukan?
Sudahkah kita menggunakan usia kita dengan sebaik-baiknya? Atau justru kita telah menyia-nyiakan usia kita selama ini?

Saudaraku, masih ada waktu untuk berbenah.
Masih ada waktu untuk mohon ampun atas dosa-dosa kita.
Masih ada waktu untuk senantiasa memperbarui iman dan takwa kita kepadaNya.

Masih ada waktu..
Selagi nafas kita berhembus..
Masih ada waktu..

“Ya Allah, perbaikilah agamaku untukku yang mana ia merupakan penjaga perkaraku. Perbaikilah duniaku yang di dalamnya terdapat kehidupanku. Perbaikilah akhiratku untukku yang di dalamnya terdapat tempat kembaliku. Jadikanlah hidupku sebagai tambahan untukku dalam setiap kebaikan, serta jadikanlah matiku sebagai istirahat untukku dari segala keburukan.” (HR Muslim 4897)

Termasuk Ekstrovert atau Introvert-kah Anda?

“Apa yang terbentang di hadapan dan di belakang kita tak begitu penting. Yang jauh lebih penting adalah apa yang ada di dalam diri kita” (Oliver windel Holmes)

Kepribadian manusia (dilihat dari bagaimana kita memusatkan perhatian) bisa dibagi menjadi kecenderungan ekstrovert atau introvert. Tidak bisa diputuskan bahwa ekstrovert lebih baik dibandingkan introvert, atau pun sebaliknya introvert lebih baik dibandingkan ekstrovert. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.

Di satu sisi, tidak ada manusia yang seutuhnya introvert, ataupun seutuhnya ekstrovert. Lebih pas bila kita katakan, kecenderungan introvert atau kecenderungan ekstrovert. Oke, kita simak bersama ya, diri kita termasuk introvert atau ekstrovert.

1. Ekstrovert
Seorang ekstrovert dapat dengan mudah mengungkapkan masalah dan perasaan dalam dirinya kepada orang yang dikenalnya. Misalnya: tidak segan mengungkapkan keinginannya kepada orang tuanya, mengutarakan isi hati kepada kekasihnya dsb.
Pribadi ekstrovert tidak suka berdiam diri, mengutamakan tindakan tanpa banyak merenungkan. Baginya, yang penting di dahulukan adalah tindakan, baru memikirkan resiko yang akan menimpanya.
Orang berkepribadian ekstrovert juga senang berbicara, sehingga suka berkenalan dan menjalin persahabatan. Menurutnya, dari persahabatan akan diperoleh banyak masukan bagi pencerahan diri.
Orang dengan kepribadian ini juga memiliki pandangan hidup luas, sehingga mudah tertarik dengan tuntutan-tuntutan dari kondisi-kondisi di luar dirinya.
Orang introvert berminat tinggi terhadap kegiatan-kegiatan yang melibatkan unsur kebersamaan, seperti ; kemah, arung jeram dsb. baginya, pergaulan dalah hal yang berharga, sebaliknya ia menganggap orang yang tidak bergaul adalah orang yang dangkal.

2. Introvert
Seorang introvert cenderung menyimpan banyak rahasia tentang persoalan dirinya, juga banyak menjaga rahasia persoalan orang lain.
orang ini dikenal sebagai sosok pendiam dan sukar diduga, suka menarik diri dari suasana ramai.
Ketika ditimpa sedih, tidak mudah baginya untuk mencurahkan perasaan kepada orang lain. kesendirian bagianya akan mendatangkan ide-ide.
Pengalaman dirinya adalah kekuatan untuk melakukan sesuatu. Baginya, banyak berinteraksi dengan orang lain bisa membuang waktu. Dalam suasana keramaian sekalipun, seperti pesta pernikahan, ia lebih nyaman berbincang hanya dengan dua atau tiga orang. Ketika bertemu atau berhadapan dengan orang yang baru dikenal, ia cenderung menunggu untuk disapa daripada menyapa lebih dahulu.
Seorang introvert juga lebih memikirkan risiko yang akan terjadi sebelum mengambil tindakan. Dalam menyelesaikan pekerjaan, ia lebih suka menyelesaikannya sendiri daripada berkelompok, walaupun pekerjaan itu membutuhkan waktu yang cukup panjang.
Orang dengan tipe kepribadian ini cenderung memiliki prinsip, “saya menyendiri, lalu saya mengerti”

Nah, sekarang kita bisa menentukan sendiri, termasuk kecenderungan introvert atau ekstrovert-kah kita?

Dengan mengenal diri kita, maka kita akan belajar untuk mengenal dan menghargai tipe kepribadian orang lain. Berguna untuk harmonisasi kehidupan sosial kita.

Selamat menjalin hubungan yang manis dengan orang-orang di sekitar anda! =)

Sumber bacaan: MBTI (Myers-Briggs Type Indicator)

Perkokoh Pondasi untuk Sukses

Orang yang sukses adalah yang mampu membangun fondasi yang kokoh dari batu-batu yang dilemparkan orang padanya (Luciano de David Brink)

Kehidupan memberi kita berbagai corak gejolak. Sesekali bahkan mampu melempar kita dalam jurang ketidakpastian, ketidakberdayaan. Bagaimana reaksi saat itu menunjukkan sejauh mana ketahanan pribadi kita yang sesungguhnya. Apakah kita kalah pada pukulan pertama? pukulan kedua? atau masih mampu bertahan pada berkali-kali pukulan? Disinilah pentingnya membangun pondasi mental yang kokoh. Agar kita lebih survive menghadapi berbagai gejolak kehidupan.

Bagaimana caranya membangun pribadi yang bermental kokoh?

1. mengurangi kebiasaan buruk. Inilah yang tidak mudah kita mulai. kebiasaan terlambat kerja, malas-malasan saat bangun, menunda-nunda pekerjaan, dsb.

2. Tak mudah tumbang oleh kritik. Ambil sisi positif dari kritik, tetapi bukan berarti menerima setiap kritik yang dilemparkan orang kepada kita. Cukuplah kritik yang membangun yang kita perhatikan.

3. Belajar dari kesalahan baik yang kita alami sendiri maupun pengalaman dari orang lain. Dari berbagai peristiwa kurang menyenangkan yang kita lalui, harusnya kita bisa merenung dan mengambil hikmah agar tidak terulang lagi.

4. Membangun attitude dan kebiasaan baik. Sikap tidak mudah menyerah, punya prinsip atas setiap hal yang dilakukan (tidak asal-asalan), integritas diri, rendah hati, keinginan untuk terus belajar dan memperbaiki diri dsb.

5. Berteman dengan orang-orang yang bermental positif.

6. Membaca biografi tokoh sukses dan berusaha untuk meneladaninya

Semangat Yuks!

SALAM PERUBAHAN! (Ubah dunia dimulai dari mengubah dan memperbaiki diri sendiri dulu) ;)

Ga jelas

iya niy, ngerjain tugas dulu, keasyikan ngeblog. Curhat mulu, kapan ngerjain tugas klo begini?

Bikin artikel apaan ya enaknya? Temanya Kehidupan sosial keagamaan. Panjang 10 -15 hal kuarto. Mana abstraknya in english.. waduwwww.

Ngerjain PR 1 feature.. niy temanya bebas..

heh.. kalau diberi berbagai ketentuan begitu, kok otak bawaannya mau nolak ngerjain yah. Pengennya nulis curhatan mulu. Yang gampang. Otak ga perlu mikir berat. Yang ringan-ringan ajah..

Lha, kalau beban maunya ringan, giliran jatah, maunya yang enak dan nyaman. Mana ada???

he he he.. ya udah.. tak sholat dhuhur dulu. Trus ngerjain tugas satu persatu. Maruk juga siy.. Pengennya dua-duanya beres bersamaan. Tambah parah aja. Emang siapa saya? Lha nulis aja masih kacau balau begini.

Semangat!!! ^ – ^V

Kira-kira, saya akan milih tugas yang berat dulu atau yang ringan dulu ya?.. tapi deadlinenya duluan yang bikin feature.

Bismillah..

Virus Deadline-r Perfectionist?

Hari ini ga jadi naek gunung Ungaran. Pengen siy sebenarnya. Menikmati segarnya alam, merenungi kebesaran Tuhan. Reuni juga ma temen-teman relawan. Asyik kan buat ngisi liburan. Memanjakan mata dengan segarnya hijau pohon, birunya gunung. Merasakan sejuknya embun pagi, segarnya udara pegunungan. Duh, jadi impian aja deh…

Kuacian banget ya diriku ini. Udah 3 bulan berjibaku dengan surat-menyurat, kertas-kertas dan file. Buku-buku teori yang bikin otak jadi jenuh. Pergi pagi pulang sore. Rutinintas itu membuatku butuh sedikit penyegaran sebenarnya.

Tapi, apa mau dikata. Jika aku ikut naek gunung, tar malah tugasku makin kacau. Kok bisa???

HUh, aku masih juga belum bisa mengubah kebiasaanku. Deadliner yang perfectionist.

Seperti apakah itu?

1. terbiasa mengerjakan tugas mepet waktu yang dijadwalkan
2. Di awal waktu nyantai, masih ngumpulin bahan-bahan saja
3. kalau toh di awal sudah mulai mengerjakan biasanya tidak sampai tuntas/ selesai mengerjakannya.
4. Merasa selalu ada hal yang perlu diperbaiki dan disempurnakan, jadi tugasnya ga juga dikumpul-kumpulkan.
5. Merasa bisa turn on di injury time tugas dikumpulkan. Akhirnya tugas dikumpulkan dengan tergesa-gesa.

Dampak negatifnya:
1. bisa mengganggu kinerja tim
2. bisa mengganggu jadwal lain yang sudah direncanakan
3. bagaimana halnya bila ada agenda penting yang mendadak datang?
4. bisa jadi kualitas tidak maksimal, justru kalau ada kesalahan tidak bisa dikoreksi lagi

kenapa bisa jadi seorang deadliner perectionist?
Kebiasaan. Ah, menarik sebenarnya membicarakan kebiasaan ini. Pengalaman saya menjadi deadliner, berawal dari lingkungan. Ya, dulu waktu kuliah awalnya saya rajin mengerjakan tugas di awal waktu. menyelesaikannya dengan baik beberapa hari sebelum dikumpulkan. Keren banget ya, aku waktu itu he3.

trus kebiasaan baik saya itu mulai goyah ketika teman-teman saya itu kebanyakan ga mau susah nyari-nyari bahan. Maunya enak, pinjam dari orang lain. Kebetulan dalam satu kost ada 7 teman yang kuliah di tingkat dan jurusan sama. otomatis kami mengerjakan tugas bersama-sama. Kalau ada tugas kelompok biasanya jadi satu tim. Nah itulah, biasa kan tugas kelompok tapi jobdesk biasanya tidak merata. Ada yang maunya enak, nebeng nama saja. Tanpa merasa bersalah. Bisa dapat nilai sama walaupun perjuangan yang dilakukan berbeda.

Nah, disitulah saya akhirnya lambat laun ketularan males. Mengerjakan tugas di akhir waktu. Lha kalau di awal waktu, otomatis akan dipinjam bahannya, malah bisa juga minjem tugas yang udah dikerjakan juga. Kalau ga dipinjemin bisa dibilang pelit, dipinjemin kok hati kecil saya ga ikhlas. bingung kan, kalau begini???

So, sayapun jadi terbiasa mengikuti gaya mereka. ehm, tak semuanya siy. ada satu dua yang tetep rajin mengerjakan tugas di awal waktu. Walau temen lain yang terbiasa minjem tugas orang lain jadi tidak suka sama dia.

Sayangnya, saya tidak bisa bersikap tegas. Saya juga tak bisa mempertahankan kebiasan baik saya untuk tidak menunda-nunda mengerjakan tugas. Ah, waktu itu justru saya jadi terbawa, bahkan menikmati senasasi seorang deadliner. Yaitu merasa puas bila bisa mengerjakan tugas dengan kualitas seoptimal mungkin di akhir waktu.
Gubrakkkk!!!

Penyakit itu terbawa hingga sekarang ini. Waduh, baru saya sadari kalau saya dah kena virus deadliner perfectionist. Bagaimana ini?
Apa anti virusnya yach? mesti menginstal ulang kebiasaan baru dech.
yah, setidaknya diobati dulu. Kalau tidak, bisa kacau agenda-agenda hidup saya. Bagaimana bisa mempunyai kinerja yang produktif bila belum juga berubah???
Bagaimana bisa mewujudkan mimpi dan cita-cita, jika sikap dan perilaku masih juga jauh dari kualitas yang dibutuhkan untuk menjadi orang sukses???

Tentu menyalahi aturan dan sunatullah. Sukses membutuhkan sikap mental yang baik. Itulah yang masih harus saya perbaiki..
Membangun kebiasaan baik, terlalu mudah diucapkan tapi susah untuk benar-benar diterapkan. Salah satunya; tertib mengerjakan tugas, disiplin dengan jadwal yang telah ditentukan.

Ah, tidak mudah memang, tapi tak ada salahnya untuk mencoba dan berusaha untuk berubah. Semangat!!! =)

Patah Hati? Cukup Sampai di Sini

Patah hati tuh, kalau dipikir-pikir bisa bikin capek juga loh. Beneran dech. Menguras pikiran, menguras waktu. Duh, kaya hidup ini cuma buat patah hati aja ya? Gimana kita bisa berprestasi kalau patah hati masih terus menghantui.

Idiiih.. sapa juga yang mau patah hati? Andaikan ditawarin dulu, pasti kita akan jawab, “ogah dech.”

Tapi, kalau toh memang mesti patah hati kan ga bisa kita tolak juga. Jadi mo gimana lagi.. Kompromi dunk sama yang namanya patah hati. Iya engga?

“Kompromi? maksud loe?”

Ya sudah, terima saja kalau kita patah hati..
Trus segera tindak lanjuti.
Tetapkan bahwa “patah hati kita cukup sampai di sini saja”.
Ga usah di perpanjang lagi. Kalau tau ga bermanfaat masa siy masih juga dibiarkan saja?

“ye, sapa juga yang niat memperpanjang. tapi kan kadang-kadang patah hati lagi saat keinget dia, kadang lupa, kadang inget lagi, nangis lagi. gitu dech.”

Wah, itu sih belum sembuh beneran. Masih ada sisa-sisa luka. Bisa jadi, luka yang masih dalam proses penyembuhan itu jadi kembali berdarah. Malah bisa semakin parah. Makanya dijaga dunk!

Caranya?

Ehm, sebentar, apa ya? Ini aja dech. Menjaga stabilitas kedekatan kita padaNya. Jika iman kita stabil, Insya Alloh kita lebih survive.

Jadi katakan “cukup sampai di sini! untuk patah hati. “

Obat Patah Hati

Jauh di dasar patah hati saya yang terdalam, tulisan ini saya persembahkan bagi yang senasib dengan saya. Agar kita kuat untuk bangkit dari sakitnya patah hati.

Patah hati itu sakit. Sudah pasti.
Akankah kita berhenti sampai di sini? Padahal dunia terus berputar dan berjalan, tak peduli kita patah hati atau tidak.

Coba sejenak lihat dan tatap dunia luar sana. Ah, aneh-aneh saja sih permintaan saya ini. Jangan protes, dicoba dulu. Siapa tahu ini juga bisa sedikit membantu kita untuk keluar dari kubangan patah hati. Apa kita mau patah hati terus? Menangis terus? Menyesali nasib kita terus? Ah, saya yakin tidak.

Kita yang sedang sakit karena penolakan ini ya sudah seharusnya tetap berjuang. kembali ke jalan yang lurus, yaitu hidup yang penuh optimisme. eng, ing , eng. kok mudah banget siy diucapkan, menjalaninya itu yang tidak mudah. Ya iyalah, kalau mudah sih, tak perlu saya mencari obatnya di blog ini. Tapi saya juga butuh dukungan anda. Tak bisa saya mencari obat sendiri. dengan sharing dan berbagi di sini, kita akan lebih kuat melangkah.

Yup, kalau kita renungkan. Ehm.. pernah lho saya punya pengalaman jatuh ke dalam lubang patah hati versi sebelumnya. BUkan penolakan cinta waktu itu. tetapi penolakan proposal skripsi. Waduw sakit rasanya.

Saya tinggalkan, mencoba menghindari. Menyibukkan diri dengan aktivitas lain. Sama sekali tidak menyentuh skripsi setahun lamanya. Gila tidak? Setelah saya sadar, saya justru heran dengan kegilaan yang pernah saya alami. Itulah anehnya kita. Saat patah hati kita tidak merasa diri kita menjadi “aneh”. setelah sembuh barulah sadar kalau kita pernah jadi orang “aneh”. He he he.. wajarlah. Orang gila tak mungkin menyebut dirinya gila bukan?

Jadi kalau kita masih bisa menyadari kalau kita ini patah hati itu bagus. Justru awal dari kesembuhan. Sudah ada setitik cahaya terang, walo masih tetap remang-remang.

Ya, stadium penyakit patah hati akan semakin parah bila kita masih mengindari, menolak, tidak menyadari kalau kita sendiri sedang patah hati. Gawat ini!!!

Dalam kondisi stadium lanjut ini kita akan melarikan diri dari realita. Coping (cara mengatasi) rasa patah hati pun bisa tidak rasional. Misalnya: bunuh diri. waduh.. parah banget.

Kalau yang kronis tapi tidak terlihat nyata jadi seorang “pematah hati”. Artinya.. dia menjadi puas bila bisa membuat patah hati orang lain. Duh, gawat ini. Tak percaya lagi dengan lawan jenis, bisa menjadi lesbi atau homo. waduh.. kok makin parah aja niy.. Saya jadi takut untuk melanjutkan ide yang tiba-tiba mengalir dalam otak saya ini.

Jadi, saya senang bila kita masih menyadari patah hati kita dan berusaha menyembuhkannya dengan cara yang baik. Agar tidak berlanjut menjadi patah hati yang kronis.

Cara mengobati patah hati:

1. Menyadari bahwa diri kita sedang patah hati, jangan merasa sok tidak patah hati, padahal hati kita menangis darah. Belagu itu! Patah hati itu emang sakit bro! Ga usah di dramatisir lagi, tar tambah parah dech.

2. Menyadari, patah hati itu bisa menimpa siapa saja tanpa pandang bulu, derajad, pangkat, status sosial, usia etc. Jadi wajar saja bila suatu saat bisa menimpa diri kita.

3. Berusahalah untuk mengobatinya. Cari dokter patah hati ya? =)

a. Ambil sejumput niat lurus untuk menyembuhkan patah hati.
Bismillah dulu ya.. (syukur-syukur ada teman curhat dan
bisa membantu, menemani penyembuhan patah hati kita)

b. Ambil sepucuk daun muhasabah (evaluasi diri)
Coba ingat-ingat kesalahan, kekurangan,
kesombongan yang kemungkinan besar menjadi faktor
ditolaknya harapan atau cita-cita kita oleh Allah

c. Memperbanyak istighafar, taubat agar dosa-dosa kita
berguguran. Bisa jadi rasa sakit karena patah hati adalah
upaya Allah untuk menegur kita agar kembali dan mendekat
padaNya. Ada yang salah dari diri kita dan itu yang perlu kita
benahi.
Dengan istighfar maka akan membuka pintu kesadaran kita
yang selama ini mungkin terkunci oleh debu-debu dosa. Jika
kita jarang membersihkan, maka debu-debu itu akan menebal.
Otomatis kepekaan hati kita akan kebenaran juga berkurang.

d. Yakinlah bahwa semua ada hikmahnya. Bila saat ini belum kita
ketahui, mungkin seiring berjalannya waktu kita akan
menemukan hikmah itu. Huznudzon (positif thinkinglah sama
ketentuan Allah). Dan positi thinking ini berbanding lurus
dengan keimanan kita. Bila kondisi iman kita baik, Insya Alloh
kita akan bisa tetap menjaga huznudzon kita pada Allah.
Tetapi bila kondisi kita sedang futur (iman lagi turun), maka
bisa jadi huznudzon kita berangsur-angsur melemah, bahkan
berubah menjadi suudzon (negatif thinking) dengan Allah.
Bahaya itu! Bukankah “ALLOH SESUAI DENGAN PRASANGKA
HAMBANYA”. Jadi jagalah agar kita senantiasa punya
prasangka baik/positif thinking/huznudzon pada kehendak dan
ketentuanNya. Oke???

e. Menyibukkan diri dengan aktivitas yang bermanfaat. Biarkan
waktu yang akan menyembuhkan luka. Sampai kita
menemukan hal lain yang Insya Alloh akan lebih baik untuk
kita.

INgatlah Hanya Allah saja yang Maha Tahu Baik Tidaknya sesuatu untuk Kita.. Boleh jadi kita menyukai sesuatu padahal itu buruk untuk kita dan boleh jadi kita tidak menyukai sesuatu padahal itu baik untuk kita. Pandangan manusia terbatas. Belajarlah untuk Ikhlas atas segala ketentuanNya.. =)